Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Pertemuan Virtual dengan Keponakan


__ADS_3

Keesokan harinya Pandu, Ervita, dan Indi menyempatkan waktu untuk menelpon Keluarganya di Solo. Itu juga karena Ervita tidak bisa pulang ke Solo untuk menjenguk keponakannya secara langsung. Melakukan panggilan video, adalah salah satu cara untuk bisa bertemu dengan seluruh keluarga yang ada di Solo.


"Assalamu'alaikum," sapa Pandu dan Ervita begitu panggilan video berlangsung.


"Wassalamu'alaikum," balas Mei melalui panggilan videonya.


Melihat adiknya yang sudah menjadi Ibu, membuat Ervita merasa terharu. Tidak menyangka, Mei sudah menjadi seorang istri sekarang. Dulu mereka bermain bersama, dan sekarang keduanya sudah sama-sama menjadi seorang Ibu.


"Gimana Mei, kabarnya? Keponakannya mana nih?" tanya Ervita.


Kemudian Mei menyorotkan kamera ke seorang bayi kecil yang sedang digedong dengan kain gedong berwarna biru. Melihat keponakannya dari panggilan video saja Ervita merasa terharu. Seandainya bisa bertemu dan menggendong keponakannya rasanya pasti sangat menyenangkan. Akan tetapi, kondisinya sekarang tidak memungkinkan untuk bertemu.


"Mei, maaf yah... kami tidak bisa pulang ke Solo dulu karena usia kandungan Ervi sudah 38 minggu. Terlalu berisiko untuk pergi jarak jauh. Maaf yah ... nanti lain waktu kami akan ke Solo," ucap Pandu.


"Ndak apa-apa Mas Pandu, kan Mbak Ervi juga sudah waktunya melahirkan. Menunggu kelahiran adiknya Indi dulu saja," balas Mei.


Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya Mbak Ervi gak enak hati, Mei. Nanti lain waktu kami main ke Solo yah," ucap Pandu lagi.


Lantas ada Bu Sri, Ibunya Ervita yang turut berbicara. "Tidak apa-apa, Vi ... yang dikatakan Pandu benar. Menunggu persalinan dulu. Nanti lain waktu kan bisa bertemu," ucapnya.


"Maaf nggih, Bu. Mas Pandu itu takutnya kalau tiba-tiba kontraksi di jalan. Apalagi Jogjakarta ke Solo kan bisa dua jam perjalanan. Belum lagi kalau macet di jalan," balas Ervita


"Iya tidak apa-apa. Itu perut kamu juga kelihatan turun banget. Mungkin minggu depan sudah lahir bayinya," balas Ibunya.


Memang tidak dipungkiri bahwa perut Ervita sudah begitu membuncit dan juga sudah kelihatan turun. Sehingga, mungkin saja waktu bersalin tidak akan lama lagi. Menurut Bu Sri sendiri, anaknya Ervita juga akan lahir tidak lama lagi.

__ADS_1


"Diakan Ervi nggih, Bu. Masih takut sebenarnya," balas Ervita.


"Pasti didoakan. Sekarang tidak usah takut, ada Pandu, suami kamu. Pasti Pandu akan mendampingi kamu. Iya kan, Ndu?" tanya Bu Sri.


Merasa dipanggil Ibu mertuanya, Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Nggih Bu, pasti Pandu akan mendampingi Ervi," balasnya.


Lantas ada Indi kecil yang turut berbicara. "Bulik Mei, adiknya mana? Namanya siapa Bulik?" tanya Indi.


Di sana Mei pun tersenyum, dia kembali mengarahkan kamera handphone ke bayinya yang masih terlelap. "Nih, adiknya Mbak Didi. Namanya Arka. Arka main ke Jogja, ke rumah Mbak Didi boleh tidak?" tanya Mei.


"Iya, boleh Bulik. Diajak ke sini adiknya. Didi juga punya Mas kecil loh Bulik Mei, namanya Mas Langit," ceritanya kepada Buliknya.


Indi pun juga tampak membicarakan bayi kecil yang dia panggil Mas, dan dinamai Langit itu. Mei dan Bu Sri yang mendengarkan cerita Indi pun tertawa. Sebab, suara Indi itu lucu dan seperti sedikit cempreng.


"Iya, boleh Bulik. Nanti dijemput Yayah yahh," balas Indi.


Setelahnya, Ervi yang giliran berbicara. "Sekali lagi maaf yah, Mei. Untuk hadiahnya Arka, mau dibeliin apa? Nanti aku kirimkan dari Jogja," ucap Ervita.


"Tidak usah, Mbak. Ini sudah ada semuanya kok," balas Mei.


"Ya sudah, nanti biar dikirim Mas Pandu yah. Maaf yah, Mei. Sebenarnya pengen banget pulang ke Solo, tapi memang sudah waktunya bersalin," balas Ervita.


Mei di sana pun menganggukkan kepalanya. "Iya Mbak, tidak apa-apa kok. Ke Solo nya kalau babynya sudah lahir, Mbak. Nanti jemur baby barengan," balas Mei.


Ervita pun tertawa. "Boleh, nanti yah. Sekali lagi selamat yah untuk kamu dan Tanto. Sudah menjadi orang tua untuk Arka. Cepat pulih dan lancar meng-ASI-hi Arka yah," ucap Ervi.

__ADS_1


"Amin. Makasih banyak ya Mbak Ervi," balas Mei.


Benar pertemuan kali ini hanya bisa secara virtual melalui panggilan video saja. Akan tetapi, setidaknya bisa menyapa, bisa mengucapkan maaf, dan tentunya selamat. Ervita pun bisa melihat keponakannya yang berjenis kelamin laki-laki. Mengakhiri panggilan videonya, rupanya Indi mau diantar ke rumah Eyangnya untuk bermain dengan Lintang. Sehingga Pandu mengantarkan anaknya itu ke rumah Eyangnya terlebih dahulu.


Hanya beberapa menit, Pandu sudah pulang ke rumah. Pria itu tampak menyusul istrinya yang sedang berada di dapur dan membuat Pisang Goreng. Menatap punggung Ervita dari belakang, Pandu pun segera memeluk Ervita dari belakang.


"Nda, baru ngapain?" tanyanya.


"Eh, Mas ... sudah pulang dari rumah Bapak dan Ibu?" tanyanya.


"Sudah, kamu baru ngapain, Dinda?" tanyanya.


"Mau bikin Pisang Goreng, Mas. Nanti diparutin keju di atasnya sama kental manis. Pengen deh," balas Ervita.


Pandu ternyata kian mengeratkan dekapannya, sesekali bibirnya mengecupi bahu dan meniup tengkuk Ervita, membuat istrinya itu meremang.


"Mas, jangan ... gosong loh nanti pisangnya," ucapnya.


"Digoreng nanti saja yuk, Nda. Kita melakukan advice dari Dokter dulu yuk," ajak Pandu.


Ervita membolakan kedua matanya, saat tangan Pandu bergerak ke depan guna mematikan kompor gas itu. "Mas, nanti kalau tiba-tiba Indi pulang loh," ucapnya.


"Enggak, aman kok Dinda. Yuk," ajak Pandu.


Pria itu sudah begitu excited. Memanfaatkan waktu ketika Indi berada di rumah Eyangnya. Terlebih advice dari Dokter bahwa berhubungan bisa melancarkan persalinan. Jadi, tidak ada salahnya melakukan advice dari Dokter bukan?

__ADS_1


__ADS_2