
Begitu selesai dengan semua prosesi pernikahan, pihak keluarga mengajak Ervita dan Pandu untuk duduk bersama dan menikmati makan. Sebab, mereka tahu bahwa Pandu dan Ervita baru makan kala prosesi Dulangan dan itu hanya sedikit saja. Untuk itu, dua keluarga membawa mereka untuk duduk bersama dan sudah ada satu meja yang berisi semua hidangan dari jamuan pernikahan.
“Makan dulu … pengantinnya juga harus makan,” ucap Bu Tari yang juga dibenarkan oleh Bu Sri.
“Disuapin, Ndu … sudah jadi istrinya sendiri, disuapin yang mesra,” celetuk Pertiwi dengan memukul lengan adiknya itu.
Demikianlah Kakak Adik itu jika bertemu. Pertiwi memiliki sifat yang usil dan ceriwis, sementara Pandu justru tenang dan terkesan kalem. Walau Kakak Adik, sifat dan karakter keduanya bisa begitu berbeda.
“Apaan sih Mbak,” sahut Pandu dengan melirik Kakaknya itu.
“Disuapin … yang mesra. Kayak waktu prosesi Dulangan tadi loh, kan mesra. Selamat ya Adikku … akhirnya setelah lima tahun menjomblo sekarang sudah laku. Sudah menjadi seorang suami sekaligus ayah. Mbak doakan kalian berdua bahagia selalu,” ucap Pertiwi dengan merangkul adiknya itu.
“Amin … matur nuwun Mbak,” balas Pandu.
Lantas keluarga besar itu sama-sama menikmati jamuan makan, sekaligus saling mengakrabkan satu sama lain. Sementara Indira sekarang sedang bermain dengan Lintang dan diawasi oleh Mei dan suaminya.
“Ayo, makan, Vi … lapar,” ajak Pandu yang ternyata juga merasakan lapar.
“Iya Mas Pandu,” jawabnya.
Usai makan siang bersama di sore hari itu, lantas Ervita dan Pandu dipersilakan memasuki kamar pengantin mereka yang juga berada di Abhayagiri. Sementara Indira seolah masih diamankan oleh Mei, dan juga kadang diamankan oleh Lintang.
Pertama kalinya satu kamar, tentu membuat keduanya sama-sama canggung. Terlebih sebelumnya, pendekatan mereka berdua juga begitu lurus, dan juga Pandu sosok yang begitu sopan, justru membuat suasana di kamar itu begitu hening dan canggung.
Pandu melepaskan penutup kepala (blangkon) yang sebelumnya dia kenakan, dan kemudian menaruh keris yang dipasangkan di pinggangnya, lantas menaruhnya di nakas. Sementara Ervita masih duduk di sofa dan bingung harus melakukan apa.
“Nanti sore lihat senja mau Vi?” tanya Pandu kemudian.
“Iya, mau,” balas Ervi.
“Bersih-bersih dulu yah … nanti kan setengah enam sudah mulai senja. Di sini adalah salah satu spot terbaik untuk melihat senja,” ucap Pandu kemudian.
__ADS_1
Ervita pun menganggukkan kepalanya, lantas Ervita melepas sandal slop yang semula dia kenakan, dan berdiri di depan cermin, dia harus melepaskan reroncean melati dari kepala dan melepas sanggulannya terlebih dahulu. Begitu banyak bunga yang menghiasi rambut Ervita, rasanya sudah semuanya dilepaskan, tetapi masih begitu banyak yang belum terlepas.
“Sini aku bantuin,” ucap Pandu yang sudah berdiri di belakang Ervita. Pria itu terlihat membantu Ervita untuk melepaskan reroncean bunga pengantin.
Ada kalanya Pandu tersenyum tipis mana kala menatap tampilan wajah Ervita di cermin. Sementara Ervita yang dekat dengan Pandu seperti merasa begitu grogi dan juga deg-degan. Sampai akhirnya Pandu berhasil melepas semua reroncean bunga di kepala Ervita. Lantas dia melepaskan sanggul di kepala Ervita juga.
“Dibantuin apa lagi?” tanya Pandu dengan lembut.
Ervita menggelengkan kepalanya, “Sudah Mas Pandu, terima kasih,” jawabnya.
Bukan menjauh, Pandu justru sedikit menunduk dan memeluk Ervita dari belakang. Ini juga pelukan pertama yang Pandu lakukan kepada Ervita setelah hampir 3 tahun keduanya saling mengenal.
“Makasih ya sudah mau menerima pinanganku,” ucap Pandu dengan menaruh dagunya di bahu Ervita.
“Hmm, iya Mas Pandu,” sahut Ervita. Jujur, Ervita merasakan hatinya berdesir. Juga, sedekat ini dengan seorang pria ada rasa canggung, ada rasa malu, tetapi bagaimana pun Pandu adalah suaminya.
Ada remasan yang Pandu berikan di bahu Ervita, “Kamu mandi dan bersih-bersih dulu yah. Abis ini kita lihat senja,” ucapnya.
“Iya, aku bersih-bersih dulu. Gantian ya Mas,” balasnya.
“Sudah selesai?” tanya Pandu.
“Iya, Mas Pandu juga bersih-bersih dulu yah,” balas Ervita.
