Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Rembugan Orang Tua


__ADS_3

Ketika Pandu sudah berhasil meyakinkan Ervita, tentu pemuda itu merasa begitu lega. Tidak mudah untuk meyakinkan Ervita dan kini, Pandu sudah berhasul untuk meyakinkannya sehingga niat Pandu untuk meminang Ervita kian mantap. Ervita yang menangis dan berharap keputusannya kali ini bukan keputusan yang salah dan juga menyemai asa dan harapan di masa depan yang lebih baik lagi. Semoga saja, Pandu adalah pemimpin yang bisa memandu hidupnya dan Indira ke jalan yang lebih baik lagi.


Tidak ada pelukan hangat, tidak ada ciuman yang Pandu berikan. Itu sudah menjadi niatan Pandu bahwa kalau pun dia akan menyentuh wanita, ketika sudah halal baginya. Lebih baik membatasi diri, dan menahan sampai Ervita benar-benar menjadi istrinya.


"Makasih Vi ... aku akan mencintai kamu dan Indi. Kita pulang sekarang?" tanya Pandu kemudian.


Ervita menganggukkan kepalanya, "Iya Mas Pandu," jawabnya lirih.


Pandu pun segera melajukan mobilnya, kembali ke rumah Ervita. Hanya beberapa menit saja berkendara, dan Pandu sudah tiba di rumah. Terlihat pemuda itu berinisiatif membukakan pintu mobil untuk Ervita.


"Ayo, Vi ... orang tua kita sudah menunggu," ucapnya.


Keduanya pun akhirnya masuk ke dalam rumah Ervita, dan para orang tua terlihat sedang rembugan di sana. Melihat kedatangan Pandu dan Ervita, tentu keluarga Pak Agus, dan keluarga Hadinata menjadi begitu lega.


"Bagaimana?" tanya mereka dengan cepat.


Pandu mengulas senyuman di sana, "Ya, Ervita bersedia," ucap Pandu.


"Alhamdulillah," balas seluruh keluarga bersamaan.


Mei yang mendengar ada pria baik-baik yang datang dengan keluarganya dan melamar kakaknya pun merasa begitu senang. Terlihat Mei yang memeluk kakaknya itu. "Akhirnya Mbak ... Mei ikut senang. Mei bahagia," ucapnya dengan menitikkan air matanya.


Untuk menghemat waktu, karena keluarga Hadinata juga akan kembali lagi ke Jogjakarta, Pak Hadinata pun berbicara terlebih dahulu kepada keluarga Pak Agus di sana.


"Kedua anak-anak kita sudah setuju. Jadi, kapan hari baik untuk meresmikan ikatan antara Pandu dan Ervi?" tanya Pak Hadinata.


"Semua hari itu baik, Pak ... semuanya diridhoi Allah. Kami, serahkan kepada Bapak Hadinata saja," balas Pak Agus.


"Kalau kami maunya secepatnya, Pak ... lagipula, selama ini Ervita juga sudah tinggal bersama kami. Jadi, diresmikan lebih cepat tentu lebih baik," balas Pak Hadinata.


Kemudian Pak Hadinata tampak mengucapkan sesuatu yang tentunya berhati-hati mengucapkannya, "Jika, akad dan resepsi dilaksanakan di Jogja saja bagaimana Pak Agus? Nanti penghulu kan kita bisa minta tolong ke sana. Hanya sederhana dan dihadiri keluarga saja tidak apa-apa. Yang penting keduanya sama-sama sah," balas Pak Hadinata lagi.


"Baik Pak Hadinata, tidak apa-apa. Kalau dilangsungkan selang 40 hari saja bagaimana Pak? Kami juga baru saja menikahkan adiknya Ervita, di Jawa sendiri menikahkan dua anak di waktu bersamaan juga tidak baik hitungannya. Jadi, selang satu lapan. (Satu lapan itu putaran kurang lebih 35 hari) Apakah tidak terlalu cepat untuk kelyarga Bapak?" tanya Pak Agus kemudian.


Pak Hadinata pun menganggukkan kepalanya, "Baik Pak ... itu bagus. Jadi, satu lapan lagi yah, kita nikahkan Pandu dengan Ervita. Demikian Pak Agus, kami sekaligus mohon pamit dulu. Sebelum akad, kami akan datang dan memberikan mas kawin untuk Ervita. Ervi, kamu mau ikut pulang tidak?" tanya Pak Hadinata lagi.

__ADS_1


Sebelum Ervita menjawab, rupanya Bu Sri sudah menjawab terlebih dahulu, "Menginap, Vi ... walau hanya semalam," pinta Bu Sri.


Terlihat Ervita menatap Pandu yang duduk di sana, "Bagaimana Mas?" tanyanya.


