
Keesokan harinya, pagi masih buta. Hanya terdengar suara ayam berkokok, dan rombongan Pandu, Ervita, Damar, dan Pertiwi sudah menembus jalanan di kota Gudeg dan mereka hendak menuju ke Istana Ratu Boko, di area Sleman, Jogjakarta.
Pagi yang masih gelap itu sudah ada beberapa pedagang yang turut menyusuri jalanan. Beberapa penjual aneka sarapan seperti penjual Nasi Gudeg di pinggir jalan juga sudah menjajakan dagangannya. Sementara untuk Pandu dan lainnya, mereka akan menuju salah satu bangunan kuno yang biasanya disebut sebagai candi, tapi sebenarnya tempat ini pada dulunya adalah kompleks istana yang berada di bukit.
"Aku baru kali ini loh ke Ratu Boko sepagi ini," ucap Pertiwi kala itu.
"Katanya Bumil pengen ke sini, sampai mengajak Pandu loh, maunya Pandu yang nyetir," balas Damar kepada istrinya.
Pertiwi pun tertawa, "Iya, pengennya si baby disetirin Omnya. Om Pandu," balas Pertiwi.
Pandu yang fokus mengemudikan mobil pun memilih tenang dan bersikap santai. Mendengarkan mbaknya yang sedang hamil itu memang kalau pulang ke Jogja, pasti ada saja maunya. Namun, di dalam hati Pandu pun juga memahami, namanya juga bersaudara, adik kakak, pastilah ada rasa ingin dekat dengan saudara kandungnya.
"Ervi pernah ke Ratu Boko?" tanya Pertiwi kemudian kepada Ervita.
"Belum pernah, Mbak ... baru kali ini. Yang pernah ke Candi Prambanan dan Candi Plaosan, Mbak," balas Ervita.
"Mumpung aku minta ke Ratu Boko yah, jadi sekalian," balas Pertiwi.
Perlahan Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mbak ... mumpung. Anak-anak juga ada yang jagain, jadi ya sesekali pergi sepagi ini," balas Ervita.
Perjalanan dari kediaman Hadinata ke arah Istana Ratu Boko kurang lebih ditempuh dalam waktu lebih dari setengah jam. Langit masih begitu redup dan mereka sekarang sudah berada di area Ratu Boko. Turun dari mobilnya, Pandu mengambilkan jaket miliknya terlebih dahulu, dan memakaikan untuk Ervita.
"Pakai jaket dulu, Nda," ucap Pandu yang dengan telaten dan begitu manisnya mengenai jaketnya yang agak tebal ke tubuh Ervita.
"Masih dingin?" tanya Pandu.
__ADS_1
Ervita pun menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak, pake jaket kamu, serasa kamu peluk," balasnya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya, sini tangan kamu, Nda," balas Pandu.
Pria itu segera menggenggam tangan Ervita, menautkan jari-jarinya, dan menggandeng tangan Ervita. Setidaknya dua tangan yang saling menggenggam bisa saling menghangatkan. Itu juga yang Pandu yakini bahwa dengan menggenggam tangan Ervita bisa membuat keduanya merasa hangat. Menuju ke loket masuk yang memang sudah buka karena ada beberapa wisatawan yang hendak memandang matahari terbit di tempat ini. Pandu yang membeli tiket untuk mereka berempat.
Kemudian mereka memasuki pintu gerbang istana, dua buah gapura menyambutnya. Suasana yang masih remang, dan angin yang bertiup seolah membawa mereka kepada petualangan di masa lalu.
"Gak usah jauh-jauh Mbak, kamu baru hamil," ucap Pandu mengingatkan kepada Pertiwi.
"Iya, aku gak jauh-jauh kok. Di sini saja," balas Pertiwi.
Sementara Pandu mengajak Ervita berjalan lagi dan melihat gapura kedua yang memiliki lima pintu. Bangunan itu jika masih ada dan tidak mengalami reruntuhan pastilah menjadi kompleks istana yang begitu megah.
"Kita duduk di sana saja ya Nda," ajak Pandu kepada Ervita.
