
“Kamu biasanya kalau Indi sudah bobok seperti ini, kamu ngapain Nda?” tanya Pandu kepada Ervita malam itu.
“Biasanya aku buat rekapan penjualan di hari itu, Mas … nanti kan seminggu sekali, aku laporkan kepada Ibu dan juga rekap bukti transfer,” balasnya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Biasa kayak menerapkan ilmu ekonomi gitu yah,” sahutnya.
Ervita pun tersenyum, “Aku itu kuliahnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tetapi jurusan Akuntansi kok, Mas … jadi buat jurnal pengeluaran, pemasukan, dan aliran kas gitu bisa. Cuma kan kerja ini, aku merasa aku sudah ditolong Bapak dan Ibu, sudah dipercaya sama Bapak dan Ibu, dan juga boleh bekerja dari rumah … jadi ya aku akan kerjakan semuanya dengan baik dan penuh dengan tanggung jawab,” balasnya.
Sifat Ervita yang seperti ini yang disukai oleh Pandu. Ketika seseorang ditolong dan mendapatkan berbagai fasilitas, Ervita bukan bahagia dengan menikmati fasilitas tersebut. Akan tetapi, Ervita tetap mau bekerja keras dan juga bertanggung jawab. Bahkan Pandu melihat sendiri pembukuan yang dibuat Ervita yang pernah dia lihat di rumahnya. Pembukaan dari orderan yang masuk, jumlah uang yang dibayarkan, sampai laba penjualan yang dibukukan oleh Ervita. Sehingga, di mata Pandu, Ervita adalah orang yang bertanggung jawab, disiplin, dan juga bisa dipercaya oleh kedua orang tuanya.
“Aku tahu,” sahut Pandu dengan singkat.
“Tahu apa maksudnya?” balas Ervita dengan bertanya kepada suaminya itu.
“Aku tahu kalau kamu selalu melaporkan itu kepada Ibu. Maka dari itu, untuk urusan penjualan online dan juga dropship akan diserahkan kepada kamu,” balas Pandu.
Ervita kemudian melirik kepada suaminya itu, “Bapak dan Ibu kok ngizinin kamu menikahi aku sih Mas? Padahal kan kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, mendapatkan gadis ting-ting,” balas Ervita.
“Tujuanku bukan mencari gadis, Nda … aku mencari wanita yang bisa diajak hidup berumahtangga. Semua kriteria yang aku inginkan juga masuk di kamu, jadi ya aku pernah berbicara empat mata kepada Bapak dan Ibu, dan beliau juga setuju. Tinggal aku meyakinkan kamu saja. Di mataku, kamu itu wanita yang baik, sederhana, sopan, pinter, dan banyak yang lainnya. Aku yakin, jika berumahtangga denganmu, aku akan bahagia,” balas Pandu.
Senyuman pun terbit di wajah Ervita, “Walau aku bukan gadis yah?” tanyanya.
“Masih seperti gadis kok, nikmat, Nda … gak ada obatnya,” balas Pandu dengan memeluk istrinya itu.
Ervita kali ini terkekeh geli dan memukul dada suaminya itu, “Udah ah, Mas … bobok yuk. Aku besok harus bangun pagi dan belanja sayur. Kamu mau aku masakin apa, Mas Kakanda?” tanya Ervita kemudian.
“Apa pun itu kalau yang masak adalah kamu, aku mau saja, Nda,” balasnya.
Hingga akhirnya, malam pertama di rumah baru mereka lalui dengan tidur bersama. Sama seperti malam sebelum di Abhayagiri, kali ini Pandu berbaring dengan memeluk Ervita. Tidur dengan saling memeluk, membiarkan malam membuai mereka berdua ke dalam alam mimpi.
__ADS_1
***
Menjelang subuh ….
Pagi itu, Pandu terbangun. Walau matanya masih terpejam, tetapi seakan tangannya bergerak dengan sendirinya dan memberikan remasan di buah persik milik istrinya, meremas perlahan. Rupanya remasan dari tangan Pandu membuat Ervita melenguh kala itu.
“Mas,” ucapnya dengan masih memejamkan matanya.
Suara Ervita yang terdengar merdu di telinganya pun membuat Pandu membuka kedua matanya. Pria itu kini sadar dengan apa yang telah dia lakukan, dan juga menyadari arti lenguhan dari istrinya itu.
Rupanya Pandu yang terbangun, tidak ingin membuang waktu di kala pagi buta itu dengan percuma. Pria itu dengan segera menelusupkan tangannya dan memberikan remasan secara langsung, bahkan Pandu dengan sengaja menyingkap daster bunga-bunga yang Ervita kenakan, pria itu kian tersenyum di sana.
