
Sejenak berjalan-jalan di lembah UGM, sekarang Pandu dan Ervita memilih untuk pulang ke rumah. Walau dalam perjalanan, Pandu juga menawarkan makanan lainnya untuk istrinya. Sebisa mungkin, Pandu ingin membelikan apa yang menjadi makanan kesukaan istrinya itu.
"Itu ada jajanan korea gitu, mau tidak, Dinda? Kamu kan suka drama korea, sapa tahu pengen beli Topokki atau Odeng," tawar Pandu kepada istrinya itu.
"Pedas, Mas. Nanti belum makan nasi, makan yang pedas bikin sakit perut. Kalau aku sakit perut, nanti yang jaga anak-anak siapa coba?" balas Ervita.
Mendengarkan ucapan Ervita, Pandu justru tersenyum. Pria itu mengusapi puncak kepala istrinya.
"Sosok keibuan banget sih. Padahal kamu ini masih muda loh, Dinda. Kamu memiliki Indi kan baru berusia 22 tahun kan? Sekarang, Indi 5 tahun. Artinya, kamu baru 27 tahun. Masih muda banget kamu," balas Pandu.
"28 tahun sih, Mas. Kan ada fase hamil juga. Udah tua, Mas. Udah mau kepala tiga," balas Ervita.
Mendengar apa yang disampaikan istrinya, Pandu terkekeh lagi. "Aku udah lebih dari kepala tiga. Duh, aku udah tua banget dong," balas Pandu.
"Enggak, Mas Pandu mah kelihatan awet muda. Katanya Indi aja, pria paling cakep tuh," balas Ervita.
Sekarang, Pandu tergelak dalam tawa. Teringat dengan Indi dan suaranya yang lucu ketika berbicara.
__ADS_1
"Cowok tercakepnya Indi ya, Dinda?" tanya Pandu.
"Iya, ter Best buat Indi," balas Ervita.
Pandu senang sekali sekarang. Dia memang ingin menjadi sosok terbaik untuk Indi, Irene, dan juga untuk Ervita te tentunya. Itu selalu yang Pandu inginkan.
"Kita pulang yuk, Mas. Mampir beli buah untuk keluarga ya, Mas," ajak Ervita.
Pandu menganggukkan kepalanya. Tentu dia mau saja mampir ke toko buah. Lebih cepat pulang, berarti juga waktu berbuka puasa nanti sudah berada di rumah.
Dalam perjalanan Pandu dan Ervita mampir ke penjual buah dan membeli beberapa buah untuk keluarganya. Selain itu, Ervita membeli apel fuji untuk Irene yang sekarang baru senang memakan apel fuji. Melanjutkan perjalanan, hanya sepuluh menit dan sekarang mereka sudah sampai di kediaman orang tuanya.
"Waalaikumsalam," balas seluruh keluarga yang sekarang sudah berkumpul di pendopo depan rumah.
"Kok sebentar, Ndu? Gak usah keburu-buru loh, kan Indi dan Irene juga semakin besar. Udah bisa bermain sendiri," balas Bu Tari.
"Sudah, Bu. Kan ya cuma ngabuburit saja. Setelahnya ya di rumah, Bu. Berbuka puasa," balas Pandu.
__ADS_1
"Ya, sudah. Berbuka puasa di sini saja, Ndu. Bareng-bareng," ajak Pak Hadinata kepada putranya itu.
Sedikit mengobrol dengan Ervita, akhirnya Pandu dan Ervita mau untuk berbuka bersama dengan keluarga besar Hadinata. Indi juga senang, bisa berbuka puasa bersama dengan Eyangnya. Selain itu, juga bisa sambil bermain dengan Lintang.
"Ibu, ini buat tambah takjil," ucap Ervita menyerahkan Dawet yang dia beli kala berburu takjil dengan suaminya.
"Makasih ya, Vi ... ini tadi Ibu cuma buat puding. Makin mantap ini berbukanya," balas Bu Tari.
Tidak hanya itu, Ervita juga memberikan aneka buah yang tadi dia beli bersama dengan suaminya. Akhirnya, buah-buahan itu dicuci terlebih dahulu. Sekarang, menjelang berbuka di Pendopo sudah tersaji aneka makanan. Mulai dari takjil berupa Dawet, Puding, dan buah. Lalu, ada menu utama yang diminta oleh Pak Hadinata yaitu Semur Ayam Kecap dan aneka sayur. Ada buah-buahan juga.
"Sudah waktunya berbuka," ucap Indi sekarang.
"Alhamdulillah," balas seluruh keluarga. Setelah seharian menahan haus dan lapar, akhirnya waktunya untuk berbuka puasa.
Dilanjutkan dengan Pak Hadinata yang membuka dalam doa berbuka puasa. Lantas dilanjutkan dengan makan bersama. Ervita juga mengambilkan untuk Indi dan Pandu terlebih dahulu.
"Didi makan sendiri, Nda," pinta Indi sekarang.
__ADS_1
"Boleh, usahakan makannya jangan berantakan ya, Sayang," balas Ervita.
Indi kecil pun menganggukkan kepalanya. Tentu, dia juga akan makan dengan hati-hati. Supaya tidak berantakan. Sungguh, ini adalah ramadhan yang indah. Ramadhan penuh cita rasa kekeluargaan. Rasanya, Ervita sangat senang dan nyaman dengan keluarga Hadinata yang memang baik hati dan tulus. Tidak hanya sekedar berbuka, tapi mereka juga begitu bersyukur.