
Kurang lebih hampir satu jam, Pandu dan Ervita duduk bersama di bibir bukit itu. Hingga hari pun sudah petang. Lantas, Pandu mengajak Ervita untuk masuk ke dalam. Mengingat angin malam yang bertiup rasanya kian dingin menusuk ke tulang. Sementara Ervita yang hanya mengenakan midi dress, juga merasakan kakinya yang mulai dingin.
"Masuk ya Vi," ajak Pandu kepada istrinya itu.
"Iya, Mas ... aku mau mencari Indi dulu ya Mas. Sejak tadi tidak tahu di mana Indi. Kasihan," ungkapnya.
Walau kini tengah menjadi pengantin baru, tetapi naluri keibuannya tetap ingin mencari Indi terlebih dahulu. Setidaknya Ervita bisa menyuapi Indi dan menidurkan putri kecilnya itu.
Pandu menghubungi Kakaknya, dan mengatakan Indira sedang bermain dengan Lintang di dalam kamar hotelnya. Sehingga Pandu dan Ervita segera menuju ke kamar Pertiwi dan Damar.
"Mbak," ucap Pandu sambil mengetuk pintu kamar itu.
"Yayah," ada suara Indi yang begitu senangnya melihat Ayahnya di sana. Bahkan sekarang rasanya Indi lebih menempel dengan sang Ayah, daripada dengan Bundanya.
"Indi sudah makan?" tanya Ervi kepada anaknya itu.
"Udah ... ama Mbak Lintang," jawabnya.
"Iya, sudah makan kok, Vi ... oh, iya ... nanti Indi mau bobok di sini sama Mbak Lintang," ucap Pertiwi kemudian.
"Loh kenapa Mbak?" tanya Pandu kepada Kakaknya itu.
Pertiwi pun tertawa dan mencubit adiknya itu, "Enggak apa-apa. Kalian kan pengantin baru, tunaikan misi mulia dulu. Indi aman kok, ini kotak susunya juga ada di sini," balas Pertiwi.
Mungkin tujuan dari Pertiwi adalah supaya adiknya itu menikmati malam pertamanya bersama dengan Ervita. Setidaknya mereka adalah pengantin baru dan mengesahkan akad dengan penyatuan dua jiwa dalam satu pusara.
"Sudah sana ... Indi dan Lintang mau bobok," usir Pertiwi kepada Pandu dan Ervita.
Terlihat Ervita menggendong putrinya terlebih dahulu, "Indi mau bobok sama Mbak Lintang?" tanyanya lagi.
"Ya," sahutnya singkat.
"Ya sudah, jangan menangis yah. Bobok yang lelap, bonekanya dari Ayah sudah ada?" tanyanya lagi.
"Dah, Ndaa," jawabnya dengan menunjuk Boneka Little Pony berwarna ungu yang ada pemberian dari Pandu. Sejak saat itu, boneka dari Pandu selalu menjadi favoritnya.
Ervita lantas memeluk dan mencium pipi putrinya itu, "Met malam putrinya Bunda ... Bunda sayang Indi," ucapnya.
Pandu pun melakukan hal yang sama, "Met malam ... Ayah sayang Indi," ucap Pandu dengan turut mencium Indi.
Tanpa membawa serta Indi, Pandu dan Ervita kembali ke dalam kamar mereka. Jujur saja, Ervita merasa begitu canggung sekarang. Suasana malam memberikan kesan dan suasana tersendiri. Bahkan di dalam kamar itu, Ervita sangat yakin bahwa Pandu pun merasa bingung dan juga gugup.
Namun, Pandu terlihat begitu tenang. Pemuda itu dengan tenang mengambil tempat duduk di sisi Ervita, dan menggenggam tangan Ervita.
__ADS_1
"Gugup?" tanyanya.
Padahal tidak perlu ditanya pun sudah pasti Ervita merasakan begitu gugup. Bukankah Pandu juga bisa merasakan bahwa tangannya yang sekarang dia genggam terasa begitu dingin.
