
Usai menikmati jalan malam romantis di area Ngarsopuran dan berbincang singkat sejarah Mangkunegaran yang menjadi baru-baru ini begitu tersohor di kota Solo bukan hanya Rajanya yang dari kalangan milenial, tetapi untuk urusan kebudayaan Jawa, Mangkunegara memang menjadi tempat untuk belajar dan melestarikan kebudayaan Jawa.
"Jalan-jalan di Ngarsopura saja romantis ya Nda," ucap Pandu yang menggandeng tangan Ervita di sana.
Angin yang semilir, angkasa yang menggelap tetapi justru seolah keduanya bisa melihat bintang-bintang yang mungkin hanya bisa dilihat mereka berdua. Senyuman pun tercetak jelas di wajah keduanya.
"Anginnya ini membuat angerindu hati," ucap Pandu.
Ervita pun tertawa, "Masak sih anginnya membuat hati terasa rindu. Kalau buatku sih bukan anginnya, tapi kamu yang membuat hati terasa rindu," balas Ervita.
Pandu yang mendengar ucapan istrinya itu, mencolek ujung hidung Ervita. "Kamu tambah pinter sih, Nda ... bikin aku berbunga-bunga kayak gini loh," balas Pandu dengan memegangi dadanya karena sekarang dadanya terasa begitu berbunga-bunga.
"Sudah yuk Mas ... pulang. Nanti kemalaman kita dikunciin pintu sama Bapak dan Ibu loh," balasnya.
Pandu pun tertawa, "Yang bawa kamu suaminya sendiri, masak ya dikunciin pintu sih. Ya sudah, pulang yuk ... angin malamnya gak baik untuk Ibu hamil. Jadi, pulang sekarang ya Dindaku," balas Pandu.
"Iya, Kanda," balas Ervita dengan mengapit lengan suaminya dan menuju ke tempat di mana mereka memarkirkan mobilnya. Kemudian Pandu mulai mengajak Ervita untuk pulang ke rumah. Sengaja Pandu memilih jalan di pusat kota, sehingga mereka bisa melihat Gladag atau jalan menuju masuk ke dalam Keraton Kasunanan Surakarta, melewati Balaikota, Pasar Gedhe, dan terus mengambil ke arah timur untuk kembali ke rumah Ervita.
Sekian menit berkendara, Ervita dan Pandu sudah sampai di rumah, dan mereka masuk mengunci pintu rumah dan menuju ke kamar Ervita yang ada di lantai satu, sementara di lantai dua di tempati oleh Mei dan Tanto. Tampak Pandu melepas jaket yang semula dia kenakan, mengganti celana panjangnya dengan celana pendek dan barulah menaiki ranjang yang ada di dalam kamar itu dengan pelan-pelan.
"Sini Nda," ucap Pandu yang masih menunggu Ervita.
"Sebentar Mas ... aku rapikan rambutku dulu, berantakan," balasnya.
__ADS_1
Pandu pun tersenyum dan mengamati Ervita yang menyisir rambutnya dan setelahnya, Pandu sudah membuka tangannya, meminta Ervita untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Besok pagi beli Jenang yuk, Nda ... mumpung di Solo. Jenang Tumpang," ucap Pandu.
Tumpang adalah masakan yang dibuat dari tempe semangit atau nyaris busuk, dimasak dengan menggunakan kuali yang ditumpangkan di tungku sekitaran dua jam. Oleh karena itulah, disebut Tumpang. Biasanya masakan ini bisa dikombinasikan dengan Koyor Sapi dan sayuran rebus sebagai pelengkap seperti Bayam atau Daun Adas. Di Jawa, khususnya di Solo Tumpang sangat vovok disajikan dengan bubur nasi atau yang biasanya disebut dengan Jenang.
"Boleh Mas ... di depan kampus ada bubur yang enak. Besok kita ke sana yah pagi-pagi," balas Ervita.
"Hmm, boleh ... kamu yang hamil, aku yang ngidam ya, Nda," balas Pandu.
Ervita pun tertawa, "Enggak apa-apa, penting kamunya sehat saja. Aku juga sudah sehat dan enggak teler di pagi hari sudah seneng banget, Mas," balasnya.
"Harus sehat, Dinda ... kamu jangan sampai sakit. Duh, mendadak aku pengen, Nda ... tapi melakukan di sini, aku takut. Nanti Bapak dan Ibu dengar," ucap Pandu dengan tiba-tiba.
"Iya, nunggu semalam saja. Indi juga bobok di sini, takut kalau Indi lihat," balas Pandu juga.
Akhirnya, malam itu mereka memilih untuk tidur saja bersama. Membiarkan malam membuainya dalam tidur indah, dan keesokan paginya Pandu ingin membeli Jenang Tumpang yang memang enak sebagai menu sarapan di pagi hari.
***
Pagi Menjelang ....
Kali ini Ervita dan Pandu sudah berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk membeli Jenang Tumpang. Akan tetapi, kali ini Pandu meminjam sepeda motor milik mertuanya untuk menuju ke depan kampus.
__ADS_1
Ervita pun duduk dan membonceng suaminya itu. Tanpa diminta, Ervita sudah berpegangan melingkari pinggang suaminya itu.
"Nah, pegangan, Nda ... dulu aku pengen banget kalau kamu tak boncengin gini bisa pegangan kayak gini," balas Pandu.
"Kan dulu belum boleh Mas ... sekarang sih, aku bakalan pegangan kamu terus, biar enggak diambil Lina," balas Ervita dengan tiba-tiba.
"Hussh, dia gak ada apa-apanya sama kamu, Nda ... yuk, ah," balas Pandu.
Pria itu segera melajukan sepeda motor menuju ke area kampus dan membeli di sana. Tempat orang berjualan itu memang ramai pembeli, sehingga mereka mengantri terlebih dahulu. Ketika, Pandu dan Ervita menunggu dan Ervita tampak menggandeng tangan suaminya dengan posesif, tidak jauh di sampingnya ada Firhan dan Wati di sana. Sebenarnya Firhan yang melihat Ervita untuk kelai pertama, tapi pria itu memilih diam.
Hingga kemudian Pandu menyadari ada mata yang mengamati Ervita di sana. Kemudian Pandu berbisik kepada istrinya itu, "Ada yang mengamati kamu, Nda," ucap Pandu.
"Hmm, siapa?" tanyanya.
Hingga Ervita mengarahkan pandangannya ke berbagai sisi, dan barulah dia tahu adalah Firhan dan istrinya di sana. Tampak Ervita mengedikkan bahunya sesaat dan tersenyum kepada suaminya.
"Walah, gak usah ditanggepin Mas. Atau kita mau pulang saja?" tanya Ervita kemudian.
"Pengen Jenangnya tuh, Nda ... gimana?" tanya Pandu kemudian.
"Ya sudah, penting jangan marah yah. Serius, aku sudah gak ada apa-apa loh Mas. Jangan marah-marahan yah," balas Ervita.
Sementara di sana ada pandangan dari Wati yang tampak mengamati sepasang suami istri yang tampak harmonis itu. Di dalam hatinya, dia pun menginginkan yang sama. Di kala Pandu dan Ervita mengantri dengan saling bergandengan tangan, dan wajah mereka yang full senyum. Sementara Wati sendiri mengambil jarak dengan Firhan di sana. Dengan tangan yang bersidekap di depan dada dan tidak ada obrolan di antara Wati dan Firhan.
__ADS_1