Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Belanja Bersama


__ADS_3

Di hari yang berbeda di Jogjakarta, Pandu akan mengajak Ervita dan Indira untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga mereka. Ini juga menjadi kegiatan berbelanja bersama bagi keduanya setelah empat hari menjadi suami istri. 


"Dinda, kita ke Supermarket yuk. Beli kebutuhan rumah tangga dan lainnya," ajak Pandu kali ini kepada Ervita. 


"Boleh Mas, mau jam berapa ke Supermarket nya?" tanya Ervita kemudian. 


"Sekarang saja, Nda … nanti malam sudah bisa di rumah. Kalau bisa sih, jam malam jangan keganggu Dinda. Aku senang, jam 20.00 bisa pacaran dulu sama kamu," balas Pandu. 


Tentu saja Pandu merasa senang karena sekitaran jam 19.00, Indira sudah tertidur. Setelahnya masih banyak waktu untuk mengisi malam. Dulu, ketika Ervita masih tinggal di rumah keluarga Hadinata, mereka hanya bertemu dan sesekali mengobrol di Pendopo. Setelah empat hari hidup bersama, justru belum pernah keduanya mengobrol bersama di Pendopo. Itu semua karena Pandu yang suka bermanja-manja di kamar dengan istrinya itu. Mungkin juga karena masih pengantin baru dan juga Pandu dengan jiwa mudanya yang membara, sehingga berumahtangga memberi berkah tersendiri baginya. 


Berkah yang bisa menghasilkan hormon dopamine yang akhirnya akan memberikan kebahagiaan dan kenikmatan untuk tubuh dan jiwanya. Sehingga Pandu merasa, malam adalah waktu terbaik untuk dihabiskan bersama dengan Ervita. 


"Ya sudah, aku dan Indi ganti baju dulu, Mas," balasnya. 


"Oke, ditunggu Adinda. Jangan lama-lama yah, Kanda tunggu. Kanda manasin mobil dulu yah," balas Pandu yang terlihat begitu bersemangat itu. 


Ervita hanya geleng kepala melihat suaminya. 


Bagi Ervita, Pandu bukan hanya sosok yang baik dan hangat, tetapi pria itu juga sosok yang menjadi banyak bicara ketika bersamanya. Baru empat hari hidup bersama Pandu saja, banyak hal lain yang Ervita ketahui tentang suaminya. Termasuk suaminya yang rajin dan juga selalu bersih itu. 


Hampir sepuluh menit berlalu, Ervita sudah keluar dari rumah bersama Indira. Tidak lupa mengunci pintu rumah, dan kemudian Ervita mendekat kepada suaminya. 


"Mas," sapa Ervita dengan lembut. 


"Yayah," sapa Indira dengan suaranya yang lucu dan terkadang terdengar cempreng itu. 


"Ya, kesayangannya Ayah ... kita ke supermarket ya, Nak. Beli susu dan diapers buat Indi," balas Pandu. 


Itu memang benar karena Indira masih mengenak diapers. Ervita memang berniat untuk mengajari anaknya toilet training ketika Indira berusia 3 tahun nanti, ketika Indira bisa berbicara lebih lancar dan juga bisa merasakan hendak buang urine atau perutnya terasa sakit. 

__ADS_1


"Oke Yayah," balas Indira lagi. 


Tidak membutuhkan waktu lama, Pandu pun segera menjalankan mobilnya ke Mall, dan yang dia tuju sekarang adalah supermarket. Pandu sekaligus ingin tahu apa yang selalu dibeli oleh Ervita di setiap bulannya. 


"Kamu setiap bulan kalau belanja bulanan di mana Nda?" tanya Pandu kepada Ervita. 


"Kalau susu dan diapersnya Indi beli di minimarket, kalau kebutuhan seperti beras dan lain-lain beli di warung kelontong yang tidak jauh dari rumah itu," balas Ervita. 


Mendengar jawaban bahwa Ervita membeli beras dan kebutuhan lain di toko kelontong membuat Pandu seolah merasa terenyuh. Itu berarti memang Ervita adalah sosok yang begitu sederhana. 


"Gaji dari Ibu per bulannya gak cukup ya Nda?" tanya Pandu dengan tiba-tiba. 


