Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Telepon Rindu


__ADS_3

Tidak terasa, tiga hari sudah berlalu. Jika hari pertama rasanya Ervita merasa galau dan sepanjang malam tidak bisa tidur. Benar yang dikatakan Pertiwi sebelumnya bahwa sekadar ingin memejamkan mata susah. Biasanya ada suaminya yang akan memeluknya dan juga mendekapnya erat sepanjang malam. Kini, Ervita merasakan ranjangnya yang dingin. Tidak ada kehangatan. Bahkan Ervita hanya bisa meringkuk kecil di atas tempat tidur.


"Baru kali merasakan melewati malam tanpamu, Mas ... biasanya ada tanganmu yang menjadi alas kepala untukku. Ada kamu yang memeluk erat sepanjang malam, sekarang ranjang kita menjadi dingin. Aku rindu pelukanmu. Sayangnya, aku harus bertahan dengan malam-malam yang berlalu seperti ini. Hingga satu minggu lamanya."


Sebatas bergumam lirih dan Ervita merasa memang sudah ketergantungan dengan sosok Pandu. Figur suami, Ayah, Kakak, dan juga seorang sahabat. Semua yang Ervita butuhkan ada di dalam diri Pandu. Sehingga memang ketika berpisah jauh seperti ini rasanya sudah begitu rindu.


Akan tetapi, sekarang di hari yang ketiga Ervita sudah bisa lebih bisa beradaptasi. Biasanya, ketika Indi dan Irene sudah tidur, dia akan menghabiskan waktu dengan Pandu. Sekadar mengobrol, bercanda, atau kegiatan yang lain. Namun, sekarang Ervita hanya bisa berdiam di kamarnya. Jika anak-anak sudah tidur, rasanya begitu sepi. Hanya angin malam yang terdengar gemerisik, dan juga Ervita tidak menyukai acara televisi, sehingga memang kamar itu terasa begitu sepi.


Di tengah-tengah kesepian, rupanya handphone Ervita berdering sekarang. Dengan cepat Ervita mengambil handphonenya di atas nakas. Ervita tersenyum mana kala mendapati suaminya yang menelponnya sekarang. Tidak menunggu waktu lama, Ervita pun segera menggeser ikon telepon hijau ke atas.


"Assalamualaikum Mas Pandu," sapa Ervita dengan suaranya yang lembut.


"Waalaikumsalam, Dinda," balas Dinda.


Rasa rindu yang benar-benar mendominasi, sekarang hanya sekadar mendengarkan suara Pandu saja sudah membuat air mata Ervita berlinang begitu saja. Kangen dengan panggilan sayang berupa "Dinda" yang selalu diucapkan suaminya itu. Ketika suaminya memanggilnya, ada rasa kasih sayang diucapkan dari suaranya yang mengalun indah di telinga Ervita.


"Baru ngapain Dinda?" tanya Pandu lagi.


"Abis nidurin anak-anak, Mas ... tadi Irene sempat rewel, jadi Indi belajar bobok sendiri tadi," balasnya.


"Maaf ya Dinda ... belum bisa bantuin kamu. Kamu harus mengurus anak-anak dulu sampai hari Sabtu nanti," ucap Pandu.


Sebenarnya Pandu juga begitu kasihan karena Ervita harus mengurus rumah dan anak-anak seorang diri. Sehingga, memang Pandu kadang merasa bersalah. Bekerja luar kota dan harus jauh dari keluarga membuat Pandu tidak bisa membantu Ervita. Biasanya, dialah yang akan menidurkan Indi dan membacakan dongeng dulu sebelum tidur. Akan tetapi, karena bekerja di Surabaya, Pandu harus absen dulu, dan semua pengasuhan anak dilimpahkan kepada Ervita.


"Tidak apa-apa, Mas ... kan kamu juga bekerja untuk aku dan anak-anak juga. Jadi, tidak masalah kalau aku mengasuh anak-anak sendiri dulu."


