Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Masih Acara Empat Bulanan


__ADS_3

Walau hanya empat bulanan, rupanya tamu yang datang cukup banyak. Memang dari tetangga sesama satu RT saja, tetapi yang datang dalam pengajian memang banyak. Bu Tari dan Pak Hadinata saja sampai terkejut dengan banyaknya tamu yang datang. Selain itu, mereka tadi juga tertawa ketika anak-anak kecil berkumpul dan mengikuti acara Bancakan.


Usap pengajian itu, para Bapak-bapak yang kebanyakan hadir duduk bersama, lantas disajikan nasi beserta lauk yang dialasi dengan daun pisang. Ada berbagai jenis lauk berupa ikan teri, ayam goreng, ikan asin, tahu, tempe, dan lalapan. Lantas ada pemuka agama yang membacakan doa. Setelahnya semuanya makan bersama-sama. Ada ucapan syukur, ada kebersamaan dan juga kekerabatan yang tercipta kala seluruh undangan makan bersama dengan alas daun pisang atau bisa juga daun jati.


Pun dengan Tuan Rumah yang berbaur dengan para tamu undangan yang lainnya. Ini pun menjadi acara empat bulanan yang dilakukan keluarga Pak Agus dalam dua bulan ini karena memang sebelumnya mereka sudah melakukan pengajian untuk Mei sebelumnya, dan sekarang mereka melakukan pengajian dan syukuran untuk Ervita.


"Satu tahun akan mendapatkan dua cucu ya Pak?" tanya salah seorang Bapak-bapak yang turut hadir sore itu.


"Iya Pak ... dianugerahi banyak cucu, biar di masa tua nanti bisa ditemui cucu, Pak," balas Pak Agus.


Lantas ada seorang tetangga yang berceletuk kala itu, "Kelihatannya Firhan itu juga sudah menikah beberapa bulan kan ya? Istrinya masih belum hamil."


Jangan ditanya, di beberapa kampung pun para Bapak-bapak bisa saling mengamati dan juga bisa lebih julid dari perempuan. Sekarang terlihat jelas ada yang mengamati Firhan dan istrinya, dan membicarakan bahwa istrinya belum juga hamil. Memang begitulah orang-orang, ketika belum menikah mereka akan bertanya kapan menikah. Ketika sudah menikah, maka pertanyaan akan berganti kapan hamilnya. Ketika sudah hamil dan anaknya sudah lahir, maka pertanyaan akan berganti lagi kapan menambah anak lagi. Padahal siklus kehidupan tidak melulu demikian. Manusia sebatas menjalani dan memiliki perencanaan masing-masing dalam hidupnya. Menikah, memiliki anak, bahkan menambah anak, setiap keluarga hendaknya sudah membuat perencanaan akan hal seperti ini.


"Cucunya sudah mau tiga ya Pak Agus?" tanya seorang tetangga yang lain.


"Iya Pak ... sudah tiga," balasnya.

__ADS_1


Setelah makan bersama, para tetangga yang pulang masih diberikan Nasi Berkat dan juga kue yang dibawakan oleh keluarga Hadinata dari Jogja. Semuanya pun merasa senang dan mendoakan supaya bayi yang dikandung Ervita akan sehat dan selamat.


Kala itu ada juga Bu Yeni yang datang untuk sekadar memberikan selamat. Walau sebenarnya malu, tapi karena tetangga maka Bu Yeni pun datang juga.


"Turut mendoakan dan berbahagia nggih Bu Sri ... semoga Ervi dan bayinya sehat," ucap wanita paruh baya itu.


"Iya, matur nuwun ... terima kasih Bu Yeni. Bagaimana kabarnya, sehat?" balas Bu Sri.


"Amin, sehat," balas Bu Yeni lagi.


"Maaf tadi tidak bisa membantu memasak, Bu ... soalnya tadi habis dari Semarang menjenguk Erma," ucapnya.


"Tidak apa-apa, Bu ... wong juga tidak repot. Hanya membuat bancakan saja," balasnya.


"Sudah empat bulan yah hamilnya?"


"Iya, lebih satu atu dua minggu sih, Bu ... tapi tidak apa-apa. Bagaimana Mbak Wati sudah hamil?" tanya Bu Sri yang kali ini menanyakan apakah istrinya Firhan itu sudah hamil.

__ADS_1


Tampak Bu Yeni menggelengkan kepalanya, "Belum, Bu ... padahal pernikahan mereka sudah setengah tahun berlalu juga. Belum rezekinya mungkin, Bu," balas Bu Yeni lagi.


Hingga akhirnya Bu Yeni meminum Teh hangat dan juga memakan satu kue. Setelahnya dia pun berpamitan untuk pulang. Wanita paruh baya itu tampak menghentikan langkahnya ketika melihat Indi yang berlari-lari dan memanggil Pandu dengan sebutan Ayah. Dadanya terasa sesak melihatnya. Juga, Indi dan Pandu yang dia tahu tidak ada ikatan darah apa-apa, justru bisa begitu akrab dan juga saling menyayangi.


"Monggo, Mas Pandu," sapa Bu Yeni dengan menganggukkan kepalanya.


"Ya, Bu ... silakan," balas Pandu dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Namun, langkah kaki Bu Yeni begitu pelan ketika sekarang Indi meminta gendong kepada Ayahnya. Begitu lucu sekali, sampai mata Bu Yeni pun berembun. Dalam hatinya wanita itu bergumam, "Beruntungnya Indi yang mendapatkan ayah sebaik Mas Pandu. Walau sebenarnya dia adalah darah daging orang lain, tetapi Mas Pandu sayang banget padanya. Walau ayah kandungnya sendiri tidak sayang dan tidak mengakui, Tuhan itu adil. Orang yang lain bisa dipakai Tuhan untuk mencurahkan kasih sayang kepada anak kecil itu."


"Yayah ... jangan lari, tunggu Didi," teriak Indi yang sudah turun dan hendak mengejar Ayahnya itu.


"Lah, Yayah di sini saja loh, Didi. Sudah yah, sudah malam ... nanti kalau banyak berlari-lari, Didi bisa ngompol loh," balas Pandu.


Semua kegiatan Indi dan Pandu itu bisa terlihat oleh Bu Yeni, dan juga dalam hatinya terasa ngilu. Andai kehidupan rumah tangga Firhan juga berjalan dengan baik. Sayangnya, Firhan dan istrinya juga begitu dingin, komunikasi yang begitu terbatas, dan seolah ada keengganan di dalam hati Firhan.


Rasanya, usai pulang dan sampai ke rumah, Bu Yeni akan menyampaikan kepada Firhan dan menasihati anak-anaknya untuk bisa hidup rukun. Memang Bu Yeni hanya ingin menasihati saja. Tugas orang tua adalah menasihati anaknya. Sembari berharap rumah tangga anaknya akan menjadi adem ayem.

__ADS_1


__ADS_2