Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Menuju Surabaya


__ADS_3

Hari yang dinantikan pun tiba, kali ini Ervita dan Pandu akan benar-benar menuju ke Surabaya. Tujuan utama mereka ke Surabaya adalah untuk menemani Pandu yang ada pekerjaan untuk mendesain interior salah satu hotel yang ada kota Pahlawan itu. Hanya dua hari, Pandu akan rapat dan juga menunjukkan konsep desainnya. Sementara mereka menambah waktu dua hari saja untuk honeymoon bersama.


Walau berat hati, Ervita akhirnya menitipkan Indira kepada Bu Tari dan juga Pak Hadinata. Indira pun justru senang bisa bersama Eyang dan justru Indira menitipkan pesan yang lucu kepada Ayah dan Bundanya.


"Yayah, Nda ... nanti kalau pulang punya adik bayi yah ... Mbak Lintang mau punya adik bayi, Indi juga pengen," ucapnya dengan begitu lucu.


Pandu pun tersenyum di sana, "Doakan yah ... selama Ayah dan Bunda ke Surabaya, Indi yang baik ya sama Eyang. Nanti Yayah belikan oleh-oleh," balasnya.


"Boneka littel ponny yang Rainbow Dash ya Yah," pintanya.


"Yang warna apa itu Nak?" tanya Pandu lagi.


"Yang biru, Yah ... ekornya pelangi," balas Indira lagi.


"Iya, nanti Ayah belikan untuk Indi," balas Pandu.


Setelah itu, Pandu dan Ervita berpamitan dengan Bu Tari dan Pak Hadinata, "Ibu, titip Indi ya Bu ... kalau Indi rewel, nanti telepon Ervi ya Bu," ucap Ervita.


"Iya, tenang saja. Sudah tidak perlu dikhawatirkan. Indi pasti aman bersama Eyangnya," balas Bu Tari.


Setelahnya, Pandu dan Ervita menaiki mobilnya dan menuju ke Stasiun Tugu, dengan mobil yang akan diparkir Pandu di stasiun sampai mereka kembali dari Surabaya nanti. Perjalanan menuju kereta api di tempuh dengan kereta api.


"Naik kereta paling jauh ke mana Nda?" tanya Pandu kepada istrinya itu.


"Ke Jogja, Mas ... naik prameks (Prambanan Ekspress - kereta api yang menghubungkan Solo dengan Jogjakarta)," balasnya.

__ADS_1


Pandu pun tertawa, "Kamu tidak pernah bepergian jauh sebelumnya?" tanya Pandu lagi.


"Enggak ... kami dari keluarga sederhana, Mas ... bisa makan setiap hari dan sekolah saja sudah bersyukur," jawab Ervita.


"Tahu gitu, aku ajakin naik pesawat, Nda ... biar tahu rasanya naik pesawat," balas Pandu.


Akan tetapi, Ervita memilih tertawa. Kali ini memang Ervita merasa tidak ingin menaiki pesawat. Dirinya terlalu takut untuk menaiki transportasi udara tersebut.


Kereta api yang mereka naiki pun perlahan-lahan mulai berjalan melewati Stasiun Tugu, Lempuyangan, mengambil rute ke timur. Bahkan kereta api itu juga akan melewati kampung halaman, Ervita yaitu Solo. Kota Jogjakarta dan kemudian area persawahan di daerah Klaten begitu terlihat hijau dan asri.


"Sebentar lagi Solo, Nda ... Stasiun Balapan," balas Pandu.


Ervita pun tersenyum, "Kayak lagu Neng Stasiun Balapan aja Mas," balasnya.


"Tahu juga yah?" tanya Ervita kemudian.


"Tahu dong ... aku dulu Sobat Ambyar, Nda," balas Pandu.


Sobat Ambyar adalah julukan fan untuk pecinta musik campursari Alm. Didi Kempot, Seniman Musik dari kota Bengawan. Tidak menyangka ternyata Pandu pun dulu termasuk pecinta musik campursari, musik tradisional yang mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat Solo dan Jogja pada umumnya.


"Banyak yang aku tahu tentang dirimu setelah menikah. Seru sih," balas Ervita.


"Kenapa, Nda? Aneh yah?" tanya Pandu kemudian.


Ervita kemudian menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak kok, malahan seneng. Tambah mengenal pasangan, supaya sama dengan yang dikatakan Bapak dan Ibu, saling mengisi satu sama lain," balas Ervita.

__ADS_1


"Kalau kamu sukanya musik apa Nda?" tanya Pandu kemudian.


"Random sih Mas ... apa saja suka. Cuma ya, tidak begitu hafal sekarang. Setelah Indi lahir, nyanyinya lagu anak-anak. Justru Cocomelon hafal deh sekarang," balas Ervita.


Ya, untuk seorang wanita, ketika mereka menjadi seorang Ibu, selera musik pun akan berubah. Dulu penyuka pop atau mungkin dangdut, begitu sudah memiliki anak, akan menjadi suka bahkan hafal dengan semua lagu anak-anak. Tak jarang semua lagu di channel Youtube anak-anak pun bisa hafal dengan sendirinya.


Setelah hampir 4,5 jam berlalu, akhirnya mereka tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya. Kemudian Pandu memesan taksi yang akan membawanya ke hotel.


"Sudah malam Nda ... mau mampir makan atau gimana kita?" tanya Pandu kepada istrinya.


"Malas makan deh Mas ... pesan di hotel saja ya," balas Ervita.


"Iya, aman saja Nda ... jangan bobok dulu ya nanti," balas Pandu.


Ervita hanya tersenyum saja mendengar pesan dari suaminya itu. Biasanya jika Pandu sudah memberikan pesan khusus, itu artinya sebuah kode dari Pandu kepada istrinya. Memilih pura-pura diam dan juga tidak memberikan jawaban kepada istrinya itu.


Dari stasiun Gubeng, akhirnya mereka sudah sampai di hotel. Mereka memasuki kamar yang berada di lantai 20 itu, city view kota Surabaya terlihat begitu indah dari kamar itu, dan juga aneka lampu kota yang sudah sepenuhnya menyala.


"Mau mandi barengan?" tanya Pandu kemudian.


"Aku duluan saja Mas ... gantian saja," balas Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Ya sudah, sana mandi yang bersih, Dinda Sayang ... nanti gantian yah. Jangan bobok dulu loh yah," ucap Pandu yang mengulangi pesannya.


Apa sebenarnya yang diinginkan Pandu sampai memesan kepada istrinya itu supaya tidak tidur terlebih dahulu? Agaknya ini benar-benar kode keras dari Pandu kepada istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2