
Ketika saling mengungkapkan cinta, rupanya terdengar rintik hujan dari luar rumah. Rintik demi rintik yang menandakan air hujan yang jatuh mengenai atap rumah. Ervita pun tersenyum di sana, dan dia hendak beranjak untuk sejenak.
"Tunggu sebentar ya Mas," ucap Ervita kepada suaminya itu.
"Mau ke mana Dinda?" tanya Pandu yang bingung, mendengar suara hujan, justru Ervita beranjak dari tempat tidurnya.
"Angkat jemuran dulu, Mas ... kan tadi siang kita jemur baju. Biar aku angkat dulu," balas Ervita.
Tidak bermaksud kemana-mana, rupanya memang ada jemuran yang harus dipindahkan terlebih dahulu. Rupanya Pandu pun ikut berdiri, pria itu mengikuti istrinya ke belakang rumah.
"Aku anterin dan bantuin Dinda ... gelap loh di belakang," ucap Pandu.
"Gelap ya enggak apa-apa, Mas ... kan aku bukan penakut," balas Ervita.
Sebelum menuju ke belakang rumah, Ervita mengambil payung dulu dan tentunya untuk menudungi keduanya, kemudian begitu sudah sampai di belakang rumah, perlahan-lahan air hujan mengenai payung itu. Ervita pun tersenyum, "Sepayung sama kamu syahdu ya Mas," ucapnya dengan terkekeh geli.
"Iya dong ... apalagi sama Kanda yang limited editions," balas Pandu.
Ervita tersenyum dan mengapit lengan suaminya. Benar yang dia rasakan adalah bisa sepayung dengan suaminya membuatnya merasa syahdu. Hujan yang jatuh membasahi bumi, dan semerbak bau pretikor kian menambah syahdunya suasana.
"Tuh, ada jemuran ... semoga tidak terlalu basah," ucap Ervita kemudian.
Pandu kemudian menyerahkan payungnya kepada Ervita, "Kamu yang pegang payungnya, Dinda ... biar aku yang mengambil jemurannya," balasnya.
__ADS_1
Mengikuti perintah dari suaminya, Ervita pun memegangi payung itu dan kemudian memayungi Pandu yang mengangkati jemuran. Hanya beberapa menit, dan sebagian bahu Pandu terkena percikan air hujan yang turun mengenai payungnya.
"Sudah semua Dinda ... yuk masuk lagi," ajak Pandu kepada istrinya itu.
Hingga akhirnya, keduanya kembali memasuki rumah. "Hati-hati jalannya Dinda ... lantainya bisa licin. Jangan kemana-mana dulu, aku ambilin keset dulu supaya kaki kamu kering," balas Pandu.
Kali ini Ervita juga menurut, dia menunggu suaminya mengambilkan keset untuk mengeringkan kakinya, dan kemudian Pandu turut menggandeng Ervita dengan hati-hati masuk ke dalam rumah. Bagaimana pun istrinya itu tengah hamil, sehingga dia harus berhati-hati.
"Hati-hati, Dinda ... mau aku gendong aja?" tanya Pandu.
"Enggak, aku bisa jalan sendiri kok," balas Ervita.
"Kalau mau digendong ya bisa aja kok ... semuanya untuk kamu kok Nda. Keamanan dan kenyamanan kamu nomor satu untukku," balas Pandu.
"Ganti baju yah ... biar enggak masuk angin. Kamu malahan kebasahan," ucap Ervita.
Pandu justru tersenyum dan enggan mengenakan kembali kaos yang baru saja diambilkan Ervita. Kemudian Pandu melirik kepada istrinya itu.
"Dinda, hujan-hujan enaknya apa?" tanya Pandu.
"Bobok sambil pelukan enak, Mas," balas Ervita.
Pandu tampak tersenyum dan menatap gemas kepada istrinya itu. "Ke Swargaloka yuk Dinda? Lagi pula sudah lama juga tertunda. Aku punya dua tiket," balas Pandu.
__ADS_1
Memberikan lampu hijau kepada suaminya. Pandu pun kini berasa mendapatkan kendali secara penuh. Hingga dengan begitu hati-hati, Pandu segera melabuhkan bibirnya untuk memagut begitu lembut bibir Ervita. Kedua bibir bertemu hingga sensasi manis dan juga hangat bisa dirasakan oleh keduanya. Itu adalah sensasinya melenakan dan juga membuat Pandu seakan tak bisa memberikan pagutan dan ciuman yang begitu intens di bibir Ervita.
Dua bibir yang bermuara. Seolah begitu jauh menjelajahi Gurun Sahara, hingga sekarang keduanya menemukan oase untuk saling melepaskan dahaga. Meneguk air yang melegakan tenggorokan mereka.
Dua bibir yang bertaut, dan tangan yang saling memeluk satu sama lain. Untuk sesaat pikiran mereka terbang jauh. Melambung tinggi.
Kian melambung ketika tangan Pandu membelai lekuk-lekuk feminitas di sana. Bahkan tangan itu dengan begitu lihainya meremas bulatan indah layaknya buah persi, menggodanya dan meremasnya perlahan.
Tidak ingin menunggu lama, keduanya kini tampil dalam kepolosan mutlak. Merasakan jantung yang kian berdebar-debar, suhu tubuh yang meningkat dengan kian drastisnya. Indah.
Semuanya dilakukan pria itu secara bertahap dan perlahan-lahan. Ervita terbakar. Berkali-kali dia meremas rambut dan bahu suaminya. Wanita itu kian memekik ketika Pandu menyatu, padu dalam dirinya.
Gerakan seduktif yang tidak menekan sama sekali. Tidak penuh tenaga, tetapi penuh dengan penghayatan. Sampai pria itu terengah-engah dan menengadahkan wajah.
Lesakan cepat dan berirama, membuat keduanya limbung. Dengan mata yang terpejam keduanya bisa melihat bunga-bunga yang bermekaran. menghunus masuk, menghentak rapat. Semuanya dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Kala itu serbuk sari seolah beterbangan yang merangsek masuk ke dalam putik bunga. Sangat indah.
"Dinda ... aku sampai."
Pandu memberikan isyarat nyata bahwa dirinya telah sampai sekarang. Meledak. Pecah, dan tidak meninggalkan sisa.
"Aku cinta kamu, Dinda," ucap Pandu dengan memeluk Ervita dengan begitu erat dan juga rapat.
__ADS_1