Hingga pergerakan tangan Pandu berhasil untuk membangunkan Ervita. Wanita itu perlahan membuka kelopak matanya perlahan-lahan.
“Mas Pandu,” ucapnya dengan suara yang tampak menghela nafas.
“Ya Dinda … sudah bangun?” tanya Pandu yang sudah menindih Ervita di sana.
Tanpa banyak bicara, Pandu segera menarik daster yang dikenakan oleh Ervita. Bahkan tangannya menarik pengait yang tersembunyi di balik punggung Ervita, membuat kian leluasa memberikan godaan di buah persik itu. Meremasnya memutar, memilin puncaknya, dan juga mencubitnya. Oh, ini adalah godaan yang membuat kedua kaki Ervita bergerak dengan gelisah di sana.
Reaksi yang ditunjukkan Ervita sekarang ini membuat Pandu kian bersemangat untuk bergerak kian turun. Bahkan sekarang pria itu tak ragu menyusuri lembah yang ada di bawah sana. Memberikan godaan dengan tusukan lidahnya, memporak-porandakan lembah ini, hingga Ervita benar-benar memekik karenanya. Bahkan ketika tubuh Ervita menegang, Pandu justru kian bersemangat memberikab godaan di sana.
"Mas … Pandu," pekik Ervita dengan menutup mulutnya sendiri, takut jika suaranya bisa membangunkan putrinya yang tertidur.
Merasa bahwa lembah Ervita sudah begitu basah, Pandu segera melucuti busananya, dan pria itu kembali membawa pusaka Lingga miliknya untuk masuk ke dalam sana. Sensasi hangat dan basah, serta nikmat menyambut Pandu kala itu. Pria itu menahan nafas dan memberikan hujaman demi hujaman di sana.
"Dinda … oh, Dinda," de-sah Pandu dengan menahan nafas.
Gerakan seduktif yang dia lakukan kian kacau, hantaman yang mengenai dinding-dinding di dalam sana membuat Ervita memekik, jika tidak mengingat Indi yang tertidur. Pastilah Ervita akan menjerit pagi itu.
__ADS_1
Gelisahan yang kian tersulut, membawa Ervita untuk melingkarkan kakinya di pinggang suaminya, tangannya memberikan remasan di rambut Pandu. Berkali-kali Ervita meracau, dirinya benar-benar meledak sekarang ini.
Pandu kian menghujam begitu dalam, menusuk begitu masuk, sampai pria itu memejamkan matanya dengan begitu rapat. Berkali-kali Pandu pun menyebut nama istrinya itu.
"Luar biasa, Dinda … luar biasa."
Sungguh, perasaan yang indah. Kegiatan yang indah. Rasanya ini adalah subuh yang memang dirindukan. Subuh yang berbalut kenikmatan. Pandu kian menggeram mana kala dia merasakan cengkeraman cawan Surgawi Yoni di dalam sana. Hingga di batas, Pandu tahu bahwa sekarang dia tidak mampu bertahan. Pria itu menggeram dan rubuh di atas tubuh Ervita.
"Love U, Dinda … love U," ucap Pandu dengan tubuhnya yang bergetar dan juga mendekap tubuh Ervita dengan begitu erat di sana.
***
Setengah jam kemudian ….
Usai pertempuran panas, penyatuan Lingga dan Yoni di waktu menjelang subuh itu, keduanya sama-sama membersihkan diri. Mungkin ini juga menjadi mandi yang terlalu pagi untuk keduanya.
"Makasih Dinda," ucap Pandu kepada istrinya.
"Lemes, Mas," balas Ervita.
Pandu pun tersenyum di sana, "Istirahat dulu yah, subuh terindah," balas Pandu.
Ervita hanya kini bersandar dan terasa begitu lemas di dada suaminya. Entah Pandu yang melakukannya dengan kekuatan penuh atau dirinya yang juga terlalu bersemangat mengarungi samudera cinta bersama suaminya.
"Amunisiku penuh Dinda," ucap Pandu lagi.
Ervita pun mengulas senyuman di sana, "Tak ku sangka, kamu bisa banyak bicara ya Mas," balasnya.
"Ya, kan sama kamu … istriku sendiri. Masak iya, kita udah nikah mau diem-dieman," balas Pandu.
__ADS_1
Ervita pun tersenyum, "Yang penting jadi sosok yang hangat untuk aku dan Indira ya, Mas … kalau sama yang lain, dingin gak apa-apa," balasnya.
"Iya, apalagi sama kamu, Nda … aku bukan hanya hangat, tapi panas," balasnya dengan terkekeh geli dan memeluk Ervita di sana.