Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Agaknya kabar mutasi Damar ke Jogja sangat membahagiakan untuk keluarga besar Hadinata. Terbukti dengan sekarang Bu Tari yang memasak besar dan mengumpulkan anak, menantu, dan cucu di kediamannya. Membuat makan malam bersama.


"Wah, Ibu masak banyak banget," ucap Ervita yang bingung melihat aneka masakan di sana.


Mulai dari Ikan Bakar, Ayam Bakar, Lalapan, Sambal, Puding, dan beberapa camilan. Tentu ini terhitung banyak. Sampai Ervita beberapa kali geleng kepala melihat aneka masakan di sana.


"Makan malam bersama, Vi. Syukuran keluarga, bulan depan Damar bisa mutasi ke Jogjakarta," jawab Bu Tari.


"Kayak sudah bancakan ya, Bu," balas Ervita.


Mendengar jawaban Ervita, Bu Tari dan Pertiwi pun tertawa. "Bancakan untuk Langit dan Irene ya, Vi? Kan sekalian terima cucu," balas Pertiwi.


"Bener Mbak ... buat Nasi Tumpeng untuk Mas Langit dan Irene yah," balasnya.


Bu Tari pun ikut tertawa. "Nanti Eyang Putri buatkan Nasi Tumpeng yah bulan depan untuk cucu-cucunya Eyang Putri dan Eyang Kakung. Buat Lintang, Langit, Indi, dan Irene," balas Bu Tari.


"Nunggu Mas Damar sudah di Jogjakarta dulu ya, Bu. Nanti bisa sekalian piknik keluarga. Healing-healing gitu, Bu," balas Pertiwi.


Bu Tari pun menganggukkan kepalanya. "Iya, boleh juga tuh. Healing keluarga. Nginep gitu yah, sekalian nunggu Langit dan Irene biar agak besar," balas Bu Tari.


Agaknya usul dadakan dari Pertiwi disambut baik oleh Bu Tari. Beliau pun merasa setuju untuk melakukan piknik keluarga nanti. Tidak sekarang, karena memang menunggu Langit dan Irene sedikit lebih besar.


"Atur aja, Wi ... Bapak dan Ibu diajak ya seneng. Bisa sekalian menjaga cucu. Memberi waktu kepada kalian yang muda-muda untuk menikmati waktu dengan pasangan," balas Bu Tari.

__ADS_1


Sekarang di Pendopo itu berkumpul seluruh keluarga Hadinata, ditemani dengan aneka masakan yang sudah disediakan dan juga obrolan hangat yang terjadi. Bapak Hadinata tersenyum beberapa kali, sangat senang melihat anak, menantu, dan cucunya berkumpul menjadi satu.


"Pertiwi dan Ervita makan saja, Langit dan Irene biar Ibu jaga," ucap Bu Tari.


Begitu baiknya Bu Tari. Sebagai ibu dan sebagai mertua, Bu Tari justru mendahulukan Ervita dan Pertiwi untuk makan terlebih dahulu. Itu juga Bu Tari karena pernah menjadi seperti Pertiwi dan Ervita, menjadi Busui yang hanya sekadar ingin makan dengan tenang adalah kesempatan yang begitu berharga. Untuk itu, Bu Tari memberikan kesempatan untuk para Busui makan terlebih dahulu.


"Tidak usah, Bu ... Ibu dhahar duluan saja. Nanti Ervi bisa gantian sama Yayahnya anak-anak," jawabnya.


"Tidak apa-apa, Vi. Tidak usah sungkan. Dulu Ibu pernah jadi seperti kalian. Memiliki bayi, ingin makan dengan enak dan tenang saja susah. Baru satu suap, bayinya sudah menangis. Sekarang, kalian makan saja dulu."


Lantaran Bu Tari bersikeras untuk menjaga Langit dan Irene, akhirnya sekarang Ervita pun mengambil makanan, secukupnya saja. Ervita makan sekaligus menyuapi Indi. Sehingga tidak pernah dua porsi. Cukup satu porsi untuk bersama.


"Makan yang banyak, Dinda ... biar produksi ASI-nya melimpah," ucap Pandu.


Damar yang duduk tidak jauh dari Pandu pun tersenyum. "Wah, sekarang Pandu makin pinter. Tahu tentang dunia ASI juga. Dunianya Busui," balasnya.


