
Jika ada orang yang lamban untuk mengambil keputusan itu adalah Firhan. Terkadang, pria itu memang merasa masalah tidak perlu diselesaikan karena masalah akan selesai dengan sendirinya. Padahal, setiap masalah harus dihadapi dan diselesaikan sedini mungkin.
Menunda-nunda masalah justru menjadi boomerang untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain. Bahkan saking lambannya, Firhan harus dilecut terlebih dahulu agar dia bisa bertindak. Sama seperti sekarang, di mana Ibunya harus jauh-jauh datang ke rumahnya, dan berusaha meyakinkan Firhan untuk mengejar Wati. Menyelesaikan masalahnya secepat mungkin.
"Firhan antar Ibu pulang dulu, nanti Firhan lanjut ke Karang Anyar," ucapnya.
Bu Yeni pun menganggukkan kepalanya. "Boleh, jangan pulang kalau belum bisa memenangkan hati istrimu itu. Menjadi pria sesekali menundukkan diri dan meminta maaf tidak ada salahnya. Wati itu wanita dan sekaligus pendamping yang tepat untuk kamu, Firhan. Berjuanglah untuknya," ucap Bu Yeni.
Firhan pun akhirnya segera mengganti bajunya. Bahkan Firhan berjaga-jaga membawa beberapa potong pakaian di dalam ransel, mengenakan Jaket tebal, dan kemudian mulai menstarter sepeda motornya. Firhan akan mengantarkan Ibunya kembali ke rumahnya terlebih dahulu.
"Banyak yang sudah kamu rasakan dalam hidup, termasuk kegagalan. Gagal menikah dulu juga sudah tahu. Sekarang, harus berjuang, Han. Jangan menyerah begitu saja," ucap Bu Yeni lagi.
"Bu, tapi Firhan tidak bisa jika harus meminta maaf kepada Ervita," ucapnya jujur.
"Menangkan hatinya istrimu dulu. Berubahlah, Han. Jadi suami yang baik untuk Wati. Walaupun sekarang, kamu tidak sempurna, perlakuan dia dengan baik. Berobatlah. Jangan menganggap kekuranganmu itu sebagai aib, tapi berobat sebagai wujud ikhtiar. Ibu yakin, Wati pun bisa menerima karena Wati adalah wanita yang baik."
Di dunia ini, tentu banyak pria yang terkena disfungsi e-reksi seperti itu. Hanya saja memang tidak dipublikasikan. Namun, jangan menganggap berobat adalah membuka aib. Mengubah cara berpikir dan menganggap bahwa berobat adalah bentuk ikhtiar untuk mendapatkan keturunan.
"Baik, Bu," balas Firhan.
Begitu sudah sampai di kediaman ibunya, Firhan kemudian menurunkan ibunya dan berpamitan untuk menuju ke rumahnya Wati. Hari sudah petang, tapi tidak menyurut Firhan untuk menempuh perjalanan belasan kilometer, merasakan udara yang dingin, bahwa area jurang ketika mendaki di arah Ngargoyoso.
Yang Firhan pikirkan sekarang adalah, Wati mau menerimanya saja dan tidak mengusirnya. Setelahnya, tentu Firhan akan berusaha untuk meyakinkan Wati. Di dalam hidupnya, mungkin ini adalah kali pertama bagi Firhan merasakan berjuang dan memenangkan hati seorang wanita.
__ADS_1
Perjalanan hampir satu setengah jam, sudah dilalui Firhan. Sekarang dia sudah sampai di area Ngargoyoso. Udara dingin menusuk tulang bisa. Firhan rasakan. Begitu juga dengan suasana sepi di sekitaran perkebunan teh. Sampai akhirnya, Firhan kini sudah sampai di kediaman keluarga Utomo, rumah mertuanya.
Pria itu mengucapkan salam sembari mengetuk pintu kayu di rumah itu. "Assalamualaikum," sapanya.
"Waalaikumsalam," balasan dari dalam rumah.
Rupanya ada Bapak dan Ibu Utomo sendiri yang membukakan pintu baginya. Untuk itu, Firhan pun segera masuk dan menganggukkan kepalanya kepada kedua mertuanya.
"Mas Firhan, malam-malam kok ke sini?" tanya Pak Utomo dengan kebingungan.
"Saya mau menjemput istri saya, Pak," balas Firhan.
Ya, tujuan Firhan datang jauh-jauh dari Solo memang untuk menjemput Wati. Ingin menyelesaikan masalah yang sudah terjadi. Walau memang perjuangannya panjang, dan dia terkesan lamban. Namun, tidak ada salahnya berusaha terlebih dahulu.
"Masuk dulu Mas Firhan. Di luar dingin, apalagi hujan turun," ucap Pak Utomo.
"Wati di mana, Bapak?" tanya Firhan.
Jika beberapa pekan lalu, dia mencari Wati dan harus mencari sampai ke Air Terjun Parang Ijo. Sekarang, ketika sudah malam begini, apakah Wati juga keluar rumah. Pak Utomo pun menggelengkan kepalanya.
"Wati, ada... sebaiknya Mas Firhan langsung masuk ke kamarnya Wati saja. Bicara di sana. Kalau memang pembicaraannya sensitif lebih baik langsung bicara berdua saja," balas Pak Utomo.
Hingga akhirnya, Firhan diantarkan ke kamar Wati dan pria itu mengetuk pintu kamar Wati dengan perlahan-lahan. Hanya suara ketukan dan tidak bersuara sama sekali.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, barulah Wati tahu bahwa suaminya datang semalam ini. Wati pun juga kaget melihat Firhan berada di depan kamarnya. Namun, Wati tidak berani berbicara karena takut dengan Ibunya yang kala itu mengantar Firhan.
"Assalamualaikum, Wati," sapa Firhan.
Kemudian pria itu memilih masuk ke dalam kamar Wati. Pandangannya mengedar dan melihat beberapa furniture kayu kuno ada di dalam kamar istrinya itu. Firhan hanya berdiri karena istrinya itu tidak menyuruhnya duduk.
"Untuk apa Mas Firhan kemari?" tanya Wati.
"Aku datang untuk meminta maaf darimu, Wati. Pulanglah ke rumah. Rumah itu terasa begitu sepi tanpamu," ucap Firhan.
Akan tetapi, sekarang Wati mendengus kesal. "Huh, kenapa kemari Mas? Lagipula, aku masih ingin memenangkan hati dan diriku," balasnya.
"Beberapa minggu sudah cukup untuk memenangkan diri. Oleh karena, sudah waktunya bagi kamu untuk kembali ke rumah," balasnya.
"Aku tidak mau kembali kalau kamu tidak mau berubah," balas Wati.
Firhan berdiri di hadapan Wati, dan kemudian kedua tangannya menggenggam kedua tangan Wati. Memegangnya dengan begitu eratnya.
"Aku minta maaf dengan tulus. Aku mungkin belum bisa meminta maaf secara langsung kepada dia yang pernah ada di masa laluku. Namun, aku akan memperbaiki sikapku, dan tutur kataku. Selain itu,kita bisa berobat sakitnya. Kita berikhtiar bersama untuk mendapatkan keturunan," balas Firhan lagi.
Mendengar penjelasan suaminya, kedua mata Wati tampak berkaca-kaca dan juga cukup terharu dengan ucapan dari suaminya itu. Kendati demikian, Firhan akan berusaha untuk membina hubungan mereka.
"Maafkan aku, Wati ... dan besok, ikut aku kembali ke Solo," balasnya.
__ADS_1
Akankah kali ini niatan seorang Firhan berhasil?
"