
Kembali ke Kota Bengawan ...
Sangat sukar untuk memperbaiki masalah dalam rumah tangga. Diperlukan komitmen untuk sama-sama berubah dan juga kemauan untuk mencari solusi. Serta setelah solusi didapatkan, harus dilakukan, diterapkan supaya masalah yang tengah dihadapi bisa benar-benar terselesaikan.
Sekarang Firhan dan Wati tengah duduk bersama di ruang tamu. Tidak ada layar televisi yang menyala karena sekarang, Firhan hendak berbicara dengan Wati. Berbicara dengan baik-baik dan tentunya supaya semua masalah bisa diselesaikan.
"Mumpung kita sedang duduk berdua, ada yang ingin ku bicarakan, Yang," ucap Firhan kali ini.
Wati pun memberi respons dengan menganggukkan kepalanya. Tentu dia akan memberikan waktu dan kesempatan kepada Firhan untuk berbicara. Memang sebenarnya banyak yang harus mereka diskusikan bersama.
"Ya, Mas ... ada apa?"
"Dalam waktu lebih dari satu minggu ini, aku sudah berubah, Yang. Aku tidak mengutamakan ego dan hasratku sendiri. Bahkan aku juga belajar untuk menekan emosiku. Namun, dalam rumah tangga semua hubungan harusnya dua arah kan? Nah, kenapa justru sekarang rasanya kamu menjaga jarak dariku? Dari waktu kamu menyetrika baju beberapa hari yang lalu, hingga hari ini. Kenapa, aku merasakan kamu yang abai terhadapku," ucap Firhan.
Sekarang Firhan menggunakan waktunya untuk berbicara dengan Wati. Menyampaikan apa yang dia rasakan. Firhan hanya berusaha mengungkapkan, tanpa harus memperlihatkan emosinya yang sebenarnya meletup-letup sekarang.
"Aku bukan abai, Mas. Aku pun tahu menolak suami itu berdosa, tapi masalah paling mendasar dari kita berdua belum diselesaikan. Apa iya, Mas semua masalah selesai di ranjang? Tidak ada pembahasan dan rekonsiliasi?"
Wati menjawab. Sebagai istri, dia tahu dosanya. Namun, dia ingin semua masalah bisa diselesaikan terlebih dahulu. Dibahas bersama, melakukan rekonsiliasi bersama. Jika satu masalah tidak benar-benar clear, yang pasti tetap menjadi tumpukan masalah yang akan terus bertambah dan bertambah.
"Apa yang belum aku lakukan? Aku sudah tidak marah-marah. Aku juga tidak memaksamu. Beri tahu aku, apa lagi, Yang?"
Sekarang Firhan meminta kepada Wati untuk memberitahukan kepadanya, apa saja yang belum dia lakukan. Sebab, usai menjemput Wati dari rumahnya memang Firhan sudah tidak marah-marah. Firhan juga tidak memaksakan hasratnya kepada Wati.
"Aku ingin Mas Firhan berubah. Orang Jawa sering berkata batuk bisa diobati, tapi watak itu dibawa sampai mati. Namun, itu salah, Mas. Kalau kita mau berubah, pasti bisa," balas Wati.
Memang ada satu peribahasa dalam bahasa Jawa yang mengatakan bahwa "watuk iso diobati, nanging watak iku digawa sampai mati." Artinya ketika seseorang terkena batuk, cukup meminum obat dan batuk bisa sembuh, bisa diobati. Namun, berkaitan dengan watak seseorang tidak bisa diobati. Watak manusia akan dibawa sampai mati.
Namun, Wati memiliki pandangan berbeda. Menurutnya asalkan manusianya mau berubah, pasti bisa berubah. Sebab, pertobatan dan perubahan juga berkaitan dengan perubahan karakter dan akal budi. Wati juga menginginkan Firhan bisa berubah.
__ADS_1
"Aku akan berusaha berubah," balas Firhan.
"Termasuk mau berobat?" tanya Wati.
Kali ini Firhan terdiam. Hingga beberapa saat kemudian, barulah Firhan memberikan jawaban. "Ya, untukmu aku mau berobat," jawabnya.
"Mau berobat medis atau alternatif, Mas? Aku akan mendampingi kamu," balas Wati.
Terlihat upaya Wati bahwa dia tidak hanya menuntut Firhan untuk berobat. Namun, Wati juga akan mendampingi suaminya. Bukankah Wati adalah istri yang baik? Mau turut mendampingi suaminya berobat.
"Kamu tidak malu mendampingi aku yang berobat?" tanya Firhan.
Dengan cepat Wati menggelengkan kepalanya. "Aku tidak malu, Mas. Justru aku akan mendampingi kamu. Aku malu, justru sikap kamu yang arogan dan merasa semua yang kamu alami sekarang karena kesalahan orang lain. Pandangan seperti itu tidak benar. Jangan menutupi suara hati nurani kita dengan hal semacam itu," balas Wati sekarang.
Penilaian Wati usai beberapa saat menikahi Firhan, Wati merasakan bahwa suaminya adalah pria arogan, pria yang tidak mau mengakui salah, dan justru menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada dirinya. Bukan menghakimi suaminya, tapi jika Firhan pada akhirnya bisa berubah ke arah yang lebih baik tentu Wati akan sangat suka.
