
Selang beberapa hari berlalu, Pandu benar-benar mengajak Ervita, Indi, dan Irene ke Solo. Tujuan Pandu mengajak keluarganya ke Solo tentu untuk bersilaturahmi dengan keluarga istrinya dan merasakan bagaimana suasana puasa di Solo. Walau sebelum berangkat, Indi menangis-nangis terlebih dahulu.
"Yayah, Didi takut ke Solo loh. Didi takut ketemu Om itu lagi. Nanti Om itu mengaku sebagai Ayahnya Didi. Didi gak mau. Yayahnya Didi cuma Yayah Pandu," rengek Indi dengan wajah berlinang air mata.
Walau sudah beberapa bulan berlalu, Pandu juga tak menyangka bahwa Indi masih mengingat kejadian di Solo waktu itu. Ketika Firhan datang dan berkata bahwa dia adalah Papanya. Ada penolakan sendiri dari hati Indi.
"Kan Yayah juga bilang, Mbak Didi ini putri kecilnya Yayah," balas Pandu.
"Kalau ketemu sama Om itu gimana?" tanya Indi dengan menangis.
"Ya, disapa saja yang sopan. Kalau Didi gak mau ya tidak apa-apa. Namun, hari sopan. Tidak boleh karena tidak mau, terus Didi enggak menghargai orang lain," jelas Pandu kepada Indi.
Indi pun menganggukkan kepalanya. Jika Yayahnya sudah memberitahu dan juga terlihat wibawanya. Indi tidak akan menyanggah lagi. Menerima setiap nasihat Yayahnya. Namun, apa yang disampaikan oleh Ayah Pandu ada benarnya. Sekali pun tidak mau, harus tetap menghargai orang lain dan bisa terus bersikap sopan.
"Iya, Yayah. Maaf ... Didi maunya cuma Yayah. Satu-satunya Yayahnya Didi," balasnya.
Pandu juga tahu bahwa semua karena terbiasa. Indi bisa berkata seperti itu karena memang terbiasa dengan Pandu, sudah mengenal Pandu sejak kecil. Lain cerita dengan Firhan yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Iya, Putri Kecilnya Yayah. Yayah juga selalu mau sama Didi. Kamu dan Irene itu sama, kesayangannya Yayah. Kita berangkat ke rumah Eyang dan Kakung yah?" ajak Pandu.
"Iya, Yayah. Didi sayang Yayah," balasnya dengan memeluk Ayah Pandu. Tangan kecilnya melingkari leher Ayahnya. Sementara Pandu sendiri juga balik memeluk Indi. Perasaan Pandu untuk Indi tidak pernah berubah. Baginya, Indi selalu akan menjadi putri sulungnya, putri yang dia sayangi. Sama seperti dia menyayangi Irene.
Setelah itu, Pandu memasukkan tas jinjing ke bagasi. Kemudian memasukkan tas ransel baby bag milik Irene. Tidak lupa, oleh-oleh yang mereka bawa untuk keluarga di Solo. Setelah itu, Pandu mengajak istri dan anaknya untuk masuk ke dalam mobil.
Menempuh perjalanan hampir dua jam, Indi dan Irene bisa menikmati perjalanan. Tidak rewel. Terlebih Irene yang sudah hampir dua tahun, seolah melihat jalananan, pepohonan, atau kendaraan yang mereka melewati. Di dalam mobil juga beberapa kali mereka menyanyikan lagu anak-anak untuk Indi dan Irene.
"Sudah mau sampai yah, Yayah?" tanya Indi begitu mobilnya melintasi kawasan Solo Techno Park.
__ADS_1
"Iya, sudah mau sampai kok, Mbak. Mbak Didi hafal jalan ke rumah Eyang?" tanya Yayah Pandu.
"Sedikit saja, Yah. Yang itu tadi ingat. Techno Park," balas Indi.
Ervita dan Pandu sama-sama tersenyum, walau tidak sering berada di Solo, tapi beberapa tempat Indi masih ingat. Hingga sekarang mobil Ayah Pandu sudah berhenti di depan rumah keluarga Bapak Agus dan Bu Sri, rumah keluarga Ervita.
"Assalamualaikum," sapa keduanya begitu turun dari mobil dan mengetuk pintu depan rumah itu.
"Waalaikumsalam ... anak dan cucu pada datang. Kok mesti kalau datang enggak pernah ngabarin dulu loh," ucap Bu Sri.
