
"Pegangan Vi," ucap Pandu yang mengingatkan Ervita untuk berpegangan kala dia membawa sepeda motornya.
"Sudah Mas ... pegangan sadel belakang kok," balasnya.
Pandu tersenyum di sana, "Pegangan aku juga boleh kok Vi," balasnya. Mungkin kali ini Pandu kembali memberikan kode supaya Ervita mau berpegangan padanya. Toh, Pandu agaknya tidak keberatan juga jika Ervita berpegangan padanya, bukan pada sadel sepeda motor.
Ketika Pandu mengatakan itu, Ervita merasa jantungnya yang berdebar-debar. Sepengetahuannya, selama ini Pandu tidak pernah mengatakan demikian kepadanya, bahkan sangat menjaga jarak dan begitu menghargai Ervita. Lantas apakah arti dari ucapan pria itu. Akan tetapi, hanya menganggapnya angin lalu. Tidak akan terbawa suasana, atau terbawa perasaan (baper) karena Ervita sangat tahu siapa dirinya dan siapa Pandu.
Beberapa menit berkendara, dan sekarang keduanya sudah sampai di rumah. Terlihat Lintang dan Indi yang bermain bersama di Pendopo rumah. Seperti biasa, mereka berdua bermain boneka Little Pony di sana. Pandu pun menyempatkan untuk bertanya kepada Ervita.
"Indi suka Little Pony yah?" tanyanya sembari mengamati Indira yang sedang bermain.
"Iya Mas ... suka banget sama Little Pony. Katanya nanti kalau Bundanya gajian mau dibelikan boneka Little Pony," balas Ervita.
Pandu menganggukkan kepalanya dan melihat Lintang dan Indi yang bermain bersama. Melihat kedatangan Pandu dan Ervita, Lintang pun berjalan dan memanggil Om-nya itu.
"Om Pandu ... main," ucapnya.
"Iya, main sama Indi ya Lintang ... rukun berdua," balasnya.
Indi kecil pun juga berjalan dan seolah meminta gendong kepada Pandu juga. "Oom Yayah," ucapnya.
Pandu pun tersenyum dan segera menggendong Indira, bahkan tangan Pandu bergerak dan memberikan elusan di puncak kepala Indira. Ketika Pandu menggendongnya, Indira pun seolah menumpukan wajahnya di dengan bahu Pandu, dengan kedua tangan yang melingkari leher Pandu.
"Sudah pantas, Ndu ... Pandu," ucap Mbak Pertiwi yang tiba-tiba keluar dari rumah.
Pandu hanya diam, tapi dia masih menggendong Indira di sana. Ervita yang berdiri di depan Pandu yang menggendong anaknya merasa terharu. Bahkan anak sekecil Indira saja bisa menyangka bahwa Pandu itu Ayahnya.
Cukup lama Indira diam dalam gendongan Pandu, hingga akhirnya Ervita pun mengusapi punggung putri kecilnya itu. "Sudah yuk Indi ... ikut Bunda yuk," ajaknya.
Terlihat Indira menggelengkan kepalanya, "Au Yayah," ucapnya. Indira mengatakan dia mau Ayah.
"Enggak apa-apa, Vi ... biar sama aku dulu. Nggak apa-apa kok," balasnya.
__ADS_1
"Maaf merepotkan," balas Ervita.
"Tidak repot sama sekali," balas Pandu.
Lantas Pandu sedikit menurunkan Indira dari gendongannya. "Main yuk ... Indi suka Little Pony kan? Main sama Mbak Lintang," ucapnya.
"Ama Yayah," ucapnya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya di sana, "Iya, ayo ... yuk, sini. Mbak Lintang, pinjam mainannya yah?" ucap Pandu.
Hingga siang itu kurang lebih setengah jam Pandu menemani Indira dan Lintang bermain, ada Ervita dan Mbak Pertiwi juga. Akan tetapi, mungkin karena usai piknik dan kecapekan Lintang pun meminta tidur. Sehingga hanya tinggal Ervita, Pandu, dan Indi di sana.
"Tuh, Mbak Lintang bobok ... Indi bobo juga yuk. Om Pandu juga capek," ucap Ervita.
"Bobok ama Yayah," ucapnya.
Ervita menggelengkan kepalanya, "Yayahnya mau bekerja dulu. Indi sama Bunda yah?" balasnya.
