
Percekcokan dengan Rudy dan juga Tiana, serta rasa kesal dengan Ervita benar-benar menyulut emosi Firhan. Pria itu kini terlihat tak bergeming, tetapi hatinya meletup-letup dengan emosi yang memuncak memenuhi seluruh rongga dadanya.
Hadirnya Ervita dan suaminya justru membuat emosi di dalam dada Firhan kian menjadi-jadi. Hatinya sakit melihat orang-orang bahagia, sementara dirinya sendiri menderita. Rasa ditikung, dikecewakan, dan juga rasa amarah menghinggapi pikiran dan perasaan pria itu.
Perlahan Firhan menegapkan punggungnya, perlahan pria itu berdiri dan menatap Rudy.
"Suatu saat kamu akan merasakan sakit yang seperti aku alami dan rasakan selama ini."
Mungkin itu adalah sumpah serapah dan kata-kata yang terucap karena memang Firhan merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Seharusnya satu bulan yang lalu, dia menikah dengan Tiana dan sekarang hidupnya sudah bahagia. Akan tetapi, sekarang kenyataannya berbalik, Tiana justru menikah dengan Rudy dan bukan dirinya. Lebih sakit, karena jeda waktu yang terjadi hanya sementara.
Memasuki mobilnya, Firhan tampak memukul stir kemudinya dan mengacak rambutnya. Terlihat jelas bahwa pria itu sedang frustasi, hingga akhirnya Firhan berteriak.
"Aaaarrgghhh ...."
Teriakan Firha menggemas di dalam mobilnya. Bahkan sekarang tangannya juga memukul stir kemudi dengan begitu keras. Tidak peduli rasa sakit yang dirasakan tangannya, Firhan tetap memukul stir kemudi itu.
Setelah beberapa kali berteriak dan memukul-mukul stir kemudi, Firhan lantas menstarter mobilnya, melajukan mobilnya. Firhan melajukan mobilnya dengan begitu kencang seolah menjadi pelampias di saat pria itu sedang merasa tertekan. Lalu lalang jalanan di Kota Solo tidak menjadikan kendala bagi Firhan untuk terus memacu adrenalinnya sendiri dengan memacu mobil itu secepat munfkin.
"Sumber dari semua masalah ini adalah karena kamu, Vi ... gara-gara kamu aku kehilangan Tiana. Akad yang sudah di depan mata gagal, Bapakku mengalami serangan stroke, dan juga keluargaku mendapatkan malu. Akar dari semua masalah yang menimpaku sekarang adalah kamu. Lebih baik jika aku tidak pernah bertemu kamu dalam hidupku. Juga, untuk anak itu sama sekali aku tidak akan pernah mengakuinya. Persetan dengan semuanya! Aku benci semua tentang kamu, Ervita!"
Bergumam dalam hari, Firhan seolah tenggelam dan guncangan amarah yang begitu meledak saat itu. Beberapa kali bahkan rem mobilnya berdecit karena Firhan mengegas kemudian menginjak rem dengan tiba-tiba. Berusaha menyalip beberapa kendaraan yang ada di kota Solo siang itu. Mobil yang melaju begitu kencang dan juga si pengendara yang tengah emosi membuat Firhan kehilangan kendali saat mobil di depannya tiba-tiba berhenti. Dalam kecepatan yang sangat tinggi, Firhan menginjak rem dalam-dalam, ban mobilnya sampai berderit dan Firhan benar-benar lepas kendali sekarang.
__ADS_1
Ciiiiitttt ....
Brak!
Firhan membanting stir mobilnya ke sisi bahu jalan, yang membuat mobil itu seolah menaiki trotoar dan berguling di jalan.
Kecelakaan tidak bisa terelakkan lagi.
Di dalam mobilnya, Firhan merasakan pandangan matanya yang mengabur. Di ambang batas kesadarannya, Firhan bisa merasakan ada tetesan darah dari pelipisnya. Nafas yang sesak, sisi kanan mobil yang ringsek, dan juga perlahan-lahan pandangan mata Firhan benar-benar mengabur. Hanya kegelapan saja yang dirasakan pria itu.
***
Satu Jam kemudian ....
Tidak berselang lama, pihak kepolisian menghubungi keluarga Firhan, dan memberitahukan bahwa ada korban kecelakaan mobil atas nama Firhan Maulana. Di rumahnya, Bu Yeni tampak panik. Dia juga bingung bagaimana harus ke Rumah Sakit karena suaminya sudah tidak bisa mengendarai sepeda motor. Putrinya, Erma ada di Semarang untuk kuliah.
Ingin meminta bantuan tetangga dekat, rasanya tidak ada yang bisa dimintai tolong. Sampai Bu Yeni berjalan ke arah rumah Ervita. Wanita itu memejamkan matanya perlahan begitu malu sebenarnya untuk meminta bantuan. Akan tetapi, bagaimana pun dia harus ke Rumah Sakit sekarang. Bak menebalkan mukanya sendiri, Bu Yeni mendatangi rumah Ervita di sana, dan juga merasa terkejut karena Ervita dan suaminya ada di sana.
"Permisi," ucap Bu Yeni dengan wajah yang terlihat begitu bingung.
Bu Sri sebagai pemilik rumah pun tampak bingung melihat Bu Yeni berada di sana. "Ada apa Bu?" tanyanya.
__ADS_1
"Maaf ... sebelumnya saya minta maaf. Saya memerlukan bantuan, pertolongan Bu ... sapa tahu Bu Sri berkenan untuk membantu," ucap Bu Yeni yang seolah merendahkan dirinya dan mengiba supaya ada yang sudi membantunya.
"Membantu apa?" tanya Bu Sri dengan heran.
"Mau meminta tolong untuk mengantarkan saya ke Rumah Sakit. Fir ... Firhan kecelakaan mobil," ucapnya. Kali ini terdengar begitu jelas suara Bu Yeni yang bergetar dan juga air matanya yang menetes begitu saja. Sebenarnya, Bu Yeni begitu malu untuk meminta tolong, tetapi dia tidak bisa pergi ke Rumah Sakit sendiri. Dia butuh bantuan dari orang lain untuk mengantarnya ke Rumah Sakit.
Pandu dan Ervita pun sama-sama menatap, tidak menyangka bahwa beberapa saat yang lalu mereka bertemu dengan Firhan di pernikahan Rudy dan Tiana, sekarang justru Ibunya datang dan meminta tolong untuk mengantarnya ke Rumah Sakit.
"Mau bantuin Mas?" tanya Ervi dengan lirih kepada suaminya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Tentu," balasnya.
Pandu kemudian berdiri dan mengambil kunci mobilnya yang ada di nakas. "Di Rumah Sakit mana Bu? Mari saya antar," balas Pandu.
Bu Sri yang melihat Pandu yang mau berdiri dan membantu pun terharu. Merasakan bahwa menantunya itu adalah sosok yang baik hati dan ringan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
"Ma ... matur nuwun, Mas," balas Bu Yeni.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Aku antar dulu, Nda ... tunggu aku yah," pamitnya.
Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Hati-hati Mas ... iya, aku dan Indi di sini," balasnya.
__ADS_1
Menolong tidak peduli pada orang yang sudah melukai dan juga menggoreskan luka di dalam hidupmu. Menolong ada perkara tubuh kita merespons untuk bisa membantu orang yang membutuhkan. Pun Pandu yang tidak mempersoalkan semuanya, tujuannya adalah untuk mengantarkan Bu Yeni saja.