
Sedih dan galau tidak hanya dirasakan oleh anak muda. Ibu-ibu pun bisa merasakan hal yang sama. Seperti Ervita dan Pertiwi sekarang ini. Pandu yang bekerja ke Surabaya, dan Damar yang bekerja di Bandar Lampung, membuat Ervita dan Pertiwi sama-sama sedih. Untuk Pertiwi sendiri, sudah lazim jika dia LDR dengan suaminya, tapi tetap saja ketika suaminya akan kembali ke Bandar Lampung, Pertiwi menangis dan sedih.
Ervita sendiri baru kali ini LDR dengan Pandu, sehingga dia merasa lebih sedih. Bahkan sekarang matanya saja masih begitu sembab. Sementara Bu Tari sendiri merasa kasihan dengan kedua anaknya. Baru sama-sama bersedih.
"Kalau anak-anak sedih itu, Ibu juga sedih jadinya. Semoga kalian berdua tidak berlama-lama galau yah," ucap Bu Tari.
"Ervi sih tidak terbiasa pisah dari Mas Pandu, Bu," ucap Ervita. Dengan jujur, Ervita mengakui bahwa tidak mudah baginya untuk berpisah dari Pandu. Terlebih ini adalah untuk kali pertama, sehingga memang Ervita sendiri merasa begitu sedih.
"Tidak terbiasa, Vi ... Pertiwi pun dulu awal-awal jarak jauh sama Damar juga nangis beberapa hari, tidak doyan makan, sampai beberapa hari saja Pertiwi justru mengenakan kaosnya Damar."
Mendengar cerita dari Bu Tari, Ervita pun tertawa. Apakah memang seperti itu sampai Pertiwi harus mengenakan baju suaminya hingga beberapa hari. Ervita pun sekarang bertanya langsung kepada Pertiwi.
"Serius gitu Mbak?" tanyanya.
"Iya, Vi ... dulu tuh sedih waktu ditinggal jauh pertama kali. Biasanya kan pertama, jadi begitu Mas Damar ke luar pulau itu sedih banget. Setelah Mas Damar, dapat tempat, barulah aku dijemput, dan ikut ke Bandar Lampung. Sampai hamil Lintang, dan setelahnya aku kembali ke Jogjakarta untuk melahirkan Lintang," certita Pertiwi.
Berbicara dan sharing seperti ini, seolah-olah Ervita juga belajar dari pengalaman. Sebab, pengalaman orang lain juga bisa pembelajaran yang berharga. Sama seperti dengan dirinya yang sekarang belajar dari Pertiwi. Memang ketika memutuskan untuk LDR itu begitu berat. Namun, jika belum memiliki anak, lebih enak. Jika, sudah memiliki anak, yang dipikirkan itu lebih banyak.
"Dulu itu rasanya berat banget untuk pisah dari Mas Damar. Kangen aja, jadi bawaannya nangis dan gak doyan makan. Dulu, Ibu sampai bingung karena setiap hari mataku bengkak karena menangis," ucap Pertiwi lagi.
Mengenang masa-masa itu rasanya begitu sulit. Tidak menyangka juga bahwa dirinya pada akhirnya bisa beradaptasi dengan baik. Walau tetap saja, setiap kali berpisah karena sedih dan sesak di dalam dada.
"Aku juga sedih banget, Mbak ... bakalan gak bisa tidur nanti, karena kangen sama Mas Pandu," balas Ervita.
__ADS_1
Sekarang justru Bu Tari yang tertawa. Rupanya memang Ervita pun begitu cinta dengan Pandu. Sampai-sampai Ervita mengakui bahwa kemungkinan nanti malam dia tidak bisa tidur karena kangen dengan Pandu.
"Mau Ibu temenin nanti malam?" tanya Bu Tari.
Dengan cepat Ervita pun menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Bu ... nanti malahan merepotkan Ibu. Tidak apa-apa kok," balas Ervita.
"Yakin?"
Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Iya, tidak apa-apa, Bu. Mungkin satu dua hari ini akan terasa berat. Namun, pelan-pelan nanti tinggal menghitung hari saja. Katanya Mas Pandu, kalau dijalani dengan baik dan juga tulus, nanti masa seminggu itu akan terasa cepat kok, Bu," balas Ervita.
"Pandu pinter ya Bu ... untuk menenangkan Ervita. Bahkan Ervita sudah bisa menerima. Percaya, Vi ... Pandu bukan pria yang neko-neko. Pasti Pandu hanya bekerja saja kok. Tidak akan aneh-aneh. Pandu bisa kamu percaya," balas Pertiwi.
"Kalau dengan masa lalunya dulu itu kenapa sih Mbak?" Ervita mencoba bertanya kepada kakak iparnya, siapa tahu dia mendapatkan cerita versi yang berbeda. Hanya sekadar ingin tahu saja.
