
Sore harinya, usai pulang dari Rumah Sakit, Pandu memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelahnya, pria itu menyusul Indira yang sedang main dengan Eyang Kakungnya dengan melihat Ayam peranakan Kate milik salah satu tetangga yang ada di dekat rumah Ervita.
“Lihat apa Indi?” tanya Pandu kepada anaknya itu.
“Didi lihat ayam, Yayah,” balasnya.
Pak Agus pun turut memberikan jawaban, “Seneng banget bisa melihat Ayam Kate. Apa di Jogja jarang ada yang punya hewan peliharaan tow?”
“Ada Pak … cuma kalau ayam tidak ada yang pelihara. Eyangnya di Jogja punyanya Ikan di Akuarium dan Parkit,” balas Pandu.
“Oh, makanya … sekarang lihat Ayam Kate seneng banget,” balas Pak Agus.
"Mumpung di Solo, sana main ke Alun-Alun ... kalau malam begini di Alun-Alun itu ramai. Banyak keluarga muda yang mengajak jalan-jalan anak-anaknya," cerita Pak Agus kepada menantunya itu.
Ya, memang demikian di kota Solo, di alun-alun yang dekat dengan Keraton Kasunanan Surakarta menjadi tempat hiburan masyarakat. Ada komedi putar, becak lampu, tempat untuk melukis, dan juga aneka stand kuliner untuk masyarakat. Aneka jajanan dari Jagung Manis, Tela-Tela, Crepes, hingga Bakso Goreng Selimut Telor menjadi jajanan ekonomis yang akan dibeli para masyarakat di tempat keramaian itu.
"Didi mau lihat becak lampu, Yah," pinta Indira kali ini.
Rupanya mendengar cerita dari Eyang Kakungnya, membuat Indira penasaran dengan Becak Lampu itu. Pandu pun tersenyum, "Indi mau lihat?" tanyanya.
"Ya, au ...."
"Coba tanya ke Bunda dulu yah ... kalau Bunda mau, kita ke Alun-Alun," balas Pandu.
Akhirnya, Indira memilih untuk pulang dan bertanya kepada Bundanya, apakah mau menemaninya melihat Becak Lampu di Alun-Alun. Kemudian Ervita pun mengiyakan ajakan dari anaknya itu.
"Kita ajak Tante Mei dan Om Tanto yah?" ucap Ervita kepada Indira.
"Ya, oleh," balasnya.
Akhirnya sore itu, Pandu, Ervita, Indira, dan juga Mei serta Tanto sama-sama menuju ke Alun-Alun Kidul (Selatan) kota Surakarta. Mei dan Tanto pun juga senang karena bisa menikmati hiburan di kota Solo pada malam hari.
"Istana Nda?" tanya Indira begitu memasuki area Gladag dan juga melintasi Supit Urang (sebuah pintu untuk masuk ke area Keratonan Kasunanan Surakarta), ada bangunan terdiri begitu etnik dan penuh nilai sejarah di sana.
"Iya, ini Keraton Surakarta, Nak ... ada dua keraton di Solo. Keraton ini namanya Kasunanan, dan satu lagi namanya Pura Mangkunegaran," jawab Ervita kepada anaknya itu.
__ADS_1
"Ada Raja?" tanya Indira. Seingatnya jika di sebuah istana pasti ada rajanya. Oleh karena itu, Indira pun bertanya kepada Bundanya.
"Iya, Raja di Kasunanan disebut Sunan, kalau Mangkunegara seperti Adipati-nya.Kanjeng Gusti Pangeran Arya," jawab Ervita lagi.
"Kayak princess dan pangeran ya Nda," balas Indira lagi.
Mei dan Tanto yang mendengarkan ocehan Indira saja turut tertawa. Anak yang berusia akan 3 tahun itu ternyata begitu kritis dan juga banyak bertanya kepada Bundanya.
"Nah, ini Alun-Alunnya, Indi ... Alun-Alun itu dalam bahasa Indonesianya adalah lapangan, tanah lapang," ucap Ervita memberitahu Indira.
"Itu kerbau Nda?" tunjuk Indira melihat ada kerbau di sana.