Kali ini Pandu memang berbicara fakta bahwa salah satu faktor suksesnya pemberian ASI ekslusif selama dua tahun adalah karena support suaminya. Seorang suami bisa mendukung sang istri selama proses pemberian ASI, memenuhi asupan gizinya supaya ASI yang dihasilkan pun juga mengandung nutrisi tinggi, selain itu support dari suami bisa membuat mental seorang Busui lebih seimbang dan stabil. Untuk itu, selama ini Pandu juga berusaha melakukan yang terbaik. Dia berjanji dalam hatinya sendiri akan selalu mensupport Ervita.


"Iya, tahu, Ndu. Salut, karena kamu mau belajar," balasnya.


Ervita kemudian menyahut obrolan Pandu dan Mas Damar. "Sebenarnya Mas Pandu mensupport aku itu sejak aku memiliki Indi kok, Mas. Dulu, setiap bulan Mas Pandu selalu membelikan ASI Booster untukku. Katanya biar produksinya banyak dan kaya nutrisi. Sekarang pun sama," sahutnya.


Apa yang dikatakan Ervita benar adanya. Dulu setiap bulan Ervita selalu dibelikan Pandu berupa suplemen ASI dari produk terkenal Blackm*res yang kaya asam folat, Omega 3, dan Omega 6. Sehingga, ASI yang dihasilkan lebih banyak, lebih kental, dan kaya nutrisi. Tanpa Ervita harus meminta, setiap awal bulan Pandu sudah membelikannya suplemen ASI dan vitamin C. Untuk semua yang sudah Pandu lakukan, Ervita akan selalu mengingatnya. Sebab, itu adalah bukti pertolongan Tuhan melalui orang-orang baik di sekitarnya.

__ADS_1


"Wah, sekeren itu loh, Pandu," balas Damar.


"Aku dulu turut mensupport dari luar rumah saja, Mas," balas Pandu.


Ya, dulu walau tempat tinggal mereka satu pekarangan, tapi tetap saja Pandu hanya orang luar. Oleh karena itulah, dia berusaha mensupport Ervita kala itu, walau dari luar rumah. Sekarang, ketika sudah menikah dengan Ervita, Pandu pun tak segan untuk mensupport Ervita. Bahkan Pandu semakin totalitas menjadi Ayah untuk kedua anaknya.


"Bagus, Ndu. Keren," balas Damar.


"Matur nuwun, Mas," balas Pandu dengan menganggukkan kepalanya.


Hingga akhirnya, Indi pun mendekat ke Ayahnya karena menginginkan salah satu makanan di piring Ayahnya. "Yayah, Didi mau sedikit ikan bakar itu dong. Boleh sedikit Yayah?" tanyanya.


"Boleh, sini Yayah suapin. Hati-hati makannya, Yayah hilangin dulu durinya," balas Pandu.


Damar tersenyum. "Bahkan Indi saja sayang banget loh, Ndu sama kamu," ucap Damar.


"Kasih sayang yang tulus dari hati akan menyentuh sampai ke hati, Mas. Semoga sampai Indi besar nanti akan selalu sayang sama aku," balas Pandu.


Memang hanya itu yang bisa Pandu lakukan. Dia berusaha untuk menyayangi Indi dengan tulus dan sepenuh hati. Berusaha untuk menyalurkan kasih sayangnya itu dan berharap Indi bisa merasakannya. Rupanya benar, dari kecil Indi pun menyayangi Pandu. Pria yang dulu dia panggil Om Ayah, sekarang benar-benar menjadi Ayahnya.


"Amin," semua yang ada di sana mengaminkan ucapan Pandu.


Sementara Ervita sendiri merasa senang dan terharu sebenarnya. Tidak perlu dia mengatakan kepada siapa pun. Semua orang yang melihat saja bisa mengetahui bahwa Pandu adalah seorang Ayah sambung yang menyayangi Indi layaknya Ayah kandung. Pandu benar-benar membuktikan ucapannya bahwa dia menyukai Ervita dan mau menerima putrinya. Sudah selayaknya satu paket. Tidak membeda-bedakan antara Ervita dan Indi.

__ADS_1


"Ayo-ayo, nambah. Ibu masaknya banyak banget. Yang memiliki bayi makannya yang banyak."


Sekarang giliran Bu Tari yang berbicara dan mengatakan supaya yang makan bisa nambah. Masakan yang banyak itu boleh dihabiskan. Justru sebagai seorang Ibu, dia akan merasakan bahagia ketika apa yang sudah dia masak akan dimakan dan dihabiskan oleh anak-anaknya.


__ADS_2