"Waktu putus, Mas Pandu galau-galau gitu enggak Mbak?" tanya Ervita lagi.
Pertiwi pun tertawa. "Ya, galau. Namanya pacaran dan dikhianati, Vi ... Pandu itu tipe pria ketika jatuh cinta dia akan sungguh-sungguh dan menjaga sepenuh hati. Namun, sejauh itu, cintanya gak sebesar dengan cintanya kepadamu kok, Vi," balas Pertiwi.
"Apa iya sih Mbak?" Ervita lagi-lagi bertanya.
"Iya, dari dulu Pandu itu cara memandang kamu itu berbeda. Selain itu juga, dia rela bekerja berangkat lebih siang untuk menemani kamu ke Puskesmas, nemenin untuk imunisasinya Indi. Kalau enggak cinta, namanya apa Vi?"
Bu Tari pun menganggukkan kepalanya. "Benar, Vi ... dulu itu selama lima tahun, sering kali Ibu dan Bapak itu bercanda, apa mau dikenalkan dengan temannya Bapak dan Ibu. Atau dikenalkan dengan anak pemilik kios Batik lainnya, tapi Pandu enggan mau. Barulah, ketika Ibu ceritain kamu itu, Pandu mau untuk bantuin jaga ke kios. Bahkan ketika usia kehamilanmu semakin besar, Pandu juga yang mengantar dan menjemput kamu. Itu sebenarnya memang Pandu sudah menaruh rasa kepadamu sejak lama, sejak kenal sama kamu mungkin," balas Bu Tari.
__ADS_1
Pada kenyataannya memang begitu. Pandu yang sebenarnya orang yang pendiam dan seolah menutup hatinya, akhirnya bisa dekat sendiri dengan Ervita. Pendekatan yang seolah tidak terkesan mencolok, tapi nyatanya Pandu berhasil untuk mendapatkan Ervita. Bahkan begitu Ervita mau dipinang olehnya, Pandu pun memilih langsung bergerak dan meminang Ervita. Bukti bahwa dia memang sangat serius dengan Ervita.
"Pandu adalah pria yang bisa kamu percaya, Vi ... untuk urusan kesetiaan, mungkin pria zaman sekarang tidak ada yang seperti Pandu," balas Bu Tari.
"Iya, Bu ... Ervi juga sangat percaya dengan Mas Pandu," jawabnya.
"Harus begitu. Berkali-kali kan Bapak dan Ibu selalu berkata kepada kalian semua, harus saling percaya. Sebab, salah satu pondasi untuk mempertahankan rumah tangga adalah saling percaya," ucap Bu Tari.
Sekarang Ervita dan Pertiwi pun sama-sama menganggukkan kepalanya. "Setuju, Bu ... Pertiwi pun begitu sama Mas Damar. Mungkin ada kabar-kabar yang kadang tidak enak. Akan tetapi, Pertiwi selalu percaya dengan suami. Mempercayai Mas Damar. Selanjutnya, waktu Pertiwi sudah mengikuti Mas Damar ke Lampung kan, Pertiwi bisa melihat sendiri bagaimana Mas Damar bekerja dan juga teman-temannya siapa saja, justru teman-temannya Mas Damar di Lampung itu sudah seperti teman-temannya Pertiwi sendiri," balasnya.
"Pengalamannya Mbak Pertiwi justru banyak ya Mbak ... bagaimana merantau dan kenalan dengan orang baru. Itu menyenangkan loh Mbak," balas Ervita.
"Mau tidak mau, Vi ... apalagi di sana kan perumahan kami itu satu kompleks dengan teman-temannya Mas Damar yang lain, jadi sering ngumpul dan main bersama. Lintang juga punya teman. Memang begitu merantau harus begitu, Vi ... bagaimana pun kita makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk bersosialisasi," balas Pertiwi lagi.
"Setuju, Mbak ... itu yang Ervita rasakan saat ke Jogja. Kala itu, ada temannya Ervi yang bantuin. Walau begitu dia lulus kuliah, dia kembali ke Solo, dan Ervi jadi menetap di Jogja karena menikah dengan orang Jogja," balasnya.
"Masuk dalam keluarga besar Hadinata ya, Vi," ucap Pertiwi.
Ervita pun tertawa. "Iya, jadi sekadar bekerja di kios, terus menjadi menantu ya, Mbak ... benar-benar tidak mengira," balas Ervita.
"kalau Ibu sih sudah mengira sih, Vi ... karena dari awal cara Pandu memperlakukan kamu itu sudah berbeda," balas Bu Tari lagi.
Rasanya sekarang Ervita menjadi senang. Memang suaminya itu adalah pria hebat, yang memandangnya dengan cara yang berbeda. Tidak mengedepankan hasratnya juga. Justru, Pandu adalah pria yang banyak melakukan sesuatu tanpa harus mengucapkan banyak janji manis.
__ADS_1