
Ervita sekarang geleng-geleng kepala ketika dia bertanya kepada suaminya terkait kado yang mungkin saja bisa menjadi hadiah di ulang tahun ketiga pernikahannya. Apa memang pria seperti itu bahwa kadang untuk kado, dia tidak meminta apa yang mengeluarkan biaya. Cukup dengan hadiah terbaik sebagai pasangan suami dan istri.
"Nunggu Indi dan Irene bobok ya, Dinda ... kita relaksasi bersama dulu. Sudah empat bulan. Duh, sampai lupa rasanya," balas Pandu.
Ervita kembali tersenyum mendengarkan ucapan suaminya yang mengaku sampai lupa rasanya itu. Tentu itu juga karena suaminya yang kala itu menolak dengan dalih masih kasihan dengan Ervita pasca bersalin secara normal. Masih merasa kasihan dan dia sendiri masih trauma jika teringat persalinan Ervita kala itu.
Sampai akhirnya ketika malam tiba, Ervita yang usai menidurkan Irene meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya untuk mandi. Tentu setelah empat bulan berlalu, dia ingin memberikan yang terbaik. Tidak membiarkan tubuhnya beraroma minyak telon bayi. Namun, lebih segar dan lebih wangi tentunya. Bahkan, kali ini Ervita kembali mengenakan lingerie yang dulu pernah dia pakai kala bepergian ala-ala bulan madu dengan suaminya ke Surabaya usai menikah dulu. Bahkan Ervita menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Membahagiakan suami bukankah ibadah juga? Sehingga Ervita ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya setelah empat bulan berlalu.
Hampir setengah jam, barulah Ervita keluar dari kamar mandi. Berusaha untuk keluar dengan percaya diri, walau sebenarnya Ervita sendiri sangat tidak percaya diri. Tentu, melihat penampilan Ervita yang berbeda, membuat Pandu terbengong untuk beberapa detik lamanya. Pria yang sekarang sedang memainkan gadget itu, seketika menaruh handphonenya dan kemudian berdiri.
"Dinda, kamu?"
Suara Pandu saja sudah begitu dalam dan dia tidak menyangka melihat istrinya seperti ini. Kejutan yang indah tentunya.
"Hadiah buat suami terhebat," balas Ervita.
Tidak menunggu waktu lama, Pandu mendaratkan kedua tangannya di pinggang Ervita. Tatapannya seakan begitu memuja dan kemudian tersenyum sangat bahagia.
"Hadiah terindah. Makasih, Dinda," ucap Pandu.
"Walau aku malu dan tidak percaya diri karena aku lebih banyak menimbun banyak lemak," balas Ervita.
Akan tetapi, Pandu dengan cepat menggelengkan kepala. "Tidak, kamu yang tercantik dan terindah di mataku," balas Pandu.
__ADS_1
Tak perlu menunggu terlalu lama. Ervita sedikit berjinjit, dan dia membawa kedua tangannya melingkari leher suaminya, lantas melabuhkan sebuah kecupan di bibir suaminya. "Terima kasih untuk tiga tahun terindah dalam hidupku. Tiga tahun di mana hidupku benar-benar berwarna dan tidak hanya kelabu. Kamu bukan hanya mendampingi, tapi sekaligus menghapus aib dalam diriku."
"Sama-sama Dinda... pernikahan kita baru tiga tahun. Aku ingin kita berdua bisa terus ambangun bebrayan hingga Belasan, puluhan, bahkan sampai akhir hayat kita," balas Pandu.
Rasanya begitu mudahnya Pandu membuatnya terharu. Akan tetapi, belum sempat Ervita menjawab, Pandu sudah menunduk, dan titik fokus yang dia tuju sekarang adalah bibir Ervita. Tidak perlu banyak berbicara, Pandu menyapa bibir istrinya itu dengan kecupan, ciuman, pagutan dan lu-matan yang lembut sekaligus basah. Tangannya bergerak ke belakang tengkuk Ervita dan memberikan usapan kecil yang menimbulkan sensasi menggelitik dan membuat diri Ervita meremang.
Empat bulan berpuasa membuat Pandu merasa bersemangat. Baginya ini adalah buka puasa termanis. Ciuman di bibir Ervita yang sangat dalam, ada sensasi rasa manis yang tercipta. Hingga Pandu mulai menenglengkan kepalanya, memberikan tekanan untuk setiap pagutan dan kecupannya di bibir Ervita.
Hingga dua bibir yang menyapa, akhirnya saling membuai hingga ke muara. Menghasilkan decakan indah, yang begitu indah di telinga. Begitu juga dengan Pandu yang tidak akan memberikan jeda. Justru, dia kian dalam mencium, mengecup, dan menghisap bibir istrinya. Tangan yang semula memberikan usapan kecil di tengkuk pun, kini mulai merayap dan memberikan elusan di lengan Ervita. Merasakan epidermis kulit yang begitu lembut itu. Kemudian tangan itu, bergerak dengan menyisiri leher Ervita. Disertai dengan wajah Pandu yang kian menunduk dan menjelajahi leher yang kala itu begitu harum dengan lidah dan bibirnya. Mendaratkan kecupan-kecupan basah di garis leher itu. Ketika Pandu hendak memberikan gigitan, Ervita mendorong sejenak dada bidang suaminya.
"Jangan di leher, Mas. Malu kalau Indi bertanya," ucap Ervita dengan napasnya yang terengah-engah.
Pandu memahami bahwa putrinya itu begitu kritis. Sehingga, dia memberikan anggukkan samar. Namun, Pandu tak menyerah begitu saja. Dia kian sedikit menunduk dan memberikan gigitan di sembulan dada Ervita. Meninggalkan jejak tanda merah di sana. Ervita memekik, tangannya mencengkram bahu Pandu.
