
Selang satu minggu berselang, sekarang Pandu mengajak Ervita, Indi, dan Irene untuk ke Solo. Tujuan mereka pulang ke Solo tentu saja untuk mengunjungi Baby Arka. Selain itu, juga sudah begitu lama Ervita tidak pulang ke Solo, sehingga kali ini Pandu memang merencanakan untuk menghabiskan akhir pekan di Solo.
Lantaran kali ini membawa dua kiddos sehingga barang-barang yang dibawa pun memang lebih banyak. Mereka sampai terlihat hendak pindahan. Sampai membawa dua koper karena satu koper penuh adalah milik Baby Irene.
"Bawaannya banyak banget ya, Yah ... bagasi full barang," ucap Ervita.
Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Iya, dulu cuma bawa Mbak Didi ... sekarang bawa Baby Irene juga yah, Nak. Wah, pertama kalinya Irene ke Solo. Ke rumahnya Uthi dan Kakung ya, Nak," ucap Pandu lagi.
"Iya Yayah ... mengunjungi Kota Bengawan," balas Ervita.
Kemudian Indi yang duduk di bangku belakang pun bertanya kepada Yayahnya. "Yayah, nanti menginap di Solo?" tanyanya.
"Iya, Mbak Didi ... mau nengokin Adik Arka. Menginap dua hari di rumahnya Kakung Solo yah?"
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Oke, Yayah ... Didi mau main sama Adik bayinya," balasnya.
Kemudian Ervita yang sekarang tersenyum. "Adik Arka masih bayi, Mbak Didi ... seumuran Adik Irene, cuma selisih satu bulan saja," balas Ervita.
"Oh, masih baby ya, Nda ... Didi kira udah besar," balasnya.
"Semua baby kalau baru lahir ya kecil, seperti Irene. Dulu Mbak Didi pun waktu pertama kali lahir juga sekecil Irene. Terus Bunda kasih ASI, ketika berusia 6 bulan, makan MPASI kemudian Mbak Didi semakin hari semakin bertumbuh," balas Ervita.
Di sini Ervita sekaligus menjelaskan kepada Indi bahwa semua anak ketika lahir adalah bayi. Dalam ukuran yang kecil, dan kemampuannya terbatas. Setelah diberi ASI, MPASI, dan bertambah usia, barulah mereka bertumbuh. Indi mendengarkan penjelasan dari Bundanya juga menganggukkan kepalanya. Hingga akhirnya, Indi kemudian bertanya kepada Bundanya lagi.
"Didi dulu kayak Iyene yah ... hiii, kecil banget ya, Nda. Nangis oek-oek," balasnya.
Mendengarkan balasan Indi, Ervita dan Pandu sama-sama tertawa. Memang Indi kritis, cara bicaranya juga menggemaskan. Terkadang hanya mendengarkan In
di berbicara saja, Ervita dan Pandu sudah tertawa.
"Iya, Sayang ... dulu Mbak Didi juga bayi seperti Irene gini. Kepalanya juga pernah dibotakin juga. Lucu," balas Ervita.
__ADS_1
"Didi lucu juga enggak Yayah?" tanya Indi.
Pandu kemudian melirik Indi dari kaca spion tengah di mobilnya. Setelahnya Pandu menganggukkan kepalanya. "Iya, Mbak Didi lucu banget. Putri kecil kesayangan Yayah," balasnya.
"Makasih, Yayah," balasnya.
Mobil yang dikemudikan Pandu pun melaju dari arah Jogjakarta, melintasi Kota Klaten, hingga perlahan-lahan memasuki wilayah Kota Surakarta. Sangat beruntung karena sepanjang perjalanan, Irene juga tidak rewel. Beberapa kali Irene juga tertidur. Ini juga pengalaman naik mobil terjauh untuk Irene. Bayi yang baru akan berusia dua bulan itu sudah mencoba perjalanan lintas provinsi dari Jogjakarta ke Surakarta atau Solo.
Kurang lebih dua jam perjalanan ditempuh, dan sekarang mobil yang dikendarai Pandu sudah memasuki area Solo Timur, kian dekat dengan rumah Ervita. Melihat suasana Kampus Negeri di Kota Bengawan yang begitu ramai, dengan Solo Technopark yang seolah menjadi Silicon Valley-nya Solo karena di tempat ini digunakan untuk inkubasi teknologi dan beberapa perusahaan start up yang berada di sana. Kawasan yang dulu sepi, kini sudah disulap menjadi tempat yang bagus dan memberi dampak ke masyarakat dan pemerintah dengan sangat baik.
