
Sebenarnya, tiba di Surabaya sudah terbilang malam. Jam 21.00, mereka baru tiba di Stasiun Gubeng. Akan tetapi, agaknya mereka harus begadang malam ini untuk menyelesaikan misi tersembunyi. Terlebih ketika suaminya itu sudah mengirimkan kode dan sinyal-sinyal yang tentunya hanya diketahui oleh Ervita saja.
"Enggak capek kan?" tanya Pandu lagi kepada istrinya itu.
"Kalau aku capek gimana Mas?" tanya Ervita.
"Aku pijitin nanti," balas Pandu.
Ervita lantas memanyunkan bibirnya hingga beberapa centimeter, "Bohong ... selama ini juga tidak pernah dipijitin loh. Cuma bilang aja," balas Ervita.
Pandu pun tertawa di sana, "Kamu minta dong, Nda ... kalau kamu tidak meminta ya aku enggak melakukannya," balas Pandu.
"Besok mulai kerjanya jam berapa emangnya Mas?" tanya Ervita lagi.
"Jam 10.00 kok, Dinda ... makanya bisa begadang dulu sampai tengah malam," balas Pandu dengan mengedipkan satu alisnya kepada istrinya itu.
"Ya sudah, aku mandi duluan saja Mas ... mau bersih-bersih, biar capeknya hilang," ucap Ervita.
Pandu pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya Nda ... yang bersih dan wangi yah, biar Kanda makin suka," balasnya.
Ervita hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Apakah dia harus menjadi Cleopatra yang mandi dengan berbagai wangi-wangian hingga tubuhnya begitu wangi. Ada-ada saja suaminya itu. Ervita pun bergegas ke kamar mandi dan kemudian segera melakukan mandi dan sekaligus keramas, supaya lebih segar dan membuang sisa-sisa keringat yang menempel di tubuhnya.
Kurang lebih hampir setengah jam berlalu, dan sekarang Ervita sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe yang disediakan oleh pihak hotel itu.
"Sudah Mas, mandi sana," ucap Ervita.
"Siap Dinda ... ingat loh yah, jangan bobok dulu. Awas, kalau bobok duluan," balas Pandu dengan kalimat yang syarat akan ancaman.
"Ishh, mengerikan deh. Sana buruan Mas ... jangan mandi terlalu lama, nanti bisa sakit tulangnya loh," balas Ervita.
Pria itu mencuri kecupan di pipi Ervita dan kemudian mulai berlari ke kamar mandi. "Mandi dulu, Dinda ... jangan ngintipin, nanti bintitan loh," ucap Pandu dengan tertawa-tawa.
Hanya dua puluh menit berlalu, dan Pandu sudah keluar dari kamar mandi. Kali ini, Pandu sengaja hanya memakai celana pendek saja, dadanya dia biarkan shirtless begitu saja. Rambut yang masih sedikit basah, dan beberapa tetesan air tampak membasahi dadanya yang bidang. Ervita yang sedang duduk di depan cermin rias pun, seakan kesusahan menelan salivanya sendiri melihat penampilan suaminya yang saat itu terlihat begitu H.O.T di matanya. Pria berwajah tampan, alis yang simetris satu sama lain, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang merah muda. Tidak hanya saja, air yang membasahi bahu hingga dadanya benar-benar membuat Pandu begitu berbeda.
"Syukurlah kamu belum bobok," balas Pandu yang sudah berdiri di belakang Ervita yang saat itu duduk.
__ADS_1
"Takut kalau bobok duluan nanti dapat ancaman," balas Ervita.
"Dinda sudah nurut malam ini, jadi pengen apa Dinda? Nanti aku beliin. Emas berlian pun aku belikan buat kamu," balas Pandu.
Dengan cepat Ervita pun menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak ... aku enggak butuh semuanya itu. Alih-alih emas dan berlian, aku lebih membutuhkan kamu, Mas," balasnya.
Senyuman tipis terbit di sisi sudut Pandu, pria itu tampak membawa tangannya memegangi bahu Ervita, meremasnya perlahan, lantas tangan itu dengan perlahan-lahan meraba garis leher, turun ke lengan, dan juga pria itu menggigit telinga Ervita perlahan. Yakinlah, dia adalah sinyal yang ampuh untuk menansfer berbagai gelenyar asing di tubuh Ervita. Sampai-sampai Ervita menahan nafas mana kala tangan suaminya itu membelai bagian tubuhnya.
"Yuk Dinda," ajak Pandu yang mengajak Ervita untuk berdiri.