Setelah dibujuk, Indira pun mau. Ervita kemudian menggendong Indira. Ketika Ervita hendak masuk ke rumah, ada Pandu yang memanggil nama Ervita.
"Vi ... nanti malam yah ... Indi biasanya tidur jam berapa?" tanya Pandu.
"Kadang jam 19.00 sudah tidur kok Mas ... enggak malam kok tidurnya," balas Ervita.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Ya sudah ... nanti malam jam 19.00, aku tunggu di Pendopo yah," balasnya.
Ervita menganggukkan kepalanya. Hanya saja, kenapa sekarang jantungnya menjadi berdebar-debar. Rasanya aneh, tetapi justru ini membuat Ervita kian kikuk dan sungkan dengan Mas Pandu.
***
Malam harinya ....
Malam itu di Kota Gudeg, gerimis seolah mendinginkan suasana malam. Keluarga Hadinata yang usai piknik dan mengunjungi pantai-pantai di Gunung Kidul pun juga sudah mulai tidur.
__ADS_1
Sementara Pandu sudah menunggu di Pendopo, tetapi dia memilih sisi yang berada depan rumah yang ditempati Ervita. Alasannya tentu supaya jika nanti Indira terbangun dan menangis, Ervita pun bisa mendengar tangisan anaknya itu.
Jam sudah menunjukkan jam tujuh lewat sepuluh menit, tetapi Ervita tampak belum keluar dari rumahnya. Pandu pun memilih untuk menunggu saja, pria itu sudah duduk melantai di Pendopo. Rupanya Pandu pun juga orang yang sabar, karena waktu sudah lewat dan dia masih menunggu di sana.
Barulah Ervita keluar menjelang jam setengah delapan malam. Terlihat Ervita mengedarkan pandangannya dan mencari sosok Pandu, rupanya ada tidak jauh di depan matanya.
"Maaf Mas Pandu ... Indi baru saja tidurnya," ucapnya.
"Tidak apa-apa, aku tunggu kok," balasnya.
Ervita pun juga turut duduk di lantai yang terpasang dari marmer itu dan mengambil jarak dari Pandu. Terlihat Ervita yang sudah tampak canggung, sementara Pandu tersikap biasa saja, walau tentu raut wajah pemuda itu terlihat berbeda sekarang.
"Gerimis ya Vi?"
Jujur, itu adalah pertanyaan unfaedah, tetapi bagi Pandu itu jauh lebih baik daripada dirinya merasa canggung.
"Iya Mas ... gerimis rintik-rintik," balas Ervita dengan sedikit menengadahkan wajahnya dan melihat setiap rintik air hujan yang turun.
"Gerimis manis," balas Pandu dengan tersenyum tipis di sana.
Entah apa arti senyuman itu, yang pasti Ervita tidak berani untuk menatap wajah pemuda itu. Rasa canggung yang lebih mendominasi sekarang. Padahal biasanya Ervita merasa biasa, tetapi kenapa sejak Indira memanggil pemuda itu dengan sebutan Ayah, membuat hati Ervita berdesir karenanya.
"Hmm, iya ... Mas Pandu mau bicara apa?" tanya Ervita kemudian.
"Oh, itu ... mau sedikit ngobrol saja kok, Vi ... katanya boleh ngobrol sama kamu," balasnya.
"Iya, boleh ... Ervi seneng bisa mendengarkan cerita dari orang lain."
Mendengar jawaban Ervita, Pandu pun sedikit tersenyum di sana. "Jangan hanya senang mendengar cerita orang lain, Vi ... kamu juga bahagia," sahutnya.
Ervita pun sekilas melirik kepada Pandu, "Ervi bahagia kok Mas ... mau kebahagiaan yang seperti apa lagi, kalau Ervi sudah dikelilingi oleh orang-orang baik di sini. Keluarga yang terjalin bukan karena hubungan darah, tetapi dari hati. Untuk semua ini, Ervi sangat bahagia," balas Ervita.
Itu adalah ungkapan yang sangat jujur darinya, bahwa dia menemukan kebahagiaan di keluarga Hadinata. Dikelilingi orang-orang yang baik dan tulus. Orang-orang yang tidak menghakiminya atas kesalahan dan aib yang dibawanya, tetapi justru Ervita dianggap layaknya keluarga di sana. Bagi Ervita itu adalah kebahagiaan untuknya.
__ADS_1