Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Upaya Mengelabui Ervita


__ADS_3

Setidaknya Ervita pun menjadi pribadi yang mawas diri dengan seorang pria. Terlebih lagi, ketika melihat Firhan di sana. Justru membuat Ervita sadar bahwa Firhan memang tidak sebaik yang dia pikirkan dulu. Penilaiannya atas Firhan semuanya berubah sejak Firhan menolak untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah mereka lakukan bersama.


Ervita menyadari bahwa semua bukan murni salah Firhan. Ervita menyadari bahwa dirinya juga bersalah. Salahnya yang justru larut, menyerah dalam pelukan dan bujuk rayu Firhan. Akan tetapi, begitu dirinya positif hamil, tidak ada bentuk tanggung jawab dari seorang Firhan kepadanya.


"Jangan hanya mengambil keputusan karena emosi saja, Vi ... sabar, dan kendalikan emosi. Mungkin sekarang kamu merasa bisa sendiri. Akan tetapi, kita tidak pernah tahu di kemudian hari. Siapa tahu nanti Indira minta Ayah, kamu akan seperti apa?" tanya Pandu kemudian.


Ervita tersenyum di sana, "Mungkin saja. Cuma untuk sekarang, aku masih mau membesarkan Indi dulu, Mas. Sudah begitu banyak badai yang aku alami. Untuk itu, di masa tenang yang tidak sepenuhnya tenang ini aku ingin menikmatinya bersama Indi," balas Ervita.


Ya, sebenarnya kali ini adalah masa tenang. Akan tetapi, dengan kembali bertemu Firhan, Ervita merasa bahwa masa kali ini pun tidak sepenuhnya tenang. Dirinya harus lebih waspada lagi, terutama Firhan yang agaknya mulai menebar hal-hal yang tidak baik kepadanya.


"Oh, iya ... nanti kalau Mas Pandu punya cewek, kenalin ke aku yah," ucap Ervita kali ini yang tentunya mengalihkan topik pembicaraan.


Pandu mengulas senyuman tipis di sana, "Ya, nanti kalau ada," balasnya singkat.


"Pasti ada lah. Enggan mungkin juga kan mau melajang terus?" tanya Ervita.


"Ya, nanti nunggu yang cocok. Walau nunggunya agak lama enggak apa-apa, yang penting bisa membangun rumah tangga selamanya," balas Pandu.


Kali ini Ervita tersenyum di sana, dan kemudian Ervita mengaminkan ucapan Pandu itu. "Amin ... aku doakan Mas Pandu dapat istri yang baik. Yang bisa diajak membangun rumah tangga bersama untuk selamanya," balasnya.


"Kamu juga semoga bisa mendapatkan pasangan yang baik, Vi," sahut Pandu.

__ADS_1


"Kalau sudah Single Mom kayak aku susah, Mas. Banyak pertimbanganku, apalagi aku jauh dari keluarga. Belum tentu Bapak dan Ibuku di Solo akan memberikan restu, belum tentu Indi juga mau seorang Ayah, jadi aku lebih baik untuk tidak dulu. Hidupku masih abu-abu."


Tidak dipungkiri bahwa Ervita memiliki banyak pertimbangan sendiri. Pernikahan untuk seorang Ibu tunggal itu harus mempertimbangan banyak aspek. Walau Ervita jauh, dia tetap menginginkan adanya restu dari Bapak dan Ibunya. Juga Indira yang mau menerima sosok Ayahnya juga, belum berbagai masa lalu yang sudah pasti tidak bisa dikubur. Mungkinkah ada sosok pria yang pada akhirnya mau menerimanya apa adanya? Mau menerima Indira sebagai bayi yang lahir di luar pernikahan? Juga, mau menerima masa lalunya yang tidak bisa ditutupi.


"Tidak selamanya hidup menjadi kelabu, Vi ... ada kalanya Tuhan izinkan sirat warna yang lain singgah di hidup kita kok. Ya sudah, kita pulang yuk? Nanti Indira rewel loh," ajak Pandu.


Pemuda itu segera berdiri dan membayar makanan mereka berdua. Sebenarnya, Ervita ingin membayarnya, tetapi dicegah oleh Pandu. Pandu berkata bahwa sudah selayaknya pria yang membayar saat mengajak wanita. Sehingga Pandu menolak Ervita kala akan membayar makan siang keduanya.


***


Selang satu pekan ....


Pandu dan Ervita kembali mengunjungi Museum Batik. Kali ini keduanya akan mengenalkan bisnis batik yang sudah dirintis oleh keluarga Hadinata dan juga memberikan sosialisasi kewirausahaan kepada mahasiswa KKN.


