
Ketika akhir pekan tiba, Pandu mengajak Ervita untuk main ke Solo. Menurut Pandu, Ervita harus sering kali diajak keluar dari rumah. Sebab, sudah tiga pekan berlalu dan Ervita hanya berada di rumah, jikalau tidak hanya bekerja di siang hari di rumah mertuanya. Ya, walaupun sudah menikah dengan Pandu, tetapi Ervita tetap mengerjakan untuk penjualan batik khusus online dan dropship. Bu Tari dan Pak Hadinata juga tidak keberatan. Jika, Ervita mau justru batik-batik itu bisa ditaruh di rumah Ervita dan Pandu, sehingga ketika mengerjakannya Ervita tidak perlu untuk keluar rumah.
Akan tetapi, akhir pekan ini Pandu akan mengajak Ervita untuk main ke Solo, itu juga karena rumah orang tua Ervita di Solo akan digunakan untuk arisan keluarga dari pihak Bu Sri. Berkumpul dengan keluarga ketika arisan keluarga.
“Tumben sih, Mas kita ke Solo?” tanya Ervita kepada suaminya itu.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya, kan ada arisan keluarga di rumah kamu. Jadi, sesekali kita datang saja. Bisa kenalan sama keluarga kamu di Solo,” jawab Pandu sembari mengemudikan mobilnya.
Jalanan dari Jogjakarta ke Solo itu terbilang ramai lancar, tetapi Pandu dalam mengemudikan mobilnya juga terbilang santai. Dia juga ingin istri dan anaknya meminta perjalanan dari Jogjakarta menuju ke Solo. Begitu mobil yang sudah dikendarai Pandu melewati daerah Sleman, dan ada Candi Prambanan yang berdiri megah di sana, terlihat Indira menunjuk candi yang berdiri dengan eloknya itu.
“Yayah, candi … candi,” teriaknya dengan gembira.
“Iya, itu Candi Prambanan … Indi sudah pernah ke Candi Prambanan belum?” tanya Pandu.
“Elum (Belum),” jawabnya.
Pandu kemudian mengusap kepala Indira, “Minggu depan kalau Ayah libur, ke Candi Prambanan mau?” tanyanya.
“Oce (Oke),” balasnya dengan menganggukkan kepalanya.
Ervita pun tersenyum, “Kadang kalau akhir pekan di rumah saja kan juga enggak apa-apa tow Mas … kamu kan capek juga bekerja dari jadi konsultan Desain Interior sampai bantuin kelola batik. Akhir pekan di rumah istirahat juga tidak apa-apa,” ucap Ervita.
Pandu pun tersenyum di sana, “Makasih Nda, udah diperhatiin. Enaknya kalau sudah beristri apa-apa diperhatikan. Kalau lajang kan paling yang merhatiin Ibu. Tahu gini, dari awal aku menikahi kamu, Nda,” ucapnya.
Ervita pun tersenyum di sana, “Kalau dari awal kamu menikahi aku, aku tidak boleh disentuh pria lain loh Mas … benih dalam rahimku,” ucapnya lirih.
__ADS_1
Pandu kemudian tertawa, “Cuma menunggu kamu tidak apa-apa, sampai masa nifas selesai. Justru sejak lama aku bisa menjadi Ayahnya Indi,” balas Pandu lagi.
“Yang benar … nanti pulang gak bisa jalan-jalan ke Swargaloka,” balas Ervita.
Pandu yang fokus mengemudi pun perlahan tertawa, yang diucapkan Ervita itu memang benar. Jika, menikahnya sejak dulu, nanti dirinya tidak bisa mengajak Ervita berpetualang menyusuri Swargaloka yang indah dan penuh cahaya. Lantas Pandu membawa satu tangan Ervita, menggenggamnya perlahan, mengusapi punggung tangannya, dan akhirnya dia menaruh tangan Ervita di pahanya.
“Bagaimana pun pengaturan waktu dari Yang Kuasa itu lebih indah dari semuanya ya Nda … ya, istilahnya aku bisa mengenal kamu dulu, walau aku yakin awal menikah bahkan sampai sekarang pun, ada kalanya kita merasa canggung satu sama lain. Namun, nanti lama-lama rasa canggung itu akan hilang,” balasnya.
Ada satu hal yang Pandu pahami bahwa memang agaknya lama menunggu untuk bisa bersanding dengan Ervita. Akan tetapi, Pandu menyadari bahwa penyatuan kali ini sangat indah untuknya. Walau bibirnya selalu mengatakan bahwa perasaannya untuk Ervita itu indah, tetapi di dalam hatinya, Pandu merasakan sangat bahagia.