"Hmm, malam ini ... kita, aku dan kamu, sudah menjadi suami dan istri yang sah. Lantas, apakah kamu setuju dan tidak keberatan jika kita melalui malam ini bersama?" tanya Pandu terlebih dahulu kepada Ervita.
"Tidak, tidak keberatan," balas Ervita. Sudah menjadi hal yang semestinya terjadi kala seorang istri menyerahkan dirinya kepada sang suami.
Mendengar jawaban Ervita, Pandu tersenyum di sana. Satu tangan Pandu yang lain mulai membelai sisi wajah Ervita. Pria itu berusaha untuk menyentuh Ervita dengan begitu lembut. Mata yang beberapa detik saling bersitatap, hingga pandangan mata Pandu kini jatuh pada bibir Ervita di sana. Pandu mengikis jaraknya, memangkas jarak wajahnya dan pria itu perlahan-lahan tapi pasti, mulai mendaratkan bibirnya di atas bibir Ervita.
Bisa keduanya rasakan sapuan nafas keduanya yang hangat, kenyalnya permukaan kulit yang hangat itu saling menempel satu sama lain, serta mata yang sama-sama terpejam. Untuk sesaat, kedua bibir yang bertemu itu hanya sebatas menempel saja.
Satu detik ... Lima detik ... Sepuluh detik ....
Dua bibir yang menyapa, sapuan nafas yang hangat, serta genggaman tangan Ervita yang menguat di tangan Pandu. Semua itu menghasilkan debaran tersendiri di dada keduanya. Merasakan reaksi Ervita yang tidak ada penolakan, Pandu pun membuka sedikit bibirnya. Pria itu untuk kali pertama memberikan dirinya untuk mencium seorang wanita. Dengan minim pengalaman, Pandu membuka sedikit bibirnya, dan menjulurkan sedikit lidahnya. Pria itu dengan penuh perasaan memagut bibir Ervita. Rasa manis dan hangat seketika menyeruak, membuat Pandu begitu ingin menghisap, mencecap, dan mengulum lembut nektar yang tersembunyi di bibir itu.
Belaian tangan Pandu di sisi wajah Ervita pun kian lembut dan tangan itu kini justru menyusup hingga ke tengkuk Ervita, memberikan elusan di sana.
Ciuman yang lembut dan hangat, belaian tangan Pandu membangkitkan sejuta saraf sensorik yang membuat Ervita merasakan gelenyar asing dalam dirinya. Dua bibir yang bertemu saling memagut hingga menghasilkan decakan di sana. Bahkan ada lenguhan yang seolah tertahan di tenggorokan mana kala, Pandu dengan lebih berani memagut bibir Ervita, menghisap lipatan bawah bibir Ervita, dan juga membelit lidah yang ada di sana.
Cukup lama keduanya berciuman, hingga Pandu pun menarik wajahnya. Pria itu tersenyum melihat Ervita yang tampak masih memejamkan mata dan mengatur nafasnya di sana.
"Kamu cantik, Vi," puji Pandu yang membuat Ervita perlahan membuka matanya dan menunduk. Sungguh, Ervita seolah menghindari tatapan mata Pandu di sana.
"Terserah Mas Pandu saja," sahut Ervita.
Kali ini Pandu tersenyum, pria itu berdiri dan mematikan lampu di kamar utama dan menggantikannya dengan lampu tidur yang lebih redup. Pandu juga memastikan semua jendela tertutup rapat dan tirainya juga sepenuhnya tertutup. Pria itu lantas mengajak Ervita untuk ke ranjang.
Pandu duduk di tepi ranjang, dan membawa Ervita untuk duduk di pangkuannya. Tanpa banyak bicara, Pandu kembali mencium bibir Ervita kali ini ciuman itu lebih memburu, tangan Pandu bahkan begitu berani memberikan usapan di tengkuk, punggung, hingga lengan Ervita. Kian dalam ciuman Pandu, kian sesak rasanya dada Ervita. Hingga akhirnya, Pandu sedikit mengangkat tubuh Ervita dan menjatuhkannya ke ranjang, dan Pandu segera menindih tubuh itu, terus menciumnya seakan tak akan ada hari esok untuk mencecap manisnya bibir Ervita.
