Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Double Date


__ADS_3

Akhir pekan tiba. Sekarang Pandu, Ervita, Pertiwi, dan Damar sama-sama melakukan Double Date. Anak-anak untuk sementara mereka titipkan di rumah Eyang. Sehingga mereka benar-benar pergi hanya bersama pasangannya, tidak bersama anak-anak mereka.


Setelah sekian lama, baru kali ini Ervita dan Pandu benar-benar pergi hanya berdua. Biasanya, kemana pun mereka pergi pastilah dengan mengajak Indi. Terlebih untuk Ervita yang memang full-time menjadi ibu rumah tangga, sehingga kemana pun selalu bersama Indi dan Irene.


"Biasanya pergi bawa bocils, dan sekarang hanya berdua rasanya aneh ya, Mas," ucap Ervita ketika mobil yang dikemudikan suaminya itu membuntuti mobil Damar di depannya.


Pandu pun tersenyum. "Tidak apa-apa, Dinda. Sesekali. Toh, juga tidak sepanjang hari. Paling lama tiga jam kan?"


Ervita kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, semoga saja ya Mas. Aneh aja sih aku ... biasanya bawa Indi dan Irene," balasnya lagi.


Hingga kurang lebih setengah jam, sekarang mereka sudah tiba di salah satu mall di kota Gudeg. Pandu dan Ervita bergandengan tangan, berjalan bersama di belakang Pertiwi dan Damar di depannya.


"Terkadang memang butuh waktu pacaran seperti ini, Dinda. Menikmati waktu pacaran," ucap Pandu.


"Penting jangan lama-lama ya, Mas. Kangen nanti sama bocils," balas Ervita.


Sekali lagi Pandu tersenyum. Mereka berempat menuju ke CGV dan hendak menonton film. Lantaran seolah ngedate, Pertiwi memilih film romansa. Namun, di dalam studio Pandu dan Ervita memilih duduk di belakang Damar dan Pertiwi.


"Kelihatannya sejak kita pacaran, gak pernah nonton bioskop ya, Dinda?" tanya Pandu.


Dengan cepat Ervita menggelengkan kepalanya. "Enggak pernah, cukup di depan Pendopo. Duduk bersama, menikmati hembusan angin malam, dan juga kamu ceritain lagu Yen Ing Tawang Ana Lintang," ucap Ervita.


Sembari mengingat bagaimana dulu, mereka kadang sering duduk bersama. Tidak ada kesan kemewahan. Bahkan kesannya juga tidak sedang pacaran, tapi itu adalah pendekatan yang pelan-pelan. Begitu yakin, Pandu pun segera melamar Ervita. Tidak perlu berpacaran terlalu lama.


"Iya, justru gak berpacaran ke bioskop gini ya, Nda ... kali pertama kita berdua ke bioskop yah," ucap Pandu.


Ervita menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, pacaran di depan rumah saja," balas Ervita.

__ADS_1


Lampu di dalam bioskop mulai dipadamkan, dan kemudian Padam membawa tangan Ervita untuk dia genggam. Bahkan Pandu tidak keberatan ketika Ervita menyandarkan kepalanya di lengannya. Memang kadang pasangan yang menonton bioskop sering melakukan demikian.


"Lihat tuh Mbak Pertiwi dan Mas Damar, juga kayak pasangan ABG yah," ucap Pandu dengan lirih kepada Ervita.


"Pacaran halal, Mas. Sedikit waktu berdua, di sela-sela mengurus anak," balas Ervita.


"Benar banget, Dinda ... mungkin kita harus sering-sering pacaran kayak gini yah," balas Pandu.


"Tidak usah dipaksakan Mas ... nanti ada waktunya. Kalau anak-anak semakin besar. Ayah dan Bundanya bisa memiliki banyak waktu bersama," balas Ervita.


