Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Sarapan Soto Bathok


__ADS_3

Cukup lama Ervita dan Pandu menikmati arunika yang indah. Ronanya yang cantik, senyumnya yang indah, dan juga sinarnya yang hangat. Pun dengan Pandu yang masih setia untuk merangkul istrinya itu. Mungkin untuk beberapa orang akan merasa risih, tetapi tidak untuk Ervita dan Pandu. Mereka merasa bahwa ini adalah cara terbaik untuk menyambut sang surya yang terbit dari ufuk timur.


Pagi pun tiba, sinar dari mentari yang menyinari seluruh alam raya. Hingga akhirnya, ada suara Pertiwi yang memanggil nama adiknya itu.


"Pandu ... Pandu," katanya.


Lantaran masih pagi, dan angin di tempat itu memang sedikit kencang. Sehingga suara dari Pertiwi seolah menggema. Kemudian Pandu pun melambaikan tangannya kepada Kakaknya itu.


"Di sini Mbak," sahutnya yang juga berteriak.


Melihat Pandu yang rupanya duduk di belakangnya dengan Ervita, Pertiwi pun menganggukkan kepalanya. Semula dia kira, Pandu dan Ervita akan duduk di tempat yang jauh. Rupanya adiknya itu hanya naik ke satu pelataran saja darinya.


Hingga setengah jam berlalu, kemudian Ervita mengajak suaminya itu untuk turun. Bergabung dengan Pertiwi dan Damar. Pandu berdiri lebih dahulu dan mengulurkan satu tangannya kepada istrinya.


"Hati-hati, Dinda ... pegang tanganku," ucapnya.


Tidak langsung berdiri, Ervita justru berjongkok dan membantu suaminya itu untuk mengenakan kembali alas kakinya. "Dipakai dulu Mas ... terima kasih banyak, sudah merelakan sandalmu untuk menjadi alas duduk buatku," balas Ervita.


Pandu pun tersenyum, "Kalau kayak gini ... justru kayak upacara temu manten, Dinda ... waktu kamu mencuci kakiku dengan air bunga, usai nginjak telor," balas Pandu.


"Kangen dengan momen nikahan ya Mas?" tanya Ervita kemudian.


"Lumayan sih ... pertama kali lihat kamu memakai kebaya dan berhias ala pengantin Jawa, jadinya terpukau, Nda ... terpesona," ucap Pandu.


Ervita pun tersenyum di sana, "Ah, kamu ini, Mas ... hobi banget bikin aku malu kayak gini," balasnya.


"Memuji diri sendiri kan tidak masalah Nda ... emang kamu itu ayu. Putri Solo yang ayu ya kamu ini," balas Pandu.

__ADS_1


Keduanya turun dan melewati gapura kedua yang berdiri kokoh. Kemudian bergabung dengan Pertiwi dan Damar. Tampak Pertiwi dan Damar kemudian berdiri melihat kedatangan Pandu dan Ervita.


"Sudah puas belum Mbak?" tanya Pandu kepada kakaknya itu.


"Udah dong ... makasih ya Om Pandu," balas Pertiwi yang tampak senang.


"Makasih ya, Ndu ... makasih sudah sabar sama Mbakmu ini," sahut Damar kepada adiknya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Sudah biasa, Mas ... hobinya Mbak Pertiwi kan gitu," balas Pandu.


"Mungkin deket, Ndu ... kalau aku di Lampung kan, tidak bisa minta bantuan kamu. Sarapan yuk, mau enggak?" ajak Pertiwi kemudian.


Pandu kembali menganggukkan kepalanya, "Mbak Pertiwi mau apa lagi? Mumpung aku masih baik ini," balas Pandu.


Tampak Pertiwi tertawa sampai terkekeh geli. Rupanya adiknya itu memang begitu memahami dirinya. Hingga akhirnya, Pertiwi pun menjawab pertanyaan Pandu.


"Mau Soto Bathok dong, Ndu ... enak kali yah, masih pagi begini dan makan Soto Bathok," jawabnya.


"Kamu mau enggak, Nda?" tanya Pandu kemudian.


"Boleh Mas ... aku apa aja mau kok," balas Ervita.


Pertiwi pun tertawa, "Kalau Ervi apa saja mau, kalau aku mumpung hamil jadi banyak mau. Kalau di Lampung banyak mau sama suami, kalau di Jogja, banyak mau sama Pandu," balasnya.


"Asal masih taraf wajar, Ma ... kan sekarang Pandu juga sudah beristri dan berkeluarga. Tidak lajang lagi seperti waktu dulu kamu hamil Lintang. Jadi yah, jangan terlalu merepotkan Pandu," ucap Damar yang mengingatkan istrinya itu.


Merasa diperingatkan oleh suaminya, Pertiwi pun menganggukkan kepalanya. "Iya Mas ... aku tahu kok," balasnya.

__ADS_1


Keluar dari Istana Ratu Boko, kemudian Pandu melajukan mobilnya ke arah Sambisari, Sleman. Mengantar kakaknya yang menginginkan Soto Bathok itu. Mereka duduk dan benar di hadapannya ada hamparan sawah.


"Kamu mau Soto satu atau dua, Nda?" tanya Pandu kepada Ervita.


"Satu dulu saja, Mas," ucapnya.


Pandu dan Damar pun memesan untuk istrinya masing-masing. Kali ini Pandu memilih duduk berdua saja dengan Ervita. Pagi yang masih teduh dan sinar matahari tidak terlalu panas, melihat padi yang begitu hijau dan ada embun yang menghiasi setiap daun padi. Sebatas melihat area persawahan saja, Ervita pun beberapa kali tersenyum.


"Senang, Nda?" tanya Pandu.


"Hmm, iya ... bau semerbak padi itu harum deh Mas. Suka," balasnya.


"Bukannya ini aroma tanah ya Nda?" tanya Pandu.


"Ya mungkin saja, tapi tanah yang terkena air itu harum Mas ... pretikor, semerbak tanah yang terkena air hujan. Harum kan?" balasnya.


"Iya harum ... berpadu sama Soto yah," balas Pandu dengan melihat pedagang yang menyajikan Soto yang mereka pesan.


Pandu kemudian menambahkan sambal dan perasan Jeruk nipis ke Sotonya. Kemudian Ervita pun meminta tolong juga kepada suaminya, "Minta tolong punyaku sekalian bisa Mas?"


"Mau apa Nda?" tanya Pandu.


"Perasan jeruk nipis saja," balasnya.


Pandu pun memeras jeruk nipis di bathok berisi Soto milik Ervita. Kemudian Ervita menambahkan kecap manis dan sedikit sambal.


"Enak banget ... baru kali ini makan Soto dengan wadahnya tempurung kelapa," ucap Ervita.

__ADS_1


"Unik ya Nda? tapi enak ... apalagi makannya sambil melihat kamu, tambah bahagia," balasnya.


Ervita pun tertawa dengan suaminya itu. Di setiap kesempatan pastilah Pandu memiliki ide untuk berbicara manis. Semakin sering dekat dengan suaminya dan mendengarkan suara suaminya bisa membuat kadar gula dalam darahnya naik dengan drastis karena ada-ada saja yang diucapkan suaminya itu.


__ADS_2