
Kali ini Pandu pun juga berinisiatif untuk mengajak Ervita dan Indira jalan-jalan. Mungkin Pandu menyadari juga, sejak ke Jogja, Ervita tidak pernah mengunjungi Mall. Kalau pun ada tempat yang Ervita kunjungi itu hanya mini market yang tidak jauh dari rumahnya untuk membeli diapers dan juga susu. Untuk keperluan sehari-harinya, Ervita juga membeli di warung kelontong yang ada di dekat rumah juga. Sehingga Pandu berinisiatif mengajak Ervita jalan-jalan dengan Indira.
"Ini tadi Mas Pandu baru pulang kerja tow?" tanya Ervita.
"Iya, tadi ketemu klien dulu dan terus mampir ke Mall yang dekat Malioboro, dekat Pasar Beringharjo karena nurunin batik kan tadi. Aku keinget Indi suka Little Pony. Ya sudah, sekalian saja ... Pony kan banyak yah? Cuma aku enggak tahu dia sukanya yang mana," balas Pandu.
"Paling suka sama yang ungu ini kok, Mas ... namanya Twilight," balas Ervita.
"Oh, ada namanya yah ... kupikir ya Little Pony saja. Syukurlah kalau ada dua boneka ini ada yang dia suka," balas Pandu.
"Makasih banyak Mas Pandu ... bonekanya pasti mahal soalnya besar banget. Lebih besar bonekanya daripada Indinya," balas Ervita.
"Nggak apa-apa Vi," balas Pandu kemudian.
Ervita masih duduk di ruang tamu itu dan melihat Pandu dan Indira yang masih bermain dan Indi yang terlihat manja dengan Pandu, bahkan Indi kecil tidak lagi memanggil pria itu dengan sebutan Om Ayah, tetapi sudah Ayah saja. Rasanya tidak enak dengan Pandu, tetapi Pandu sendiri seolah tidak masalah jika Indira memanggilnya Ayah.
Lantas, Ervita teringat dengan telepon Lusi kemarin perihal adiknya yang hendak menikah. Rasanya Ervita perlu pendapat dari Pandu haruskah dia pulang ke Solo untuk menghadiri pernikahan adiknya atau tidak. Selama ini, Ervita menilai Pandu adalah sosok yang baik, dan tidak ada salahnya bertukar pendapat dengan Pandu.
"Mas, boleh mau ngobrol sebentar," tanya Ervita kemudian kepada Pandu.
Terlihat Pandu yang menatap Ervita di sana, dan menganggukkan kepalanya, "Ya ... tentu, boleh. Mau sekarang atau nanti?" tanya Pandu kemudian.
"Selonggarnya Mas Pandu saja," balas Ervita.
"Nanti malam saja, di Pendopo, Vi ...."
__ADS_1
"Ya, Mas," balas Ervita.
Agaknya kini Pendopo menjadi tempat bagi Pandu dan Ervita untuk bisa mengobrol bersama. Mengingat pembicaraan kali ini juga serius, memang lebih baik ditunda malam nanti saja. Itu juga sekarang Indi masih begitu menempel dengan Pandu dan selalu mengajak mengobrol dan bermain dengan Pandu yang sudah dipanggilnya Ayah itu.
***
Malam harinya ....
Sebagaimana kesepakatan bersama, malam ini Pandu dan Ervita akan mengobrol lagi di Pendopo. Sama seperti sebelumnya, Pandu lah yang sudah duduk melantai di Pendopo itu dan menunggu Ervita keluar dari rumahnya. Dari sisi Pandu sendiri justru Pandu merasa senang karena Ervita mau berbicara dengannya. Namun, Pandu juga berpikir apa yang hendak dibicarakan oleh Ervita kepadanya.
Hampir jam setengah delapan malam, barulah Ervita keluar dari rumah yang dia tempati dan berjalan ke arah Pendopo. Wanita itu tersenyum dalam hati ketika melihat Pandu yang sudah terlebih dahulu duduk di sana.
"Sudah lama Mas?" sapa Ervita yang kemudian turut duduk di lantai bersama Pandu, mengambil jarak dari pemuda yang sudah terlihat duduk di sana terlebih dahulu.
