
Sekarang, Pertiwi mengunjungi salah satu Dokter Spesialis Anak untuk melakukan vaksinasi untuk Langit. Sehingga memang kali ini, Pertiwi menyetir mobil sendiri, sementara Baby Langit diletakkan di Baby Car Seat yang ada di kursi depan. Lagipula, jarak rumah Hadinata dengan tempat praktik Dokter Anak yang tidak terlalu jauh, sehingga Pertiwi bisa melakukannya sendiri. Sementara Lintang sekarang berada di rumah bersama Eyang Kakung dan Eyang Putrinya.
Sebenarnya, Pertiwi juga ragu kala harus menyetir mobil sendirian. Namun, dia harus tenang agar bisa mengantar Langit untuk mandapatkan vaksinasi terlebih dahulu. Hingga akhirnya, hampir lima belas menit berkendara, sekarang Pertiwi menggendong Langit dan kemudian memasuk tempat praktik Dokter Spesialis Anak itu.
"Selamat siang, ada yang bisa dibantu," tanya seorang petugas di klinik itu.
"Iya, mau ke Dokter Jonny untuk vaksinasi anak," jawab Pertiwi.
Lantaran karena baru kali pertama ke sana, akhirnya Pertiwi harus melakukan registrasi terlebih dahulu. Dia ditanyai nama anaknya, usianya, dan melakukan penimbangan si baby. Setelahnya, Pertiwi masih harus mengantri sampai nama Langit akan dipanggil nanti.
Menunggu pun harus cukup lama, karena ada ibu-ibu lain yang juga hendak melakukan vaksinasi dan juga memeriksakan anaknya yang sakit. Sehingga, Pertiwi hanya bisa menunggu antrian saja, dan berharap tidak akan terlalu lama karena juga kepikiran dengan Lintang di rumah.
Kurang lebih dua puluh menit menunggu, akhirnya nama Langit dipanggil, dan Ervita pun memasuki ruang sang Dokter. Di sana, kemudian Langit dicek suhu tubuhnya terlebih dahulu dan Dokter Jonny menjelaskan untuk mafaat vaksinasi itu dan dampaknya untuk bayi. Sampai akhirnya, Langit menangis, ketika usai divaksin.
"Kayak digigit semut ya Langit ... sudah disuntik sama Om Dokter, semoga Langit lebih sehat yah," ucap Dokter Jonny.
"Iya, Dokter ... terima kasih," balas Ervita.
Hingga akhirnya, Pertiwi sekaligus berniat untuk memasang kontrasepsi karena untuk berjaga-jaga juga, dan bulan depan suaminya sudah akan pindah ke Jogjakarta. Sehingga, lebih baik memasang kontrasepsi dan menjaga jarak kelahiran. Lebih baik menjaga, daripada harus terjadi hal yang tidak diinginkan ketika Langit saja baru akan berusia tiga bulan.
Namun, ketika dia sedang menunggu, ada sosok lain yang juga berada di tempat itu seorang diri. Seorang wanita cantik yang kala itu tersenyum sinis kala melihat Pertiwi. Bukannya Pertiwi tidak ingat, tapi dia memilih untuk menghindar dan juga tidak menyapa terlebih dahulu. Anehnya, justru wanita itulah yang pada akhirnya yang mendekat dan menyapa Pertiwi.
__ADS_1
"Tiwi, kamu Tiwi kan?" tanya wanita itu.
Belum Pertiwi memberikan jawaban, tapi wanita itu sudah kembali berbicara. "Sudah pasti kamu adalah Tiwi ... ya ampun, gak ngira kita ketemu di sini. Gimana kabarmu, Wi?" tanya wanita itu lagi.
"Hm, baik," balas Pertiwi.
"Masih dengan Damar? Ck, sayang sekali yah ... harusnya kamu bahagia bersama Sigit, tapi gimana lagi cinta tidak bisa dipaksakan," balas wanita itu.
Sekilas info wanita itu bernama Suci. Dulu semasa kuliah, Suci dan Pertiwi adalah sahabat karib. Tak jarang Suci pun beberapa kali menginap di kediaman Pertiwi. Hingga pada suatu ketika, Suci rupanya adalah tipe sahabat yang menusuk dari belakang. Sebab, Suci justru merebut pacar Pertiwi kala itu yang bernama Sigit.
