Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Surga dan Neraka Seorang Istri


__ADS_3

Usai melakukan Punggahan dan juga berdoa bersama di akhir malam bulan Syaban. Khusus untuk Ervita dan Pandu bersiap untuk menjalankan ibadah puasa esok hari. Keduanya mempersiapkan hati untuk bisa menjalankan ibadah puasa.


"Tidak terasa besok sudah hari puasa pertama ya, Mas," ucap Ervita sekarang kepada suaminya.


Sekarang, memang keduanya sudah berada di rumah. Rasanya hari begitu cepatnya berlalu hingga tidak menyangka esok sudah melakukan hari pertama puasa.


"Bulan Ramadhan kita yang ke berapa ya, Nda?" tanya Pandu kemudian.


"Ketiga, Mas ... sebagai suami dan istri. Menjalani ibadah puasa dengan suami itu rasanya sangat menyenangkan," balas Ervita.


Menurut Ervita memang sangat menyenangkan menjalankan ibadah puasa bersama suami tercinta. Ketika sahur, menunaikan makan sahur dan ibadah bersama. Lantas kala berbuka, Ervita akan membuatkan menu takjil yang kadang sesuai dengan request suaminya. Rasanya Ramadhan bersama Pandu selalu indah untuknya.


Situasi itu berbeda jauh ketika Ervita masih sendiri dan menjadi ibu tunggal. Baik berbuka dan sahur hanya dia jalani sendirian. Belum lagi, Indi sewaktu kecil tantrum, sehingga terkadang Ervita menikmati waktu berbuka dengan menggendong Indi menggunakan selendang.


Namun, bukankah semua adalah perjalanan hidup? Dulu, semuanya dijalani seorang diri dan ketika sudah diperistri Pandu, baik berbuka dan sahur akan dijalani bersama-sama. Tak jarang keduanya juga melakukan sholat tarawih berjamaah.


"Benar, Nda. Sangat indah yah menjalani ibadah puasa bersama. Nikmat Ramadhan lebih terasa," balas Pandu.


Ervita pun menganggukkan kepalanya. Memang benar apa yang baru saja diucapkan suaminya bahwa berkah dan nikmat Ramadhan itu lebih terasa. Itu juga yang Ervita rasakan. Ramadhan yang penuh berkah.


"Inget dulu waktu jaga kios kita sama-sama puasa nggak, Dinda? Kadang aku pengen banget ngajak kamu buka bersama. Sayangnya, aku tidak punya nyali. Sehingga, gak berani ngajakin kamu," balas Pandu.

__ADS_1


Ervita kemudian tersenyum. "Kamu tapi mau nganter dan jemput aku waktu perutku udah semakin besar. Gentle banget loh, Mas," ucap Ervita sembari mengenang masa lalunya dulu bersama dengan Pandu.


"Demi cinta, Nda. Sekalian PDKT, sapa tahu bisa mendapatkan hati kamu. Ternyata bisa. Wah, seneng banget," balas Pandu lagi.


"Aku juga seneng, Mas. Kamu adalah pria yang baik. Suami, imam, sahabat, ayah, dan juga pasangan yang terbaik. Dalam agama kita pernah dikatakan surga dan nerakanya istri itu ada di tangan suami. Alhamdulillah, aku merasakan surga selama hidup bersamamu," ucap Ervita.


Memang benar adanya bahwa surga dan nerakanya seorang istri ada di tangan suami. Ketika suami memberikan kasih sayang, perhatian, kepedulian, pemenuhan nafkah secara lahir dan batin, maka sang istri akan merasakan surga. Sementara, jika suami berlaku durjana dan menyakiti hati seorang istri, maka nerakalah yang dirasakannya. Sementara Ervita sendiri merasa sangat bersyukur karena suaminya adalah sosok yang baik. Sehingga, Ervita bisa merasakan surga.


"Kamu berlebihan, Dinda. Aku sebagai pria juga tidak sempurna loh," balas Pandu.


"Kan kita memang tidak harus menjadi sempurna untuk satu sama lain. Melengkapi satu sama lain. Menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dalam semua itu, Allah yang akan menyempurnakan," balas Ervita.


Pandu tersenyum. Pria itu kemudian menggenggam tangan Ervita perlahan. "Makasih, Dinda. Selama bersamamu, aku akan berusaha menghadirkan surga untukmu. Melimpahimu dengan segala kebaikan dan pengertian. Kita sama-sama saling melengkapi yah."


"Iya, Mas. Langkah kita masih panjang. Tahun demi tahun juga menanti untuk kita lewati bersama. Semoga saja Allah akan mempermudah dan meridhoi kita," balas Ervita.


Pasangan itu sama-sama tersenyum. Mengucap syukur untuk seluruh nikmat dari Allah. Bukankah rumah tangga yang harmonis, pasangan yang saling mengerti dan mencintai, anak-anak yang sehat dan bahagia juga adalah nikmat dari Allah? Untuk semua itu, mereka sangat bersyukur.


"Puasa hari pertama, ingin dibuatkan takjil apa Mas? Katanya kan berbuka dengan yang manis-manis. Mas Pandu mau dimasakin apa?" tanya Ervita kepada suaminya.


"Pulang disambut hangat dan mendapatkan senyuman darimu saja sudah manis, Dindaku," jawab Pandu.

__ADS_1


Sungguh jawaban yang terkesan hiperbola. Seakan penuh rayuan di sana. Hingga Ervita terkekeh geli karenanya.


"Ih, lebay deh," balas Ervita.


"Serius. Sapaan hangatmu dan senyumanmu aja manisnya melebihi sirup Marj*n," balas Pandu dengan tertawa.


Ervita terkekeh dalam tawa. Suaminya jika sudah mengeluarkan jurus rayuan dan gombalan seperti itu. Seorang stand up comedy pun akan kalah. Pandainya, suaminya itu membuatnya tertawa. Rasanya perut Ervita sampai terguncang karenanya.


"Lucu banget sih, Mas. Kalau enggak kenal kamu, mana tahu pria yang diem kayak kamu bisa menggombal kayak gini," balas Ervita.


"Harus kenal dan dekat dulu, Dinda. Baru tahu bahagianya hidup bersama Mas Pandu," balas Pandu.


Sekarang Ervita menganggukkan kepalanya, sangat setuju dengan ucapan suaminya itu. "Benar, harus hidup bersama dulu. Baru deh tahu kamu luar dan dalam. Orang pendiam kalau merayu jago juga," balas Ervita.


"Semuanya sih, Dinda. Untuk kamu, semuanya bisa aku lakukan," balas Pandu.


"Nah, gimana aku enggak merasakan surga kalau suamiku kayak gini. Makasih ya Mas. Semoga selama bersamamu, aku akan bahagia dan tidak merasakan neraka dunia," ucap Ervita.


"Sama-sama Dinda ... besok buatin Kolak ya, Dinda. Pake Kolang-kaling yah," request Pandu sekarang.


Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Nggih, sendika dawuh (Siap bersedia dan melakukan - dalam bahasa Indonesia) Mas Pandu," balas Ervita.

__ADS_1


Ya, memang surga dan nerakanya seorang istri ada di tangan suami. Semoga rumah tangga yang bahagia penuh dengan berkah akan kita rasakan. Menghadirkan surga di dalam rumah tangga kita.


Happy Reading🄰


__ADS_2