Terlihat Ervita pun tidak egois. Dia justru mensupport suaminya untuk bekerja. Sebab, memang kewajiban seorang suami adalah bekerja, dan Ervita sudah berjanji dalam hatinya untuk selalu mensupport suaminya. Bisa melihat suaminya kian sukses justru akan membuat Ervita begitu bersyukur.


"Makasih, Dinda. Capek enggak?" tanya Pandu kemudian.


"Lumayan, Mas. Cuma, aku kangen aja sih sama Mas Pandu," ucapnya.


Mendengar bahwa Ervita kangen dengan dirinya, Pandu menghela nafas panjang. Bukan hanya Ervita saja yang kangen, melainkan Pandu sendiri juga sudah begitu kangen dengan Ervita. Kangen juga dengan anak-anak. Namun, memang harus bertahan di Surabaya hingga empat hari mendatang.

__ADS_1


"Nanti kalau aku pulang mau dioleh-olehin apa, Dinda?" tanya Pandu kepada Ervita.


"Kalau sempat bawain Spicko ya Mas ... lapis Surabaya," balasnya.


Dengan cepat Pandu pun menganggukkan kepalanya. Untuk apa yang diminta oleh istrinya, tentu dia akan mencarikannya. Sekaligus Pandu akan mencarikan oleh-oleh untuk Bapak dan Ibunya juga. Memang begitulah Pandu, tidak hanya memikirkan istri, dan orang tuanya juga. Bahkan jika mertuanya pun dekat secara jarak, pasti juga akan diberikan buah tangan oleh Pandu.


"Tentu, nanti aku beliin. Nanti kalau aku sudah pulang kita jalan-jalan ke Solo, Dinda. Kan kamu pengen nengokin juga bayi nya Mei. Jadi, nanti yah kita ke Solo," ucap Pandu.


Mendengar bahwa suaminya akan mengajaknya ke Solo tentu saja Ervita begitu senang. Sebab, sejak Mei melahirkan Arka, dia sama sekali belum menjenguk keponakannya. Sehingga saat Pandu mengatakan hendak mengajaknya ke Solo tentu Ervita sangat senang.


"Serius Mas? Nginep satu malam boleh?" tanya Ervita lagi.


"Iya, boleh. Penting bawa perlengkapan untuk anak-anak kita aja. Kan ada Irene, perlengkapan perangnya lebih banyak," balas Pandu dengan sedikit tertawa.


Memang bepergian dengan membawa bayi itu membuat barang yang dibawa menjadi begitu banyak. Pakaian bayi, tissue basah, dan tissue kering, personal care, hingga diapers semuanya harus dibawa. Belum lagi jika ibunya melakukan pumping, itu berarti harus membawa pumping, hingga kantong ASIP. Memang repot, tapi kali ini Pandu memang ingin mengajak Ervita liburan ke Solo. Sembari menengok keponakan yang ada di Solo.


"Iya, Mas. Terima kasih banyak, Mas. Mas Pandu sendiri kerjaannya gimana?" tanya Ervita.


"Lancar, Dinda. Pasti juga karena doa istri sehingga semuanya lancar. Kalau istri tidak mendukung dan mendoakan pasti tidak akan selancar ini," balas Pandu.


"Amin. Kalau memang lancar, aku juga lega, Mas. Aku doakan kerjaan Mas Pandu dilancarkan Allah. Selain itu Mas juga selalu sehat," balas Ervita.


"Amin, Dinda. Terima kasih untuk doanya. Terima kasih sudah mensupport dan bisa memberi ketenangan selama aku berada di luar kota."


"Tidak ada godaan dari cewek kan Mas?" tanya Ervita kemudian.


Ada dengusan dan tawa yang terdengar di telinga Ervita sekarang. "Tidak ada, Dinda. Godaan apa? Kuncinya itu di diri sendiri, Dinda. Kalau memang sudah meneguhkan hati dan pikiran, maka godaan apa pun yang datang sudah pasti tidak akan tergoda. Istriku di rumah menunggu, lebih cantik dan lebih menarik," balas Pandu.


"Yang benar? Mas bukan sedang gombal kan?" tanya Ervita.