Agaknya kali ini, Ervita yang begitu terpesona dengan Pandu, sehingga Ervita dengan begitu mudahnya mengikuti apa yang diinstruksikan suaminya itu. Bukan membawanya ke ranjang, tetapi Pandu justru membawa Ervita ke sisi ruangan di kamar hotel itu, Pandu menghimpit tubuh Ervita hingga punggung wanita itu bersandar di tembok. Lantas Pandu memposisikan kedua tangan Ervita untuk melingkari lehernya.
Perlahan tapi pasti, Pandu menundukkan wajahnya, dan dia mulai melabuhkan bibirnya yang kala itu sedikit dingin karena baru saja selesai mandi di atas bibir Ervita yang pink merona tanpa polesan lipstik itu. Ketika bibir sama-sama bertemu, kedua pasang mata pun dengan begitu cepatnya terpejam. Terpaan nafas yang hangat, sensasi mint yang seger dari bibir yang bertemu, seolah menyulut terjadi gelombang dari peraduan dua bibir. Pandu dengan memejamkan matanya mulai memagut bibir Ervita, menghisap bibir itu disertai dengan usapan lidahnya yang membuat Ervita menahan nafas. Pagutan demi pagutan, ditambah dengan hisapan di lipatan bibir bagian bawah milik Ervita, membuat keduanya seolah saling tersulut, keduanya tak segan untuk saling membagi nafasnya.
Kedua tangan Pandu yang semula memegangi pinggang Ervita pun perlahan-lahan kian merayap ke sana ke mari. Meraba sisi wajah, garis leher, bahkan tangan itu sengaja memberikan remasan di dada istrinya.
"Mas, Mas Pandu," pekikan lirih dari Ervita ketika dia merasakan telapak tangan suaminya mulai meraba paha bagian dalamnya.
Ciuman yang dilabuhkan Pandu kini kian memburu, sampai Ervita merasa kehabisan oksigen di sana. Namun, dia juga tidak ingin mengakhiri ciuman yang panas dan begitu intens itu.
Tangan Pandu pun kini dengan mudahnya menarik pita dari bathrobe yang masih dikenakan Ervita, lantas dengan perlahan, kedua tangan itu meraih bahu Ervita, menggerakkannya perlahan kini bagian bathrobe itu terlepas begitu saja dan merosot ke lantai.
"Sexy banget Dinda," ucap Pandu dengan berbicara tepat di depan bibir Ervita.
Ya, baju dinas istimewa yang dikenakan Ervita sekarang benar-benar membuat Pandu merasa on fire, terbakar, begitu mengagumi istrinya dengan lekuk-lekuk feminitas yang terlihat di sana.
Lantas Pandu dengan begitu mudahnya mengangkat pinggul Ervita, menggendongnya layaknya koala, dan pria itu kembali melabuhkan ciumannya di bibir Ervita. Kali ini, tidak ada yang harus mereka tahan. Bahkan beberapa kali Ervita melenguh dan mende-sah saja justru menjadi simfoni yang indah dan kian melecut Pandu untuk menggapi Swargaloka bersama dengan istrinya itu.
Perlahan, Pandu merebahkan Ervita di ranjang hotel itu, dan tanpa banyak bicara, Pandu melepaskan Bandeau berwarna hitam itu, menarik resleting kecil di sisi kanannya, begitu Bandeau itu terlepas, tampaklah dua buah bulatan indah yang di sana. Buah persik dengan segala pesonanya yang begitu menantang bagi Pandu.
Tidak menunggu lama, pria itu segera menyapa buah persik yang ranum itu dan menghisapnya, mengusapnya dengan lidahnya yang hangat dan basah. Tidak membutuhkan waktu lama, puncak buah persik itu sudah menegang. Pun dengan tangan satunya yang memberikan remasan, dan juga memijatnya perlahan dengan gerakan memutar, lantas jari telunjuk dan ibu jari Pandu memilin puncak buah persik itu.
"Enak, Dinda ... nikmat," ucap Pandu dengan suara yang begitu parau.
Pun Ervita yang benar-benar meledak dengan godaan bibir, lidah, dan gigi suaminya yang membuatnya meremas rambut suaminya, bahkan seakan tangan Ervita kian menenggelamkan Pandu di sana, tak ingin lepas dari cumbuan dahsyat suaminya itu.