Sekarang Sigit dan Suci sudah menikah. Sigit pun juga menjadi seorang Auditor dan memiliki bisnis jamu dalam kemasan botol yang dipasarkan di beberapa wilayah di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Perkataan Suci sekarang tak ayal seperti ejekan karena Suci merasa kehidupannya dengan Sigit jauh lebih baik dibandingkan dengan Pertiwi.
"Bukan memaksakan cinta, Ci ... tapi lebih tepatnya merebut kekasih sahabatmu sendiri," balas Pertiwi.
Sejak saat itu, hubungan pertemanan antara Pertiwi dan Suci putus untuk selamanya. Selain itu, Pertiwi juga putus dengan Sigit dengan keadaan yang tidak baik. Selang beberapa tahun, barulah Pertiwi berkenalan dengan Damar. Saling mengerti, saling mengetahui masa lalu masing-masing. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
"Kasihan kamu ya Tiwi, untuk ke praktik Dokter saja tidak ada yang mengantar kamu," ejek Suci sekarang.
Itu juga karena Pertiwi terlihat sendirian. Tidak ada suaminya yang mengantarkannya. Terlebih dengan Pertiwi yang kini memilih bayi, sehingga memang praktis Pertiwi hanya sendirian.
"Tidak harus selalu diantar suami kok, Ci ... wanita juga bisa mandiri," balas Pertiwi.
__ADS_1
Namun, Suci berdecih dan kemudian kembali mengejek Pertiwi. "Ya, kalau cinta itu tetap harus didampingi dong. Apalagi baru memiliki anak bayi. Masak iya, sendirian. Apa jangan-jangan Damar hanya menghamili kamu saja, dan setelahnya ditinggal pergi."
Mendengar ucapan dari Suci barusan sungguh menyakiti perasaan Pertiwi. Suaminya tidak mendampinginya sekarang juga karena suaminya adalah abdi negara, dan harus menjalankan penugasan di tempat dinas. Namun, Suci justru menuduh bahwa suaminya itu hanya menghamilinya dan kemudian meninggalkannya pergi. Untuk apa yang sudah Suci sampaikan, Pertiwi hanya tersenyum perlahan.
"Aku sih percaya sama suamiku. Setidaknya dia tidak akan selingkuh atau tidur dengan sahabatku sendiri. Beda yah, dengan yang ono ... yang ngakunya setia, tapi kelakuannya tetap saja kayak kucing kelaparan yang melahap ikan asin," balas Pertiwi.
Mendengar ucapan Pertiwi, Suci menjadi begitu geram. Hingga akhirnya, nama Pertiwi dipanggil terlebih dahulu memasuki ruangan Dokter dan mengambil waktu untuk memilih dan pemasangan alat kontrasepsi.
Hampir lima belas menit, Pertiwi di dalam ruang pemeriksaan dan konsultasi kemudian dia keluar dengan masih menggendong Langit. Rupanya di ruang tunggu ada Suci dan juga Sigit di sana. Sungguh, pertemuan setelah sekian lama berlalu.
Sigit tampak terkesiap tidak mengira akan bertemu dengan Pertiwi di sana. Selain itu, Sigit juga terlihat salah tingkah sekarang. Sementara Suci tampak memegangi tangan suaminya.
"Jangan genit," bisiknya di telinga Sigit.
Akhirnya Sigit pun memilih duduk dan juga diam. Walau sebenarnya, dia ingin menyapa Pertiwi. Hanya sebatas menyapanya saja. Namun, Sigit lebih memilih mengurungkan niatnya.
"Kasihan gak dianterin suami," balas Suci.
"Sudah biasa, sudah mandiri. Istri yang bisa mandiri, pasti makin dicinta suami," balas Pertiwi.
"Sok banget sih," balas Suci dengan memelototkan matanya.
__ADS_1
Hingga akhirnya Pertiwi memilih pergi dari sana. Sebenarnya, saat bertemu dengan Suci kembali mood nya menjadi jelek. Akan tetapi, dia memilih untuk menahan. Tidak akan termakan dengan ucapan Suci. Lagipula, Pertiwi sangat yakin bahwa suaminya, Damar adalah pria yang setia dan bisa dia percayai.