Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Sekilas Kabar Rumah Tangga Firhan


__ADS_3

Tentu beberapa tetangga, khususnya tetangga satu RT sudah banyak yang tahu bagaimana petualangan cinta Firhan Maulana. Pernah menjalin kasih dengan Ervita sejak SMA, sehingga beberapa tetangga pun tahu bahwa Ervita dan Firhan pernah berpacaran dulunya. Pun demikian juga ketika Firhan menjalin kasih dengan Tiana. Tragedi satu malam sebelum akad nikah yang terjadi membuat para warga untuk simpati dengan Firhan.


Namun, semua itu tidak berlangsung lama karena Firhan menjalin pernikahan karena ta'aruf dengan Wati. Kali ini pun, diharapkan Wati akan menjadi jodoh dunia akhirat untuk Firhan. Namun, sejauh ini tidak banyak yang tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Firhan dan Wati.


Ya, setengah tahun menjalani biduk rumah tangga. Keduanya juga harus banyak melakukan penyesuaian termasuk untuk urusan di ranjang. Tidak banyak yang tahu juga bahwa satu bulan usai pernikahan pun Firhan dan Wati belum menikmati madu pertama pernikahan. Barulah menginjak bulan kedua, Firhan menggumuli Wati. Akan tetapi, nyatanya Firhan yang sekarang tidak seperti dulu.


Pernah satu kali, ketika tengah bercinta dengan Wati. Hanya beberapa menit saja, Firhan sudah keluar terlebih dahulu. Ketika, Wati belum merasakan terpaan badai yang bisa membuatnya panas dingin. Akan tetapi, Firhan sudah menuntas semuanya. Sehingga seolah Wati hanya merasa mengincip lapisan dasar saja. Itu terjadi berulang kali, sampai pernah satu kali Wati menangis dan terjadi perdebatan dengan suaminya.


"Kenapa sih Mas ... aku belum terasa apa-apa, Mas Firhan sudah keluar duluan," ucap Wati dengan berlinangan air mata.


Ya, bagaimana lagi. Terkadang apa yang keluar secara biologis tidak bisa ditahan. Justru semua itu keluar dengan sendirinya.


Firhan sampai berusaha untuk bisa meminta maaf dan menenangkan Wati di sana.


"Maaf, Ti ... aku tidak tahu. Biasanya bisa tahan lama, sekarang baru beberapa menit dan aku sudah sampai," balas Firhan.


"Aku seolah hanya dipakai buat memuaskan Mas saja, tapi dengan kebutuhanku sendiri tidak," balas Wati.


Bukan masalah kepuasan. Hanya saja hubungan intimitas bagi seorang pria dan wanita itu berbeda. Jika pria mungkin bisa menuntas semuanya dengan cepat, tetapi tidak bagi wanita yang memerlukan waktu step by step, menyelami samudra, menggapai angkasa, dan berakhir dengan merasakan percikan kembang api dengan kedua mata yang tertutup. Ketika pria bisa mendapatkan waktu beberapa menit dan selesai, wanita tidak demikian. Hanya satu pihak yang merasa puas, tapi tidak untuk wanitanya.


"Aku tidak tahu, Ti ... setahuku dulu tidak," balas Firhan.

__ADS_1


Wati mengernyitkan keningnya. Apa maksud dari ucapan suaminya itu. Mungkinkah itu berarti di masa dulu, suaminya pernah bercinta dengan wanita lain?


"Jadi, Mas Firhan dulu pernah bercinta dengan wanita lain? Kenapa Mas Firhan bilang dulu tidak seperti ini?" tanyanya.


"Enggak ... maksudku dulu bisa tahan lama," jawabnya lagi.


"Tahan lama dari mana Mas? Kalau enggak praktik kan tidak tahu?" balas Wati lagi.


Air mata mengalir dengan deras dan membasahi wajahnya. Dia merasa bahwa dirinya bukanlah yang pertama untuk suaminya. Akan tetapi, jikalau dulu bisa bertahan lama, kenapa sekarang tidak?


"Mungkin karena kakiku sakit, jadi berhubungan," balas Firhan dengan menundukkan wajahnya.


"Tidak ... tidak ada hubungannya. Sistem reproduksi pria tidak ada hubungannya dengan kakinya Mas yang luka," balasnya.


"Entahlah, Ti ... aku tidak tahu," balas Firhan kemudian.


Tangisan Wati pun kian menjadi-jadi, dan kemudian dia buru-buru mengenakan dasternya. Lebih baik menyudahinya dan juga mengenakan kembali pakaiannya. Daripada terluka, dan sampai kapan pun mungkin memang tidak akan pernah terpuaskan oleh suaminya sendiri.


Selang beberapa hari berlalu, ketika Firhan ingin mendapatkan kembali haknya sebagai seorang suami, tengah malam ketika dia mengecupi pundak Wati. Nyatanya dengan terang-terangan Wati menolaknya.


"Tidur Mas ... sudah malam," tolaknya dengan menyelimuti seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Firhan menghela nafas dan memeluk Wati di sana. "Aku pengen," ucapnya singkat.


"Aku tidak, Mas ... libur dulu," balas Wati.


Sangat ironis memang. Keduanya terlihat baik-baik saja di luar. Akan tetapi, di dalam rumah sering kali keduanya berhubungan dengan dingin. Bahkan penyaluran kebutuhan biologis pun tidak bisa diakomodasi dengan baik.


***


Sekarang ....


Bu Yeni yang usai dari rumah keluarga Pak Agus dan Bu Sri, kembali ke rumah dan saat itu ada Firhan dan Wati yang memang sedang mengunjungi rumah mereka. Firhan pun bertanya karena ketika dia datang, Ibunya itu tidak ada di rumah.


"Ibu dari mana?" tanyanya.


"Kalian datang? Iya, tadi Ibu dari rumahnya Pak Agus dan Bu Sri. Dilakukan upacara empat bulanan kehamilannya Ervi," jawab Bu Yeni di sana.


"Ervi siapa Bu?" tanya Wati. Sebab, selama menjadi istrinya Firhan, dan tetangga di dekat rumah, setahunya tidak ada yang bernama Ervi.


"Itu putri sulungnya Pak Agus dan Bu Sri. Memang tidak di Solo, jadinya kamu tidak kenal, Wati. Ervi tinggal di Jogja dengan suaminya. Menikah dengan orang Jogja," jelas Bu Yeni kepada menantunya itu.


"Oh, begitu ... makanya Wati kok asing dengan nama itu," balas Wati.

__ADS_1


Bu Yeni kemudian tersenyum kepada menantunya itu, "Banyak yang hamil di kampung ini, semoga kamu juga segera hamil ya, Wati. Biar Bapak dan Ibu mendapat cucu dari kalian berdua," ucap Bu Yeni.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Bu Yeni, baik Firhan dan Wati sama-sama diam. Sebab, akan sulit bagi keduanya untuk hamil. Daya tahan Firhan yang tidak seberapa, dan juga Wati yang merasa tak terpuaskan merasa semuanya menjadi hambar. Memang menikah bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis. Akan tetapi, kebutuhan biologis yang terpenuhi bisa merekatkan hubungan antara suami dan istri.


__ADS_2