Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Tersentuh


__ADS_3

Sementara itu di rumahnya, begitu Ervita dan Pandu berpamitan untuk jalan-jalan, tidak berselang lama Indira pun sudah terbangun. Pada awalnya, gadis kecil itu menangis mencari Ayah dan Bunda. Itu maklum karena selama ini, tidak pernah Indira terbangun sendiri tanpa Ayah dan Bundanya. Sekarang, ada di kediaman Eyangnya di Solo dan juga masih belum terbiasa, akhirnya Indira pun menangis. Sehingga Bu Sri pun segera menenangkan cucunya itu.


“Cup cup cup, ikut Uthi (panggilan untuk Eyang Putri) dulu yah. Indi mau minum susu?” tanya Bu Sri kepada cucunya itu.


Terlihat Indira menggelengkan kepalanya, “Didi au Yayah,” balasnya. Anak kecil itu mengatakan bahwa dirinya menginginkan Ayahnya.


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Indira, rasanya hati Bu Sri begitu tersentuh. Sangat tidak menyangka bahwa cucunya itu begitu dekat dengan menantunya yaitu Pandu, padahal sebenarnya Pandu bukan Ayah Biologisnya. Akan tetapi, begitu pagi membuka mata yang diinginkan Indira justru adalah Ayahnya.


“Oalah … nyariin Ayah. Indira mandi dulu sama Uthi yah? Nanti abis ini Yayah dan Bunda datang,” balas Bu Sri.


Setelah dibujuk beberapa waktu lamanya, akhirnya Indira mau mandi bersama dengan Eyang Putrinya itu. Setelahnya, Bu Sri menggendong Indira untuk berbelanja sayur yang letaknya tidak jauh dari gang menuju rumah mereka.


“Ikut Uthi belanja sayur dulu yah. Indi mau dimasakin apa sama Uthi?” tanyanya.


“Ayem, (Bayam),” jawabnya.


Bu Sri pun tertawa di sana, “Cucunya Uthi sukanya makan Bayam yah, biar kuat kayak Popeye,” balasnya.


Ada memori di dalam pikiran Bu Sri bahwa dulu Ervita dan adiknya Mei sering melihat liat kartun Popeye yang suka memakan Bayam biar tubuhnya kuat. Rupanya sekarang Indira pun suka makan sayur Bayam. Ketika menuju ke tukang penjual sayur pun, beberapa tetangga menanyakan mengenai siapa Indi, karena sebelumnya memang tidak ada yang tahu siapa Indi itu.


“Siapa ini Budhe?” tanya seorang tetangga.


“Cucu,” balas Bu Sri dengan singkat.

__ADS_1


“Anaknya Ervi yah? Ayu … mirip siapa ini?” tanya tetangga yang lain.


“Namanya anak cewek ya ayu, kalau cowok itu ganteng,” balas Bu Sri dengan tertawa.


“Ayu yah … kayak Ervi waktu kecil dulu, cuma ini lebih putih. Namanya siapa?”


“Namanya Indira,” balas Bu Sri lagi.


Kemudian, Bu Sri pun memilih sayur dan beberapa lauk untuk dimasak sembari menggandeng tangan mungil Indira. “Kamu mau apa, pisang mau?” tanya Bu Sri kepada cucunya itu.


Terlihat Indira menggelengkan kepalanya, dan justru menunjuk Apel Fuji. Sehingga Bu Sri pun membelikan Apel Fuji untuk cucunya itu. “Nanti dimakan setelah makan nasi yah,” ucapnya.


“Iya,” balas Indi dengan meminta untuk memegang satu buah apel di tangannya.


"Bu," sapa Bu Yeni kepada Bu Sri yang masih memilih sayur.


"Nggih," balas Bu Sri.


Jujur, memang dulu hubungan mereka tidak bagus. Akan tetapi, rupanya pihak keluarga Ervita sudah tidak menyimpan dendam. Justru ketika Pak Supri dilarikan ke Rumah Sakit, Pak Agus lah yang mengkomando untuk menolong dan juga menggerakkan masyarakat untuk melepas semua tenda di rumahnya.


"Anaknya Ervi ya Bu?" tanya Bu Yeni kemudian.


"Iya, anaknya Ervi," balas Bu Sri.

__ADS_1


Terlihat tangan Bu Yeni terulur dan menyentuh pipi chubby Indira, tetapi terlihat Indira mengedikkan bahunya dan seolah bersembunyi di tubuh Uthinya yang masih memilih sayuran.


"Uthi," ucap Indira. Memang begitu Indira, dengan orang yang belum dikenal, dia belum terbiasa. Sehingga, dia mencari perlindungan dari orang tuanya.


"Ini Uthi juga, Nak," balas Bu Yeni dengan suara yang terdengar bergetar.


Bu Sri memilih terus menggandeng Indira di sana, dan berusaha memilih sayuran serta antri untuk membayarnya.


"Main ke rumah Uthi Yeni mau?" tanya Bu Yeni kepada Indira.


Terlihat Indira menggelengkan kepalanya, "Endak ...."


Rupanya Pandu dan Ervita yang sudah pulang jalan-jalan pagi juga menyusul Ibunya yang berbelanja sayur, Indira yang melihat Ayah dan Bunda pun melepaskan tangan Uthinya dan berlari ke Ayah, ya anak kecil itu berlari dan memeluk lutut Pandu.


"Yayah," ucapnya dengan suara yang cempreng khas bayi.


"Putrinya Ayah sudah mandi yah? Tadi Indi mandi sama siapa?" tanya Pandu yang langsung menggendong Indira.


"Didi andi ma Uthi (Indi mandi sama Uthi)," jawabnya.


"Wah, pinter ... udah wangi," balas Pandu dengan mencium pipi Indira.


Bu Yeni pun mengamati interaksi Indira dan juga Pandu, dalam hatinya ada rasa tersentuh karena keduanya sebenarnya tidak ada ikatan darah sama sekali, tetapi terlihat bahwa Indi dan Pandu sama-sama saling menyayangi. Ada rasa sedih juga, bahwa sebenarnya Indi adalah cucunya juga, tetapi tidak bisa mengakuinya. Andai dulu Firhan bertanggung jawab, kini rumahnya akan ramai dengan ucapan lucu dan tawa dari Indira. Sayangnya, semua itu tidak terjadi.

__ADS_1


Bu Yeni pun menunduk, sembari memilih aneka sayur Kangkung di sana, tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Ada penyesalan, ada rasa bersalah, tetapi semua itu tidak bisa terucapkan. Hanya air mata yang jatuh setitik yang menjadi gambaran perasaan hatinya yang begitu berkecamuk.


__ADS_2