Darahnya berdesir dengan begitu hebatnya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Ditambah sensasi perih dari gigitan Pandu itu.
Puas dengan semua, Pandu kemudian menarik resleting yang bersembunyi di samping kiri tubuh Ervita. Membuat baju dinas dengan warna biru itu jatuh begitu saja di lantai kamarnya. Sayangnya, kala itu, ketika Pandu menarik resleting itu. Tidak ada lagi sisa-sisa busana di tubuh Ervita. Satu benang pun tidak ada.
"Mas ... Pandu ...."
Ya, Tuhan. Ervita tidak memahami bagaimana suaminya itu meloloskan baju dinasnya begitu saja hingga teronggok ke lantai. Kemudian Pandu tersenyum. Kejutan yang sangat indah bagi Pandu. Mana pernah sebelumnya Ervita tampil sedemikian rupa. Hingga Pandu perlahan-lahan menempatkan Ervita di ranjang. Pria itu sudah bersiap, dan melepas bajunya sendiri dengan pelan-pelan. Benar-benar ingin menikmati moment indah berdua. Bukan hanya baju, Pandu juga membuat dirinya sendiri tampil polos.
Hingga dia kembali mencium bibir Ervita. Lebih dalam dan dengan nafas lebih memburu. Hingga dia kian bergerak turun ke bawah dan memberikan kecupan di bulatan indah milik Ervita. Meremasnya perlahan, mencubitnya, dan memilin puncaknya. Ah, rasanya Pandu benar-benar rindu. Begitu dahaga yang sekarang terpuaskan.
__ADS_1
Bahkan lenguhan Ervita seolah menjadi pemicu tersendiri untuk kian bersemangat. Keinginannya menggapai Swargaloka sudah di depan mata. Hingga Ervita memekik dan merintih panjang, mana kala dia melihat dan merasakan godaan yang dahsyat di bibir cawan surgawi miliknya. Sudah pasti itu adalah ulah Pandu yang memberikan tusukan demi tusukan, hisapan demi hisapan di tempat paling sensitif di dalam dirinya. Ervita meledak. Empat bulan tak tersentuh kini dia merasakan ledakan dahsyat. Tubuhnya bergetar, napasnya terengah-engah, dan lenguhan lirih yang menjadi bukti bahwa dia benar-benar puas.
Tak ingin egois, Ervita kini yang mengambil kendali. Menyapa pusaka yang sudah lama puasa itu. Ada pijatan dan bercampur dengan ******* bibirnya. Bisa Ervita lihat wajah penuh kepuasan di wajah suaminya. Mata yang terpejam, wajah yang menengadah, dan ucapan yang rasanya kian syahdu saja.
"Iya, Dinda ... Dinda!"
Sampai akhirnya Pandu merasa sudah cukup bagi Ervita. Sedikit beringsut, pria itu mengambil posisi duduk bersila, dan membawa Ervita untuk duduk di pangkuannya. Wajah saling berhadap-hadapan. Posisi ini disebut dengan posisi lotus.
Mulailah Pandu memasukkan senjata pusaka ke dalam cawan surgawi Ervita. Pria itu memejamkan matanya. "Nikmat sekali, Dinda ... tidak berubah. Rapat."
Baik Pandu dan Ervita bisa sama-sama melihat mata yang dipenuhi kabut asmara. Hingga Pandu memberikan instruksi kepada Ervita untuk bergerak. Tidak ingin mengecewakan, Ervita bergerak mengikuti instingnya saja. Namun, begitu saja Pandu sudah kalang kabut dibuatnya. Dengan posisi ini, mata yang berselimut kabut saling memuja. Menghadirkan getar demi getar cinta melalui tatapan mata.
Mencoba posisi Lotus untuk beberapa saat. Kemudian Pandu meminta istrinya untuk berbaring. Saatnya melakukan misionary yang klasik tapi penuh cinta. Ya, Pandu segera mengambil posisi dengan menindih Ervita hingga mulai memberikan desakan dengan bergerak maju dan mundur. Kian dalam berpacu, seolah terdengar ada benturan di dalam sana. Untuk ketahanan di ranjang, jangan berusaha bertanya kepada Pandu. Sebab, dia begitu perkasa. Bertempur dalam tempo cepat atau pun lambat. Durasi cepat atau lambat, tidak akan berpengaruh untuknya. Daya tahannya sungguh luar biasanya.
"Astaga, sangat nikmat!"
Pandu kembali meracau. Setelah empat bulan, tidak bisa dia sangkal bahwa ini adalah yang terbaik. Hadiah yang sempurna dari istrinya. Kian dalam Pandu memacu dan bergerak. Keduanya mulai bisa melihat kilauan cahaya di Swargaloka. Berkilauan hingga membuat mata keduanya yang terpejam pun seolah bermandikan cahaya. Memukau.
Padu.
Penuh Pesona.
Tak bisa Pandu sangkal lagi bahwa istrinya sungguh luar biasa sekarang. Sampai di batas Pandu siap membuka gerbang di Swargaloka itu. Bermandikan cahaya yang berkilauan. Pandu menegang dan menggeram. Dirinya menyublim, tak terlihat, tapi meninggalkan sensasi panas.
__ADS_1
Terperas habis. Tercurah hingga tak ada yang menetes. Semua aktivitas yang meninggalkan rasa yang tidak pernah bisa dideskripsikan. Hanya bisa dirasakan. Bercinta dengan cinta, itu yang membuat Ervita dan Pandu sama-sama meledak kala menggapai Swargaloka, satu tempat yang penuh kilauan cahaya.