Pandu lantas menatap kepada kedua orang tua Ervita, "Pandu sekalian menginap di sini boleh tidak Bu? Tidur di sofa pun tidak masalah," balas Pandu.


Bapak Agus dan Bu Sri menganggukkan kepalanya, "Di sini tidak ada kamar tamu, Mas Pandu ... apa tidak masalah?" tanya Pak Agus.


"Iya, tidak masalah," balas Pandu.


Sehingga siang itu, keluarga Hadinata segera pulang ke Jogjakarta, dan Ervita serta Pandu akan tinggal semalam di Solo. Sebagai anak yang sudah lama tidak tinggal di rumahnya sendiri, ada perasaan senang, tetapi ada perasaan canggung juga. Hanya saja, Ervita berusaha menikmati kebersamaan ini.


"Makan lagi ya Mas Pandu," ucap Bu Sri yang menawarkan makan kepada calon menantunya itu.


"Sudah Bu ... tadi sudah makan sama Indi. Nanti saja," balas Pandu.


Bu Sri pun menganggukkan kepalanya, "Nanti kalau mau mandi, kamar mandi di belakang ya Mas Pandu. Maaf, cuma seperti ini saja keadaan rumahnya, sederhana."


"Sama saja kok Bu ... tidak apa-apa," balas Pandu.


"Tepatnya 2 tahun ini Bu ... sebelumnya Ervi kost sendirian. Begitu sudah melahirkan, Bu Tari mengajak Ervita untuk tinggal di rumah yang ada di sebelah rumah utama keluarga Hadinata. Dalam satu pekarangan ada dua rumah, Ervi tinggal di sana dengan Indi," ceritanya kepada sang Ibu.


"Maafkan Bapak dan Ibu ya Vi ... untuk kesalahan kami dulu, seharusnya kami tidak semarah itu kepadamu," ucap Bu Sri dengan perasaan menyesal.


"Sudah, Bu ... itu semua hanya masa lalu. Ervi dan Indi baik-baik saja," balas Ervita.


***


Malam harinya ....


Malam hari di pinggir kota Bengawan itu terasa sepi. Tidak seperti di kota Jogjakarta di mana banyak sepeda motor hilir mudik. Bahkan jam 19.00 saja, di lingkungan rumah Ervita sudah terasa sepi.


Di depan rumah, tampak Pak Agus berbicara dengan Pandu dan Tanto di sana. Sementara Ervita dan Mei mengobrol bersama Bu Sri.


"Malam pertama di rumah, Mei?" tanya Ervita.

__ADS_1


Tampak Mei tersenyum, "Iya, di rumah saja, Mbak ... mau di mana lagi," balas Mei.


"Siap?" tanya Ervita lagi.


Mei pun tersenyum dan tampak tersipu malu, "Mbak ni apaan sih, pakai nanya segala," balasnya.


Hingga menjelang jam 21.00, Bapak dan Ibu sudah masuk ke dalam kamar. Begitu juga Mei dan Tanto yang naik ke kamar atas. Indi yang sudah tidur di kamar Ervita, dan juga Ervita yang keluar dari kamar dan memberikan selimut dan bantal untuk Pandu.


"Mas Pandu ... bantal dan selimut. Ini bersih kok," ucap Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya, makasih banyak yah," balasnya.


"Mas Pandu tidak menginap di hotel saja. Tidur di sofa itu tidak nyaman sama sekali. Lagipula rumah ini sangat sederhana," balas Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Biasa saja Vi ... tidak apa-apa. Indi sudah tidur?" tanya lagi.


"Iya, sudah sejak tadi," sahut Ervita.


Pandu lantas tersenyum, "Kamu buruan tidur sana. Besok mau balik ke Jogjakarta jam berapa?"


"Belum tahu Mas ... Mas Pandu ada kerjaan yah besok?" tanya Ervita lagi.


"Enggak kok ... santai saja. Vi ...."


Pandu memanggil nama Ervita di sana, dan menatap sekilas Ervita. Pandu menyunggingkan senyuman di sana.


"Hmm, iya Mas Pandu," sahut Ervita dengan menundukkan wajahnya. Begitu malu dan canggung rasanya bersama pemuda itu.


"Tidak apa-apa. Tidur sana ... sudah malam, kita harus tidur sebelum nanti membuat pengantin baru tidak bisa menikmati malam pertamanya. Satu lapan lagi, kita menyusul yah," balas Pandu.


Ervita masih diam, lebih tepatnya tidak berani untuk memberikan balasan.


"Menyusul meresmikan hubungan kita. Aku, kamu, dan Indi. Kita akan hidup bersama," ucap Pandu lagi.


Ervita pun tersenyum samar, "Ya sudah ... met malam Mas Pandu," balas Ervita dan berlalu meninggalkan Pandu yang malam itu benar-benar tidur di sofa yang berada di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2