"Mas Pandu," ucap Ervita dengan lirih mana kala, ciuman Pandu makin dalam dan juga bibir Pandu yang basah meninggalkan jejak-jejak basah di pipi, kening, ujung dagu, bahkan bibir itu kini dengan leluasa mendaratkan kecupan yang basah di leher Ervita.
"Ervi," ucap Pandu dengan suaranya yang sudah begitu parau dan dalam.
Pandu benar-benar tak kuasa debar gejolak kali ini. Pengalam pertama untuknya, tetapi Pandu benar-benar gila dan begitu ingin mencicipi momen malam pertama dengan istrinya.
Pandu memagut bibir Ervita bergantian lipatan atas dan bawahnya dalam tekanan yang serupa. Berulang kali hingga terdengar erangan yang samar dari tenggorokan Pandu. Itu adalah alunan yang merdu, alunan yang mendorong Pandu untuk kian gencar menghisap, memagut, dan melu-mat bibir Ervita.
Kian terasa tindihan Pandu di tubuh Ervita. Pria itu lantas mendaratkan kecupannya yang hangat dan basah di leher Ervita. Kecupan yang membuat Ervita menahan nafas, ya wanita itu justru menengadahkan lehernya, dan membiarkan Pandu meninggalkan jejak-jejak basah di sana. Rupanya bukan sekadar kecupan, Pandu membuka sedikit mulutnya, dan menggigit leher Ervita dan menghisapnya dalam-dalam. Rasa perih yang ditimbulkan memicu gelnyar asing yang membuat Ervita meremang, ya Ervita mendekap erat tubuh suaminya itu.
"Mas Pandu," ucapnya dengan nafas yang terasa begitu sesak.
"Ya, Ervi," sahut Pandu.
__ADS_1
Bahkan kini tangan pemuda itu mulai bergerilya meraba lekuk demi lekuk feminitas di tubuh Ervita. Hingga jari-jari Pandu dengan beraninya melepaskan kancing demi kancing di midi dress yang dikenakan Ervita. Dress yang hanya selutut itu tersingkap, tetapi Pandu justru kian senang melihat paha yang istri yang berwarna kuning langsat itu.
"Boleh malam ini kan?" tanya Pandu sekali lagi.
"Silakan Mas Pandu," jawab Ervita dengan menggigit bibirnya sendiri dalam-dalam.
Ini memang bukan yang pertama bagi Ervita, tetapi disentuh oleh pria yang halal baginya membuat Ervita laksana kelopak bunga yang bermekaran. Dia mempersilakan sang suami untuk mengambil haknya di malam pertama ini.
Pandu sebenarnya tegang, tetapi pria itu bisa mengendalikan suasana dan atmosfer di dalam kamar itu. Pria itu membuka sendiri kancing kemejanya, Ervita yang menunggu tampak gelisah menatap sang suami untuk kali pertama shirtless. Dada yang bidang, otot liat yang terpahat di sana, membuat Ervita kian kembang kempis rasanya. Sejalan kemudian, Pandu yang membuka kancing demi kancing di midi dress dengan kancing depan yang dikenakan Ervita. Ketika semua kancing terbuka, maka terlihat jelas tubuh Ervita di sana. Sungguh, di mata Pandu sosok yang dia lihat sekarang sangat indah. Bahkan Pandu sampai meneguk salivanya mana kala mengamati lekuk demi lekuk di tubuh Ervita.
Kembali Pandu menindih tubuh Ervita, kembali memciumnya, tangannya mulai bergerilya dan meraba jengkal demi jengkal kulit sang istri yang begitu lembut. Hingga tangan Pandu kini dengan berani memberikan rabaan di area dada sang istri. Merabanya perlahan, tetapi benda bulat yang kenyal itu memiliki daya tarik tersendiri, hingga tangan Pandu menyusup di balik punggung Ervita dan melepaskan pengait besi yang ada di sana. Pandu kian berani untuk meraba, meremas dalam tekanan serupa buah persik itu. Oh, itu sungguh indah. Hingga Pandu merasakan remasan tangan Ervita di rambutnya.
