
Tidak terasa hampir jam sembilan malam, Ervita dan Pandu mengobrol bersama di Pendopo itu. Lebih dari satu jam mereka mengobrol bersama, gerimis pun kian menjadi-jadi dan hujan pun kian deras rasanya.
"Sudah malam Vi ... hujannya makin deras, ya sudah ... makasih ya sudah mau menemani ngobrol. Makasih banyak sudah mau mendengarkan ceritaku," ucap Pandu.
"Iya sama-sama Mas Pandu ... terima kasih juga untuk kebaikan hatinya selama ini," balas Ervita.
"Untuk setiap kebaikan yang kita lakukan biarkan saja, Vi ... tidak usah berterima kasih terus-menerus," sahut Pandu. Kemudian Pandu mengambil payung yang memang ada di dekat Pendopo itu dan kemudian mengantarkan Ervita menyebrang ke rumah yang dia tempati mungkin memang hanya sekitaran lima meter saja jaraknya dari pendopo, tetapi hujannya kian deras. Sehingga, Pandu memayungi Ervita untuk sampai ke rumahnya.
"Yuk, aku antar ke rumah," ucap Pandu kemudian.
"Aku lari saja, Mas ... deket kok," balasnya. Itu juga karena Ervita merasa sungkan dengan Pandu.
"Udah, ayo ... cuma lima meter aja kok," balas Pandu.
Pria itu segera memayungi Ervita dan berjalan bersisian dengan Ervita. Walau hanya lima meter, tetapi bisa membuat basah dan kepala yang terkena air hujan juga bisa pusing. Dengan jalan bersisian dan lebih dekat, dengan payung yang menudungi keduanya, Ervita berusaha santai, walau jantungnya tidak bisa santai. Rasanya kian berdebar-debar dengan sosok Pandu.
"Hati-hati, Vi ... pavingnya licin," ucap Pandu lagi.
"Eh, iya Mas," sahutnya.
Hingga akhirnya keduanya sudah sampai di rumah yang ditempati Ervita di sana. "Sudah masuk sana ... makasih banyak yah," balas Pandu lagi. Seolah beberapa detik, Pandu masih berdiri di sana. Masih menanti sampai Ervita akan masuk ke dalam rumahnya.
"Iya, malam Mas," balas Ervita dengan menganggukkan kepalanya kepada pemuda itu.
Pandu pun membalas dengan senyuman dan berbalik meninggalkan Ervita di depan rumah itu yang seolah masih menatap punggungnya.
__ADS_1
Semakin jauh Pandu berjalan, barulah Ervita masuk ke dalam rumah. Wanita itu berkata lirih pada dirinya sendiri, "Kamu memang sosok yang baik, Mas. Di mana zaman sekarang ada pemuda yang berpikir bahwa cinta itu menjaga dan bukan merusak. Aku berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik yang bisa mendampingi kamu dan saling mengisi satu sama lain. Amin."
Itu adalah doa yang tulus dari Ervita. Ya, baginya Pandu adalah sosok laki-laki yang baik serta layak mendapatkan pendamping hidup yang terbaik. Kiranya, luka di hati pemuda itu segera sembuh dan Pandu bisa membuka hatinya untuk memulai hubungan yang baru. Sungguh, Ervita mengharapkan Pandu akan segera berbahagia.
***
Keesokan harinya ....
Hari ini dimulai Ervita dengan mengurusi Indira terlebih dahulu. Ervita membiasakan kebiasaan baik kepada putrinya itu yaitu bangun tidur terus mandi. Terlihat Ervita yang telaten dalam mengurus Indira seorang diri.
"Gosok gigi ya Indi ... kan sekarang giginya sudah banyak. Harus gosok gigi, supaya giginya tidak dimakan kuman," ucap Ervita yang hendak menggosok gigi Indira itu.
"Giginya uman ... Gigi Didi?" tanyanya dengan begitu lucu.
"Iya, kalau tidak sikat gigi, nanti giginya Indi bisa ada kumannya, bisa bikin sakit gigi. Yuk, digosok dulu giginya. Hii ...."
"Hari ini Bunda masih packing untuk pembeli yang masuk. Indi nanti temanin Bunda yah? Jangan nangis," pinta Ervita kini kepada anaknya.
"Ya ya ya," balas Indi dengan masih mengunyah makanannya.
