
Keesokan harinya, Pandu kembali bekerja di pagi hari dan dia juga hanya bekerja setelah makan siang saja. Setelahnya, Pandu berencana untuk mengajak Ervita jalan-jalan sejenak di Taman Hutan Kota Keputih. Bagi Pandu, tempat ini rasanya bagus dan juga Ervita setidaknya harus melihatnya. Jika, hanya mengurung diri di dalam kamar saja, Ervita tidak akan memiliki pengalaman untuk melihat indahnya kota Surabaya.
“Yuk Dinda … kita jalan-jalan dulu sebentar, sama kamarnya biar dibersihkan dulu. Mumpung sore dan tidak terlalu panas untuk berjalan-jalan,” ajak Pandu.
“Naik apa Mas?” tanya Ervita.
Pandu pun tersenyum di sana, “Aku sewa mobil dari hotel kok. Tenang, bisa muter-muter sepuasnya,” balas Pandu.
“Persiapan kamu selalu matang ya Mas … luar biasa,” balas Ervita.
Pandu hanya tersenyum dan juga bersiap untuk mengganti pakaiannya dan kemudian mereka keluar dari kamar. Tidak lupa, Pandu memberikan kunci kamar hotelnya yang berbentuk kartu itu kepada resepsionis dan meminta untuk membersihkan kamarnya. Sehingga saat mereka kembali nanti, kamar sudah dalam keadaan kembali bersih.
Dengan santai, Pandu melajukan mobil yang dia sewa itu dan menunjukkan tempat-tempat terkenal di Surabaya. “Yang kita tempati ini dekat dengan Pakuwon Mall, Nda … mall terbesar di Surabaya dan mungkin di Indonesia,” jelas Pandu.
“Makanya kemarin jalan-jalan beliin boneka aja rasanya capek di kaki,” balas Ervita.
Pandu pun tersenyum, “Aku tahu kamu capek jalan kaki, dan tidak menyerang kamu semalam,” balasnya.
Ervita pun tertawa, “Bisa saja sih Mas … di lutut yang capek, tapi kan sudah kamu pijitin semalam,” balas Ervita.
Ya, semalam untuk kali pertama Ervita meminta kepada suaminya untuk memijat kakinya. Rasanya cuma jalan-jalan sebentar, tetapi lututnya merasa begitu capek. Pandu pun dengan senang hati memijat kaki Ervita. Dia benar-benar membuktikan ucapannya jika Ervita meminta, pasti Pandu akan melakukannya.
"Ini ikon kota Surabaya, Nda ... pertempuran ikan dan buaya," jelas Pandu dengan menunjukkan ikon kota Surabaya berupa tugu ikan yang dalam bahasa Jawa disebut Sura, dan Buaya yang dalam bahasa Jawa disebut Baya.
"Kalau mereka bertempur dulu, yang menang yang mana Mas?" tanya Ervita dengan tiba-tiba.
"Kalau di cerita rakyat tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, Nda ... kan mereka bertarung terus sampai membuat kesepakatan, terus terjadi pertarungan kedua yang lebih dahsyat, seolah dua hewan ini bertarung sampai mati-matian. Sura menggigit ekor Baya hingga ekornya miring ke krii, dan Baya menggigit ekornya Sura sampai mau putus. Sungai tempat mereka bertarung sampai berubah warnanya menjadi merah darah. Terlihat kan, pertarungan walau dengan menghabiskan banyak darah juga tidak ada pemenangnya. Jadi, kalau bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin itu lebih baik," jelas Pandu.
Ervita pun tersenyum di sana, "Bijaknya Mas Kanda ini ... keren deh," balas Ervita.
__ADS_1
"Enggak juga, Nda ... aku cuma tidak suka penyelesaian masalah dengan saling bertarung saja. Bisa dicari jalan keluarnya. Sama seperti aku membela kamu dari buaya, kan aku tidak akan memukulnya, aku sih mencari jalan yang baik saja," balas Pandu.
Ervita lantas mengernyitkan keningnya dan menatap suaminya yang masih mengemudikan mobilnya itu, "Buaya yang mana? Itu, yang di Solo?" tanya Ervita.
Pandu pun tertawa, "Iya, buaya darat," balas Pandu.