Pandu lagi-lagi tertawa mendengar jawaban dari Ervita itu. Hingga kemudian Pandu memberikan jawaban. "Aku tidak perlu gombal untuk mendapatkan kamu. Aku cukup membuktikan keseriusanku, terkadang wanita lebih membutuhkan keseriusan dan tindakan nyata, Dinda. Daripada ucapan manis. Aku sih berusaha itu, lebih baik memberikan bukti nyata. Daripada janji hanya sekadar janji."


Mendengar apa yang diucapkan Pandu sekarang, rasanya Ervita merasa membenarkan ucapan suaminya. Memang selama ini begitulah Pandu. Tidak banyak memberikan janji manis, tapi pria yang membuktikan keseriusannya. Sejak kali bertemu, pendekatan yang tidak terkesan mencolok, hingga akhirnya keduanya sama-sama memasuki bahtera rumah tangga.

__ADS_1


"Iya Mas Pandu, kamu memang selalu begitu. Kadang aku yang merasa tidak layak, karena semua yang kamu lakukan kepadaku."


"Layaklah, Dinda. Memang seorang pria harusnya begitu. Tidak perlu banyak berjanji jika pada akhirnya hanya menyakiti. Jadi, lebih baik ya memberi bukti."


"Kalau ucapan calon legislatif saat kampanye ya Mas, memberi bukti bukan janji," balas Ervita dengan terkekeh geli.


Ya, tiba-tiba saja Ervita teringat dengan kampanye caleg yang selalu mengatakan akan memberikan bukti dan bukan janji. Sekarang, Pandu benar-benar membuktikannya. Namun, memang janji yang Pandu berikan bukan hanya sekadar janji palsu.


"Aku bukan nyaleg, Dinda. Aku cukup menjadi imam untuk kamu aja," balas Pandu.


Sekarang Ervita tersenyum. Bisa-bisanya suaminya itu memberikan jawaban. Duh, jika seperti ini rasanya Ervita menjadi semakin rindu dengan suaminya. Memang kadang-kadang candaan absurd dari suaminya yang membuatnya bahagia, hiburan tersendiri setelah seharian mengasuh anak-anak.


"Candaan kamu seperti ini yang bikin aku rindu, Mas," balas Ervita.


Jika sudah mengaku rindu seperti ini rasanya Ervita ingin menangis. Rasa rindu itu menyeruak begitu saja dan membuat dadanya terasa sesak. Namun, Ervita masih harus menunggu empat hari lagi.


"Sama, Dinda. Aku juga kangen banget sama kamu. Pengen banget meluk kamu, sekarang aja aku harus puasa lama ya, Dinda. Nanti ketemu cuma bisa meluk aja yah? Mau dicium boleh enggak?"


Pandu memang sudah satu bulan berpuasa, dan itu sudah terasa lama. Terlebih dengan waktu ketemu nanti pun belum bisa untuk meluapkan rindu. Oleh karena itu, Pandu bertanya jika memeluk dan mencium apakah boleh?


"Boleh Mas," balas Ervita.


"Ah, jadi pengen buru-buru pulang," sahut Pandu.


"Sabar, kalau sudah begitu jadi gak sabaran deh," balas Ervita.


"Iya, Dinda. Mendambakan sesuatu yang sukar digapai itu menyedihkan, Nda," balasnya.


Keduanya sama-sama tertawa untuk sesaat hingga akhirnya, Pandu kembali berbicara dengan Ervita lagi. "Ya sudah, Dinda. Sudah malam, kamu istirahat yah. Jaga-jaga nanti kalau Irene terbangun. Jangan begadang, besok bisa pusing karena kurang tidur," balas Pandu.


"Iya Yayah ... selamat malam Yayah, selamat bobok. Aku rindu, Yayah," balas Ervita.


"Sama Dinda, aku rindu kamu. Selamat malam. Bawa aku dalam mimpimu yah ... Aku tresna sliramu, Dinda."

__ADS_1


Menutup telepon malam itu, Ervita merebahkan dirinya. Kembali dia harus memeluk rindu seorang diri. Sembari berharap hari akan segera berganti, waktu akan segera berlalu supaya dia bisa bersua lagi dengan suaminya.


__ADS_2