
Agaknya kebahagiaan masih menghinggapi keluarga Hadinata. Itu juga karena menantu mereka, yaitu Damar yang pulang ke Jogjakarta dengan membawa kabar baik. Pun, dengan Pertiwi yang pastinya begitu senang karena suaminya datang dari Lampung, setelah dua bulan lamanya.
Ya, sekarang usia Langit sudah dua bulan. Itu juga Pertiwi dan Damar sudah melakukan LDR selama dua bulan lamanya. Sebab, kali terakhir Damar pulang ke Jogjakarta adalah saat Pertiwi melahirkan Langit. Setelah dua bulan berlalu, baru sekarang Damar kembali ke Jogja.
Sehingga sekarang, seluruh keluarga Hadinata pun berkumpul di kediaman Bu Tari dan juga Pak Hadinata. Pandu, Ervita, dan anak-anaknya pun berkumpul di Pendopo keluarga Hadinata.
"Gimana kabarnya Mas?" tanya Pandu kepada kakak iparnya itu.
"Baik, Ndu ... seperti biasa," balas Damar.
"Wah, Mbak Pertiwi seneng dong ini," goda Ervita kepada Kakak Iparnya itu.
Setelah dua bulan tidak bertemu dan akhirnya kembali bertemu, sudah pasti akan merasakan bahagia. Mungkin saja, Pertiwi juga sudah selesai masa nifas, sehingga bisa meluapkan rasa kangen dengan suaminya. Itu juga hubungan Ervita dan Pertiwi itu baik, sehingga berani menggoda dan bercanda.
"Pastinya dong, Vi ... setelah berpisah lama," balas Pertiwi dengan tertawa.
Kemudian Pertiwi menatap kepada adiknya yang kala itu duduk di samping Ervita. "Kalau kamu harus sabar, Ndu ... menunggu Gunung Merapi Erupsi," candanya.
Pandu pun terlihat cuek dan kemudian membalas candaan kakaknya itu. "Sabar dong, Mbak ... sudah melihat sendiri bagaimana Ervita berjuang melahirkan. Aku aja juga takut. Waktu kami masih banyak. Bahkan nanti kalau anak-anak sudah besar, justru aku dan Dinda bisa pacaran terus," balas Pandu.
Di sana Pertiwi tertawa. "Ah, itu ... ngarepnya kamu aja, Ndu," balas Pertiwi.
Memang begitulah Kakak Adik itu. Ada kalanya, ketika mereka bertemu justru terjadi perdebatan yang lucu di antara keduanya. Bukan bertengkar, tapi memang suka bercanda seperti itu.
__ADS_1
"Aku sih, juga pengennya sama kayak Pandu, Yang ... kalau Lintang dan Langit sudah besar, kita bisa menikmati masa tua bersama," balas Damar.
Pandu kemudian tertawa. "Nah, sama kan, Mas. Cita-cita seorang pria mah begitu. Ketika anak-anak masih kecil, waktunya untuk anak-anak dulu. Nanti kalau anak-anak sudah dewasa, gantian waktunya dihabiskan dengan pasangan. Sampai pethuk pati yah, Nda," balas Pandu.
Pethuk pati berarti sampai akhir hayat. Sampai akhir menutup mata. Sebab, Pandu sendiri memang ingin menghabiskan waktu yang begitu panjang dengan Ervita. Hingga dia menua, hingga rambutnya memutih, bahkan sampai akhir hayatnya.
"Bener itu, Ndu ... aku juga setuju. Pernikahan kan sekali untuk seumur hidup," balas Damar.
Pembicaraan yang seru di antara dua pasangan keluarga muda itu, menarik perhatian Bu Tari dan Pak Hadinata yang turut berkumpul ke pendopo.
"Seru banget, bahas apa tow?" tanya Bu Tari.
"Bercanda saja, Bapak dan Ibu ... mumpung ketemu. Kalau enggak ketemu kan tidak bisa bercanda," balas Damar.
