
Selang tiga hari kemudian, Ervita mendapatkan pesan dari adiknya yaitu Mei, dan mengatakan bahwa dia dan suaminya yaitu Tanto, akhir pekan besok mau liburan ke Jogja. Mungkin juga baru hamil, sehingga Mei seoalh ngidam ingin main ke Jogja. Kebetulan, kakaknya yaitu Ervita tinggal di Jogja, sehingga kali ini Mei ingin menginap barang untuk satu malam di rumah kakaknya.
"Boleh kan Mbak, kalau aku main ke Jogja?" tanya Mei secara langsung melalui sambungan telepon itu.
"Boleh saja ... Mas Pandu juga sudah menyuruh kalian berdua untuk main ke Jogja kan?" tanyanya.
"Iya, cuma baru bisa sekarang ... mumpung Mas Tanto juga libur," balas Mei.
"Naik kereta api saja, Mei ... kalau naik sepeda motor jauh, kita bisa kena macet di wilayah Klaten. Selain itu, perut kamu juga baru ada babynya, kasihan kalau kecapekan nanti," ucap Ervita.
Setidaknya dulu Ervita pernah memiliki pengalaman untuk menaiki sepeda motor ketika hamil Indi. Dari Solo menuju Jogja, dengan kondisi hamil muda. Akhirnya begitu tiba di kost, Ervita merasakan pinggangnya yang sakit, dan perutnya seperti kram. Masa pelarian dulu, hingga akhirnya pahitnya kehidupan 3 tahun yang lalu, Allah gantikan semua dengan pelangi yang indah bersama dengan Pandu.
"Iya Mbak ... aku niatinnya mau naik KRL kok Mbak ... nanti share lokasinya ya Mbak, aku biar tahu gimana caranya ke rumahnya Mbak Ervi dan Mas Pandu," balas Mei.
Sebelum Ervita menjawab, Pandu sudah berbicara kepada istrinya itu. "Nanti kita jemput di Stasiun saja, Nda ... di Stasiun Tugu atau Lempuyangan," balasnya.
"Oh, nanti kami jemput saja kalau kalian sudah di Statiun yah ... kabarin saja kalian turun di Stasiun Tugu atau Lempuyangan," balas Ervita.
"Beneran Mbak? Enggak merepotkan nanti?" tanya Mei lagi.
"Enggak ... Mas Pandu nanti ya yang jemput," balas Ervita.
Setelahnya kakak dan adik itu masih mengobrol bersama, hingga akhirnya Ervita menyudahi teleponnya dan kemudian duduk lebih menempel dengan suaminya itu. "Nanti kalau Mei dan Om Tanto ke sini, minta tolong dijemput ya Mas? Katanya mau menginap di sini semalam. Boleh kan?" tanya Ervita kepada suaminya.
"Boleh Dinda ... Bapak dan Ibu ikut main dan menginap di sini juga boleh. Aku tidak pernah melarang kok," balas Pandu.
"Makasih Yayah ... seneng deh, akhirnya ketemu Mei. Sudah berapa bulan yah? Hampir tiga bulan kelihatannya kan aku tidak pulang ke Solo?"
Pandu kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya ... 2,5 bulan, Nda ... nanti kalau Mei mau pulang, kita antar aja ke Solo," balas Pandu.
__ADS_1
"Mas Pandu kerjaannya bagaimana?" tanya Ervita kemudian.
"Aman Dinda ... buat kamu dan Indi semuanya aman," balas Pandu dengan merangkul istrinya itu.
***
Selang dua hari kemudian ....
Sekarang Pandu bersama Ervita dan Indi bergegas menuju Stasiun Tugu untuk menjemput Mei dan juga Tanto. Ini menjadi kunjungan Mei pertama kali ke Jogja sejak Ervita pergi dari rumah dulu.
"Kemana Yayah?" tanya Indi yang sudah bertanya kemana Ayahnya itu akan membawanya.
"Ke Stasiun Tugu, Didi ... mau menjemput Tante Mei dan Om Tanto. Nanti malam Om dan Tante bobok di rumahnya Didi yah?" balas Pandu dengan mengemudikan mobilnya itu.
Tampak Indi menganggukkan kepalanya, "Iyah ... boleh," balasnya. "Yah, di depan Stasiun Tugu ada gambar wayangnya loh Yah ... katanya Eyang Kakung itu bernama Punakawan," cerita Indi pada akhirnya kepada Ayahnya.
"Apa iya Sayang? Coba Indi kenal tidak sama Punakawan itu?" balas Pandu.
"Wah, pinternya anaknya Yayah ... dikasih tahu Eyang Kakung yah?" tanya Pandu lagi.
"Iya, waktu ke Kios Batik, diberitahu Kakung, Yayah," balas Indi.
Ervita yang melihat interaksi yang manis antara Pandu dan Indi merasa sangat senang. Mereka benar-benar terlihat seperti Ayah dan anak. Ada rasa kasih sayang yang tulus dan besar dari keduanya. Perasaan yang menghangat membuat Ervita ada kalanya lupa bahwa sebenarnya Indi bukan darah daging Pandu. Namun, karena kasih sayang keduanya yang sama-sama besar, kelihatannya seperti anak dan ayah kandung.
"Kalau Pandawa, Indi tahu tidak?" tanya Ervita kemudian.
"Cuma tahu satu, Nda ... Arjuna," balasnya.
"Iya, benar ... ada Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa," balas Ervita.
__ADS_1
"Yang cakep katanya Eyang Kakung, Arjuna, Nda ... pandai memanah," balas Indi.
Pandu pun menyahut dengan suara setengah berbisik, "Kalau aku yang siap untuk memanah hati kamu dengan cinta," balasnya.
Ervita pun terkekeh geli hingga pundaknya berguncang. Gombalan absurd dari suaminya itu terkadang membuat tersipu-sipu dan juga bahagia karenanya.
"Udah Mas ... nanti Didi dengar," balas Ervita.
Indi yang peka pun melihat Bundanya. "Dengar apa Nda?" tanyanya.
"Itu Yayah kamu, Didi ... lucu," balas Ervita.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya, "Benar ... Yayah memang lucu. Love u, Yayah," balasnya.
"Love U, Putri kecilnya Yayah," balas Pandu.
Hingga akhirnya mobil yang dikendarai Pandu sudah sampai di Stasiun Tugu, Pandu memarkirkan dulu mobilnya dan kemudian mengajak Indi dan Ervita untuk masuk ke dalam Stasiun Tugu di tempat kedatangan. Baru lima menit, mereka sampai di sana, sudah ada Mei dan Tanto yang berjalan dan mendekat ke arah mereka.
"Mbak Ervi ... Mas Pandu, Indi," sapa Mei yang begitu senang melihat Kakaknya, Kakak Ipar, dan keponakannya itu.
"Gimana kabarnya?" balas Pandu dengan menyalami adik iparnya itu.
"Baik Mas ... kangen sama Mbak Ervi," balas Mei.
"Pripun kabare Mas? (Bagaimana kabarnya Mas? - dalam bahasa Indonesia)"
"Baik, baik ... akhirnya dolan (main - dalam bahasa Indonesia) ke Jogja," balas Pandu.
Tanto pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... Mei ini pengen main katanya," balasnya.
__ADS_1
"Ya, main lah ... naik kereta api kan dekat," balas Pandu.
Tentu Pandu dan Ervita pun merasa begitu senang karena Mei dan Tanto main ke Jogjakarta. Walau hanya satu malam, itu jauh lebih baik karena mereka bisa temu kangen dengan adik dan adik iparnya.