
Kala itu karena menenangkan Indi, Pandu harus menyetir mobil sembari memangku Indi. Rasanya masih ada rasa takut di dalam hati Indi. Walau Ervita menolongnya dan ingin menenangkannya, tapi Indi menolak. Dia hanya mau dengan Pandu saja.
"Yuk, Indi sama Nda sini yuk," ajak Ervita.
Ya, walau harus memangku dua anak di dalam mobil kayaknya Ervita bisa melakukannya. Itu juga karena Indi yang kembali menangis. Bahkan anak kecil itu masih sesegukan di dalam pangkuan Yayahnya.
"Ndak ... mau sama Yayah," balasnya.
Ervita menghela nafas panjang. Memang ketika anak-anak tantrum, biasanya mereka hanya akan memilih ikut salah satu orang tuanya. Sama seperti Indi yang ketika tantrum lebih memilih bersama dengan Yayahnya. Bahkan ini sudah menjadi kebiasaan Indi sejak dulu.
Sebenarnya Ervita juga khawatir ketika suaminya itu menyetir dengan memangku Indi. Bagaimana pun itu tidak aman. Hingga akhirnya, ketika mobil mereka berhenti di lampu merah, Indi mau berpindah dan sekarang berdiri di depan Ervita yang duduk di depan dengan memangku Baby Irene.
"Nah, sini ikut Nda dulu yah ... Yayah biar menyetir dulu. Nanti kalau sudah sampai di rumah, boleh kok ikut Yayah," balas Ervita.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Rasa aman yang dia dapatkan seolah tidak seperti dengan rasa aman yang dia dapatkan dari sosok Pandu. Walau wajah Pandu juga tampak sendu sekarang. Akan tetapi, beberapa kali Pandu berusaha untuk tersenyum kepada Indi dan Ervita.
Sementara, Ervita sendiri juga sangat tahu bahwa sekarang suaminya itu sedang dalam perasaan yang tidak enak. Moodnya juga berubah. Ervita pasti akan menenangkan suaminya nanti begitu sampai di rumah. Sekarang, Ervita kadang memberikan usapan di lengan suaminya itu.
"Kenapa, Nda?" tanya Pandu yang menoleh sekilas melihat Ervita mengusapi lengannya.
"Hmm, sabar ya Yayah," balasnya.
Pandu tampak menganggukkan kepalanya. "Iya, pasti sabar kok. Tidak apa-apa, Nda," balas Pandu dengan tersenyum tipis.
Hampir dua jam menempuh perjalanan dari Solo menuju ke Jogjakarta, sekarang mereka sudah tiba di rumah mereka. Turun dari mobil, Indi juga meminta untuk digendong oleh Yayahnya.
"Mau sama Yayah," pinta Indi.
Pandu tidak marah. Dia justru menggendong Indi, dan membawa putrinya itu masuk ke dalam mobil sembari menjinjing tas dari bagasi mobil. Tangan kecil Indi tampak melingkari leher Yayahnya itu.
__ADS_1
"Manja banget sih sama Yayah ... kenapa Mbak Didi?" tanya Pandu.
"Yayah, Didi tidak mau ke Solo lagi," ucap Indi.
Pandu tampak menatap Indi. Sekarang mengajak Indi untuk duduk berlebih dahulu dan kemudian kembali mengajak Indi berbicara. Walau masih kecil, seorang anak bisa diajak berbicara bersama.
"Kenapa ... kan Eyang Uthi dan Kakung tinggalnya di Solo. Masak cucunya gak mau menemui Uthi dan Kakungnya lagi sih?" tanya Pandu.
Sekarang Indi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak ... nanti ketemu sama Om itu lagi," balasnya.
Rupanya Indi tetap saja menolak, karena dia tidak mau bertemu dengan Firhan. Pandu sebenarnya juga dilema, memberikan penjelasan kepada Indi juga rasanya butuh cara dan strategi tersendiri.
"Didi takut sama Om itu ... dia bukan Yayahnya Didi ... kan, Yayahnya Didi cuma Yayah," balasnya.
