Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Bukti Pria Sejati


__ADS_3

Melihat hasu dua garis merah di benda pipih yang bernama test pack itu, yang membuncah dengan kebahagiaan tentu juga adalah Pandu. Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama baginya bisa melihat istrinya positif. Hal-hal yang terjadi pertama dalam hidup rasanya begitu berkesan. Begitu juga bagi Pandu. Pria itu memeluk istrinya dengan begitu erat. Dia tidak menghiraukan bahwa air matanya sekarang pun menangis. Ya, Pandu merasa sangat bahagia.


Pun Ervita yang juga menangis dalam pelukan suaminya. Tidak mengira juga bahwa sekarang, dirinya hamil lagi. Sebelumnya, Ervita seakan takut jika sudah diambil sesuatu yang berharga dari dirinya, maka dirinya akan ditinggalkan. Sekarang, ketika Pandu begitu setia padanya. Ervita pun merasa lega dan juga berharap suaminya itu tidak akan pernah meninggalkannya atau pun menyangkali benih yang sudah bersemi di dalam rahimnya. Kepahitan di masa lalu adakalanya menjadi momok yang menyebabkan trauma di masa depan.


Usai memeluk Ervita dengan erat, Pandu menghujani ciuman di wajah Ervita dengan bertubi-tubi. Di keningnya, di kedua matanya, di ujung hidungnya, di kedua pipinya, di dagunya, dan juga di bibirnya. Kebahagiaan yang dirasakan Pandu benar-benar memuncak.


“Ya Allah … aku sangat seneng Dinda. Terima kasih untuk kebahagiaan ini. Terima kasih Dinda,” ucap Pandu yang merasa benar-benar senang.


Kondisi berbanding terbalik dengan tiga tahun lalu di mana dulu dia melakukan test pack dengan sembunyi-sembunyi dan berakhir dengan diusir dari dalam rumahnya sendiri. Yang Ervita alami tiga tahun yang lalu begitu tragis, jika mengingatnya saja air mata bisa berlinang begitu saja. Sekarang, melihat suaminya menjadi begitu bahagia, Ervita pun menjadi bahagia.


“Mas, ayo … duduk. Agak capek kalau berdiri terus,” ucap Ervita pada akhirnya.


Rupanya Pandu sedikit menunduk, dan langsung membopong tubuh Erivta di sana. Ervita memekik dan melingkarkan tangannya di leher suaminya itu. “Mas, turunin saja … ya ampun, Mas Pandu,” balas Ervita dengan masih sesegukan di sana.


Akan tetapi, Pandu memilih abai dan kemudian dia melangkah dengan pasti menuju ke ranjangnya, dan mendudukkan Ervita dengan perlahan di sana.


“Sudah … duduk Dinda … mau bobokan lagi juga boleh,” balas Pandu.


“Kan aku masih bisa jalan sendiri,” balasnya.


"Ndak apa-apa, Nda ... dari kamar mandi ke ranjang kan cuma beberapa langkah aja. Aku sangat bahagia, Nda. Akhirnya, benihku kualitas super berhasil juga," balas Pandu.


Mendengar apa yang Pandu ucapkan membuat Ervita tersenyum dengan berurai air mata di sana. Geli juga kala suaminya itu mengatakan perihal benih dengan kualitas super. Hingga dalam isakannya ada senyuman di sana.

__ADS_1


"Sudah jangan menangis ... kamu sedih ya Nda?" tanya Pandu kemudian.


"Bukan ... aku terharu. Menjalani masa-masa kehamilan itu tidak mudah untukku, Mas. Kamu tahu sendiri bagaimana riwayat hadirnya Indi. Jadi, aku masih merasa terharu saja," balasnya.


Pandu menganggukkan kepalanya, dia memahami bahwa memang tidak mudah bagi Ervita. Setelahnya sebelumnya terisolasi dalam kesendirian kala hamil Indi. Ada rasa haru yang seolah membuat air matanya keluar dengan sendirinya.


"Kali ini berbeda, Dinda ... aku akan selalu menjaga kamu. Aku akan selalu mendampingi kamu. Bukan hanya saat kehamilan, persalinan, hingga pasca persalinan nanti. Seumur hidupku, aku akan selalu mendampingimu," balas Pandu.


"Makasih Kanda," balas Ervita dengan menyeka sendiri air matanya.


Pandu pun tersenyum, dia kemudian berbaring mengambil tempat di sisi Ervita dan kemudian memeluk Ervita dengan begitu eratnya. Lantas, Pandu mengusapi puncak kepala Ervita perlahan.


"Sudah jangan nangis. Nanti dikira kita berantem. Aku seneng banget, akhirnya aku berhasil, Nda ... bukan bermaksud apa-apa. Sebagai pria yang minim pengalaman, bahkan aku dinilai tidak normal atau belok di luar sana, tetapi aku memberikan bukti nyata bahwa aku bisa berhasil. Aku akan menjadi seorang Ayah," cerita Pandu kepada istrinya.


