
Selang satu bulan kemudian ....
Kehidupan keluarga Pandu dan Ervita baik-baik saja. Indi juga seolah sudah melupakan memori ketika dulu pulang ke Solo. Selain itu, Damar juga sudah mutasi ke Jogjakarta. Itu berarti Pertiwi sudah tidak menjalani Long Distance Married dengan suaminya lagi.
Keluarga besar Hadinata benar-benar berkumpul dari anak, menantu, dan cucu. Untuk Pak Hadinata dan juga Bu Tari tentu ini adalah kebahagiaan tersendiri. Selain itu, juga Pertiwi yang lebih cerah wajahnya ketika suaminya sudah berada di Jogjakarta sekarang.
"Cie, Mbak Pertiwi sekarang udah bahagia. Support system nya sudah berada di rumah. Satu atap sekarang," goda Ervita kepada Kakak Iparnya.
Pertiwi kemudian tertawa. "Iya, dong. Biar samaan kayak kamu dan Pandu. Lintang juga sudah sekolah, jadi lebih enak sekarang, Vi. Ada Mas Damar yang bantuin," balas Pertiwi.
Pandu yang duduk di samping Ervita pun tiba-tiba nyeletuk. "Bukan hanya satu atap, Nda ..., tapi satu ranjang."
Apa yang diucapkan Pandu membuat Pertiwi dan Damar tertawa. Tidak menyangka juga adiknya itu bisa bercanda seperti itu. Namun, Damar justru menganggukkan kepala.
"Iyalah, Ndu. Daripada musim kemarau gak hujan-hujan. Bisa-bisa paceklik," balasnya dengan tertawa.
Paceklik sendiri bisa dikatakan sebagai musim yang susah. Ibarat kata seperti padi yang akhirnya gagal panen, hingga membuat keadaan mengalami paceklik atau susah. Sama seperti Damar yang mengakui ketika berjauhan rasanya seperti musim kemarau berkepanjangan yang menantikan hujan. Sekarang, tidak perlu puasa berkepanjangan karena sudah dekat dengan istrinya sendiri.
"Pasang kontrasepsi loh, Mbak ... kalau tidak nanti bisa hamil lagi loh. Mas Langit bisa punya dedek nanti," balas Ervita.
Pertiwi kemudian tertawa. "Aku sudah pasang dong, Vi. Sudah aman. Yang dulu aku cerita ke kamu waktu aku ke klinik itu."
Barulah Ervita menjadi ingat dengan cerita dari Pertiwi. Ke klinik ketika Pertiwi bertemu dengan masa lalunya dulu. Lantas, Ervita pun tertawa.
__ADS_1
"Oh, iya. Aku baru ingat. Nanti aku juga mau pasang deh. Biar aman," balas Ervita.
"Harus itu, Vi ... Pandu itu gak aman," balas Pertiwi.
Jika tadi menggodai Damar dan Damar bisa tertawa. Sekarang Pandu justru diam saja. Itu juga karena sudah tiga bulan sejak Ervita melahirkan, Pandu masih berpuasa. Bukannya Ervita menolak, bahkan Ervita pernah memberikan opsi lain. Akan tetapi, Pandu yang menolak dan lebih mau menunggu Ervita sampai sudah benar-benar siap.
"Apa mbak-mbak," balas Pandu.
Pertiwi kemudian tertawa. Memang begitulah Pandu. Ketika dia menggoda terlebih dahulu, tapi dia ketika gantian digoda menjadi diam seperti itu. Di mata Pertiwi, sikap Pandu yang seperti ini sudah ada sejak Pandu masih kecil.
"Tadi bercandain, sekarang giliran dibercandain balik, jadi diem. Ah, kamu ini, Ndu ... lucu."
Pertiwi tertawa sembari menggelengkan kepalanya melihat adiknya itu. Jika sudah berkumpul seperti ini, seakan teringat dengan masa kecil mereka. Dulu, keduanya kadang bercanda dan berantem karena berebut mainan, sekarang sudah sama-sama dewasa, sudah berkeluarga.
Sebenarnya Ervita juga mau-mau saja. Namun, Ervita mengingat lagi anak-anaknya yang masih kecil. Ada rasa bingung jalan-jalan dan nonton dengan mengajak anak-anaknya.