"Sudah mau sampai rumahnya Kakung," ucap Pandu.
"Apa iya, Yayah? Yeay, bisa ketemu Kakung, Uthi, sama keluarga Bulik Mei," balas Indi yang kelihatan sangat senang.
Setelahnya, kini Pandu kian melajukan mobilnya dan sampailah mereka di rumah milik Ervita. Pandu memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, dan kemudian menggandeng Indi, sementara Ervita menggendong Baby Irene.
"Kula nuwun."
Pandu dan Ervita kompak mengucapkan salam dalam bahasa Jawa yang artinya adalah 'Permisi'. Kedatangan keluarga Ervita dengan tiba-tiba tentu saja membuat keluarga Pak Agus kaget, Mei dan Tanto yang ada di depan rumah pun merasa kaget karena Kakaknya tiba-tiba datang dari Jogjakarta.
"Kok ngasih kabar dulu?" tanya Bu Sri.
"Kejutan kok, Bu," balas Ervita.
Pandu kemudian menyerahkan buah tangan untuk keluarga mertuanya. "Sedikit buah tangan, Bu," ucap Pandu.
Terlihat betapa Pandu adalah menantu idaman. Dia yang datang ke rumah mertua, selalu membawakan buah tangan. Bukan hanya sebatas oleh-oleh, tetapi tanda kasih sayang juga dari menantu kepada mertuanya.
"Mas Pandu ini selalu repot-repot loh. Kalau datang tidak bisa bawa apa-apa," balas Bu Sri.
"Sama sekali tidak repot kok, Bu," jawab Pandu.
__ADS_1
"Pakdhe Pandu dan Bu Ervi datang nih ... ini keponakannya Pakdhe," ucap Mei dan Tanto yang turut bergabung ke ruang tamu dengan menggendong Arka.
Tentu Pandu dan Ervita sangat senang, akhirnya bisa melihat keponakannya. Dulu, Ervita sebenarnya ingin menengok Arka, tetapi kandungan Ervita sendiri juga sudah menjelang hari persalinan. Untung saja, Ervita tidak ke Solo, karena setelahnya, giliran Irene yang lahir.
"Nih ... Arka juga adiknya Mbak Didi loh," ucap Pandu.
"Namanya siapa Bulik?" tanya Indi.
"Namanya Arka ... cowok nih adiknya," balas Mei.
"Kalau cowok kayak Mas Langit, Bulik ... adiknya Mbak Lintang," balas Indi.
Mei dan Tanto sama-sama tersenyum. "Mbak Didi senang enggak punya Adik?" tanya Mei kemudian.
"Iya, senang Bulik ... tapi Iyene menangis Bulik. Nangisnya oek-oek," jawabnya.
Kini Mei dan Tanto juga gemas dengan Indi. Hanya sekadar mendengarkan Indi berbicara saja rasanya sudah begitu lucu.
"Nanti kalau Irene sudah besar, Mbak Didi senang karena Mbak Didi punya teman bermain nanti," ucap Tanto.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Om Tanto. Om, Adik Arka digendong Yayah dulu sebentar boleh?" tanyanya.
"Boleh," jawab Tanto.
Merasa Indi sudah memberikan lampu hijau, Pandu kemudian membuka tangannya dan menggendong Baby Arka. Mengamati wajah keponakannya itu. "Ndut ya, Tanto," ucap Pandu.
"Iya, Mas ... tiga bulan saja sudah 8 kilogram kok, Mas. Minumnya ASI kuat banget," cerita Tanto.
"Iya, bayi cowok minum ASI-nya lebih kuat dari bayi cewek," sahut Ervita.
Mei juga akhirnya turut berbicara. "Benar Mbak ... malam itu rasanya kayak gak pernah lepas ASI loh, Mbak."
__ADS_1
"Luar biasa yah ... anak cowok itu," balas Ervita.
Dia juga sangat senang kembali ke rumah. Bertemu keluarga, melihat keponakan. Rasanya waktu ini sangat menyenangkan untuk Ervita.