Sampai tidak terasa, mereka sudah tiba di Solo. Perjalanan hampir 2 jam, dan sekarang mereka telah tiba di kediaman orang tua Ervita. Memang belum ada saudara yang berkumpul, tetapi bisa dimanfaatkan untuk dekat dengan keluarga terlebih dahulu.
“Permisi … Kula nuwun,” sapa mereka begitu memasuki rumah orang tua Ervita.
“Sehat Bu?” balas Pandu.
“Sehat Mas Pandu … duduk dulu,” ucap Bu Sri.
Pandu, Ervita, dan juga Indira pun duduk bersama beralaskan tikar di ruang tamu yang memang kursinya dikeluarkan dan menggelar tikar untuk duduk bersama. Tidak berselang lama, Pak Agus pun datang. Beliau juga sangat senang melihat kedatangan Ervita dan Pandu dari Jogja.
Jujur, Ervita merasa bingung dan malu. Sebelumnya dia tidak pernah mengikuti arisan keluarga. Terlebih sejak dirinya diusir dari rumah dulu. Sudah pasti para saudara dekat dari pihak Ibunya juga tahu kemana dia pergi selama ini. Akan tetapi, Ervita masih berusaha untuk bersikap tenang.
“Ini Bu … oleh-oleh sedikit,” ucap Pandu yang menyerahkan satu kardus karton berisikan Bakpia Pathuk yang merupakan oleh-oleh khas Jogjakarta itu.
“Kok banyak banget Mas Pandu?” tanya Bu Sri heran dengan Bakpia dengan jumlahnya begitu banyak itu.
__ADS_1
“Iya Bu … kan untuk arisan sekalian. Biar keluarga ikut merasakan,” balasnya.
“Yah, matur nuwun yah … enggak perlu repot sebenarnya. Ini tadi Ibu dan Mei sudah memasak juga, banyak makanan di sini,” balas Bu Sri.
“Tidak repot sama sekali kok Bu,” balas Pandu.
“Nanti jangan buru-buru pulang yah … Bapak dan Ibu mau bercerita,” ucap Pak Agus kemudian.
Sampai akhirnya para saudara pun satu per satu datang, Ervita dan Pandu juga memberi salam kepada setiap keluarga yang datang. Saudara yang belum mengenal sosok Pandu pun sekalian bisa berkenalan dengan menantu keluarga Sugiarto itu. Banyak Budhe-Budhe dan Bulik yang mengatakan bahwa Pandu begitu tampan. Tentu Ervita pun tersenyum, suaminya itu disambut dengan baik di pihak keluarga besar. Sama seperti dirinya yang sudah seperti anak sendiri bagi keluarga Hadinata.
Selama arisan berlangsung, bahkan Pandu tak segan untuk terjun langsung membantu mertuanya untuk mengeluarkan Teh, dan sajian makanan lainnya. Bersama Tanto, Pandu bahu-membahu untuk menyajikan aneka makanan karena biasanya kaum pria yang akan direpotkan untuk mengeluarkan makanan, menyangga teplak biasanya orang Jawa menyebutnya.
“Lha anak kecil ini anaknya siapa?” tanya seorang saudara yang hadir di sana. Budhe Tini namanya, terbilang orang yang lebih tua dalam arisan keluarga itu.
“Ini anaknya Ervi, Budhe,” balas Ervita.
“Yuh, sudah punya anak tow. Anak ya sama bojo (suami) kamu itu?” tanyanya lagi.
Pandu yang mendengarkannya pun menyahutnya, “Inggih Budhe, anak kami,” balasnya.
Ketika Pandu memberikan jawaban, seakan tidak ada pertanyaan lanjutan dari keluarganya. Ervita melirik Pandu untuk sesaat dan Pandu memberikan anggukan samar di kepalanya. Memang tidak dipungkiri, beberapa keluarga sudah tahu bahwa pernikahan Pandu dan Ervita barulah tiga pekan lamanya. Namun, sudah ada anak kecil yang berusia 2,5 tahun. Sehingga memang menimbulkan pertanyaan dari beberapa keluarga yang belum sempat hadir di pernikahan Ervita dan Pandu di Jogjakarta beberapa pekan yang lalu.
“Dia anakku, anak kita,” ucap Pandu lirih.
Jujur jika sudah menyangkut anak, hati Ervita sering kali mellow. Akan tetapi, dia pun sadar bahwa Pandu begitu baik baginya. Bahkan suaminya itu seolah menutupi cela yang pernah dia derita hampir 3 tahun yang lalu.
__ADS_1