Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Quality Time Setelah LDR


__ADS_3

Malam harinya ....


Ketika Indi dan Irene sudah sama-sama tertidur kurang lebih jam 20.00, sekarang giliran Pandu yang melepas rindu dengan Ervita. Keduanya duduk bersama di sudut sofa, dengan Pandu yang merangkul istrinya, yang membawa kepala istrinya untuk bersandar di dadanya, tangannya bergerak dengan memberikan usapan di lengan Ervita.


Keduanya memang sekarang sama-sama diam, itu juga karena keduanya mengungkapkan perasaan rindunya dengan memberikan tindakan afeksi, menyayangi satu sama lain, memberikan sentuhan, belaian yang lembut, dan terkadang Pandu memberikan kecupan di kening Ervita.


"Kangen kamu, Dindaku," ucap Pandu perlahan.


"Sama, Mas ... kangen banget," balas Ervita. Wanita itu melingkar kedua tangannya di pinggang Pandu dan kemudian memeluknya erat.


"Enam hari ngurus anak-anak sendiri bagaimana? Capek enggak?" tanya Pandu kemudian.


Menyalurkan rindu memang dengan cara beragam. Ada yang menyalurkan dengan memeluk, mencium, hingga bercinta. Atau mengobrol bersama dan menanyai apa saja yang sudah dilakukan. Sebab, Pandu juga tahu tidak mudah untuk mengurus rumah dan anak-anak sendiri. Terbiasa ada yang partnernya, dan kemudian harus sendirian.


"Lumayan sih, Mas ... hecticnya itu waktu tertentu saja sih, Mas. Kayak pagi itu kan waktunya mandiin, jadi kadang bingung harus megang yang nama dulu, Irene atau Indi. Sementara, kadang baru mandiin satunya, yang satu tantrum. Terus nanti kalau waktunya tidur juga harus megang satu-satu dulu kan? Jadi biasanya, Irene yang aku tidurkan dulu, setelahnya baru nidurin Indi. Itu, jam-jam hectic sih, Mas. Kalau siang sih bisa diasuh bersama," cerita Ervita.


Setidaknya dengan saling bercerita seperti ini, Pandu juga memiliki gambaran seperti apa istrinya ketika dia harus bekerja di luar kota. Namun, Pandu juga kebayang bagaimana hecticnya istrinya itu ketika mengasuh dua bocil sekaligus.


"Maaf yah ... sebenarnya memang aku gak ambil kerjaan ini. Namun, untuk kelangsungan bisnis dan kemitraan, jadinya aku ambil deh. Jadi, buat kamu hectic banget ya, Dinda," balas Pandu.


"Tidak apa-apa, Mas. Kan namanya keluarga, pasangan suami dan istri memang seperti ini. Suami bekerja, dan istri akan bertanggung jawab untuk anak dan rumah. Tidak apa-apa," balas Ervita.


Begitu bahagianya Pandu, karena Ervita sangat mendukungnya. Ketika suaminya fokus berkarir dan mendapatkan dukungan dari istri itu rasanya sangat menyenangkan. Bekerja pun rasanya menjadi lebih semangat. Sementara, jika suami bekerja dan tidak ada dukungan itu membuat seperti kepayahan sendiri. Usaha untuk menjaring angin, hanya mendapat lelahnya saja.


"Asalkan kamu benar-benar bekerja, aku mendukung kamu kok, Mas. Jaga kepercayaan, jaga hati. Kemarin itu curhat sama Mbak Pertiwi yang penting kepercayaan di antara kita jangan sampai usang," balas Ervita.

__ADS_1


Sementara Ervita teringat dengan pembicaraan dengan Pertiwi kemarin untuk selalu menjaga komitmen dan kepercayaan. Jika sudah menjaga hati, meneguhkan hati. Maka, tidak akan ada celah untuk masuknya orang lain. Itu juga yang ingin Ervita sampaikan kepada Pandu sekarang.


"Pasti Sayang," balas Pandu.


Sekarang Pandu beringsut, pria itu kemudian menatap wajah sang istri. Wajah yang jarang sekali terkena pulasan make up. Namun, di mata Pandu Ervita tetap saja begitu cantik. Hingga akhirnya, Pandu menangkup wajah Ervita dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Lantas, Pandu mendekatkan wajahnya, dan kemudian dia mengecup bibir Ervita. Bibir dengan warna pink sempurna, walau tanpa pewarna bibir, tapi kedua belah lipatan bibir itu begitu menggoda untuk Pandu. Mengecupnya perlahan, membiarkan kedua bibir untuk bertemu, menyapa, dan merasakan hangatnya. Hingga Pandu perlahan mulai membuka bibirnya dan mencecap bibir itu, memagutnya dengan lembut. Sekarang agaknya Pandu ingin menyalurkan rasa rindunya dengan memberikan ciuman untuk Ervita.