Memasuki gapuran kedua dan memilih duduk di bibir bukit dengan mengambil ke arah timut, karena mereka ingin menyambut surya yang menyapa. Sebelum duduk, Pandu melepas alas kakinya, dan membiarkan Ervita duduk dengan alas kakinya itu.
"Duduk, Dinda," ucapnya.
"Kakinya Mas Pandu," balas Ervita.
"Tidak apa-apa. Sudah, kamu duduk saja dengan nyaman. Itu di depan itu ada Mbak Pertiwi dan Mas Damar yang juga duduk bersama," balas Pandu.
Mungkin karena penikmat matahari terbit tidak sebanyak penikmat senja, maka ada beberapa pengunjung di sana. Angin yang semilir, langit yang redup perlahan pun sudah terang. Sementara Pandu yang duduk rapat dengan Ervita, segera merangkul bahu istrinya itu. Satu tangannya sesekali mengusapi perut Ervita yang mulai terlihat menyembul di sana.
__ADS_1
"Baru kali ini, kita melihat matahari terbit seperti ini ya Dinda," ucap Pandu dengan menatap wajah Ervita di sisinya.
"Iya, biasanya jam segini masih bergelung di atas ranjang," balas Ervita.
"Iya, melukin kamu ... hangat banget. Sebenarnya di sini adalah tempat terindah untuk melihat senja, Nda. Wisatawan dari mancanegara mengakui bahwa pemandangan senja di sini adalah senja yang terindah di bumi," jelas Pandu.
"Hmm, benarkah?" tanya Ervita.
"Iya, di kawasan Abhaya Giri memiliki pesona untuk melihat senja yang indah. Sama kayak kita menikmati senja terindah usai menikah dulu. Kamu masih ingat kan Dinda?" tanya Pandu kemudian.
Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Ingat, kita duduk bersama di bibir bukit dan merasakan angin yang semilir berhembus, sembari menatap senja yang perlahan sembunyi di balik Gunung Merapi. Semua momen bersamamu, aku akan selalu mengingatnya Mas," balas Ervita.
Perlahan-lahan, dari arah Timur ... surya mulai menunjukkan wajahnya. Bias rona kekuning-kuningan jingga mewarnai langit berpadu dengan kumpulan awan putih. Sangat indah. Momen yang diabadikan Pandu melalui kamera di handphonenya. Pun dengan Ervita yang merasakan sapaan pertama sang surya yang begitu indah.
"Arunika," ucap Ervita dengan lirih.
"Maksudnya Dinda?" tanya Pandu.
"Dalam karya sastra, matahari yang terbit disebut Arunika. Indah ... cantik," balas Ervita dengan tersenyum di sana.
Pandu pun tersenyum, pria itu lantas kian merangkul bahu Ervita, dan menundukkan wajahnya. Dengan satu tangannya Pandu mengangkat dagu Ervita, dengan dua pasang netra yang saling menyapa. Tidak perlu banyak bertanya, Pandu memangkas jarak wajahnya dan mulai menyapa bibir Ervita dengan bibirnya sendiri. Membiarkan dua bibir untuk menyatu, dua mata yang perlahan memejam. Keduanya merasakan hangatnya mentari dengan bibir yang saling bertaut satu sama lain.
Perlahan-lahan Pandu membuka bibirnya, dan mulai melu-mat bibir Ervita dengan lembut. Keindahan mentari pagi, membuat Pandu bergerak untuk menyapa sang istri dengan cara yang juga begitu indah. Tidak membutuhkan waktu lama, cukup satu menit saja, dan Pandu menarik kembali wajahnya. Pria itu tersenyum dan menatap wajah Ervita yang merona.
"I Love U Dinda," ucap Pandu dengan membawa kepala Ervita untuk bersandar di bahunya.
__ADS_1
Pun Ervita yang jantungnya berdebar-debar. Sungguh tidak mengira bahwa dia akan dicium oleh suaminya di tempat yang terbuka. Untung hanya satu menit, jika lebih yang pasti akan menjadi situasi gawat darurat. Pagi yang indah, dengan senyum cerah sang surya, sepasang anak manusia itu merasakan hati yang damai dan dipenuhi dengan cinta yang hangat. Sehangat Arunika.