
Menjelang siang, Pandu mengajak istrinya untuk mengunjungi Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo. Pandu ingin melihat bagaimana masjid raya yang adalah hadiah dari pemerintah Uni Emirat Arab untuk Indonesia. Keunikan masjid ini adalah masjid ini adalah replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque yang berada di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
"Dinda, kita mengunjungi Masjid Sheikh Zayed yuk? Mumpung kita berada di Solo," ajak Pandu.
"Harus mengenakan pakaian yang pantas loh, Mas. Aku mengenakan hijab dulu kalau begitu."
Ervita pun berganti pakaian dulu. Setiap harinya memang Ervita tidak berhijab. Hanya saja, ketika ingin mengunjungi Masjid Raya Sheikh Zayed disarankan untuk mengenakan pakaian yang pantas. Selain itu, mereka yang non muslim juga dipersilakan untuk datang dan berkunjung, tapi tetap harus mengenakan pakaian yang pantas, seperti tidak boleh memakai celana pendek, untuk wanita diperkenankan hanya mengenakan kerudung saja. Sebab, memang Masjid Raya Sheikh Zayed juga dibuka sebagai wisata religi, hanya saja ada aturan yang harus tetap diikuti.
Begitu juga dengan Pandu yang sekarang memakai baju kokonya berwarna biru muda. Sementara Indi dan Irene memilih berada di rumah Eyangnya. Sehingga, Pandu dan Ervita memiliki kesempatan untuk jalan-jalan sebentar.
Beberapa menit berkendara dan sekarang mereka sudah tiba di Masjid Raya Sheikh Zayed. Masjid itu berdiri dengan begitu megah, selain itu dibangun menyerupai Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi. Semua yang datang pun takjub dengan keindahan masjid itu.
"Masyaallah, indah sekali," ucap Ervita sembari mengamati bangunan suci berwarna putih itu.
"Benar sekali, Dinda. Sangat indah. Benar-benar seperti Sheikh Zayed Grand Mosque," balas Pandu.
Kemudian Pandu bertanya kepada seseorang yang memandu sebagai tour guide di masjid itu. Bertanya kenapa bisa dibangun masjid semegah ini di kota Solo, dan berbagai pertanyaan lain.
__ADS_1
"Masjid ini kabarnya hadiah dari pemerintah Uni Emirate Arab ya Pak?" tanya Pandu.
"Ya, benar sekali, Mas. Ini adalah hadiah dari pemerintah Uni Emirate Arab untuk Bapak Presiden. Lalu, dibangunlah masjid ini, dan ini adalah replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi," jelas Bapak itu.
"Yang diperbolehkan masuk apakah hanya umat Muslim saja, Pak?" tanya Pandu lagi.
Bapak itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Semua umat beragama boleh masuk ke sini, tentunya dengan pakaian yang pantas. Umat beragama lain yang wanita cukup menutup kepalanya saja. Selain itu dilarang merokok di dalam area masjid, dilarang membawa makanan dan minuman dari luar, dilarang membawa hewan peliharaan, dan dilarang membuang sampah sembarang," jelas Bapak itu.
Pandu menganggukkan kepalanya. Sebagai seorang yang sedikit tahu mengenai arsitektur dan interior desain, Pandu sangat takjud dengan Masjid Raya ini.
"Arsiteknya dari Indonesia ya Pak?" tanya Pandu lagi.
Wah, rasanya Pandu semakin takjud. Di dalam hatinya, ketika pulang ke Solo harus menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid ini dan beribadah di masjid ini. Usai bertanya kepada Bapak itu dan berterima kasih banyak, Pandu dan Ervita melanjutkan untuk mengelilingi masjid itu.
"Bagus dan cantik banget ini, Mas," ucap Ervita.
"Iya, aku membaca di Internet, ini bisa menampung 10.000 jamaah. Aku yakin ini akan menjadi Islamic Centre di Solo," balas Pandu.
"Benar sih, Mas. Di tempat ini nanti akan dijadikan tempat Tafsir Al-Quran, Madrasah, dan pengembangan ekonomi syariah. Luar biasa," balas Ervita.
__ADS_1
Ketika berada di Masjid Raya itu, Pandu dan Ervita menyempatkan diri untuk sholat bersama. Namun, tetap terpisah karena bagian untuk jamaah pria dan wanita yang dipisahkan. Merendahkan diri di kaki Allah, memuji kebesaran, dan bersyukur untuk setiap nikmat yang Allah berikan kepadanya. Hampir lima belas menit keduanya sholat bersama, kemudian Pandu yang Ervita bertemu di bagian lain di masjid itu.
"Sudah, kamu berdoa untuk apa?" tanya Pandu.
Ervita pun tersenyum dan menatap suaminya itu. "Aku hanya bersyukur saja sih, Mas. Aku tidak mau meminta lebih. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama kamu," balas Ervita.
"Aku meminta kita diberikan umur panjang untuk mengasuh anak dan cucu kita nanti. Berdampingan dengannya sampai tua," balas Pandu,
Mendengar apa yang disampaikan suaminya, Ervita kemudian menganggukkan kepalanya. "Amin Ya Allah ... kiranya setiap doa kita akan didengar dan dikabulkan Allah," balasnya.
Kemudian mereka masih berjalan-jalan di selasar masjid. Beberapa kali Pandu juga memberikan desain interior itu kepada Ervita, sebatas berbagi apa yang dia tahu saja mengenai interior.
"Ini, Dinda. Akulturasi budayanya di sini. Masjid ini kan replika jadi bangunan, menara, hingga kubah itu memang seperti Sheikh Zayed Grand Mosque. Namun, bagian ini ada desain batiknya. Namun, semua ornamennya adalah khas Timur Tengah," jelas Pandu.
"Oh, begitu yah Mas ... tapi ini bagus banget. Tumbuh-tumbuhannya juga tumbuhan Nusantara. Namun, memang bangunan, kubah, menara, hingga warna menyerupai Grand Mosque di Abu Dhabi sih. Apalagi bulan puasa begini, yang datang ke sini untuk melakukan Sholat Tarawih pastilah banyak."
Tak henti-hentinya mereka takjub dengan keindahan masjid itu. Semoga saja, banyak warga Solo dan sekitarnya yang berwisata religi dan beribadah di masjid raya ini. Menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarang, supaya keindahan masjid ini tetap terjaga. Selain itu, tidak menggangu jemaah yang sedang beribadah di dalamnya.
__ADS_1