
Penyatuan yang begitu indah dalam naungan malam benar-benar membuat Pandu dan Ervita melebur menjadi satu. Pandu baru saja merasakan bahwa bercinta bisa memberikan sensasi seperti ini. Suaranya yang terdengar parau dan juga dalam, peluh yang menetes dan keluar dengan sendiri, serta ledakan yang dia rasakan mana kala sampai di puncak asmara.
Pandu mulai melepaskan pusakanya dari cawan surgawi milik Ervita, pria itu berguling ke samping kanan Ervita, dan segera membawa Ervita di dalam pelukannya. Ada tangan Pandu yang memberikan elusan dan belaian yang lembut di puncak kepala Ervita.
Pandu diam, bukan berarti dia abai, tetapi dia meresapi. Kilasan aktivitasnya bersama Ervita sekarang seolah menunjukkan sisi lain dari seorang Pandu. Rasanya Pandu seperti tidak menjadi dirinya sendiri, dan seakan dirinya benar-benar meledak dan pecah.
Sementara Ervita yang bersandar di dada Pandu, kini justru meneteskan air matanya. Pandu terkejut mana kala merasakan ada tetesan dan sensasi basah di dadanya. Lantas Pandu pun menundukkan wajahnya dan membelai wajah Ervita, rupanya benar. Ervita menangis di sana.
"Vi ... apa aku menyakitimu?" tanya Pandu kali ini kepada Ervita.
Ada gelengan samar dari Ervita, tetapi air mata itu terus berderai begitu saja.
"Lalu, kenapa kamu menangis?" tanya Pandu kemudian.
"Aku takut," jawab Ervita pada akhirnya dengan sesegukan dan bibirnya yang bergetar.
Pandu pun menghela nafas di sana. "Apa yang kamu takutkan? Dengarkan aku, Ervi ... aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu takut, jika aku akan berlaku seperti pria berengsek itu kan? Pria yang meninggalkanmu begitu saja begitu puas mendapatkan dirimu," jawab Pandu kemudian.
Ervita pun menganggukkan kepalanya. Walau bisa menyerahkan dirinya kepada suaminya, walau bisa merasakan pusaran cinta yang dahsyat dan memabukkan, tetapi ketika semua itu berakhir, yang terjadi adalah ketakutan. Ya, trauma akan masa lalu, di mana dimulai dengan hubungan kesalahan membuat kehidupan Ervita benar-benar jungkir balik. Sekarang, setelah memasrahkan dirinya secara penuh dan utuh kepada Pandu, akankah Pandu akan meninggalkannya?
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Ervi ... janji," ucap Pandu.
Bahkan kali ini pemuda itu mengangkat jari kelingkingnya, berjanji kepada Ervita bahwa dia tidak akan meninggalkannya.
__ADS_1
"Janji?" tanya Ervita dengan menengadahkan wajahnya, dan menatap Pandu.
"Iya, aku janji. Aku bukan dia, Vi ... aku adalah Pandu Hadinata. Jadi, percayailah aku ... aku akan selalu bersama kamu dan Indi," ucap Pandu dengan sungguh-sungguh.
Merasa yakin dengan ucapan Pandu, Ervita pun menautkan kelingkingnya di sana. Hingga isakannya pun perlahan reda.
"Terima kasih sudah percaya kepadaku," ucap Pandu pada akhirnya.
"Hubungan dan ikatan ini bukankah harus didasarkan pada kepercayaan Mas? Sama seperti kamu yang menaruh kepercayaan kepadaku, aku pun akan menaruh kepercayaanku kepadamu," balas Ervita.
Pandu menganggukkan kepalanya, sepenuhnya dia percaya bahwa memang sebuah hubungan harus didasari dengan rasa percaya yang utuh. Akan tetapi, di satu sisi, Pandu pun tahu bahwa mungkin saja trauma di masa lalu kembali menghinggapi Ervita sekarang. Trauma mendalam yang memang tidak terlihat, tetapi lukanya masih tergores di dalam sana.
"Kamu trauma ya barusan?" tanya Pandu kemudian.
