Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Perihal Mas Kawin


__ADS_3

Agaknya, keluarga Hadinata tidak main-main perihal niatannya untuk meminang Ervita bagi Pandu. Keesokan harinya, ketika Indira sudah tidur, Bu Tari meminta Ervita untuk datang ke rumah sebentar dan hendak berbicara dengan Ervita.


Ervita pun menaruh guling di samping kanan dan kiri Indira yang sudah terlelap, kemudian dia menutup pintu dan menuju ke ruang tamu keluarga Hadinata yang berada Pendopo yang ada di depan rumahnya.


"Sini, Vi ... Bapak dan Ibu ingin berbicara sama kamu," ucap Bu Tari yang sudah terlebih dahulu ada di Pendopo itu.


Bukan hanya Bu Tari, di sana pun sudah ada Bapak Hadinata dan juga Pandu.


"Iya Bu ... ada apa?" tanyanya.


"Satu lapan, kurang lebih 35 hari itu kan cepat. Jadi, Bapak dan Ibu mau mengajak kalian berbicara untuk pernikahan kalian, perihal mas kawin," ucap Pak Hadinata kini kepada Ervita.


Mas kawin adalah pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri sebagai ketulusan hati calon suami untuk menimbulkan rasa cinta kasih seorang istri kepada suaminya. Mas kawin hanya diberikan calon suami kepada calon istri, bukan kepada wanita lain atau siapa pun. Orang lain tidak akan boleh mengambilnya, bahkan suaminya sendiripun tidak boleh mengambilnya kecuali atas izin istrinya.


Sekarang pun terlihat jelas bahwa keluarga Hadinata terlihat sangat serius dengan pernikahan ini. Sampai perihal mas kawin dirembug bersama.


"Bapak dan Ibu, saya tidak tahu perihal mas kawin seperti ini. Hanya saja seperangkat alat sholat saja sudah cukup," jawabnya.


"Ya, kalau seperangkat alat sholat itu pasti, Vi ... kan itu pasti akan diberikan. Tentu ada mahar pernikahan yang lainnya berupa harta benda," balas Bu Tari.


Ervita tampak terdiam. Dia benar-benar tidak tahu perihal mas kawin atau mahar dalam pernikahan. Namun, menurutnya seperangkat alat sholat itu sudah lebih dari cukup baginya.


"Itu saja Bu ... kan seperangkat alat sholat itu adalah simbol bahwa suami nanti siap membimbing dan menuntun istri dalam hal agama. Dibandingkan mahar dalam bentuk lain, seperangkat alat sholat memang terbilang relatif murah. Namun, disitulah makna dan nilai tanggung jawab seorang suami, dan menetapkan dasar sebuah jalinan pernikahan," jelas Ervita.


Bukan bermaksud menggurui. Akan tetapi, Ervita sangat yakin bahwa suami adalah imam yang sudah Allah pilihkan. Dasar berkeluarga tentu hanya firman Allah semata.


"Masyaallah," balas Pak Hadinata dengan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya sudah, jadi kamu tidak ingin mahar lainnya?" tanya Pak Hadinata lagi.


"Menurut Bapak, Ibu, dan Mas Pandu bagaimana baiknya. Ervita sudah mendapatkan kasih sayang dari keluarga ini saja sudah bahagia," balasnya.


Pandu di sana tersenyum, terlihat jelas bahwa Ervita adalah wanita yang mulia. Tidak silau dengan harta kekayaan duniawi. Padahal keluarga Hadinata bisa memberikan begitu banyak mahar pernikahan untuk Ervita.


"Ya sudah ... untuk yang lain biar kamu putuskan yah. Kalian besok, ke toko emas ... beli cincin pernikahan. Kalau yang membeli Bapak dan Ibu ya kami tidak tahu ukuran jari kalian. Digrafir nama kalian sekaligus. Harinya terus berjalan, jadi kita akan bergerak cepat," perintah dari Bu Tari.


Pandu dan Ervita pun sama-sama menganggukkan kepalanya. Usai berbicara dengan Ervita, Bapak dan Ibu masuk ke dalam. Sementara mereka masih meninggalkan Pandu dan Ervita di Pendopo itu. Mungkin saja masih ada yang ingin dibicarakan berdua, sehingga mereka diberikan waktu untuk bersama.


"Vi ... makasih yah," ucap Pandu kemudian.


"Hmm, untuk apa Mas?" tanyanya.


"Untuk kesederhanaan kamu. Ketika seseorang ditanya Mas Kawin pernikahan, justru jawabanmu sangat bagus. Aku mungkin juga bukan pria yang sempurna, tetapi kita bisa sama-sama belajar dari awal yah," balas Pandu.


Ervita pun tersenyum di sana, "Mendapatkan keluarga yang sangat menyayangi Ervita saja, Ervi sudah bersyukur, Mas ... dalam pahitnya hidup Ervi ada keluarga ini yang memberikan naungan bagi Ervi. Ini mahar yang sangat mulia dan tidak bernilai harganya," aku Ervita dengan sungguh-sungguh.


