Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Memupus Ego


__ADS_3

Keesokan harinya, tanpa sengaja justru Firhan dan Wati yang saat itu sedang jalan-jalan di area Taman Cerdas yang berada dekat dengan Solo Technopark justru melihat Indi yang kala itu tengah melihat patung-patung wayang dengan Ayahnya. Ada Ervita dan Irene juga di sana.


Dari jauh, Firhan sudah melihat bahwa gadis kecil yang berdiri di bawah patung Rama Sinta itu adalah Indi. Bahkan Wati tampak mengamati suaminya. Wati tahu bahwa tidak mudah bagi Firhan untuk melihat kedekatan antara Indi dengan Firhan.


"Itu Indi, Mas," ucap Wati kepada suaminya. Walau Wati sudah sangat yakin bahwa suaminya sudah mengenali bahwa ada Indi di jarak beberapa meter.


"Iya, aku melihatnya dari tadi, Sayang," balas Firhan.


Setelah itu, Firhan menoleh dan menatap wajah istrinya. "Kita menyapa mereka sebentar, boleh tidak?"


Bagaimana pun, Firhan tidak mau egois. Dia ingin untuk keputusan yang dia ambil, Wati juga memberikan andilnya. Jika, Wati setuju ya, Firhan akan menyapa mereka. Sekadar menyapa. Tidak berpengaruh apa-apa. Walau sekarang yang membuat Firhan kadang terbawa perasaan dengan Indi.


"Tidak apa-apa, Mas," balas Wati.


Usai itu, Firhan menggandeng tangan Wati. Mereka berjalan menuju patung-patung wayang. Kemudian Firhan menyapa Pandu dan keluarga.


"Ketemu dengan Pandu nih. Gak sengaja loh," sapa Firhan.


Pandu juga kaget. Tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan Firhan. Ervita bersikap tenang dan santai. Sementara Indi yang segera berdiri di belakang Yayahnya. Bahkan tangannya kini memegangi pinggang Pandu dari belakang. Bukti bahwa Indi sebenarnya takut.


"Yayah," suara Indi dengan lirih.


Pandu menganggukkan kepalanya. Itu adalah bentuk isyarat bahwa memang ada dirinya. Pandu pasti akan melindungi Indi.


"Wah, ketemu lagi. Setelah kemarin bertemu kala tarawih," balas Pandu.


"Iya, tadi melihat kalian semua dari sana. Jadi, sekalian menyapa," balas Firhan.


Wati juga tidak tinggal diam. Menyapa Ervita dan Pandu juga.


"Halo Mbak Ervi dan suami. Lama tidak bertemu," sapa Wati.

__ADS_1


Ervita pun tersenyum. "Kami baik, Wati. Aku semalam mendengar kabar dari Mas Pandu. Kamu sudah hamil yah sekarang? Selamat yah. Semoga sehat selalu dan lancar sampai persalinan nanti," balas Ervita.


"Wah, makasih ya Mbak Ervi. Semoga nanti bisa lancar. Makasih doanya," balas Wati.


Kemudian Firhan menatap Indi. Jujur saja, Firhan sedih. Dia adalah ayah biologis Indi, tapi darah dagingnya sendiri justru takut dan enggan untuk bertemu dengannya. Padahal Firhan juga ingin menyapa dan memeluk Indi. Namun, bagaimana lagi. Sekarang Firhan melihat sendiri bagaimana takutnya Indi.


"Indi tadi lihat apa?" tanya Firhan.


Ya, Firhan berusaha untuk mendekati Indi. Memberikan pertanyaan yang sekiranya akan dijawab Indi. Cukup dijawab Indi saja Firhan sudah akan merasa senang.


"Mbak Didi, ditanyain loh. Hayo, ingat pesannya Yayah enggak?"


Sekarang Pandu yang berbicara kepada Indi. Dia mengingatkan Indi dengan pesannya kala di Jogja. Walau tidak suka dan takut, tetap harus menghargai orang lain. Itu adalah ajaran dari Pandu.


"Yayah," balas Indi dengan tenang.


"Dijawab dong, kan Yayah sudah memberitahu Indi," balas Pandu. Itu adalah teguran dengan lembut. Pandu juga tidak akan memaksa. Hanya saja, Pandu ingin Indi ingat dengan pesannya kemarin.


