Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Sama-Sama LDR


__ADS_3

Akhir pekan pun tiba ...


Hari ini adalah hari di mana Pandu akan berangkat ke Surabaya. Jika beberapa hari sebelumnya, Ervita menangis-nangis. Mengaku bahwa belum ditinggal saja sudah rindu, sekarang pun Ervita masih menangis. Hingga Pandu tampak memeluk istrinya itu dengan begitu erat.


"Loh, kok nangis lagi. Semalam saja waktu packing koperku, janjinya enggak nangis," balas Pandu sekarang.


"Tetep aja sedih," balas Ervita.


"Semakin lama berpisah, nanti semakin mesra waktu bertemu," ucap Pandu.


"Kangen," balas Ervita yang hanya bisa mengucapkan satu kata saja yaitu kangen.


Melihat Bundanya menangis, Indi pun ikut menangis. Hingga Indi juga memeluk pinggang Ayahnya itu. Sehingga sekarang Pandu menundukkan badannya dan kemudian menggendong Indi terlebih dahulu.


"Putrinya Yayah kok menangis?" tanya Pandu kemudian.


"Kangen Yayah ... nanti Didi pasti bakalan kangen banget," balasnya.


Pandu sebenarnya sedih, tapi ada rasa menggelitik dalam hatinya, itu juga karena Indi yang versinya 11-12 dengan Ervita. Belum apa-apa, sudah merasa kangen. Namun, Pandu pun tahu bahwa semua itu juga karena Indi yang begitu sayang kepadanya.


"Akhir pekan nanti Yayah pulang. Kalau Yayah pulang, kita jalan-jalan ke Mall dan Yayah belikan boneka untuk Mbak Didi yah," balas Pandu.


"Hu-um, iya Yayah ... buat Adik Iyene juga yah," balas Indi.


"Iya, nanti putri-putrinya Yayah dibelikan boneka. Mbak Didi bantuin Bunda yah? Jangan nakal selama Yayah bekerja yah," pesan Pandu kepada putrinya lagi.


"Iya, Yayah ... Didi sayang Yayah," balasnya dengan tangan kecilnya kini yang melingkari leher Ayahnya.


Setelahnya, Pandu kembali memeluk Ervita. "Pamit ya, Nda ... hati-hati di rumah. Jangan kecapekan. Tidak usah dipikir terlalu berat. Akhir pekan nanti aku akan pulang kok," balasnya.


"Iya Mas ... aku tunggu Mas kembali pulang," balas Ervita.


Setelahnya, Pandu menyerahkan Indi yang semula dalam gendongannya kepada Ervita. "Ya sudah ... Yayah berangkat sekarang yah ... Yayah sayang kalian semua."


Sekarang air mata Indi dan Ervita sama-sama berlinang dengan begitu derasnya. Bahkan Indi sampai sesegukan dalam tangisannya.

__ADS_1


"Bye ... Yayah bekerja dulu yah," pamit Pandu dengan melambaikan tangannya.


"Yayah ... kangen Yayah," balas Indi dengan terisak-isak.


Ervita pun menggendong Indi dan mengusapi punggung putrinya itu. "Sudah yah ... kan Yayah pergi untuk bekerja. Akhir pekan nanti Yayah akan kembali pulang kok."


"Iii ... iya, Nda," balas Indi.


Menunggu sampai Pandu benar-benar tak terlihat, kemudian Ervita mengajak Indi untuk masuk ke dalam rumah. Ervita masih harus memenangkan Indi, dan berharap mood putrinya itu akan segera membaik.


***


Di tempat yang berbeda ....


Hanya berjarak beberapa meter dari kediaman Ervita dan Pandu, ada yang juga bersedih karena perpisahan. Ya, Pertiwi pun merasakan hal yang sama dengan Ervita. Itu juga karena suaminya, Damar akan kembali ke Bandar Lampung dan sekaligus melakukan packing untuk pindahan ke Jogjakarta bulan depan.


Memang hanya berpisah satu bulan saja. Namun, yang namanya berpisah tetap saja rasanya begitu sedih. Pertiwi pun juga meneteskan air matanya.


"Aku pulang ke Bandar Lampung dulu ya, Sayang ... sekaligus packing. Barang-barang kita nanti aku mulai paketkan melalui kargo," pamit Damar kepada Pertiwi.


"Sedih, Mas," aku Pertiwi.


"Sama, Sayang ... aku juga sedih. Cuma kan kali ini hanya sebulan. Setelahnya, kita akan bersama-sama lagi. Tunggu aku sebulan lagi," balas Damar.