Pemuda itu juga segera masuk ke dalam kamar mandi. Jika wanita membutuhkan waktu lama untuk membersihkan riasan, dan dirinya. Pandu hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit saja untuk membersihkan dirinya. Setelahnya, Pandu mengajak Ervita untuk berjalan-jalan di hotel itu, menuju ke spot terbaik untuk menikmati senja. Di bibir bukit, keduanya hanya duduk beralaskan lantai yang terbuat dari paving. Kedua mata yang menatap surya yang akan kembali ke peraduannya. Semilir angin yang sering kali menerbangkan untaian rambut Ervita, serta menyapu dengan kesan yang dingin.
“Agak sini, Vi,” ucap Pandu yang meminta Ervita untuk lebih mendekat ke arahnya.
Ervita menurut, dia duduk mendekat pada Pandu, hingga lengan keduanya saling bersentuhan satu sama lain.
“Anginnya sepoi-sepoi,” ucap Ervita dengan melihat hamparan kota Jogjakarta yang terlihat dari tempatnya sekarang. Bahkan Candi Prambanan yang begitu elok saja terlihat dari Abhayagiri.
__ADS_1
“Bagus kan?” tanya Pandu.
“Iya, bagus banget. Mataharinya nanti tenggelam di balik Gunung Merapi itu ya Mas?” tanya Ervita dengan menunjuk Gunung Merapi yang berdiri kokoh dan terlihat begitu agung.
“Iya … tenggelam di sana, Vi … aku suka senja, Vi,” ucap Pandu dengan tiba-tiba.
Ervita pun merespons dengan menganggukkan kepalanya. Satu hal baru yang dia ketahui rupanya suaminya itu menyukai senja. Memang senja itu begitu indah, banyak orang juga yang menjadi pengagum senja.
“Kenapa suka senja Mas?” tanya Ervita kemudian.
Pandu mengedikkan bahunya sesaat, “Senja itu indah … senja itu pasti. Senja itu hangat,” balasnya. Pandu lantas mengulurkan satu telapak tangannya kepada Ervita, sebagai bentuk isyarat bahwa dia ingin menggenggam tangan Ervita di sana. Ervita pun menautkan tangannya di atas tangan Pandu itu.
Ervita tersenyum mana kalanya ada tangan kokoh yang sekarang menggenggam tangannya. Ukuran tangannya yang lebih kecil, tampak seolah terlindungi dalam genggaman Pandu. Pun Pandu yang menggenggam tangan itu dengan begitu erat.
“Ini momen senja terbaik dalam hidupku, Vi … aku bisa menatap surya yang kembali ke peraduannya dengan menggenggam tangan kamu. Menatap surya yang kembali ke ufuk Barat dengan ditemani tulang rusukku. Vi, aku cinta kamu,” ucap Pandu dengan sungguh-sungguh.
Tanpa mampu memberikan jawaban. Akan tetapi, ucapan Pandu seakan telah menghipnotis Ervita. Benarkah ini adalah cinta? Pesona seorang Pandu Hadinata begitu luar biasa, sampai Ervita begitu nyaman dengan sosoknya. Ucapan cinta yang Ervita yakini sangat tulus, karena hatinya berdesir, jantungnya berdetak melebihi ambang batasnya.
“Boleh aku bersandar di sini Mas?” tanya Ervita dengan menunjuk lengan suaminya itu,
Pandu pun mengiyakan, “Silakan,” jawabnya.
Mencoba sedikit lebih berani, Ervita menyandarkan kepalanya di lengan Pandu. Air matanya menitik mana kala dia merasakan bahwa lengan yang kuat dan kokoh inilah yang akan memandunya dan Indira.
“Terima kasih Mas Pandu … aku yang bukan siapa-siapa, justru mendapatkan cinta dan perhatian darimu. Bukan hanya aku, tetapi juga Indi. Terima kasih banyak,” ucap Ervita di sana.
Pandu tersenyum, pria itu menenglengkan sedikit kepalanya hingga menyentuh kepala Ervita yang bertumpu di lengannya.
“Sama-sama, Vi … sekarang kamu dan Indi, tidak sendiri. Kalian memiliki aku yang akan menjaga kalian berdua. Kita bisa bahagia bersama,” ucap Pandu.
Tidak perlu Pandu ungkapkan semua bagaimana dia melihat bahkan mendengar kesedihan dan pilunya kehidupan Ervita. Walau kadang tanpa sengaja, Pandu yang duduk di Pendopo rumahnya mendengar isakan tangis Ervita, mendengar senandung lirih yang Ervita senandungkan untuk Indira, semua itu Pandu mendengarnya. Kini, Pandu merasa begitu lega karena dia akan hadir sebagai orang yang akan membasuh luka Ervita. Meyakinkan pada wanita itu, bahwa semuanya akan baik-baik saja bersama.
__ADS_1
“Aku cinta kamu, Ervi … cinta kamu,” ucap Pandu lagi dengan memejamkan matanya sesaat.
Membiarkan angin yang semilir di bibir bukit untuk menyapa mereka, dan menikmati pesona jingga di angkasa. Bersama dengan surya yang mulai tenggelam, Pandu mengungkapkan rasa cintanya untuk Ervita. Begitu indah, begitu romantis, dan begitu tulusnya ungkapan perasaan Pandu untuk Ervita di kala senja.