"Kelihatannya gak bisa deh, Mbak. Anak-anak enggak ada yang jaga," balas Ervita.
Di saat bersamaan Bu Tari turut bergabung dengan anak-anaknya di Pendopo. Bisa mendengarkan pembicaraan Ervita dan Pertiwi. Hingga akhirnya, Bu Tari pun sekarang berbicara.
"Ya, kalau mau pergi ... pergi saja, Vi. Biar Ibu yang jaga anak-anak. Indi kan bisa main sama Lintang. Ada ART juga di sini, bisa bantuin Ibu. Sana, main sana. Pacaran lagi sama Pandu," ucap Bu Tari.
"Nanti Ibu repot dan kecapekan loh, Bu," balas Ervita.
__ADS_1
Dengan cepat Bu Tari menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Ibu dulu juga pernah muda, Vi. Dulu kadang Pertiwi dan Pandu juga ditinggal di rumah Eyangnya. Sekarang, gantian. Orang tua juga butuh liburan dan hiburan. Apalagi Ibu rumah tangga. Sehari-hari ngurus anak dan rumah, tidak ada liburnya. Sana, main sana. Senang-senang."
Bu Tari adalah tipe mertua yang baik. Memahami situasi menantunya. Bahkan Bu Tari juga tahu bahwa terkadang Ibu rumah tangga juga membutuhkan liburan dan hiburan. Walau hanya sebentar, dan nanti akan kembali ke rumah untuk mengurus anak dan rumah lagi.
"Iya, Vi ... akhir pekan depan yuk ... double date kita. Mau kan, Ndu?"
Pertiwi kelihatannya begitu excited ingin menikmati double date dengan Pandu dan Ervita. Sampai Pandu kemudian menganggukkan kepala. "Boleh, Mbak ..., tapi jangan terlalu lama yah, nanti Indi dan Irene bisa nyariin."
Damar yang mendengar jawaban Pandu juga berbicara. "Kalau udah punya anak begitu ya, Ndu. Kepikiran anak terus. Udah jadi Bapak-Bapak sekarang."
Yang disampaikan Damar itu juga karena Damar sendiri merasa tidak bisa jauh dari Lintang dan Langit. Ketika di Lampung, juga begitu sering kangen anak dan istri yang berada di Jogjakarta. Namun, sekarang sudah tenang dan senang karena Damar sudah kembali berkumpul dengan keluarganya.
"Iya, Mas ... udah tua. Udah jadi Yayah, jadi ya begitulah," balas Pandu.
"Lebih sedih dulu waktu di Lampung. Kalau waktu bekerja gitu kan fokus kerja dan ada teman mengobrol. Kalau sudah pulang, kembali ke rumah dalam keadaan rumah kosong itu bikin sedih. Bisa nangis sendiri. Teringat Lintang yang biasa berdiri di depan pintu dan nyambut Papanya setiap pulang kerja," cerita Damar.
"Sama Mas, dulu aku waktu ke Surabaya juga kangen Indi. Biasanya ada Indi yang nempelin, di hotel sendirian. Kangen jadinya," balas Pandu.
Pertiwi yang mendengarkan cerita adik dan suaminya kemudian tertawa. "Ternyata kaum Bapak bisa merasa begitu juga yah? Ku kira hanya ibu-ibu saja yang kangen sampai nangis."
"Ya, pria pun begitu, Yang. Kangen ya sudah, kangen saja," balas Damar.
"Ya sudah, hari Sabtu nanti yah jalan-jalan sebentar. Sesekali healing tipis-tipis," balas Pertiwi.
__ADS_1
Pandu, Ervita, Damar, dan Bu Tari tertawa. Namun, memang jika memiliki keluarga besar yang baik rasanya bersyukur. Ada yang membantu. Ketika benar-benar membutuhkan bantuan, ada yang bersedia memberikan pertolongan. Orang tua juga membutuhkan healing tipis-tipis. Walau setelahnya akan kembali dengan serangkaian pekerjaan rumah tangga yang sifatnya rutin dan juga mengasuh anak-anak setiap harinya.