Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Berjalan Baik


__ADS_3

Menunggu di luar, Ervita pun berharap Indi akan memiliki keberanian untuk mengikuti kelas di hari pertamanya sekolah. Sekarang di luar, Ervita menunggu dengan beberapa orang tua siswa yang lain. Seperti biasa ketika Ibu-Ibu sudah berkumpul selalu ada saja yang diperbincangkan.


Lantaran hari pertama ada yang mengenalkan nama anak mereka, hobi anaknya, dan sedikit bercerita tentang keluarga mereka. Bahkan ada beberapa Ibu-Ibu yang sudah berinisiatif membuat Whatsapp grup, sehingga semua orang tua murid bisa dimasukkan dalam grup. Ervita yang pendiam memilih mengikuti saja. Lebih banyak mendengarkan para ibu-ibu dan juga sesekali merespons dengan menganggukkan kepala dan sedikit tersenyum.


Hingga ada seorang Ibu-Ibu muda yang menanyai Ervita. "Anaknya di TK A juga, Bu?" tanya Ibu muda yang memiliki kecantikan khas Jawa yang halus dan lembut itu.


"Iya, di kelas TK A juga," balas Ervita.


"Sama dong, nama anaknya siapa?"


"Indi, Indira. Nunggu saja ini, semoga anaknya tidak menangis waktu mengikuti pelajaran," balas Ervita.


Ibu muda itu pun tersenyum. "Biasa yah, anak-anak. Di rumah pemberani, nanti sekolah bisa saja menangis. Kadang melihat mereka itu juga lucu."


"Anaknya namanya siapa Bu? apa kelas TK A juga?" tanya Ervita kemudian.


"Iya, TK A. Namanya Satria," jawab Ibu itu.


"Ibu sendiri namanya siapa?" tanya Ervita lagi. Rasanya kok tidak sopan berbicara dan cerita banyak, tapi belum saling kenalan. Akhirnya, Ervita yang berinisiatif menanyai nama Ibu itu.

__ADS_1


"Saya Hayun, Bu. Ibunya Satria. Semoga bisa selalu berhubungan baik yah. Biar ada yang dikenal minimal cuma satu," balas Ibu yang rupanya bernama Hayun itu dengan tersenyum.


Apa yang disampaikan Bu Hayun benar. Kadang orang tua yang sekadar menunggu saja juga gabut, jika ada yang dikenal setidaknya bisa mengobrol. Belum lagi jika ada outing class, orang tua juga membutuhkan teman untuk sekadar mengobrol.


Kurang lebih hampir tiga jam menunggu, akhirnya anak-anak TK A sudah diperbolehkan pulang. Ervita juga segera mengirimkan pesan kepada suaminya untuk bisa menjemputnya. Sementara itu, Indi rupanya keluar dari kelas lebih dulu.


"Nda," sapa Indi dengan memeluk Bundanya yang menunggu di sana.


"Sudah selesai sekolahnya? berani tidak hari ini Mbak Didi?" tanya Ervita lagi.


Indi pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Nda ... berani. Didi tidak menangis kok. Tadi ada temennya Didi yang menangis loh, Nda," ceritanya.


"Loh, Mas Satria kok menangis?"


Tidak memberikan jawaban, Satria terus tersedu-sedu dengan satu tangan mengucek matanya. Indi pun melihat temannya yang menangis itu. Memang yang diceritakan Indi temannya yang menangis memang Satria.


"Sudah dong Mas Satria. Malu dilihatin temannya. Nih, temannya Mas Satria juga, namanya Indi. Teman sekelas. Sudah jangan menangis," ucap Bu Hayun.


Kala itu memang banyak anak-anak dan orang tua yang memperhatikan Satria. Sampai akhirnya beberapa saat kemudian tangisan Satria mereda. Indi pun menatap ke temannya.

__ADS_1


"Jangan nangis yah. Besok sekolah lagi. Dada ...."


Ervita kemudian berpamitan terlebih dahulu kepada Bu Hayun dan Satria karena sudah dijemput oleh suaminya. "Bu, saya duluan yah. Sudah dijemput Ayahnya," ucapnya. Setelahnya, Ervita menatap ke Satria. "Nak, jangan menangis lagi yah. Kami pulang dulu yah," ucapnya dengan mengusap perlahan puncak kepala Satria.


Begitu turun ke bawah rupanya Yayah Pandu sudah menunggu. Ada Indi yang tersenyum cerah melihat Yayahnya. "Yayah, Didi sudah sekolah," ucapnya dengan berteriak.


"Wah, pinternya Putri kecilnya Yayah. Berani tidak hari ini, Mbak Didi?" tanya Yayah Pandu.


"Tadi kenalan, Yayah. Menyebutkan nama, usia, dan nama Ayah dan Bundanya. Ditanyain Bu Guru juga punya adik tidak. Indi bisa menjawab semuanya kok Yayah," balas Indi.


Pandu tersenyum. Dia senang sekali karena hari pertama bisa dilewati Indi dengan baik. Tadi waktu di kantor, Pandu berpikir bahwa Indi akan menangis. Mengingat Indi hanya kenal dengan adiknya, Mbak Lintang, dan Mas Langit saja. Selain itu tidak pernah berinteraksi dengan anak-anak seusianya.


"Besok anterin Didi sekolah lagi ya, Yayah ... Didi suka sekolah. Biar pinter," balasnya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Tentu, Sayang. Sekolah yang rajin yah. Gapailah cita-citamu setinggi bintang di langit. Yayah akan bekerja keras supaya Didi dan Dik Irene nanti bisa sekolah tinggi, menjadi anak yang membanggakan Yayah dan Nda," ucap Yayah Pandu.


Indi yang sudah memasuki mobil dan duduk di belakang kursi Ayahnya, perlahan berdiri, dan mencium pipi Yayahnya. "I Love U, Yayah."


Momen seperti ini yang membuat Pandu sangat bahagia. Indi adalah putrinya. Dia sangat ingin, sampai dewasa nanti kasih sayang Indi tidak akan pernah berkurang sekalipun di masa depan Indi akan tahu siapa ayahnya yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2