Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Menyusuri Swargaloka


__ADS_3

Swargaloka adalah tempat di mana para dewa bersemayam. Tempat yang digambarkan sebagai surga yang penuh dengan sinar dan juga cahaya. Di dalam tempat ini jiwa akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang berlimpah. Agaknya Pandu kali ini sedang mengutarakan sebuah kode rahasia untuk mengajak sang istri kembali mengarungi perjalanan menuju Swargaloka yang indah dan penuh dengan cahaya, dan tentunya yang dimaksudkan oleh Pandu adalah cahaya cinta.


Pandu sudah menggenggam tangan Ervita dan menarik wanita itu untuk kian mendekat ke arahnya. Mata yang saling memandang, tetapi juga ada kalanya berusaha untuk saling menghindar hingga detak jantung yang kian lama rasanya tidak beraturan lagi. Ya, organ tubuh yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh itu agaknya mulai berdetak melebihi ambang batasnya.


Dengan perlahan Pandu meminta kepada Ervita untuk memunggunginya, dan dia menarik bahu wanita itu untuk bersandar di dadanya. Pandu membuka kedua pahanya, dan mempersilakan Ervita duduk di antara kedua kakinya yang terbuka. Air dan busa-busa mandi yang melimpah menutupi tubuh keduanya hingga sebatas dada. Lantas Pandu mulai mengusapi bahu hingga lengan Ervita yang basah dan licin lantaran terkena sabun dan juga busa mandi.


"Kalau, sekali lagi apa kamu mengizinkan?" tanya Pandu sekarang ini kepada istrinya.


"Mas Pandu akan khilaf lagi?" tanyanya.


"Iya," balasnya.


Pandu dengan sengaja membawa tangan Ervita dan menyentuhkannya ke senjata Lingga miliknya yang sudah sepenuhnya berdiri. Kala tangan Ervita menyentuhnya, Ervita menahan nafas, tidak mengira bahwa dia akan menyentuh bahkan menggenggam Lingga itu.


"Mas Pandu," balas Ervita lirih karena dia takut dan masih malu.


"Iya, Adinda ... ada apa?" tanyanya lagi.


Ervita menggelengkan kepalanya, dan melepaskan pusaka Lingga itu dari genggaman tangannya.


"Boleh?" tanya Pandu sekali lagi.


"Di mana?" tanya Ervita kemudian.


"Di sini saja, Dinda ... basah-basahan," balas Pandu.


Seketika hati Ervita rasanya berdesir dengan begitu hebatnya, sensasi debaran yang begitu luar biasa. Hingga tangan Pandu pun sudah bergerak dan memberi remasan di dua buah persik miliknya. Meremasnya perlahan, ada kalanya tangan itu bergerak memutar, ada kalanya jari-jari Pandu memilih puncak buah persik itu yang sudah menegang.


Bahkan Pandu pun menyibak rambut Ervita yang sebahu, dan mulai mengecupi punggung Ervita di sana. Pandu akan membiarkan dirinya kehilangan kendali atas dirinya sendiri, karena dia masih ingin menikmati momen malam pertama yang rasanya begitu spesial baginya.

__ADS_1


"Mas Pandu," ucap Ervita lirih mana kala dia merasakan tubuhnya yang meremang. Bibir Pandu yang mengecupi tengkuk hingga bahunya, menyulut gelenyar asing dalam dirinya. Seolah ribuan partikel di dalam tubuhnya tersulut.


"Iya, Adinda," sahut Pandu dengan kian memberikan remasan dalam tekanan yang serupa dan memilin buah persik itu.


Bak, kian tersulut kabut hasrat, Pandu pun meminta Ervita untuk mengubah posisinya dan berhadap-hadapan dengannya. Kedua mata telah sama-sama berkabut. Pandu tahu bahwa Ervita masih canggung dan malu dengan semuanya itu. Akan tetapi, sebagaimana namanya, Pandu pun akan memandu Ervita. Ya, pria itu kini membawa kedua tangan Ervita untuk melingkari lehernya.


"Cium aku, Dinda," pinta Pandu kini.


Wah, sungguh tidak mengira bahwa seorang Pandu bisa meminta permintaan seperti ini. Itu adalah permintaan yang diucapkan dengan suara pria dewasa yang parau dan juga dalam.


Wajah Ervita yang tertunduk malu, hingga akhirnya Ervita mengangkat wajahnya, menata wajah pria yang sudah halal baginya itu. Ervita pun membawa satu tangannya dan membelai sisi wajah Pandu. Membelainya dengan begitu hati-hati. Pandu tersenyum dan melirik pergerakan tangan Ervita di sisi wajahnya.