"Sudah Mas ... itu sambil melukin boneka dari Mas Pandu tadi. Jadi seneng banget anaknya," balas Ervita.
"Syukurlah kalau Indi seneng," balas Pandu.
Jujur, Pandu juga merasa senang. Menghadirkan kebahagiaan untuk seorang anak kecil itu membuat Pandu sendiri merasa begitu bahagia. Mendengar Indi bahagia, Pandu juga merasa bahagia.
"Jadi, mau bicara apa Vi?" tanya Pandu kemudian.
Tampak Ervita sedikit menganggukkan kepalanya, "Ehm, begini Mas Pandu ... sebenarnya adik kandung aku mau menikah. Beberapa hari yang lalu sahabatku memberitahu kalau adik kandungku akan menikah, dan aku diminta pulang sama sahabatku itu. Menyaksikan kebahagiaan adikku satu-satunya yang akhrinya menikah. Sebenarnya aku juga ingin pulang ke Solo ... cuman setelah semua yang terjadi, rasanya aku takut untuk pulang ke Solo. Jujur ada dua hal yang aku takutkan, pertama kemarahan Bapak yang mungkin saja belum reda ... kedua, aku takut dengan gunjingan tetangga karena aku pulang dengan membawa anak. Berat rasanya Mas ... di satu sisi aku ingin melihat adikku satu-satu menikah, di sisi lain aku takut," cerita Ervita dengan jujur kepada Pandu.
Sebenarnya Ervita tahu bahwa ini adalah masalah pribadinya, tetapi bertukar pendapat dengan orang yang selama ini sudah baik dengannya rasanya juga tidak salah. Lagipula, Pandu juga tergolong orang yang bisa dimintai pendapat.
__ADS_1
"Keinginanmu sendiri bagaimana Vi?" tanya Pandu kemudian.
"Sebenarnya aku ingin pulang, tapi takut," balas Ervita dengan jujur juga.
Teringat dulu Bapaknya murka dan juga mengusirnya dari rumah. Dia merupakan anak yang hanya merusak nama baik orang tua, tidak bisa membanggakan orang tuanya, hingga akhirnya Jogja menjadi tempat untuknya memulai semua hidupnya yang baru bersama Indira dalam naungan dan perlindungan keluarga Hadinata.
"Kalau mau pulang tidak apa-apa, Vi ... aku antar nanti, Bapak dan Ibu pasti juga membolehkan kok," sahut Pandu kemudian.
Ervita memijat pelipisnya yang pening dan menghela nafas di sana, "Tidak usah Mas ... nanti Mas Pandu justru jadi cemoohan tetanggaku di Solo dan mengira yang bukan-bukan," balas Ervita.
"Tidak apa-apa. Kapan pernikahan adikmu?" tanya Pandu kemudian.
"Sabtu nanti jam 10.00 pagi, Mas ... akad dan resepsi di rumah," balas Ervita.
"Ya sudah, Sabtu nanti kita pulang ke Solo yah ... aku antar dan aku temenin sampai selesai. Jangan takut, Vi ... ada aku. Kamu ingat kan bahwa aku akan selalu menjaga kamu dan Indi," ucap Pandu dengan sungguh-sungguh di sana.
Lantas Pandu membawa tangannya dan memberikan dua tepukan di bahu Ervita di sana.
"Tidak usah dipikir berat-berat, dihadapi saja. Ada aku, semuanya akan aman."
"Cuma aku gak mau Mas Pandu jadi cemoohan tetangga di Solo nanti, dan juga aku adalah wanita yang penuh cela," balas Ervita.
"Tidak Vi ... di mataku kamu adalah wanita dan Bunda yang baik untuk Indi. Minggu nanti kita ke Solo, sudah tenang saja."
Pandu menjanjikan kepada Ervita untuk bisa tenang. Semua akan dihadapi bersama. Bahkan Pandu tidak masalah dengan murkaan dari orang tua Ervita atau mungkin cemoohan dari tetangga. Yang pasti Pandu merasa bahwa dia akan mengantar dan menemani Ervita. Dia akan menjaga Ervita dan juga Indira.
__ADS_1