
Setibanya di kota Malang, Firhan dan Wati memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Selang satu hari, barulah Firhan mengajak Wati ke Malang Night Paradise atau MNP. Sebagai sedikit informasi bahwa Malang Night Paradise tidak sama dengan dengan Batu Night Spektakuler. Keduanya adalah tempat yang bereda. Akan tetapi, beberapa pengunjung terkadang terkecoh karena keduanya adalah tempat hiburan di malam hari dengan konsep lampu-lampu yang indah.
Tempat Firhan dan Wati sekarang adalah Malang Night Paradise. Wati sangat ingin mengunjungi taman lampion penuh warna bak di negeri dongeng. Selain itu, Malang Night Paradise untuk memiliki berbagai macam wahana hiburan yang sangat menarik. Firhan pun mewujudkan keinginan istrinya itu.
"Sudah sampai di tempat yang ingin kamu kunjungi," ucap Firhan dengan menggandeng tangan Wati.
Wanita itu pun tersenyum. Ini adalah liburan terjauh Wati dengan suaminya. Dulu, ketika keduanya melakukan taaruf, sama sekali tidak ada bulan madu, karena tidak menjelang lama Firhan sudah harus kembali bekerja. Sehingga, sekarang diajak liburan sampai ke kota Malang, tentu Wati sangat senang.
"Bagus ya, Mas ... walau ini yang membuat cantik adalah lampunya," balas Wati.
Firhan pun menganggukkan kepalanya. "Sama seperti hidupku, Yang ... jika tidak ada kamu ya gak akan seperti itu. Kamu adalah lampu-lampu cantik ini yang menghiasi hidupku," ucap Firhan.
"Sebenarnya, semua orang itu adalah orang yang baik, Mas. Aku percaya itu. Hanya dengan semakin bertambahnya usia dan pengalaman, kadang kita terpengaruh oleh faktor-faktor dari luar. Namun, jika mau merefleksi diri kita dan merubah diri, pasti akan baik adanya," balas Wati.
"Bener, Yang ... yuk, kamu ingin naik wahana apa? Masak iya, sudah sampai sini dan hanya jalan-jalan saja," ajak Firhan kemudian.
"Jalan-jalan dan foto-foto dulu aja, Mas. Nanti kalau sudah, pengen naik perahu kano itu," jawab Wati.
Akhirnya Firhan kembali menganggukkan kepalanya. Dia menuruti apa yang Wati mau. Sekarang Firhan juga sudah menjadi pria yang sabar. Tidak marah-marah, emosian, dan mudah naik darah. Wati benar-benar bisa mengubah karakter seorang Firhan Maulana.
"Sini, jangan jauh-jauh ... dingin yah di Malang," ucap Firhan dengan kian mengeratkan tangannya yang sekarang tengah menggenggam tangan Wati.
__ADS_1
"Ini tidak seberapa, Mas. Masih dingin di rumahku. Di sana aja, terkadang minyak goreng berubah menjadi beku," balas Wati.
Ya, desa tempat Wati dan keluarganya berasal berada di sekitaran kaki Gunung Lawu yang berhawa dingin. Oleh karena itu, minyak goreng pun bisa berubah menjadi beku. Benar-benar dingin, belum juga dengan awan yang membawa air hujan sering kali turun, sehingga hari-hari di kampung halaman Wati terasa dingin dan juga lembab.
"Setelah datang sendiri ke MNP gimana, suka enggak?" tanya Firhan kemudian.
"Suka, Mas ... instagramable banget. Walau jaraknya ke hotel kita jauh ya Mas," balas Wati.
Ya, di Malang, Firhan hanya menyewa sepeda motor saja dari pihak hotel. Hotel mereka berada di dekat kota Batu, sementara Malang Night Paradise berada di Jalan Graha Kencana, Malang. Sehingga jarak tempuhnya hampir satu jam. Namun, karena memang cinta dan ingin membahagia Wati, jarak yang jauh dan udara yang dingin pun tidak menjadi masalah untuk Firhan.