"Mas," lirih Ervita mana kala dia merasakan terpaan gelombang asing.
Pandu diam, tetapi pria itu justru mulai membuka mulutnya dan membawa satu buah persik itu untuk masuk dalam kehangatan rongga mulutnya. Menghisapnya perlahan, mencumbunya, dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Sementara tangan yang satu lagi meloloskan pakaian Ervita yang tersisa, membuat wanita itu polos mutlak di hadapannya.
Pandu yang semula memejamkan matanya, perlahan kelopak matanya terbuka. Ada senyuman tipis di bibirnya mana kala melihat Ervita dalam kepolosan mutlak seperti ini. Pandu lantas melucuti pakaiannya sendiri yang tersisa, membiarkan kepolosan mutlak yang akan menemani mereka sepanjang malam ini. Pandu lantas meraba paha Ervita, sedikit membuka paha itu, dan menurunkan wajahnya hingga di inti sari tubuh Ervita. Pandu memberanikan diri untuk mengeksplorasi lembah di sana, menyapanya dengan sapuan hangat lidahnya. Sungguh, Ervita pun merasa gila sekarang. Lenguhan demi lenguhan tak bisa dia hindari lagi. Semua tindakan yang Pandu lakukan membuat Ervita terengah-engah.
Rasa yang menyelimutinya sekarang ini membuat lembah di bawah sana seketika basah, membuat Ervita menelungkungkan sepuluh jari kakinya. Merasa Ervita sudah siap, Pandu kemudian menatap Ervita.
"Aku cinta kamu, Ervi ...."
Mendengar pengakuan dari Pandu, maka tidak ada yang Ervita ragukan. Dia memberikan dirinya sepenuhnya pada suaminya. Dada Pandu bergemuruh riuh. Bagaimana pun juga ini adalah pengalaman pertama bagi Pandu. Pria itu mulai perlahan menghunuskan pusakanya, begitu perlahan memasuki inti sari tubuh Ervita, menembus cawan surgawi yang rasanya masih begitu rapat itu.
"Ervi ... Ervi ...."
Sekadar merasakan sesaat dan pusakanya belum tenggelam sepenuhnya saja Pandu sudah mende-sah penuh kenikmatan di sana. Tak mampu dengan sensasi yang luar biasa nikmati ini Pandu pun mulai mendobrak masuk, menghentak dengan memegangi kedua pinggul Ervita. Dia membawa kedua tangan Ervita yang lemas untuk memegangi pundaknya. Perlahan Pandu mengeluarkan pusakanya, dan pria itu mulai menghunuskannya kembali memasuki sang istri dengan satu dorongan kuat, maju, dan mundur begitu berirama.
"Mas ... Mas Pandu."
Ervita pun tak kuasa, dirinya meledak sekarang ini. Kian lama Pandu melakukan gerakan seduktif, kian kurang cengkeraman tangan Ervita di punggung Pandu.
"Ervi ... Oh, Ervi ...."
Kian cepat Pandu bergerak, hingga pria itu kini tak mampu lagi untuk bertahan. Cengkeraman cawan surgawi yang benar-benar memabukkan. Rengkuhan Ervita pun menguat, saat dia merasakan sengatan hangat dan basah di inti sari tubuhnya. Dengan robohnya Pandu di atas tubuhnya. Pria itu menggeram seiring dengan miliknya yang menusuk ke dalam sana. Pandu benar-benar turut meledak.
Tiga kata yang dirasakan Pandu di malam pertamanya itu.
Pecah
Meledak
Tanpa Sisa
__ADS_1
Sampai rasanya, tak ada diksi yang terpikirkan untuk mengungkapkan indahnya dua sejoli merajut cinta dalam naungan sang malam.