
Usai bayi Irene mendapatkan ASI, kemudian Ervita membaringkan si kecil Irene di brankar, dan Pandu yang menghadapkan si kecil ke arah kiblat. Lantas, Pandu bersiap untuk melantunkan suara adzan untuk bayinya.
Pria itu menunduk dan membisikkan iqomat di telinga kiri, terlihat bibir Pandu yang bergerak tanpa bersuara. Lantas, Pandu beralih ke telinga kiri dan hendak mengumandangkan adzan.
Allahu Akbar Allahu Akbar. Asyhadu alla ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Hayya 'alash sholah (2 kali)
Ketika Pandu melantunkan adzan, Ervita ikut memejamkan matanya. Bahkan air matanya mengalir begitu saja. Terharu dengan suara suaminya yang tengah mengalun lembut melantunkan adzan. Bahkan di dalam hati, Ervita turut menyuarakan adzan itu juga. Dulu, Pandu jugalah yang mengumandangkan adzan untuk Indi, dan sekarang Pandu jugalah yang melantunkan adzan untuk Irene. Dulu, pernah terbersit di dalam benak Ervita bahwa begitu bahagianya Indi jika memiliki Ayah seperti Pandu. Sekarang, doanya terwujud karena memang sekarang Pandu yang menjadi Imam baginya, dan juga menjadi imam untuk kedua putrinya.
"Semoga hidupmu selalu di jalan-Nya, Allah ya Nak ...."
Pandu menundukkan wajahnya dan kemudian mencium kening putrinya itu.
Setelah itu, Dokter Anak memberikan waktu untuk Pandu melakukan skin to skin dengan bayinya. Dibantu dengan seorang Dokter Anak di sana, Pandu diminta untuk membuka kancing kemejanya, kemudian di bayi di dekatnya dengan dada Pandu.
Pengalaman pertama skin to skin dengan Baby Irene membuat Pandu sangat berharu. Dokter menyarankan bahwa Baby Irene bisa melakukan skin to skin dengan Ayahnya setidaknya selama satu jam.
"Skin to skin dengan Ayahnya yah. Ini bagus, Pak Pandu. Bayi yang melakukan skin to skin dengan orang tuanya bisa mengurangi gejala hipotermia. Di mana suhu tubuh menjadi rendah karena kehilangan panasnya," ucap sang Dokter.
"Manfaatnya apa saja Dokter melakukan skin to skin seperti ini?" tanya Pandu.
"Skin to skin bayi yang baru lahir dengan Ayahnya manfaatnya luar biasa sekali. Sebab, bisa mendorong perkembangan otak anak. Menggendong si kecil dan mengenai kulit Ayah bisa meningkatkan perkembangan jalur saraf dan mempercepat kematangan otak. Selain itu bisa untuk menenangkan bayi karena kadar kortisol atau hormon stres bisa menurun setelah si kecil dipeluk selama 20 menit oleh Ayahnya. Yang tidak kalah penting sistem kekebalan tubuh Ayah yang matang bisa meneruskan antibodi melaluinya kulitnya kepada si kecil."
Penjelasan dari sang Dokter yang sangat detail. Pandu merespons dengan menganggukkan kepalanya. Merasa begitu bahagia ketika merasakan detak jantung bayinya yang dekat dengan dada bidangnya, bisa menyentuh lembutnya kulit bayinya yang begitu lembut, dan juga menghirup aroma khas yang harum dari si baby.
"Bisa skin to skin dulu ya Bapak, kalau sudah babynya diberi ASI atau ditidurkan dulu tidak apa-apa," ucap Dokter itu.
__ADS_1
Bayi itu begitu rapuh dan Pandu ingin selalu melindunginya. Di dalam hatinya, Pandu berjanji akan melindungi kedua putrinya. Membagi kasih sayang yang sama dan adil. Tidak akan membedakan mana anak sambung dan mana anak kandung. Sebab, baik Indi dan Irene keduanya adalah putrinya.