"Iya, itu namanya Kerbau Bule." Memang di kompleks Alun-Alun terdapat kandang Kerbau Bule yang menjadi hewan yang dikultuskan di lingkungan Keraton. Pandu pun kemudian memarkirkan mobilnya. Benar yang disampaikan Pak Agus, Alun-Alun ini begitu ramai.
"Komedi putar," teriak Indira melihat komedi putar dengan aneka lampunya yang warna-warni.
"Iya, itu ada komedi putar, dan ada biang lala," balas Pandu.
"Becak lampu mana Yayah?" tanya Indira yang kadung excited dengan becak lampu.
Pandu dan Ervita pun akhirnya menunjukkan Indira pada Becak Lampu yang memang lampunya begitu warna-warni itu, dan juga melihatkan pada orang yang sedang menaikinya.
Pandu pun mengiyakan permintaan Indira, akhirnya dia membayar untuk menaiki becak lampu itu. Pun dengan Mei dan Tanto yang turut serta.
"Indi mau mengayuh becaknya?" tanya Pandu.
"Ndak kuat, Yayah," balasnya.
Akhirnya Pandu dan Tanto yang sekuat tenaga mengayuh Becak Lampu itu. Ervita dan Mei justru tertawa kala suami mereka berusaha mengayuh Becak Lampu itu.
"Semangat Yayah," ucap Indira.
"Capek, Nak," balas Pandu dengan nafasnya terengah-engah.
Hanya satu kali memutari Alun-Alun saja, Pandu sudah begitu capek rasanya, kemudian mereka melanjutkan melihat aneka permainan lainnya, dan tidak lupa untuk membeli jajanan.
__ADS_1
"Jagung manis, Nda," pinta Indira dengan menunjuk jagung manis.
Ervita pun menganggukkan kepalanya dan membelikan jagung manis dengan harga Rp. 5.000an itu untuk Indira. Dengan topping susu, meses, dan keju. Indira terlihat begitu senang memakannya.
Rupanya Indira juga menyuapi Ayahnya. "Maem Ayah," ucapnya.
Ervita pun membelikan air mineral untuk suami dan juga adik iparnya.
"Makasih Nda," ucap Pandu.
"Matur nuwun, Mbak," balas Tanto.
Sementara Mei yang tengah hamil muda tampak membeli bola-bola mie. Ervita pun mendekati adiknya itu dan kemudian membayar jajanan yang dibeli oleh adiknya. "Mau apalagi? Biar keponakanku nanti tidak nces yahh," goda Ervita kepada adiknya.
"Makasih Mbak ... dibayarin loh. Sama beli Jeruk Kasturi ya Mbak. Aku pengen yang asam dan seger gitu," ucapnya.
"Iya, tapi kalau terlalu asam jangan diminum. Kasihan babynya," pesan dari Ervita.
Mei pun tertawa, "Nggih Budhe," balasnya dengan terkekeh geli.
Ervita pun turut tertawa, "Manggilnya Ibu aja nanti. Aku dan Mas Pandu masih muda masak dipanggil Budhe dan Pakdhe," balasnya.
"Lah, kan pakemnya gitu, Mbak," balas Mei.
"Enggak ah, dipanggil Bapak dan Ibu saja sama keponakan nanti," balas Ervita yang kekeh tidak mau dipanggil Pakdhe dan Budhe.
Malam itu dengan menikmati suasana malam di Alun-Alun dan menikmati jajanan rakyat yang ekonomis mereka sudah merasa begitu bahagia. Terlebih untuk Ervita yang bisa membelikan beberapa makanan yang diinginkan adiknya yang tengah hamil muda.
"Buruan hamil Mbak ... nanti bisa barengan," ucap Mei kepada kakaknya itu.
"Doakan aja," balas Ervita.
"Pasti lah, mau aku injak jempol kakinya biar nular?" tanya Mei.
Dengan cepat Ervita menggelengkan kepalanya, "Enggak ah, gak mau ... nanti malahan sakit."
__ADS_1
Kedua kakak dan adik itu kembali tertawa dan bercanda. Seolah memori masa kecil mereka terulang lagi. Selalu ada kebahagiaan dalam kesederhanaan. Bahkan untuk bahagia, adakalanya tidak harus merogoh kocek dalam-dalam.
Happy Reading ^^