Memang begitulah siklus hidup orang tua. Ketika anak-anak masih bayi dan masih kecil-kecil, seluruh waktu dan perhatian dicurahkan untuk anak terlebih dahulu. Namun, ketika anak-anak sudah dewasa, waktu untuk sekolah dan bekerja lebih banyak, rumah akan menjadi sepi. Di saat itu Ayah dan Bunda bisa memiliki banyak waktu bersama. Menikmati hari, pacaran lagi, atau melakukan kegiatan positif lainnya.


"Benar juga, Sayang ... kalau Indi dan Irene sudah besar-besar, Yayah dan Ndanya hanya di rumah yah," balas Pandu.


"Makanya itu, Mas ... duh, tiba-tiba kok filmnya jadi sedih begini sih."


"Nonton film, malahan nangis sih, Nda?" tanya Pandu perlahan.


"Iya, sedih banget, Mas. Aku dulu kayak gitu juga kali yah kalau difilmkan," ucap Ervita.


Hingga akhirnya film pun usai, dan kemudian mereka menunggu untuk keluar dari studio. Damar dan Pertiwi tersenyum melihat Ervita yang matanya sedikit merah karena usai menangis. "Nangis, Vi?" tanya Pertiwi.


"Iya Mbak ... sedih tadi scene-nya. Bikin mewek," balas Ervita.


Pertiwi tersenyum. Tidak menyangka juga kalau adik iparnya itu ternyata mellow. Hingga akhirnya, Pertiwi sekarang berniat untuk mengajak Ervita dan Pandu untuk makan bersama. Setelahnya nanti baru pulang.


"Mau makan apa, Vi?" tanya Pertiwi.

__ADS_1


"Apa saja, mau kok Mbak ... bisa makan semuanya," balas Ervita.


"Udon mau?" tanya Pertiwi lagi.


"Iya, boleh Mbak," jawabnya. Setelahnya Ervita melirik kepada suaminya. "Mas Pandu mau?"


Pandu menganggukkan kepalanya sembari menjawab. "Iya, mau aja kok," balasnya.


Akhirnya dua pasangan itu menuju ke restoran Udon. Memesan pilihan mereka sendiri-sendiri. Ketika hendak membayar, Damar justru yang membayar terlebih dahulu.


"Aku aja, Ndu," ucap Damar. Pria itu sudah mengeluarkan debet card miliknya.


"Lah, Mas ... kok malahan dibayarin sih?" tanya Pandu bingung.


"Iya, gak apa-apa. Sesekali," balas Damar.


Mereka mengambil tempat duduk, sama-sama menikmati Udon. Baru sejenak, Pandu dan Ervita duduk, rupanya ada Lina di tempat itu. Wanita itu tampak berdiri dan menghampiri Pandu.


"Pandu, kamu di sini yah? Sama siapa?" tanyanya.


Belum Pandu menjawab, Pertiwi yang terlebih dahulu memberikan jawaban. "Oh, ini mbaknya yang jualan di baby shop, tapi sewotnya selangit itu yah," balasnya.


Pandu kemudian menghela nafas kasar. "Gak usah sok-sokan, Lin ... biasa saja," balasnya.


Namun, Lina justru bersikap cuek saja. "Selera orang Jawa memang gitu yah, makan Udon harusnya pake sumpit. Bukan pake garpu," ucapnya dengan menatap tajam kepada Ervita.


Ervita yang biasanya diam dan tidak mau menanggapi, sekarang terlihat begitu kesal kepada Lina. Hingga Ervita tersenyum perlahan. "Sudah Mbak Lina, tidak usah mengurusi saya. Mau saya makan memakai sumpit atau garpu tidak masalah kok. Jika tidak berkepentingan silakan dilanjutkan Mbak," ucap Ervita.

__ADS_1


Lina merasa kesal. Dia ingin menyapa Pandu. Masih ingin menunjukkan bahwa istri Pandu sekarang itu tidak sekelas dengannya. Dia merasa tidak suka ketika Pandu meminang Ervita yang dinilainya begitu sangat sederhana.


__ADS_2