"Ada pertunjukan tuh, Mas ... lihat dulu yuk," ajak Wati kepada suaminya.
Melihat Wati yang tersenyum, ada kalanya kagum dengan pertunjukkan di sana. Firhan pun merasa sangat senang. Namun, ada penyesalan juga kenapa dulu pada awal pernikahannya, Firhan tidak memperlakukan Wati dengan baik. Yang ada justru Firhan akan terus-menerus menyakiti Wati. Padahal, Wati sendiri adalah wanita yang baik dan sabar. Namun, semua sudah berubah. Firhan yakin bahwa pasangan yang tepat untuknya memang adalah Wati. Kegagalan demi kegagalan sebelumnya, itu tetap akan menjadi catatan tersendiri di dalam hidupnya.
"Foto bersama yuk, Mas ... untuk kenang-kenangan," ajak Wati.
Akhirnya, Firhan menuruti apa yang Wati mau. Setelahnya, Firhan dan Wati juga menaiki perahu kano. Benar-benar memanfaatkan waktu liburan berdua.
"Naik perahu gini di Sungai Bengawan Solo juga bisa, Yang," celetuk Firhan.
Akan tetapi, Wati menggelengkan kepalanya. "Enggak, ah ... bisa berbahaya, Mas. Ini aja aku takut," balas Wati.
__ADS_1
Ya, sekarang saja dia sudah takut. Hingga akhirnya menjelang jam 20.00, Wati sudah mengajak Firhan untuk kembali ke hotel karena memang mereka harus menempuh perjalanan yang jauh. Selain itu, mereka juga harus mengantisipasi hujan yang bisa turun sewaktu-waktu.
"Mampir enggak?" tanya Firhan. Sekarang, keduanya sudah berboncengan sepeda motor berdua untuk kembali ke hotel.
"Tidak usah, Mas ... langsung ke hotel saja," balas Wati.
Hingga hampir satu jam, barulah mereka tiba di hotel mereka yang berada di Kota Batu, Malang. Sangat dingin. Untung saja, tidak turun hujan. Namun, baru saja Firhan mengembalikan kunci sepeda motor di resepsionis, hujan turun dengan begitu derasnya. Sangat bersyukur karena mereka tidak kehujanan sama sekali.
"Pas banget ya, Mas ... sampai di sini baru hujan," ucap Wati yang kini berjalan di sisi Firhan naik dengan lift ke kamarnya.
"Iya, masih dilindungi Allah yah ... kasihan sama kita kalau hujan-hujan di jalan," balas Firhan.
"Bener, Mas ... jadi, hujannya ditunda yah. Nunggu sampai kita sampai di hotel dulu," jawab Wati dengan terkekeh perlahan.
Begitu sudah sampai di dalam hotel, hujan yang sangat deras di luar sana seakan mendukung suasana. Jika, sebelumnya mereka sudah mengunjungi Malang Night Paradise, sekarang Firhan dan Wati tengah berjalan-jalan di Malam Surga. Merengkuh cinta berdua. Menikmati nektar cinta yang seolah bersembunyi di setiap kuncup-kuncup bunga. Tidak ada rasa capek. Bahkan sekarang, Firhan benar-benar melakukan semuanya step by step. Dia benar-benar menahan diri supaya tidak meledak terlebih dahulu, semua itu dia lakukan untuk memuaskan hasrat istrinya. Akan memberikan pengalaman yang terbaik untuk istrinya.
Satu jam lebih berlalu, dan sekarang keduanya terengah-engah bersama. Dengan Wati yang berada di dalam dekapan Firhan. Sangat puas, dengan perasaan dan suasana yang berbeda.
"Aku tidak tahu kali ini akan berhasil tidak. Namun, aku berharap Tuhan akan berbelas kasihan kepada kita kali ini."
Firhan mengucapkan itu dan mengeratkan pelukannya di tubuh Wati. Dia sudah berobat satu tahun, mengonsumsi obat, dan sekarang berikhtiar. Kiranya saja, semuanya akan menjadi doa yang akhirnya akan dijabah oleh Allah.
__ADS_1