Kali ini Pandu pun berusaha untuk memahami Ervita. Dia tahu bagaimana kisah Ervita sejak wanita itu bekerja di batik Hadinata milik keluarganya. Pandu juga tahu sendiri, semua yang dilalui Ervita layaknya membuat wanita itu menyusuri lembah air mata.
Pun dengan Ervita yang merasakan takut ditinggalkan usai dia memberikan dirinya sepenuhnya kepada Pandu. Hanya sekadar untuk jujur dan Ervita pasti yakin bahwa Pandu bisa memahaminya.
"Aku akan melindungi kamu dan Indi. Kita akan hidup bahagia bersama. Jadi, tadi kamu takut yah? Setelah aku berjanji, apakah kamu masih takut?" tanya Pandu.
Ada gelengan kepala Ervita, "Aku percaya sama Mas Pandu."
Kali ini Ervita mengatakan dengan yakin bahwa dia percaya pada Pandu. Maka Pandu sedikit beringsut, pria itu menarik selimut untuk mengcover tubuh polos keduanya, lantai Pandu menatap wajah Ervita di sana, menyeka jejak-jejak air mata yang mungkin tersisa di wajah istrinya itu.
__ADS_1
"Aku tahu, banyak kesulitan hidup yang kamu alami. Dulu, kamu memang hidup dalam lembah air mata. Sekarang, aku sudah menemukan Sabana yang penuh bunga. Biarkan aku masuk dalam hidupmu dan Indi. Dalam hidup ini, aku tidak banyak menjanjikan banyak hal, tetapi dari semua janji yang bisa kuberikan ada dua hal yang paling aku janjikan kepadamu. Yang pertama, aku akan mencintaimu selalu sampai akhir hidupku dan menyayangi Indi tentu. Yang kedua, aku akan menghadirkan kebahagiaan untuk kamu. Ini adalah janji seorang suami kepada istrinya."
Sekali lagi, Ervita tersentuh dengan kata-kata dan janji yang Pandu ucapan. Ervita merasakan bahwa kata-kata tak hanya sebatas bualan, tetapi adalah perkataan nyata dari seorang suami kepada istrinya.
Ervita pun menghambur dalam pelukan Pandu dengan masih mempertahankan selimut hotel berwarna putih itu di depan dadanya, menahannya jangan sampai selimut itu merosot dan jatuh.
Pandu tentu menyambut Ervita dan mendekapnya erat. Lantas Pandu mengusapi lengan Ervita dengan telapak tangannya. Gerakan naik dan turun, elusan yang sedemikian lembut.
"Ervi, apa aku harus memanggilmu Ervi terus? Kamu tidak ingin aku panggil yang lain mungkin?" tanya Pandu kemudian.
Ervita kemudian tersenyum, "Terserah Mas Pandu aja mau manggil aku apa. Yang pasti apa pun tidak membebani Mas Pandu," balasnya.
"Ya sudah, kalau di luar dan banyak orang aku memanggil kamu Bunda saja yah. Sama kayak Indi," ucapnya demikian.
Ervita pun tersenyum di sana, "Iya, Yayahnya Didi," balas Ervita dengan geli.
"Ngomong-ngomong, aku senang waktu Indi manggil aku Yayah. Secara tidak langsung, dia memilihku untuk menjadi Ayahnya," ucap Pandu kini.
"Waktu itu aku takut kamu keberatan. Kamu tahu kan kalau anak kecil itu begitu Impulsif, sehingga kadang ucapannya tak terkendali. Secara kamu kan masih muda dan dipanggil Yayah oleh anakku," balasnya.
"Sekarang kan resmi jadi Yayah untuk Indi. Aku seneng. Aku selalu sayang dia, Vi … bahkan sejak dia masih di dalam kandungan kamu," ucap Pandu kali ini.
Sekali lagi agaknya Ervita dibuat tertegun dengan pengakuan Pandu. Sejak kapan Pandu sebenarnya menaruh rasa kepadanya? Kenapa Ervita justru rasanya kian tertarik untuk mengetahui cerita Pandu perihak awal mula perasaan suka itu muncul.
__ADS_1
Sementara bagi Pandu, mungkin wanita lain akan memilih jalan pintas dengan menggugurkan kandungannya. Namun, tidak untuk Ervita. Justru Pandu bisa melihat bagaimana Ervita benar-benar bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan juga Indira.