Pertiwi pun menganggukkan kepalanya. Berpisah bukan hal yang asing untuknya. Justru beberapa kali dia dan Damar harus menghadapi Long Distance Married. Akan tetapi, hatinya selalu saja rapuh ketika hendak berpisah.


"Kali ini kan tidak akan lama. Tuhan sudah mengabulkan doa kamu. Dulu, kamu bilang ingin kembali ke Jogjakarta dan dekat dengan keluarga. Sekarang, impian kamu akan segera tiba. Hanya perlu menunggu satu bulan saja," balas Damar.


"Iya Mas ... aku tunggu. Aku juga senang pada akhirnya kita bisa berkumpul lagi di Jogjakarta," balasnya.


"Ya sudah, jangan menangis. Jaga anak-anak yah. Bulan depan, aku sudah bisa terlibat untuk mengasuh Lintang dan Langit," balas Damar.


Damar hanya berusaha kuat dan tidak menunjukkan kesedihannya. Namun, sesungguhnya di dalam hatinya, dia pun sedih ketika harus jauh dari anak dan istri. Terlebih, putra bungsunya Langit masih begitu kecil. Sehingga, Damar sering begitu rindu dengan Langit. Namun, tugas sebagai abdi negara harus selalu diemban. Tak jarang mereka yang merantau jauh, hidup sendiri dan jauh dari keluarga, anak, dan istri.


"Yuk, antar aku keluar, Yang. Sekaligus aku berpamitan dengan Bapak dan Ibu," kata Damar.

__ADS_1


Pertiwi pun keluar dari kamar bersama suaminya. Semua orang yang melihat Pertiwi pasti bisa melihat bahwa Pertiwi usai menangis dari wajahnya yang sembab dan suaranya yang terdengar bergetar.


Kemudian Damar pun berpamitan dengan mertuanya. Mengucapkan terima kasih dan menitipkan Pertiwi, Lintang, dan Langit. Tidak lupa juga meminta doa restu.


"Ya, Bapak dan Ibu selalu mendoakan, perjalanan lancar. Yuh, ini Pandu berangkat ke Surabaya dan kamu kembali ke Lampung. Anak-anaknya Ibu pasti menangis ini," balas Bu Wati.


"Pandu ke Surabaya, Bu?" tanya Damar.


"Iya, seminggu di Surabaya. Di sana Ervita pasti menangis. Sama seperti di sini Pertiwi yang menangis," balas Bu Wati.


Hingga akhirnya, Damar pun berpamitan. Kali ini hanya satu bulan saja. Sebab, setelahnya Damar akan mulai dimutasi ke Jogjakarta. Sepeninggal Damar, tidak berselang lama, Pertiwi berpamitan kepada Ibunya untuk main ke rumahnya Ervita.


Rupanya Bu Tari justru turut dengan Pertiwi ke rumahnya Ervita. Sebab, Bu Tari juga khawatir dengan keadaan Ervita. Terlebih beberapa hari sebelumnya, Pandu sudah cerita bahwa Ervita menangis.


"Permisi," sapa Pertiwi begitu tiba di rumah Ervita.


"Ya, silakan masuk," balas Ervita.


Tentu Ervita senang karena ada yang main ke rumah. Setidaknya dia tidak merasa sepi. Selain itu, ada Lintang juga yang datang membuat Indi juga bisa bermain bersama dan memperbaiki moodnya.


"Sibuk enggak, Vi?" tanya Pertiwi.


"Enggak, Mbak. Ibu rumah tangga, biasa. Mbak Pertiwi habis nangis, kok wajahnya dembab begitu?"


Kali ini Bu Tari yang memberikan Jawaban. "Iya, sama seperti kamu kan Vi? Pasti tadi juga menangis kan? waktu Pandu berangkat."


"Iya, Bu. Sedih dan kangen dengan Mas Pandu," balasnya.


"Hanya satu minggu, Vi ... kalau jadi aku, berbulan-bulan," sahut Pertiwi.


Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Aku kan sebelumnya gak pernah LDR kayak gini, Mbak. Sejak menikah, baru kali ini Mas Pandu bekerja di luar kota," balasnya.


"Ya, nanti aku main ke sini, Vi. Kita ngobrol barengan yah. Curhat. Sama-sama LDR sama Pak. Suami," balas Pertiwi.


Tentu Ervita tidak merasa keberatan. Setidaknya ada teman curhat dan sharing. Sama-sama berada di posisi dirantai dan digelangi rindu.

__ADS_1


__ADS_2