__ADS_1
Bibir Pandu yang nakal pun membuat berbagai tanda merah dari leher hingga dada Ervita. Lantas pria itu membawa wajahnya kian turun, dia benar-benar terpukau dengan tali-tali imut yang ada di sisi kanan dan kiri pinggul istrinya itu. Kini, tangan itu melepas tali-tali bersamaan, menikmati keindahan yang ada di balik kain hitam dengan bentuk segitiga itu. Tidak menunggu waktu lama, Pandu mulai menyisiri lembah di bawah saja dengan lidah dan bibirnya. Usapan demi usapan, tusukan demi tusukan, bahkan jari-jari Pandu yang seakan memberikan gesekan di area sensitif itu membuat Ervita mende-sah dan menggigit bibirnya sendiri.
Oh, kali ini Ervita benar-benar kehilangan kesadarannya. Dia pergi, menuju taman surgawi, di mana hanya dirinya dan Pandu yang laksana Adam dan Hawa berjalan-jalan di Firdaus bersama.
"Mas Pandu ... hh, mas Pandu," de-sah tak tertahan dari bibir Ervita.
"Hmm, nikmat Dinda? Jangan ditahan, tidak ada yang mendengar kita ... malam ini jadilah dirimu sendiri, jangan ditahan-tahan lagi," ucap Pandu.
Lembah di bawah sana benar-benar basah dan Pandu yakin inilah waktunya untuk menggapai Swargaloka bersama. Pria itu lantas melepaskan celana yang masih dia kenakan, lantas dia mengisyaratkan kepada Ervita untuk membasahi pusaka Lingga dengan mulutnya perlahan. Lingga yang tegak berdiri pun masuk dalam rongga mulut Ervita, dengan tangan Pandu yang mengusapi rambut panjang Ervita di sana.
Tidak terlalu lama, kini Pandu sudah memposisikan dirinya di antara kedua paha Ervita. Lantas dengan satu dorongan yang kuat, Pandu menghunuskan pusaka Lingga untuk masuk dan bersarang dalam cawan surgawi Yoni. Kesan erat, hangat, dan basah keduanya rasakan. Namun, Pandu tidak ingin buru-buru menghujam. Dia mengambil waktu dan juga merasakan remasan otot-otot yang berada di dalam cawan surgawi itu, hingga kedua mata Pandu terpejam rapat.
"Oh, luar biasa ... amazing," balas Pandu dengan menggeram.
Hingga akhirnya dia menghujam begitu dalam, menusuk masuk. Gerakan seduktif yang penuh candu, seakan bubuk-bubuk candu sedang ditebarkan dan keduanya menggila bersama. Saling mende-sah, saling menyerukan nama keduanya, dan juga kian larut dalam samudera yang seluruh volume airnya berisi cinta.
Dengan memegangi kedua kaki istrinya dan Pandu kian melesak masuk. Sungguh luar biasa. Sebelum semua kenikmatan itu berakhir, Pandu memberikan instruksi yang lain kepada istrinya.
"Miring, Nda," ucap Pandu yang meminta istrinya itu berbaring miring.
Lantas pria itu turut merebahkan diri di belakang istrinya dan dari sana dia kembali menyatukan Lingga dan Yoni. Tusukan demi tusukan, gerakan seduktif yang kian memabukkan, hingga tangan Pandu menahan paha istrinya. Bahkan tangan yang lain tampak memberikan remasan di dada istrinya.
"Dinda ... oh, Dinda," de-sah Pandu kali ini.
Menyudahi sessi ini, Pandu kembali menindih Ervita. Dua badan yang seolah menyatu, peluh yang begitu dahsyat, dan perjalanan menuju Swargaloka benar-benar sudah di depan mata. Kini gerakan seduktif Pandu kian kacau, dengan nafas yang terengah-engah, pun dada Ervita yang kembang-kembing di sana.
"Nikmat Dinda ... nikmat," racau Pandu.
"Aku ... sampai Mas," ucap Ervita yang merasakan darah di sekujur tubuhnya mendidih, dan juga tubuhnya meremang dengan begitu hebatnya.
"Tahan Dinda ... barengan."
Pandu kian memacu semangatnya, hingga kali ini perjalanan dari hulu ke hilir akhirnya bermuara di Swargaloka. Kesan erat, liat, dan basah membawa tubuh Pandu ambruk di sana. Ya, dia seketika ambruk di atas tubuh istrinya dengan tubuh yang bergetar.
"I Love U ... I Love U, Dinda," ucap Pandu dengan memeluk erat tubuh Ervita di sana.
__ADS_1
"I Love U too Mas Pandu!"
Kalimat penyataan dan pengakuan cinta menjadi segel yang menutup pertarungan yang hebat dan dahsyat malam itu. Swargaloka dengan kilauan cahayanya sukses membuatnya hancur lebur menjadi satu.