Damar menganggukkan kepalanya. Kemudian mumpung semua keluarga sudah berkumpul, termasuk mertuanya. Sekarang, menjadi waktu yang tepat untuk Damar menceritakan kabar baik yang dia miliki.
"Begini Bapak, Ibu, Pertiwi, dan semuanya. Sebenarnya, Damar pulang ini sekaligus membawa kabar yang bisa dibilang baik. Sudah keluar Surat Keterangan Mutasi Pegawai Negeri, dan Damar dimutasi," ucapnya.
Mendengar bahwa Damar dimutasi, jujur saja Pak Hadinata dan Bu Tari menjadi panik. Sebab, mereka yang bekerja sebagai abdi negara atau Pegawai Negeri Sipil ketika dimutasi harus siap ditempatkan di seluruh negeri dari Sabang hingga Merauke. Pertiwi pun seperti menunggu kabar lanjutan dari suaminya itu. Sekaligus Pertiwi merasa deg-degan kemana suaminya itu akan dimutasi.
"Mas Damar mau dimutasi kemana?" tanya Pandu.
Damar kemudian melirik ke istrinya terlebih dahulu dan kemudian barulah berbicara. "Damar dimutasi ke Kantor Pelayanan Pajak di Bantul, Bapak dan Ibu," ucapnya.
__ADS_1
Wah, betapa senangnya hati Pak Hadinata, Bu Tari, dan juga Pertiwi. Bahkan Pertiwi dan Bu Tari sampai meneteskan air matanya. Akhirnya, setelah bertahun-tahun tinggal di Bandar Lampung, sekarang bisa kembali ke homebase mereka, di Jogjakarta.
"Alhamdulillah ... bisa dekat dengan keluarga. Mulainya pindahan kapan?" tanya Bu Tari kemudian.
"Bulan depan, Bu ... menyelesaikan penugasan di Bandar Lampung dulu. Waktunya tepat, Bu. Pas Lintang semester depan nanti masuk TK, pas saya bisa pindah ke Jogjakarta," balasnya.
Melihat Pertiwi yang menangis, Ervita pun merangkul kakak iparnya itu, dan mengusapi punggungnya. "Kok malahan nangis, Mbak," ucap Ervita.
"Terharu, Vi ... dulu, ku pikir tidak akan bisa pulang ke Jogjakarta dan akan selalu ditempatkan ke daerah lain dari Sabang dari Merauke. Tahu sendiri, sebagai abdi negara, kami tidak punya wewenang. Hari ini bisa tidur nyenyak, tapi besok sudah keluar SK Mutasi," balas Pertiwi.
Ervita tahu benar, yang bekerja di instansi pemerintah memang seperti itu. Seakan sudah menjadi risiko tersendiri bagi mereka yang menjadi abdi negara. Bisa kembali ke kampung halaman menjadi hal yang mengharukan.
"Berkahnya Gusti, Damar. Pas Lintang mau TK, pas Papanya bisa kembali kerja di Jogjakarta," balas Pak Hadinata.
"Amin ... benar Bapak. Berkahnya Gusti. Waktunya begitu tepat," balasnya.
"Semoga semuanya dilancarkan, Damar. Semoga semuanya baik-baik saja," balas Pak Hadinata lagi.
"Selamat Mas ... bisa kumpul dengan keluarga," ucap Pandu.
"Nuwun, Ndu ... bisa merangkai momen indah dengan keluarga," balas Damar.
Ya, bisa kembali pindah ke kota halaman menjadi kebahagiaan tersendiri untuk keluarga Hadinata. Itu berarti Pertiwi pun tidak harus long distance marriage dengan suaminya lagi. Selain itu, Lintang bisa terus sekolah dan nanti bermain dengan Indi. Semua benar-benar dimudahkan oleh Allah.
__ADS_1