Sebab, Pandu masih ingat bahwa dulu Ervita berbicara tidak siap untuk menikah. Ingin menjadi Ibu Tunggal bagi Indira. Padahal kala itu, sebenarnya Pandu ingin lebih mengenal Ervita dan tahu apa keinginan wanita itu. Pandu sangat tahu luka yang dialami Ervita sangat dalam, tetapi menurut Pandu, Ervita juga berhak untuk merajut asa dan mencecap manisnya kebahagiaan.


"Siap tidak siap, Mas," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.


"Ya, sudah ... penting kita menikah dulu. Nanti kita bisa sama-sama belajar lagi. Tidak apa-apa. Santai saja kok. Kita juga banyak waktu untuk semakin mengenal satu sama lain," balas Pandu.


"Mas Pandu justru yang sekarang terlihat ingin menikah," balas Ervita.


Mendengar apa yang disampaikan Ervita, Pandu pun tersenyum di sana, "Iya ... sudah siap sekarang. Sebenarnya sejak ketemu kamu, aku sudah siap, Vi ... hanya saja, aku tahu kamu yang belum siap," balas Pandu.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, keduanya sama-sama diam. Hingga akhirnya Pandu pun menatap wajah Ervita yang sedari tadi hanya menundukkan wajahnya, "Ervi ... percaya saja. Kita bisa bahagia bersama. Aku menikahimu bukan karena kasihan kepada kamu dan Indi. Aku menikahimu karena aku sayang dan cinta sama kamu, Vi," ucapnya.


Kala Pandu mengungkap semuanya itu, Ervita pun mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Namun, Ervita juga ingin tahu kapan Pandu mulai sayang dengan dia dan Indi.


"Kalau karena kasihan lebih baik tidak usah dilangsungkan, Mas," balas Ervita dengan tersenyum tipis di sana.


"Ya, makanya itu ... aku memberitahumu perasaanku. Cuma, kamu sendiri pasti belum cinta ya ke aku? Terlalu cepat yah?" tanya Pandu dengan tiba-tiba.


Dalam menyembuhkan dan membasuh lukanya, seorang wanita membutuhkan waktu yang lebih lama. Efek traumatis yang ditinggalkan dalam hati bisa bertahan untuk bertahun-tahun lamanya. Sementara rasa menghargai, rasa menghormati, bahkan rasa nyaman itu ada di dalam hati Ervita. Akan tetapi, jika cinta ... mungkin itu belum ada, atau dia belum menyadari perasaan itu.


"Ya, nanti belajar mencintai aku ya, Vi ... aku cuma pria sederhana dan tidak neko-neko. Semoga tidak membutuhkan waktu lama yah," balas Pandu.


Ervita yang duduk di sana pun akhirnya menganggukkan kepalanya, "Aku tidak tahu, Mas Pandu ... cuma aku sangat menghargai Mas Pandu, sangat menghormati Mas Pandu, dan ketika kita saling berbicara juga nyambung. Semoga saja semua dimudahkan, Mas," balas Ervita.


Pandu pun tersenyum di sana. Baginya mungkin perasaan itu ada, hanya saja masih terlihat samar, sehingga Ervita belum menyadari apakah itu cinta.


"Ya sudah ... besok kita ke toko emas yah ... kamu bisanya jam berapa?" tanya Pandu kemudian.


"Besok pagi, aku packing untuk batik yang dibeli online itu dan masih menunggu Abang Paket untuk mengambil ke sini. Jadi mungkin usai makan siang deh Mas," balas Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Ya sudah, tidak apa-apa. Aku besok juga ke kantor sebentar ada pekerjaan desain interior. Nanti aku kirimi pesan kalau aku sudah mau pulang yah. Ngomong-ngomong kamu sudah kepikiran cincin kawin yang seperti apa?" tanyanya.


Kali ini Ervita pun kembali tersenyum, "Ya, simpel saja ya Mas ... kan cincin nikah itu dipakai seumur hidup. Jadi, simpel saja yah," balasnya.


"Iya ... aku juga yang simpel. Masih selera kayaknya kita juga sama deh, Vi ... tidak terlalu suka yang ribet. Cuma akad dan pernikahan nanti, aku tidak tahu akan simpel atau ribet," balas Pandu.


"Ya, kalau itu mengikuti keluarga aja, Mas. Orang tua kan memiliki keinginan sendiri saat menikahkan anaknya. Jadi ... ya ikuti saja," balas Ervita. Kemudian Ervita melirik sekilas ke Pandu, "Cuma, kalau bisa tidak terlalu lama ... aku takut Indi rewel juga. Maaf ya Mas, kan yang kamu nikahi bukan seorang gadis. Melainkan wanita beranak satu," balasnya.

__ADS_1


"Tidak masalah Vi ... cinta bisa memaklumi semua itu."


Pandu memberikan balasan secara tulus dan sungguh-sungguh. Namun, yang disampaikan Ervita benar bahwa jika acara pernikahan terlalu lama, bisa-bisa Indi rewel dan mencari Bundanya.


__ADS_2