"Bawaan didikan, Yang," jawab Firhan.
Firhan mendengarkan ucapan Wati, sembari meresapinya. Selama ini dalam benaknya adalah ketika meminta maaf menunjukkan orang itulah yang bersalah. Ternyata Wati memiliki pandangan yang berlainan. Selain itu orang yang tidak pernah meminta maaf seperti Firhan, tentu merasa sangat sulit ketika dia diminta untuk meminta maaf.
"Kalau memang susah, kita mulai bersama dulu, Mas. Coba kalau ada masalah dibicarakan baik-baik. Kalau ada salah diakui, minta maaf. Berawal dari rumah, nanti bisa diterapkan di luar rumah," balas Wati.
Sebenarnya semua kebiasaan baik, adab, dan kesopanan berawal dari rumah. Sebab, rumah adalah madrasah pertama untuk anak-anak, pun orang tua adalah pengajar pertama untuk anak-anak. Sehingga, Wati pun menawarkan untuk memulainya dari dalam rumahnya terlebih dahulu.
"Itu berarti kamu gak bisa menerimaku apa adanya," balas Firhan.
Wati dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bukan masalah menerima apa adanya, tapi membiasakan hal yang baik. Hingga perlahan-lahan akan menjadi kebiasaan yang baik. Jadi, mari kita mencobanya bersama," balas Wati.
Firhan terdiam. Dia sedang menimbang di dalam hatinya. Apakah benar dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Wati atau tidak.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Firhan pada akhirnya.
Ada senyuman terbit di wajah Wati. Setidaknya suaminya mau berusaha dan mencoba. Memang jika harus memperbaiki diri harus ada dorongan dan ada teladan. Untuk itu, memang lebih baik bagi Wati mendampingi suaminya untuk berubah.
"Nanti kalau sudah bisa meminta maaf. Aku berharap kamu bisa meminta maaf kepada masa lalumu ya Mas. Tidak usah saling menyalahkan. Ingat ucapanku dulu, mungkin jadi ikhtiar kita supaya ke depannya kita bisa memiliki keturunan," ucap Wati.
Rupanya ada tujuan yang ingin Wati raih ketika suaminya berhasil meminta maaf dan memulai kebiasaan yang baik. Sekarang, Firhan menghela nafas panjang. Dia sendiri merasakan tidak yakin apakah pada akhirnya, dia bisa meminta maaf kepada Ervita.
"Aku tidak yakin bisa melakukannya," jawab Firhan sekarang.
"Jika ada dorongan dari hati pasti bisa kok, Mas. Memulai itu memang sulit. Namun, ketika kamu sudah berani memulai, setelahnya akan terasa lebih mudah."
Lagi Firhan terdiam karena dia memang tidak yakin bisa meminta maaf untuk dosanya di masa lalu. Terlalu berat rasanya. Sebab, sejauh ini Firhan masih merasa bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya semua karena Ervita.
"Akan lebih baik kalau kamu mau meminta maaf kepada anak kandungmu, Mas. Dia dilahirkan karena kesalahan, tapi dia tidak bersalah. Apa ada seorang Ayah yang tega dengan darah dagingnya sendiri?" tanya Wati.
Apa yang baru saja Wati ucapkan terasa sangat mengena di hati Firhan. Benarkah dia harus meminta maaf kepada anaknya? Masak iya, seorang ayah harus meminta maaf kepada putrinya sendiri? Namun, barusan yang dikatakan Wati ada benarnya bahwa dia dilahirkan karena kesalahan, tapi si bayi sendiri tidak bersalah. Firhan sekarang menjadi dilema dan gusar di dalam hatinya.
"Itu terasa lebih berat," balas Firhan.
"Namun, ketika kamu mau meminta maaf kepada darah dagingmu, kamu akan benar-benar merasakan lega, Mas. Aku jamin itu. Allah pun senang karena hamba-Nya mau bertobat," balas Wati.
Lagi, Firhan terdiam. Hatinya bergejolak sekarang. Meminta maaf kepada Ervita saja dia tidak yakin, terlebih meminta maaf kepada darah dagingnya sendiri yang sempat dia tolak, dia ragukan benihnya, dan lepas dari tanggung jawab. Rasanya, Firhan merasa gejolak itu. Bingung juga jika sampai meminta maaf nanti.
"Aku tidak tahu bisa atau tidak," balas Firhan.
"Pasti bisa, Mas," balas Wati.
Kemudian Wati menepuk bahu suaminya itu sekilas. "Lihat kalau kita mau duduk bersama dan saling berbicara, berkomunikasi itu mudah, Mas. Ada yang berbicara, ada yang mendengarkan. Komunikasi kita berdua harus diperbaiki, Mas," ucap Wati.
__ADS_1
Firhan yang diam sekarang menganggukkan kepalanya. Benar yang disampaikan oleh Wati barusan bahwa ketika mau duduk bersama, satu berbicara, dan satu mendengarkan, pasti bisa untuk memperbaiki komunikasi. Benar, sekarang Firhan bisa merasakan, bahwa komunikasinya dengan Wati selama ini tidak baik. Lantaran kurang komunikasi membuat emosi naik dan sering salah paham. Namun, ketika bisa berbicara seperti ini rasanya mereka lebih dekat dan ternyata banyak hal yang bisa diobrolkan bersama.