Firhan lega. Dia tidak berharap banyak. Pertanyaannya dijawab Indi saja dia sudah senang. Namun, Firhan tahu bahwa itu semua juga karena andil Pandu yang menegur Indi dengan lembut.


"Coba, wayangnya namanya siapa sih?", tanya Firhan lagi.


Lagi Pandu menoleh ke belakang sedikit dan menganggukkan kepalanya kepada Indi. Sebuah isyarat kecil supaya Indi mau untuk menjawab lagi. Sekali lagi itu bukan paksaan. Hanya saja, Pandu ingin Indi tumbuh sebagai anak yang bisa menaruh hormat kepada siapa saja.


"Rama Sinta," balas Indi singkat.


Wati tersenyum. Setidaknya memang Indi tidak menangis histeris seperti dulu. Melainkan mau memberikan jawaban walau hanya jawaban singkat. Wati yakin, ketika pertanyaan suaminya dibalas oleh Indi sudah pasti Firhan akan merasa senang.


"Boleh enggak Om Firhan tos sama Indi?"


Sekarang Firhan berkata demikian. Dulu, Firhan mengatakan dirinya adalah ayahnya Indi, tapi sekarang Firhan menurunkan egonya memang lebih baik mengatakan dirinya dengan panggilan Om saja. Supaya Indi bisa lebih nyaman dengannya. Selain itu, Firhan mengalah karena Indi sudah nyaman dengan Pandu.

__ADS_1


Terlebih Pandu menatap Firhan seakan bertanya-tanya kenapa Firhan berkata demikian. Firhan pun menganggukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa," ucapnya lirih kepada Pandu.


Indi kemudian seolah keluar dari persembunyiannya, dia melangkah dan mau untuk tos dengan Firhan. Akhirnya Firhan dan Indi pun sama-sama tos. Wati mengabadikan momen itu secara candid dengan kamera handphonenya. Sebatas akan menjadi kenang-kenangan yang indah.


"Nah, gitu ... makasih Indi. Om Firhan senang," balasnya.


Usai tos, Indi mengajak Bundanya melihat-lihat yang lainnya. Ervita pun menuruti Indi. Sementara Pandu yang menggendong Irene dengan hipseat kemudian masih berbicara dengan Firhan.


"Kenapa tadi?" tanya Pandu dengan singkat.


"Tidak apa-apa. Sebab, dia lebih nyaman begitu. Indi juga merasa Ayahnya hanya kamu," balasnya.


Sekali lagi Firhan menegaskan bahwa Indi sudah merasa ayahnya hanya satu dan itu adalah Pandu. Dia pun hanya ingin menjalin hubungan baik dengan Indi saja. Firhan juga sadar sukar baginya menjadi sosok ayah untuk Indi. Posisi Pandu di dalam hati Indi tak akan terganti.


"Maaf yah," balas Pandu kemudian.


"Tidak perlu meminta maaf. Tidak apa-apa. Dia mau menjawab pertanyaanku dan mau tos saja. Aku sudah senang," aku Firhan dengan jujur.


Pandu juga sungkan Dengan Firhan. Namun, dia juga tidak mau memaksakan. Dampaknya juga akan buruk untuk Indi. Dia ingin lebih menjadi hati putrinya itu.


"Aku hanya ayah secara biologis saja. Namun, kamu adalah ayahnya yang menemani tumbuh kembangnya setiap hari. Makasih yah, sudah memberitahu Indi untuk mau menjawab pertanyaanku," balasnya.


Pandu kemudian menganggukkan kepalanya. "Sama-sama. Aku doakan yang terbaik untukmu."


Firhan mengangguk perlahan. "Nanti kalau baby kami lahir, main yah ke Solo," balas Firhan.


"Iya, boleh. Ya sudah, silakan dilanjut. Aku dan istri juga akan melanjutkan ke aktivitas yang lain," balas Firhan.


Sekarang, Firhan memilih berpamitan dan berusaha untuk melanjutkan kegiatannya bersama Wati. Sudah lega bisa bertemu Indi, pertanyaannya dijawab, dan juga bisa tos. Itu saja sudah cukup.

__ADS_1


__ADS_2