"Cuman kalau salah diback-up lagi ya Mas," balas Ervita.


"Iya, tenang saja ... nanti pasti dibantuin. Ngomong-ngomong, kamu tidak apa-apa kan ketemu pria itu lagi?" tanya Pandu.


Ervita menggelengkan kepalanya secara samar, "Tidak apa-apa, Mas. Aku berusaha baik-baik saja."


Kali ini Ervita mengatakan bahwa dia akan berusaha untuk baik-baik saja. Walau hatinya masih terluka, walau sebenarnya enggan untuk bertemu dengan Firhan, tetapi dia harus melawan semuanya itu. Sebab, tidak kemungkinan di lain waktu, dia akan bertemu orang yang pernah menyakitinya lagi.

__ADS_1


"Bagus. Aku ke bagian panitia dulu yah. Kamu jaga stand booth kita yah," pinta Pandu.


Kemudian Pandu meninggalkan Ervita di bagian stand booth Batik Hadinata, hanya ada Ervita yang berada di sana. Terlihat Ervita sambil mempelajari bagian dari slide powerpoint yang sudah dibuat Pandu dan dirinya beberapa hari yang lalu.


"Ervita, kita ketemu lagi," sapa Firhan kali ini yang mendatangi booth yang dijaga Ervita sendirian.


Ervita hanya diam dan tidak merespons suara Firhan. Lebih baik, dia bergegas dan menyelesaikan untuk bisa menguasai materi. Sehingga bisa menyajikan penjelasan terbaik dari apa yang dia bisa.


"Sombong banget ... setelah satu tahun, ternyata kamu menjadi wirausahawati yang sukses ya Vita," ucap Firhan dengan mengamati batik-batik Hadinata yang memang terjaga kualitasnya itu.


"Ervita, aku minta maaf untuk kesalahanku dulu ... aku minta maaf dan aku akan meyakinkan Bapak dan Ibuku untuk bisa menerimamu," ucap Firhan lirih.


Mendengar apa yang diucapkan Firhan, perlahan Ervita menghela nafasnya, wanita itu sekilas tersenyum di sana. "Maaf Firhan, aku sudah tidak mengharapkan tanggung jawab darimu. Aku lebih dari mampu untuk bisa menghidupi anakku," balasnya.


Setelah semua duka, semua penghinaan yang pernah Firhan lontarkan, kali ini Ervita tidak akan terperdaya lagi dengan Firhan. Lagipula, Ervita sudah melihat sendiri bahwa Firhan sudah bersama Tiana. Itu berarti memang Firhan tidak merasa bersalah.


"Jangan sombong Vita ... aku tahu kamu sudah menjadi orang yang sukses kini. Cuma, anakmu butuh Ayahnya kan? Aku akan meyakinkan Bapak dan Ibu supaya mereka memberikan restu atas kita berdua. Aku siap bertanggung jawab sekarang."


Ucapan yang begitu manis dari bibir Firhan. Kali ini memang Firhan berusaha mengelabui Ervita. Mungkin saja Ervita kali ini akan jatuh lagi dalam pelukannya. Sehingga Firhan bisa mendapatkan bantuan dana mengingat sebentar lagi juga waktunya Skripsi dan penelitian, sehingga kekayaan Ervita bisa dia manfaatkan bukan? Firhan menjalankan strategi bahwa wanita biasanya mudah dirayu dan diperdaya, sehingga tidak ada salahnya Firhan mencobanya.


"Tidak! Anakku tidak pernah membutuhkan ayahnya. Bagiku dan bagi anakku, ayah kandungnya sudah mati."

__ADS_1


Ervita menjawab dengan tegas. Tidak akan mengharapkan apa pun terkait Firhan. Kesempatan kedua saat dia hamil dan menunjukkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak serta hasil USG di sana yang berakhir dengan penolakan Firhan lagi, baginya kala itu juga Firhan sudah mati baginya. Baik dia dan Indira sama sekali tidak mengharapkan sosok Firhan. Lebih baik Ervita akan berusaha menjadi Ibu tunggal, mencurahkan kasih sayang, mencari nafkah untuk bisa hidup bersama dengan Indira. Itu jauh lebih baik daripada memberi kesempatan pada pria yang dulu pernah menolaknya dan mengingkari janjinya. Bahkan pria yang kini berdiri di hadapannya saja tidak pernah ada rasa bersalah terhadap buah kandungnya sendiri. Untuk pria seperti itu, tidak akan pernah Ervita kembali memberikan maaf dan kesempatan baginya.


__ADS_2