Bola mata yang sebelumnya terbuka, perlahan-lahan terpejam, dengan tangan Pandu yang masih menangkup wajah Ervita, dan bibir yang mengalun seirama. Jujur, Pandu begitu rindu dengan Ervita. Untuk itulah, dia berusaha membuainya dalam kelembutan. Membiarkan perasaannya untuk bisa menyentuh hati Ervita.


Kini, tangan Pandu bergerak dan meraih tengkuk Ervita, dia menenglengkan wajahnya, dan memperdalam ciumannya. Sungguh indah. Cecapan yang memercikan sensasi manis dan juga hangat. Salah satu cara untuk meluapkan rindu, walau benar pintu Swargaloka belum terbuka sekarang.


Bibir bertemu dengan bibir, saling mencecap rasa manis yang bersarang di sana. Kesan hangat dan basah begitu memabukkan. Dua bibir beradu dan saling berdecak. Hingga kemudian, Pandu menarik wajahnya. Dia melepaskan ciumannya. Kedua tangannya beralih untuk menangkup wajah Ervita dan mengecup bibir itu beberapa kali.


Cup. Cup. Cup.


"Aku kangen sliramu," ucapnya.


"Sama, Mas Pandu ... tadi waktunya untuk Didi dan Irene dulu. Malamnya untuk Bundanya," balas Ervita.


"Iya, Dinda ... jadi, kamu mau ke Solo kapan? Sekalian kita beri hadiah untuk Arka," ucap Pandu sekarang.


Ketika suaminya menawarkan kepada Ervita untuk bisa ke Solo, tentu Ervita menjadi sangat senang. Memang dia juga ingin bertemu dengan keponakannya. Ingin menggendong keponakannya juga. Selain itu, memang mereka belum memberikan kado untuk Baby Arka.


"Mas Pandu longgarnya saja kapan. Pasti juga masih capek dan mengurus kerjaan di kantor dulu," balas Ervita.


"Iya, sih ... minggu-minggu depan ya, Dinda," balas Pandu.

__ADS_1


"Iya, Mas ... terima kasih banyak," balas Ervita.


Terkadang seorang istri tidak perlu menyebutkan keinginan hatinya, dan suami sudah mengerti itu membuat hati sang istri berbunga-bunga. Sama seperti Ervita sekarang yang merasakan sangat senang karena memang Pandu tahu apa yang dia mau. Sudah lama juga, Ervita tidak pulang ke Solo. Sehingga, ketika suaminya hendak mengajaknya untuk pulang ke Solo tentu dia sangat senang.


"Sini, peluk dulu ... duh, kangen banget, Dinda," ucap Pandu.


Ervita kemudian masuk dalam pelukan suaminya, merasakan dekapan hangat dari suaminya. Pun dia yang turut merengkuh tubuh suaminya.


"Kangen banget, Mas ... kangen parfum kamu juga. Hmm, senang banget sekarang sudah bertemu dan dipeluk seperti ini," balas Ervita.


"Sama, Yang ... ngomong-ngomong Swargalokanya dibuka kapan, Yang?" tanya Pandu dengan tiba-tiba.


Ervita tertawa, dan menggelengkan kepalanya. "Belum tahu, Mas. Cuma aku masih agak trauma sih, Mas. Melahirkan dua kali dan semuanya terasa sangat sakit," balasnya.


"Kalau sakit banget, anak kita dua aja, Dinda. Kamu boleh memasang kontrasepsi untuk mencegah kehamilan," balas Pandu.


"Yakin, dua aja?" tanya Ervita sekarang.


"Iya, aku sekali mendampingi kamu bersalin juga serem kok, Dinda. Setragis itu ya seorang ibu yang melahirkan," balas Pandu.


Ervita tersenyum. "Kodrat wanita kan memang harus bersalin, Mas. Jadi, aku kemarin itu hanya sebatas menjalani kodratku saja. Namun, masih trauma gitu sih."


"Ya sudah, tidak usah keburu-buru. Waktu kita bersama kan masih panjang. Atau lain kali aku ajarin cara yang lain?"


Mendengar tawaran dari Pandu, Ervita terkekeh geli dan memukul dada suaminya. "Aku sudah tahu apa itu," balasnya.

__ADS_1


"Ah, istriku ini sudah semakin pintar. Love U, Dindaku."


Rasanya menggelitik. Namun, jujur Pandu merasa bahwa Ervita memang semakin pintar. Semoga nanti ada cara untuk bisa menerapkan cara yang lain seperti yang Pandu baru saja sampaikan.


__ADS_2