Tampak Bu Sri langsung meminta untuk menggendong Irene, setelah sebelumnya memeluk Indi terlebih dahulu. Kemudian Ervita dan Pandu memberikan salam takzim kepada ibunya. Barulah kemudian Pak Agus keluar dari dalam rumah. Senang dan kaget melihat anaknya datang dari Jogja.
"Wah, pada datang. Kok enggak memberi kabar terlebih dahulu?" tanya Pak Agus.
"Mumpung mau akhir pekan, Bapak. Menikmati suasana puasa di Solo," balas Pandu.
"Tadi mau masuk ke sini juga rame kok, Bapak. Sudah banyak yang berjualan takjil," balas Pandu.
"Udah rame, Mas. Mau cari takjil apa aja ada. Di belakang Sebelas Maret, banyak takjil dan murah," balas Bu Sri.
Memang begitulah suasana puasa di pinggiran kota Solo. Kala itu, Pandu tiba di Solo hampir jam 16.00 sore, dan memang di sepanjang jalan begitu banyak orang berjualan takjil. Ada yang berjualan Kolak, Es Buah, Es Semangka India, Pisang Karamel, Es Dawet, Sempol, dan sebagainya. Ibarat kata, ingin membeli apa saja ada.
"Apa di Jogja enggak ada Mas Pandu? Biasanya Solo dan Jogja tidak begitu berbeda kan?" tanyanya.
"Pandu jarang keluar, Bu. Begitu pulang bekerja langsung pulang ke rumah. Ngabuburit di rumah, Bu. Indi juga sudah belajar berpuasa. Puasa Dzuhur, Bu," cerita Pandu.
Bu Sri begitu senang, cucunya yang masih kecil sudah belajar berpuasa. "Mbak Didi sudah berpuasa?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, Eyang ... belajar sedikit-sedikit. Menahan lapar dan haus, Eyang," balas Indi.
"Pinter ya, Ndi. Nanti bisa puasa lancar sampai Idul Fitri," balas Bu Sri lagi.
"Nggih, Eyang," balas Indi.
Kemudian mulailah Indi bermain di depan rumah bersama dengan Kakungnya. Melihat beberapa tanaman yang memang ditanam di dalam pot. Ada beberapa bunga juga di sana.
"Ini pohon bunga apa, Kakung?" tanya Indi dengan menunjuk ada pohon yang memiliki bunga berwarna ungu di dekat rumah Kakungnya.
"Bunga Bougenville, Mbak. Ini warnanya banyak. Ada warna ungu, pink, putih, banyak warna bunganya," jawab Bapak Agus.
"Di dekat sekolahnya Indi ada bunga ini loh, Kakung," balasnya.
Ervita dan Pandu juga lucu mendengar Indi yang begitu ceriwis. Seakan tidak ada habisnya untuk bercerita dengan Kakungnya. Sementara, Bu Sri menyiapkan takjil dulu untuk nanti berbuka puasa. Kebetulan Bu Sri sudah berencana membuat Dawet. Dulu, Ervita sangat suka Dawet yang dicampur dengan irisan Buah Nangka. Sehingga rasanya lebih manis dan aromanya lebih harum.
Kebetulan memang Ervita pas ke sini. Untuk menu berbukanya juga Bu Sri membuat Sayur Bobor Daun Bayam, memilih yang banyak kuahnya semoga semuanya suka. Memang sangat sederhana, itu juga karena keluarganya tidak tahu kalau Pandu dan Ervita mau datang ke Solo.
"Vi, mau Ibu belikan ayam enggak untuk kamu dan Mas Pandu?" tawar Bu Sri.
"Tidak usah, Bu," balas Ervita.
Begitu juga dengan Pandu yang turut menyahut. "Tidak usah, Bu. Seadanya saja. Yang tidak ada tidak perlu di ada-adakan," balas Pandu dengan sedikit tersenyum.
"Masakannya Ibu nanti cuma seadanya loh, Mas Pandu. Apa tidak apa-apa?" tanya Bu Sri lagi.
"Tidak apa-apa, Bu. Bukan pada menu makanannya, tapi lebih kehangatan dan kebersamaan dengan keluarga," balas Pandu.
__ADS_1
Memang begitulah Pandu, untuk menu berbuka dia mau makan saja. Tidak mengharuskan ada menu tertentu. Kecuali memang ada masakan yang diinginkan Pandu, barulah dia akan request kepada istrinya. Berbuka puasa untuk Pandu bukan pada menu masakannya, tapi bisa berbuka bersama keluarga itu sungguh menyenangkan. Arti dari kehangatan berbuka di bulan Ramadhan.