Ervita pun memukul lengan suaminya itu. Gemas raasanya ketika Pandu berkata demikian. "Udah, gak bahas yang lalu, nanti jadi bad mood," balas Ervita.
"Iya, Dinda ... aku kan cuma mengandaikan saja. Berandai-andai di siang bolong," balas Pandu dengan kembali tertawa.
Mobil yang dikendarai Pandu terus melaju sampai tiba di sebuah hotel dengan cat warna putih dan Pandu agak melambat mengendarainya, "Kamu tahu ini tempat apa Nda?" tanya Pandu kemudian.
"Hmm, apa memangnya Mas?" tanyanya.
"Ini adalah Hotel Majapahit, ini bangunannya sejak zaman Belanda loh. Dulu, hotel ini masuk di pelajaran Sejarah kelas 6 SD. Ingat gak nama hotelnya?" tanya Pandu.
Pandu kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, ini Hotel Yamato, tempat terjadinya perobekan bendera Belanda, pemuda Surabaya merobek bagian birunya, dan yang berkibar menjadi warna merah dan putih. Hotel itu masih ada, dan hanya berganti nama saja," balas Pandu.
"Wis, bersejarah banget ya Mas ... nginap di sini pasti serem, karena terlihat bangunannya kolonial," balas Ervita.
"Iya, aku tidak bernyali untuk menginap di sini," balas Pandu. Kemudian dia kembali melajukan mobilnya lagi dan tempat yang dia tuju sekarang adalah Hutan Tama Kota Keputih.
Hutan Tama Kota Keputih atau yang biasa disebut dengan Taman Harmoni. Keindahan hutan bambu di taman ini tidak kalah cantik dengan Hutan Sagano di Jepang, maupun Hutan Ahopsan di Korea Selatan.
"Jalan-jalan sore di sini ya Nda ... mau difotoin enggak? Sini, aku akan jadi fotografer kamu," ucap Pandu dengan menawarkan foto kepada istrinya itu.
Ervita pun menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak ... aku jarang banget foto. Handphoneku saja, tidak ada fotoku. Semuanya fotonya Indi," balasnya.
"Fotoku juga enggak ada?" tanya Pandu.
__ADS_1
"Ada ... foto nikahan sih Mas," balasnya dengan tertawa.
"Ya sudah, sini ... foto berdua, Nda ... buat kenang-kenangan," balas Pandu.
Pria itu meraih hanpdhone Ervita dan kemudian berfoto berdua dengan Ervita. Beberapa pose mereka ambil bersama, dan Ervita pun terkekeh geli di sana.
"Baru kali ini foto sama cowok loh, pacaran beneran deh," ucapnya.
"Serius?" tanya Pandu.
"Iya, aku gak pernah foto-foto kok Mas," balasnya.
Pandu pun tertawa, "Kamu polos banget sih, Nda ... kepolosan kamu kayak gini yang dimanfaatkan buaya, udah gitu buayanya buaya buntung lagi," balas Pandu.
"Konon katanya untuk merasakan kebahagiaan harus berenang-renang dahulu, bersakit-sakit kemudian, aku kayaknya seperti itu. Cuman, orang Indonesia itu aneh deh. Padahal buaya itu hewan yang setia loh, dia hanya memiliki satu pasangan saja, dan ketika buaya wanitanya tiada, buaya pria akan hidup sendiri selamanya. Malahan kata buaya untuk melambangkan pria hidung belang," balas Ervita.
Pandu pun tertawa, "Aku buaya yang asli aja Nda ... yang setia sama kamu sampai aku menua," balasnya.
Ervita tertawa kali ini, "Yah, dari buaya buntung, aku sekarang digigit buaya muara," balasnya.
"Muara cinta menuju Swargaloka," balas Pandu dengan berbisik lirih di telinga istrinya itu.
Selalu ada-ada saja yang mereka obrolkan bersama. Dari buaya, ujung-ujungnya juga ke Swargaloka. Sampai keduanya tertawa bersama di sana. Ketika mereka sedang tertawa dan melihat hasil foto di handphone milik Ervita, dari jauh ada sosok pria yang memanggil nama Pandu.
"Ndu ... Pandu."
Ervita dan Pandu pun teralihkan atensinya dan melihat ke sosok pria yang berjalan kian mendekat ke arahnya.
Siapakah lagi yang mengenali Pandu di kota Surabaya itu?
__ADS_1