Sebenarnya jika memang ditelisik dalam ranah psikologis, ketakutan Indi ini timbul karena rasa penolakan dari sang ayah yang sudah dia alami sejak dulu. Walau kala itu janin masih berada di dalam rahim, tapi bisa merasakan ikatan batin. Bahkan bayi yang tertolak sejak dalam kandungan, ketika anak bertumbuh dewasa itu akan memiliki sifat pendiam, mudah menyerah, bahkan memiliki ketakutan tertentu. Walau, terkadang orang tua tidak melakukannya secara sadar, tapi sebenarnya anak bisa merasakan ikatan itu sejak mereka berada di dalam rahim sang ibu.
"Sini Yayah peluk," balas Pandu.
"Sayang Yayah," balas Indi.
Pandu kemudian memberikan kotak dari Firhan itu, setidaknya memang itu yang Firhan berikan tadi. Pandu hanya memenuhi amanat saja. "Ini dari Omnya tadi," ucap Pandu.
"Didi gak mau," balasnya.
Pandu menghela nafas panjang. "Dibuka dulu ... dilihat isinya. Bentuk kita menghargai yang memberi," jelas Pandu.
"Yayah yang bantu buka yah," balas Indi.
Pandu pun membuka kertas kado yang membungkus kotak itu. Hingga kemudian ada sebuah kotak merah beludru, kemudian Pandu membuka kotak beludru merah itu, rupanya di dalamnya ada sebuah gelang emas.
__ADS_1
"Gelang emas dari Omnya tadi, Didi mau pake?" tanya Pandu lagi.
Terlihat walau Pandu sebenarnya juga tidak rela. Akan tetapi, Pandu tetap memberikan kesempatan untuk Indi. Hingga akhirnya, Indi memberikan jawabannya.
"Tidak, disimpan Nda saja, Yayah. Didi gak mau pake," balasnya.
Sekali lagi ini adalah keinginan Indi sendiri. Tidak ada intervensi dari Pandu dan Ervita. Mereka membiarkan Indi untuk menyampaikan perasaannya, mengucapkan apa sendiri yang dia mau. Seorang anak pun bisa memilih, dan ini adalah pilihan Indi sendiri.
"Yah, kalau Yayah dan Nda ke Solo, Didi di sini sama Eyang Putri dan Eyang Kakung saja, Yah. Didi takut ke Solo," ucap Indi lagi.
"Ya, ke Solo tidak apa-apa kan ada Yayah dan Nda yang selalu jagain Indi," balas Pandu.
"Didi tuh takut, Yah ... mau ada yang bikin Didi jauh dari Yayah," balasnya lagi.
Ervita yang sejak tadi diam, sekarang mendekat dan memeluk putrinya itu. "Tidak ada yang mau bikin Didi jauh dari Yayah. Selamanya Didi bisa bersama dengan Yayah," ucapnya.
"Didi takut sama Om itu, Nda," balas Indi.
"Kan ada Nda dan Yayah yang jagain Didi. Tidak usah takut," balas Ervita.
"Nda, kenapa Didi takut sama Om itu?"
Ervita kemudian tersenyum dan mengeratkan pelukannya. "Tidak apa-apa. Mungkin karena baru melihat jadi masih ada rasa takut."
Pandu kemudian menyandarkan punggungnya di sofa, Indi juga turun dan masuk ke kamarnya untuk bermain. Sementara, Ervita kemudian memeluk suaminya itu.
"Pusing, Nda," ucap Pandu.
"Sini, peluk dulu, Mas ... makasih banyak sudah begitu sabar dengan Indi," ucap Ervita.
__ADS_1
Pandu menganggukkan kepalanya. "Pasti, Nda ... selalu sayang dan sabar dengan Indi."
Ya, memang masalah kadang bisa datang dari mana saja. Tidak melulu adanya pelakor atau pebikor, tapi bisa juga karena masalah anak. Selain sabar, juga tentunya mereka menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan kepada Indi bagaimana sebenarnya Indi lahir dulu dan hubungannya dengan Firhan.