Pandu pun tersenyum di sana, "Aku pria sejati ya Nda ... walau di luar sana aku diragukan karena tidak berani menyentuh wanita. Buktinya aku bisa menyemai benih dengan kualitas terbaik. Pertempuran panjang di Surabaya menghasilkan, Nda," balas Pandu.


"Mungkin karena intensitasnya bertambah, atau memang baru dipercaya sekarang Mas," balas Ervita.


Setelah itu, Ervita menatap suaminya di sana, "Cuma kalau hamil muda harus puasa dulu loh Mas ... yang bilang harus sering-sering ditengok dedeknya itu salah. Waktu hamil muda justru tidak boleh sering-sering," balas Ervita.


Pandu mengurai pelukannya dan kemudian menatap Ervita di sana, "Kenapa emangnya Nda?" tanya Pandu kemudian.


"Iya, benih kamu itu mengandung hormon prostalglandin yang bisa memicu terjadinya kontraksi, Mas ... jadi nanti dedeknya bisa pusing," jelas Ervita. "Kalau sudah trimester kedua sudah lebih aman, karena juga sudah terbentuk plasenta. Kasihan bagi benihnya kebanyakan tersiram larva pijar Yayahnya," balas Ervita dengan menahan senyuman sebenarnya.

__ADS_1


Pandu pun akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan, "Ya sudah ... penting Nda sehat sulu saja. Sama kalau bisa enggak mual dan lemes itu. Walau cuma pagi, kan aku kasihan, Nda," balasnya.


"Ya, orang hamil memang seperti ini, Mas ... dulu waktu Indi juga seperti ini kok. Jadi, ya mau bagaimana lagi. Mungkin saja sama kayak Indi dulu, sampai tiga bulan lemes dan mualnya di pagi hari," balas Ervita.


"Yuh, kasihan ... aku saja yang mual, Nda ... kamu sehat saja," balas Pandu kemudian.


"Jangan ... kasihan kamu, kan kamu juga harus bekerja setiap hari. Sementara aku kan kerjanya di rumah. Ngurusin barang dagangan online. Enggak apa-apa kok Mas ... aku bisa," balas Ervita.


"Baiklah ... penting kasih tahu ya Nda, yang mengoleskan minyak kayu putih di perutmu, aku saja yah ... aku pengen merawat istriku yang baru hamil. Bukan apa-apa, ini pengalaman pertama untukku, aku juga sekaligus latihan untuk merawat kamu, merawat istriku yang baru hamil," balas Pandu.


Sepenuhnya Ervita pun menyadari bahwa memang Indi adalah anak mereka, Pandu juga sangat menyayangi Indi. Akan tetapi, memang kehamilan yang kedua ini adalah pengalaman pertama untuk Pandu. Justru Ervita merasa memang suami harus terlibat dalam kehamilan istrinya.


"Tuh, kamu itu pria sejati banget Mas ... pria sejati tidak diukur dari seberapa kuatnya mereka di ranjang. Namun dalam keseharian, mereka yang mau terlibat dalam rumah tangga, terlibat dalam pengasuhan anak, tanggung jawab memberi nafkah, dan menjadi imam dalam keluarga. Kamu melakukan semuanya itu dengan sangat baik. Jadi, kamu itu pria sejati," balas Ervita.


Ya, ketika orang memandang bahwa kesejatian seorang pria harus ditunjukkan di atas ranjang, Ervita justru menyoroti hal yang lain. Di matanya, Pandu adalah sosok pria yang sejati itu. Pria yang bisa melindunginya dan justru menaikkan harkat dan martabatnya.


“Apa bener, Nda?” tanya Pandu kemudian.


“Iya, benar Mas … di falsafah Jawa itu ada Lima perkara kanggo joko merdeka yaiku wisma, garwa, turangga, curiga, dan kukila. Nanti kapan-kapan aku jelaskan Mas. Inditinya kamu itu sejati banget. Lelaki yang sanggup melindungi dan juga suami itu adalah lambang dari kasih sayang. Kamu memiliki kasih sayang dan hati yang lembut kepadaku," balas Ervita.


Pandu menganggukkan kepalanya perlahan, "Nggih Dinda ... manut," balas Pandu.


Keduanya pun tertawa bersama. Pun dengan Pandu yang segera kembali memeluk Ervita. Rasanya ini adalah kebahagiaan dalam rumah tangga yang bisa mereka cecap dan rasakan bersama. Dengan hadirnya bayi kecil nanti, Pandu sangat yakin bahwa kehidupan rumah tangganya bersama Ervita akan kian bahagia.

__ADS_1


__ADS_2