Begitu lucunya Irene, ketika skin to skin dengan Ayahnya, justru bayi itu tertidur di dadanya. Lucu sekali rasanya melihat Irene yang tertidur itu, walau beberapa air liur baby itu mengenai dadanya juga.
"Nda, lucu banget sih, Nda ... Irene malahan bobok," ucapnya.
"Nyaman sama Yayahnya itu, Mas," balas Ervita.
"Mungkin ya, Dinda ... ya ampun lucu banget. Ini kesempatan berharga, Nda," balas Pandu lagi.
Ervita tersenyum. Memang benar ini adalah pengalaman dan kesempatan berharga untuk Ervita. Selama sembilan bulan, mereka hanya bisa mengusapi perut yang setiap bulannya kian membuncit dan sekarang skin to skin langsung dengan si baby rasanya memang membuat terharu, dan hati menjadi benar-benar hangat.
"Kalau sudah di rumah, sering skin to skin juga dengan si baby, Mas. Aku membaca artikel sih katanya baby yang sering skin to skin dengan Ayahnya bisa memiliki imunitas yang baik dan kecerdasan otak yang baik juga. Kamu menjadi cinta pertama untuk kedua putri kita ya, Mas ... beruntung banget," balas Ervita.
"Pasti, Nda ... nanti kalau berjemur, sembari skin to skin gini sama Dedek bayi."
"Nanti kalau ada perawat yang ke sini, aku tanyakan yah," balas Pandu.
Setelahnya, kemudian si bayi ditaruh kembali di brankar dan Pandu berusaha mengenakan baju untuk bayinya. Menidurkannya, kemudian dia duduk di samping Ervita.
"Mau makan, minum, atau apa, Nda?" tanya Pandu.
"Mau minum saja, Mas," balasnya.
Pandu pun mengambilkan air minum untuk istrinya itu. Menaruh pipet plastik, supaya Ervita lebih mudah untuk meminum air mineral itu. Bahkan Pandu sendiri yang memegangi botol air mineral itu.
__ADS_1
Baru Ervita ingin istirahat, kemudian ada suara ketukan pintu. Rupanya ada Bu Tari dan Pak Hadinata yang datang.
"Gimana, Vi?"
Bu Tari sudah bertanya dan tampak menangis. Ada rasa tidak tega di dalam hatinya. Dulu, Bu Tari jugalah yang menemani Ervita kala melahirkan Indi. Bahkan ketika pembukaan bertambah dan punggung hingga pinggang Ervita terasa sakit, Bu Tarilah yang mengusapi punggung Ervita.
"Ibu ... Bapak," balas Ervita.
"Mana cucunya Bapak dan Ibu?" tanya Pak Hadinata.
Pasangan paruh baya itu melihat bayi kecil yang sekarang terbaring di dalam box bayi itu. Mengamati wajah cucunya yang lucu dan cantik, dan kemudian keduanya sama-sama tersenyum.
"Yuh, Yayah Pandu sudah resmi jadi Ayah dua anak. Masyaallah, memiliki anak-anak yang cantik ya, Ndu," ucap Bu Tari.
"Iya Bu ... Pandu nanti paling cakep di rumah," balasnya dengan tertawa.
"Tanggung jawabnya semakin besar, Ndu. Dijaga istri dan anak-anaknya. Dilindungi. Kamu sebagai satu-satunya pria di rumah harus menjaga Ervita dan dua anakmu," nasihat dari Pak Hadinata.
"Nggih, Pak ... pasti Pandu akan menjaga Ervita dan anak-anak," balasnya.
"Sudah diberi nama?" tanya Pak Hadinata lagi.
"Sudah, Pak ... namanya Irene Retania Putri Hadinata," balas Pandu.
"Bagusnya namanya. Irene, ayu seperti wajahnya," balas Pak Hadinata.
__ADS_1
Menyambut anggota keluarga baru sangat berkesan untuk keluarga besar Hadinata. Pun dengan melihat bayi Irene yang begitu cantik, membuat Bu Tari dan Pak Hadinata pun juga begitu senang. Mereka berharap Ervita segera pulih dan bisa kembali ke rumah. Sebab, ada Indi yang juga menunggu mereka di rumah.