"Cukup kok Mas... aku malahan bisa menabung kok setiap bulannya. Cuma kan gak apa-apa beli di toko kelontong. Irit dan hemat juga," balasnya. 


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Oh, aku kira ... gaji dari Ibu kurang. Kalau setiap bulannya kamu masih bisa menabung ya itu bagus, Nda," balas Pandu lagi. 


"Yayah, naik itu," tunjuk Indira ketika melihat troli belanja. 


"Diapersnya yang apa Dinda?" tanya Pandu kemudian. 


"Yang ini Mas, size L," balasnya dan mengambil satu diapers, kemudian memasukkannya ke troli. 


"Murah mana sama di minimarket?" tanya Pandu lagi. 


"Murahan ini sih, Mas ... selisih tiga ribu Rupiah loh," balasnya. 


Pandu kembali tersenyum ketika mendengar jawaban Ervita. Bahkan Ervita masih ingat selisih harga diapers di minimarket dan di supermarket. 


"Beli kebutuhan kamu juga, Dinda," ucap Pandu. 

__ADS_1


"Punya Mas Pandu duluan aja," balasnya. 


Pandu pun akhirnya membeli sabun mandi, shampoo, deodoran, sampai pisau cukur. Ervita mengamati setiap barang yang dibeli suaminya itu. 


"Parfumnya Mas?" tanya Ervita kemudian karena terlihat suaminya tidak membeli parfum. Padahal setahu dia, suaminya itu adalah cowok yang begitu wangi. 


"Beli di tempat parfum tersendiri, Dinda. Aku beliin buat kamu yang di serah-serahan itu juga di counter parfum. Sekarang, beli kebutuhan kamu dan rumah tangga, Nda ... beras, minyak goreng, sabun-sabun juga," balas Pandu. 


Ervita pun mengambil barang seperlunya saja, Pandu juga mengamati setiap barang yang dibeli Ervita. Semua yang dibeli Ervita termasuk yang murah, begitu ekonomis istrinya itu. Pandu tersenyum dalam hati, karena barang yang diambil Ervita memang bukan yang mahal.


Cukup lama mereka berputar-putar dan membeli kebutuhan rumah tangga, hingga akhirnya semua barang yang mereka butuhkan sudah semuanya mereka beli. Begitu hendak sampai di kasir, rupanya Pandu segera memberikan dompetnya kepada Ervita.


"Dinda, bayar pakai itu saja ... ini bawa saja," ucapnya dengan tangannya menyerahkan dompet berwarna hitam yang baru dia ambil dari saku celananya. 


Akan tetapi, Ervita dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Eh, enggak Mas ... dompet itu kan privasi. Tidak usah," balas Ervita. 


Justru Ervita mengambil dompetnya sendiri dari sling bag yang dia kenakan dan hendak membayarnya. Bagi Ervita, dompet itu seperti handphone yang adalah privasi. Tidak elok, nikah baru empat hari dan sudah buka-buka dompet suami. 


"Aku saja yang bayar, Dinda," balas Pandu kemudian. 


Di depan kasir, Pandu segera memberikan Debit Cardnya dan mulai membayar semua belanjaan mereka. Tidak lupa, Pandu meminta Ervita memasukkan dompetnya kembali. 


"Aku suami kamu, Dinda ... biar Kakandamu yang membayarnya," balasnya. 


"Aku yang bayar juga tidak apa-apa, Mas," balasnya. 


"Enggaklah, ini sudah kewajiban suami, Nda ... mau ke mana lagi habis ini? Seneng banget bisa belanja sama kamu dan Indi," ucap Pandu kemudian. 


Ervita pun melirik suaminya itu, "Aku juga lebih senang, Mas. Dulu aku terbiasa ke minimarket hanya sama Indi. Sekarang kami memiliki kamu. Terima kasih, Kanda," balas Ervita dengan lirih. 

__ADS_1


Pandu pun tersenyum, pria itu kini menggandeng tangan Ervita. Hati keduanya yang sama-sama hangat. Sekali lagi mereka merasakan perasaan yang begitu indah di dalam hati keduanya. 


__ADS_2