Usai sarapan bersama, Ervita mulai bekerja dengan sambil mengawasi Indira yang tengah nonton kartun kesukaannya di televisi. Kadang Ervita turut bernyanyi, menjawab pertanyaan Indi, kadang juga bekerja dan sambil mengerjakan yang lain. Itulah Ibu tunggal, semuanya dikerjakan serba sendiri. Urusan rumah, anak, sampai mencari nafkah harus dikerjakan seorang diri. Tidak bisa mengharapkan pertolongan dari orang lain.
Hingga siang hari, terdengar deringan panggilan masuk dari handphonenya, dan Ervita pun mulai menggeser siapa yang menelponnya sekarang ini.
"Lusi."
__ADS_1
Ervita mengernyitkan keningnya kala melihat nama sahabatnya yang sekarang sedang menelponnya. Ervita pun segera menggeser ikon telepon berwarna hijau di sana.
"Ya, halo Lusi ... ada apa?" tanya Ervita.
"Vi ... masih di Jogja kan?" tanya Lusi. Itu juga sudah lama juga Ervita dan Lusi tidak saling berhubungan. Hanya sebatas melihat status pembaharuan whatsapp saja.
"Iya, masih ada?" balas Ervita lagi.
"Begini, Vi ... aku cuma ngasih tahu. Kamu bisa enggak pulang ke Solo, ke rumah kamu," jawab Lusi.
Ketika mendengar kata pulang ke Solo, jujur saja Ervita menjadi bimbang. Sudah lama, dirinya tak pernah ke Solo. Baginya Solo yang adalah kampung halamannya menjadi tempat yang menyedihkan baginya, awal dari semua penderitaannya. Sehingga, usai dulu mencari Firhan dengan membawa buku Kesehatan Ibu dan Anak dan foto USG, tidak pernah lagi bagi Ervita untuk menginjakkan kakinya di Kota Solo.
"Ngapain ke Solo, Lus? Aku sudah tidak diterima di sana," balas Ervita kemudian.
Lantas, Lusi mulai menjawab lagi melalui panggilan telepon itu. "Adik kamu, Mei ... ada yang melamar dan dia akan menikah dua minggu lagi. Jadi, tidakkah kamu ingin hadir di pernikahan adikmu sendiri?"
Mendengar apa yang Lusi sampaikan, kedua mata Ervita berkaca-kaca. Tidak menyangka adik kecilnya akan menikah. Tentu sebagai seorang kakak, dia merasa begitu senang. Sangat senang karena Ervita menyayangi Mei dengan tulus. Namun, jikalau pulang, Ervita masih takut dengan amarah orang tuanya. Teringat bagaimana Bapaknya berkata supaya dia tidak menunjukkan wajahnya lagi di hadapannya.
"Dapat orang mana Lus?" tanya Ervita lagi.
"Orang Surabaya, Vi ... mereka taaruf kok. Jadi, langsung menikah saja."
Ervita benar-benar tidak menyangka bahwa adiknya memutuskan untuk taaruf. Ervita sungguh berharap bahwa pernikahan adiknya akan senantiasa langgeng dan bahagia. Banyak juga pasangan yang menemukan kebahagiaan melalui jalan taaruf. Semoga saja Mei menjadi salah satunya. Walau adiknya sekarang baru 20 tahun, tetapi jika memang jalannya untuk menikah muda dan melakukan taaruf, Ervita pun tidak keberatan. Justru berharap rumah tangga adiknya nanti akan bahagia.
"Kalau bisa pulanglah Vi ... kan menghadiri pernikahan adikmu sendiri. Tidak salah kok ... nanti bareng aku saja kalau kamu mau," balas Lusi kemudian.
__ADS_1
Ervita yang sudah nyaris menangis pun hanya bisa menghela nafas panjang, "Aku pikirkan dulu ya Lus ... nanti kalau aku mau datang, aku hubungi lagi."
Rasanya ingin kembali pulang ke Solo, sekadar menghadiri pernikahan adiknya. Akan tetapi, Ervita masih takut dengan Bapaknya. Mungkinkah kepulangannya nanti akan disambut atau hanya justru menjadi kembang kocapan (buah bibir - dalam bahasa Jawa) bagi orang tua, tetangga, dan tamu yang hadir di hari pernikahan adiknya nanti. Rasanya, Ervita tidak ingin merusak kebahagiaan adiknya itu.