Lantas Ervita meneguhkan hatinya, dia mengikis jarak wajahnya, dan mulai mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Pandu. Membiarkan bibir itu mendarat untuk beberapa detik di sana. Lantas Ervita mengurai ciumannya, dan menyembunyikan wajahnya di leher Pandu, memeluk pria itu.


Pandu tersenyum dan kian membasahi rambut Ervita dengan air dan busa di sana. "Lagi, Dinda," pintanya kali ini.


Ervita menggelengkan kepalanya, "Aku terlalu malu ... aku tidak bisa," balasnya.


Bukan hanya bunyi air yang terdengar, tetapi juga bibir yang sama-sama berdecak.


Ciuman yang semula lembut pun kini menjadi begitu memburu, hingga de-sahan dan lenguhan pun terjadi. Tak lagi bisa dihindari. Pandu membawa bibirnya untuk turun dan dia tampak ingin menghisap leher Ervita, tetapi Ervita menghentikannya.


"Kanda, please ... jangan di leher," pintanya dengan nafas yang terengah-engah dan dada yang kembang kempis di sana.


Pandu pun menganggukkan kepalanya tanda setuju, "Baiklah, aku akan berikan tanda cinta di tempat yang lain," ucapnya.


Akhirnya, tempat yang dituju Pandu sekarang ada buah persik milik Ervita. Pria itu mengu-lumnya lembut, menenggelamkannya dalam rongga mulutnya yang hangat dan basah, beberapa pria itu menghisap puncaknya, bahkan menggigitnya seolah gemas dengan puncak buah persik yang memang tidak seberapa itu.


Tepat di sembulan buah persik itu, akhirnya Pandu membuka mulutnya, menggigit area itu dan menghisapnya dalam-dalam. Gelenyar rasa perih dan nikmat seolah membuat darah di tubuh Ervita berdesir. Wanita itu menahan nafas dan memanggil nama suaminya dengan alunan yang lembut.

__ADS_1


"Mas Pandu," ucapnya dengan suara yang sedikit mende-sah.


Melihat tanda merah di sembulan buah persik itu, Pandu tersenyum. "Kamu cantik, Adindaku," ucapnya.


Tidak ada jawaban yang diberikan Ervita, karena sesaat kemudian Pandu mengangkat pantat Ervita dan menyatukan pusaka Lingga ke dalam cawan surgawi Yoni yang siap bersatu, padu, saling memberi dan saling menerima.


Oh, itu adalah penyatuan yang sungguh indah. Pandu sampai menengadahkan wajahnya, mana kala pusakanya berhasil menembus cawan surgawi itu bahkan kerasa pusaka Lingga itu berhasil menyentuh dinding-dinding di dalam sana.


"Luar biasa, Dinda ... astaga, Dinda," ucap Pandu.


Sungguh kali ini. Pandu kehilangan dirinya. Sisi lain seorang Pandu yang tentunya hanya dia tunjukkan kepada Ervita.


"Mas Pandu," ucap Ervita dengan mencengkeram bahu Pandu.


Secara naluriah, Ervita bergerak kacau dalam pangkuan Pandu, dengan Lingga dan Yoni yang bersatu. Begitu nikmat, begitu padu. Ervita merasakan diterpa badai yang membuat seluruh tubuhnya meremang. Untuk sesaat Ervita hilang akal, cumbuan Pandu, meremas di buah persiknya, dan gerakan seduktif yang sekarang mereka lakukan bersama membuat Ervita nyaris menjerit karenanya.


"Kamu nikmat, Adindaku ... astaga. Ya Tuhan," racau Pandu yang sungguh merasakan kenikmatan menggapai Swargaloka.


Gerakan seduktif keduanya yang benar-benar kacau mengoyak air dan busa di dalam bath up itu. Namun, tidak ada yang mereka pikirkan selain larut dan hanyut dalam perjalan dari hulu ke hilir menuju ke muara cinta.


Pandu kian berani bereksperimen dengan menyentuhkan jari telunjuknya di bibir cawan surgawi itu. Hingga membuat Ervita mende-sah dan memanggil nama pria itu terus-menerus.


"Aku sampai, Dinda ... aku sampai," ucap Pandu dengan tidak mampu menahan lagi.


"Mas Pandu," balas Ervita dengan setengah menjerit di sana.


Kali ini untuk kali keduanya sama-sama meledak. Sama-sama menggapai puncka yang bernama Swargaloka. Kilatan cahaya penuh cinta sepenuhnya bisa mereka lihat dengan mata yang saling terpejam.


"I Love U, Ervi ... Adindaku," ucap Pandu dengan mendekap tubuh Ervita di sana.

__ADS_1


"I Love U too Mas Kanda," balas Ervita dengan memejamkan matanya dan mencerukkan wajahnya di dada sang suami.


__ADS_2